Mengaku Ahlussunnah Waljama’ah, Tapi Kok Menganggap Sesat Asy’ariyyah Maturidiyyah ???
Biasalah, ada yang mengaku Ahlussunnah Waljamaah, tetapi mereka tidak mempunyai ciri-ciri sebagai Ahlussunnah Waljamaah. Itulah kaum yang jumlahnya sangat kecil secara global (dunia) yang mengaku berakidah Ahlussunnah Waljama’ah, akan tetapi nyaris sebagian besar amalannya bertentangan dengan amalan yang disepakati oleh kaum Ahlussunnah Waljama’ah. Bahkan lucunya, kaum sempalan ini menganggap sesat Asy’ariyah Maturidiyyah yang notabene adalah perwujudan dari kaum Ahlussunnah Waljama’ah. Inilah suatu kontradiksi yang megundang ironisme yang fatal. Di sisi lain, Kaum Asy’ariyah Maturidiyyah ini secara nyata adalah terdiri dari pengikut 4 madzhab fikih mu’tabar plus madzhab-madzhab kecil yang lainnya, yaitu para pengikut madzhab Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi, dan orang-orang terkemuka dari madzhab Hanbali.
Akidah Ahlussunnah yang diikuti oleh penganut 4 madzhab inilah yang diajarkan hingga kini di pondok-pondok pesantren di negara kita, Indonesia. Dan akidah ini pula yang diyakini oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia, di Indonesia, Malasiya, Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutama al-Azhar yang giat mengajarkan akidah ini), negar-negara Syam (Siria, Yordania, Lebanon, dan Palestina), Maroko, Yaman, Irak, Turki, Dagestan, Checnya, Afganistan, dan negara-negara lainnya.
Yang menjadi sangat aneh dan lucu, kaum sempalan yang mengaku Ahlussunnah Waljama’ah itu ternyata menganggap sesat kaum Asy’ariyyah Maturidiyyah. Maka muncul pertanyaan mendasar; “Mengaku Ahlussunnah Waljama’ah kok menganggap sesat Asy’ariyyah Maturidiyyah?” Sungguh suatu kontradiksi yang konyol dan melawan arus sejarah kaum Ahlussunnah Waljama’ah. Untuk lebih jelas agar mengetahui lebih detail apa siapa Ahlussunnah Waljam’ah, tulisan Abou Fateh berikut ini bisa menjadi panduan yang akan mengantar anda mengenal Ahlussunnah Waljama’ah….
AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH ADALAH KAUM ASY’ARIYYAH DAN MATURIDIYYAH
[Waspada.... Wahabi bukan Ahlussunnah; tapi mereka Ahluttasybih]
oleh: Abou Fateh
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
وَإنّ هذِه الِملّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ، ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الجَنّةِ وَهِيَ الجَمَاعَة (رَواه أبُو دَاوُد)
“Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di antaranya di dalam neraka, dan hanya satu di dalam surga yaitu al-Jama’ah”. (HR. Abu Dawud).
Sejarah mencatat bahwa di kalangan umat Islam dari semenjak abad permulaan, terutama pada masa Khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib, hingga sekarang ini terdapat banyak golongan (firqah) dalam masalah akidah. Faham akidah yang satu sama lainnya sangat berbeda dan bahkan saling bertentangan. Ini adalah fakta yang tidak dapat kita pungkiri. Karenanya, Rasulullah sendiri sebagaimana dalam hadits di atas telah menyebutkan bahwa umatnya ini akan terpecah-belah hingga 73 golongan. Semua ini tentunya dengan kehendak Allah, dengan berbagai hikmah terkandung di dalamnya, walaupun kita tidak mengetahui secara pasti akan hikmah-hikmah di balik itu. Wa Allahu A’lam.
Namun demikian, Rasulullah juga telah menjelaskan jalan yang selamat yang harus kita tempuh agar tidak terjerumus di dalam kesesatan. Kunci keselamatan tersebut adalah dengan mengikuti apa yang telah diyakini oleh al-Jama’ah, keyakinan yang telah dipegang teguh oleh mayoritas umat Islam. Karena Allah sendiri telah menjanjikan kepada Nabi bahwa umatnya ini tidak akan tersesat selama mereka berpegang tegung terhadap apa yang disepakati oleh kebanyakan mereka. Allah tidak akan mangumpulkan mereka semua (ummat Islam) di dalam kesesatan. Kesesatan hanya akan menimpa mereka yang menyempal dan memisahkan diri dari keyakinan mayoritas Ummat Islam.
Mayoritas umat Rasulullah, dari masa ke masa dan antar generasi ke generasi adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat Rasulullah dan orang-orang sesudah mereka yang mengikuti jejak para sahabat tersebut dalam meyakini dasar-dasar akidah (Ushul al-I’tiqad). Walaupun generasi pasca sahabat ini dari segi kualitas ibadah sangat jauh tertinggal di banding para sahabat Rasulullah itu sendiri, namun selama mereka meyakini apa yang diyakini para sahabat tersebut, maka mereka tetap sebagai kaum Ahlussunnah.
Dasar-dasar keimanan adalah meyakini pokok-pokok iman yang enam (Ushul al-Imam as-Sittah) dengan segala tuntutan-tuntutan yang ada di dalamnya. Pokok-pokok iman yang enam ini adalah sebagimana disebutkan dalam sebuah hadits yang dikenal dengan hadist Jibril:
الإيْمَانُ أنْ تُؤْمِنَ باللهِ وَمَلائِكَتهِ وَكُتُبهِ وَرُسُلهِ وَاليَوم الآخِر وَالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ (روَاهُ البُخَاري وَمُسْلم)
“Iman adalah engkau percaya dengan Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta beriman dengan ketentuan (Qadar) Allah; yang baik baik maupun yang buruk”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Pengertian al-Jama’ah yang telah disebutkan dalam hadits riwayat al-Imam Abu Dawud di atas yang berarti mayoritas umat Rasulullah, yang kemudian dikenal dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah, telah disebutkan dengan sangat jelas oleh Rasulullah dalam haditsnya, sebagai berikut:
أُوْصِيْكُمْ بأصْحَابِي ثمّ الّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثمّ الّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، (وفيْه): عَلَيْكُمْ بالجَمَاعَةِ وَإيّاكُمْ وَالفُرْقَةَ فَإنّ الشّيْطاَنَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاثْنَيْنِ أبْعَد، فَمَنْ أرَادَ بُحْبُوْحَةَ الْجَنّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ (رَواهُ التّرمِذيّ وَقالَ حسَنٌ صَحيْحٌ، وصَحّحَه الحَاكِم
“Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian -mengikuti- orang-orang yang datang sesudah mereka, kemudian -mengikuti- orang-orang yang datang sesudah mereka”. (Dan termasuk dalam rangkaian hadits ini): “Hendaklah kalian berpegang kepada mayoritas (al-Jama’ah) dan jauhilah perpecahan, karena setan akan menyertai orang yang menyendiri. Dia (Setan) dari dua orang akan lebih jauh. Maka barang siapa menginginkan tempat lapang di surga hendaklah ia berpegang teguh kepada -keyakinan- al-Jama’ah”. (HR. at-Tirmidzi. Ia berkata: Hadits ini Hasan Shahih. Hadits ini juga dishahihkan oleh al-Imam al-Hakim).
Al-Jama’ah dalam hadits ini tidak boleh diartikan dengan orang-orang yang selalu melaksanakan shalat berjama’ah, juga bukan jama’ah masjid tertentu, atau juga bukan dalam pengertian para ulama hadits saja. Karena pemaknaan semacam itu tidak sesuai dengan konteks pembicaraan hadits ini, juga karena bertentangan dengan kandungan hadits-hadits lainnya. Konteks pembicaraan hadits ini jelas mengisyaratkan bahwa yang dimaksud al-Jama’ah adalah mayoritas umar Rasulullah dari segi jumlah.
Penafsiran ini diperkuat pula oleh hadits riwayat al-Imam Abu Dawud di atas. Sebuah hadits dengan kualitas Shahih Masyhur. Hadits riwayat Abu Dawud tersebut diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh orang sahabat Rasulullah. Hadits ini memberikan kesaksian akan kebenaran apa yang dipegang teguh oleh mayoritas umat Nabi Muhammad, bukan kebenaran firqah-firqah yang menyempal. Dari segi jumlah, firqah-firqah sempalan 72 golongan yang diklaim Rasulullah akan masuk neraka seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Abu Dawud ini, adalah kelompok yang sangat kecil dibanding pengikut Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Kemudian di kalangan Ahlussunnah dikenal istilah “Ulama Salaf”. Mereka adalah orang-orang terbaik dari kalangan Ahlussunnah yang hidup pada tiga abad pertama tahun hijriah. Tentang para ulama salaf ini, Rasulullah bersabda:
خَيْرُ القُرُوْنِ قَرْنِيْ ثُمَّ الّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ (رَوَاهُ التّرمِذِيّ)
“Sebaik-baik abad adalah abad-ku (periode Sahabat Rasulullah), kemudian abad sesudah mereka (periode Tabi’in), dan kemudian abad sesudah mereka (periode Tabi’i at-Tabi’in)”. (HR. at-Tirmidzi).
Pada paruh akhir abad ke tiga dari periode Salaf ini, tepatnya pada sekitar tahun 260 H mulai menyebar berbagai bid’ah dan faham-faham ekstrim dalam masalah akidah. Seperti bid’ah kaum Mu’tazilah, bid’ah kaum Khawarij, bid’ah kaum Musyabbihah, dan berbagai kelompok sempalan lainnya. Kemudian dua Imam agung; yaitu al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (w 324 H) dan al-Imam Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H) datang dengan menjelaskan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang telah diyakini para sahabat Raslulullah dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dali Naqli dan dalil-dalil ‘Aqli, disertai dengan bantahan terhadap kesesatan-kesesatan kaum Mu’tazilah, kaum Musyabbihah, kaum Khawarij, dan kelompok ahli bid’ah lainnya.
Sehingga di kemudian hari nama Ahlussunnah Wal Jama’ah dinisbatkan kepada dua Imam agung ini. Karenanya, Ahlussunnah Wal Jama’ah dikenal dengan nama al-Asy’ariyyun atau al-Asya’irah; yaitu para pengikut al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan al-Maturidiyyun; yaitu para pengikut al-Imam Abu Manshur al-Maturidi. Penyebutan Ahlusunnah dalam dua kelompok ini (Asy’ariyyah dan Maturidiyyah) tidak menafikan bahwa mereka berada di dalam satu golongan, yaitu al-Jama’ah. Karena jalan yang telah ditempuh oleh al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan al-Imam Abu Mansur al-Maturidi di dalam pokok-pokok akidah adalah jalan yang sama.
Perbedaan yang terjadi di antara Asy’ariyyah dan Maturidiyyah adalah hanya dalam masalah-masalah cabang akidah saja (Furu’ al-‘Akidah). Hal ini tidak menjadikan kedua kelompok ini saling menghujat atau saling menyesatkan satu sama lainnya. Contoh perbedaan tersebut, prihal apakah Rasulullah melihat Allah saat peristiwa Mi’raj atau tidak? Sebagian sahabat, seperti ‘Aisyah, ‘Abdullah ibn Mas’ud mengatakan bahwa ketika itu Rasulullah tidak melihat Allah. Sedangkan sahabat lainnya, seperti ‘Abdullah ibn ‘Abbas mengatakan bahwa Rasulullah ketika itu melihat Allah dengan mata hatinya. Allah telah memberikan kemampuan kepada hati Rasulullah untuk dapat melihat-Nya. Perbedaan Furu’ al-‘Akidah semacam inilah yang terjadi antara al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah, sebagaimana perbedaan tersebut terjadi di kalangan sahabat Rasulullah.
Kesimpulannya, kedua kelompok ini masih tetap berada dalam satu ikatan al-Jama’ah. Dan kedua kelompok ini adalah kelompok mayoritas umat Rasulullah yang disebut dengan al-Firqah an-Najiyah, artinya sebagai satu-satunya kelompok yang selamat. Karena itu al-Imam al-Hafizh as-Sayyid Murtadla az-Zabidi (w 1205 H) dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, menuliskan:
إذَا أُطْلِقَ أهْلُ السُّنّةِ وَالجَمَاعَةِ فَالمُرَادُ بِهِمْ الأشَاعِرَةُ وَالمَاتُرِيْدِيَّة
“Jika disebut Ahlussunah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah” .
Dengan demikian akidah yang benar dan telah diyakni oleh para ulama Salaf terdahulu adalah akidah yang diyakini oleh kelompok al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan al-Imam Abu Manshur al-Maturidi tidak datang dengan membuat ajaran baru, tapi keduanya hanyalah merumuskan dan menjelaskan kembali akidah yang diyakini oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
Akidah Ahlussunnah ini adalah akidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam di seluruh penjuru dunia dari masa ke masa, dan antar generasi ke generasi. Di dalam fikih mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi, dan orang-orang terkemuka dari madzhab Hanbali. Akidah Ahlussunnah inilah yang diajarkan hingga kini di pondok-pondok pesantren di negara kita, Indonesia. Dan akidah ini pula yang diyakini oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia, di Indonesia, Malasiya, Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutama al-Azhar yang giat mengajarkan akidah ini), negar-negara Syam (Siria, Yordania, Lebanon, dan Palestina), Maroko, Yaman, Irak, Turki, Dagestan, Checnya, Afganistan, dan negara-negara lainnya.

Print halaman ini













@ANTI SYIAH
Nyuwun sewu mas, saya mau nanya nih dan silahkan dijawab sesuai pemahaman nt menurut ulama kebanggaan nt ibnu taymiyah dan ibnu abdulwahhab
1. Ada berapa ayat dlm Al Qur’an yg menerangkan Adanya Allah
2. Ada berapa ayat dlm Al Qur’an yg menerangkan tentang Keesaaan Allah
3. Ada berapa ayat dlm Al Qur’an yg menerangkan tentang Sifat Allah
4. Apa sih arti dari Uluhiyah
5. Apa sih arti Rububiyah
6. Apa sih arti Ahadiyah
7. Jelaskan juga makna Ahadiyah al dzatiyah, Ahadiyah al ilahiyah dan ahadiyah al katsrah
8. Ahadiyah, Wahidiyah dan Wahdaniyah (Ahad, wahid dan wahdah)itu berarti satu/tunggal. Tolong jelaskan maknanya masing-masing…..
9. TAUHID ULUHIYAH itu sebelum ibnu taymiyah sudah ada yang menuliskan dalam karyanya yaitu Muhyiddin Ibnu Arabi. Dan kita semua tahu kalau ibnu taymiyah juga mendalami karya2 ibnu arabi. Apakah mungkin ibnu taymiyah menjiplak dari ibnu arabi?
Monggo mas dijawab seluruh pertanyaan mbah yg masih bodoh ini………
@AS
Ayo dong jawab pertanyaan mbah nih. Soalnya masih banyak lho pertanyaan buat nt. Jangan kabur duluan ya………..
NGGAK TAU MBAH ……BELUM SAMPAI NGAJINYA ……KALAU DI KOMPUTERKAN TINGGAL COPAS ……he he he …..an @AS (awas SAMARAN )
@mamo
Pripun to mas mamo. kok kang AS (anti syiah, Amerika Serikat, Asli Samaran, dll) mboten maringi jawaban.
Lha meniko mbah taksih kathah simpenan pitakenan damel kang AS
he…he…he….mbah nggih maklumlah @AS puniko namung ponokawane wahabiyun dados ilmunipun cetek mbah …..ampun ndamel soal sing angel2 nggih mbah …..minimal saget ngubek wonten google mbaaaah nuwun.
wah mas mamo sama mbah redhy, ikutan dunk ngobrolnya, pake bhs nasionalnya, sy g mudeng nih .. ^_^
Mas Jafar
Aduh maaf ya kalau saya sempat pake bahasa jawa sama mas mamo. Soalnya sama-sama Jawanya dan maksud saya sekedar joke aja tetapi bikin yg lain ga paham. Maaf ya mas….
Sama, sy nih g mudeng juga tp msh enak bacanya mas mamo dan mbah redhy , drpd syairnya @ Aliran Sesat dst, dan Konco2nya Wahabi salafi,
@ferry .. siip mas Ferry, maju terus UMMATI ..
Bagi saudara-saudara Aswaja,,saya minta tolong untuk menanggapi copas-an teman ane yang Wahabiyyun ini.
http://www.facebook.com/notes/oky-laksa-indra-kencana/hakikat-tasawuf-dan-sufi/145058778883545
http://www.facebook.com/notes/oky-laksa-indra-kencana/tasawuf-dan-ilmu-laduni/167485276640895
http://www.facebook.com/notes/oky-laksa-indra-kencana/tawasul-dan-wasilah/167483239974432
Ane g ngerti tentang ke-sufi an,,minta tolong ikhwah.
Syukron perhatiannya
@MIZ kayaknya nt harus sering masuk blog SUFI MUDA n MUTIARA ZUHUD …….KLIK aja bro …
@Mamba’ul IZ
Ga usah bingung kalau bicara tentang tasawuf pada ahlinya tetapi kalau nt baca artikel tasawuf karya manusia Sal-Wahh malah bikin nt pusing bin bingung bin salah jalan lho. Karena apa…..
Sudah sangat jelas bahwa kaum sal-wah itu anti tasawuf, makanya ulasannya pasti buat mencela, menghina, merendahkan ilmu tasawuf yg sejatinya mulia. Bayangin aja, orang yg ga paham tasawuf bahkan benci kok menulis tasawuf. Pasti isinya penuh rekayasa dan FITNAH. Makanya hindari sejauh-jauhnya tulisan tasawuf karya ahli fitnah tasawuf yaitu kaum sal-wah. WASPADALAH….WASPADALAH….WASPADALAH
ANDA JANGAN JADI KORBAN ARTIKEL FITNAH TASAWUF
LAIN WAKTU, MBAH AKAN KASIH TAHU SEDIKIT TASAWUF YG BENAR DAN SHAHIH.
SABAR YA…….
Insya Allah ane tidak akan terpengaruh mbah,,ane juga pernah ikut kajian rutin Hikam di Masjid Ampel. Hanya saja akhir” ini semakin jarang ikut soalnya sibuk kuliah.
Ane juga tidak begitu mengerti Wahabiyyun,,makanya mau mendebat mereka juga bingung,,keras kepala mereka.
Ane cuma sedih melihat teman-teman ane kena Wahabi.
Terima kasih atas dukungan teman” Aswaja,,terlebih pada Ummati.
Semoga virus Wahabi-Salafy bisa dikokang dan ditembakkan kembali ke negeri Saudi,,amin.
Assalamu’alaikum
@MIZ
Lanjutin aje kajian al Hikamnya di Masjid Ampel and itu bagus sekali. Atau beli aja buku Risalah al Qusyairiyah, ini buku top abis buat memahami dasar-dasar tasawuf.
Assalamualaikum,,
Antum2 Smua senengnya Debat Kusir Terus,
Daripada Ribut2 Yg Ga Jelas Mndingan Kita Ngacirrrrrrr Yo,
Ke http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=1&ved=0CBoQFjAA&url=http%3A%2F%2Fmajelisrasulullah.org%2F&rct=j&q=www%20majelis%20rasulullah%20org&ei=Fsa8TYfqOYHTrQfJuqSCBg&usg=AFQjCNFjhC2FUaRr2Ltt8ieRzNG2ljEZ0A&cad=rja
ahlu sunnah wal jamaah itu kuncinya 4, tawasut,tawazun, tasamuh, dan adil. kalau di indonesia sebenarnya sudah dipelopori sejak lama oleh ulama-ulama yang dikenal dengan sebutan wali-wali sampai ke hasyim asy’ari dan gus dur. ahmad dahlan juga tunggal guru dengan hasyim asy’ari yang mendakwahkan islam rahmatal lil alamin. kalau mau belajar bloggramer di sini nitip link dikit ya
salam
maaf salah link buru-buru copi pastenya
Itu bukan Ahlus Sunnah, Jelas2 golongan Asy’ariyah..
Bismillaah,
Untuk mengetahui ciri-ciri Ahlul Sunnah wal Jamaah, mohon kiranya Admin menampilkan tulisan yang mengkritisi shalatnya wahabi baik shalat sendiri maupun shalat berjamaah. Dengan begitu umat Islam di Indonesia mengetahui bagaimana Ahlul Sunnah wal Jamaah melaksanakan ibadah shalat dari takbir hingga salam.
Wallaahu a’lam.
Bismillaah,
Untuk memudahkan mengetahui golongan yang selamat Ahlul Sunnah wal Jamaah, mohon para ASWAJA sampaikan bagaimana shalatnya Ahlul Sunnah wal Jamaah?
Wallaahu a’lam.
Rasulullah SAW bersabda:
“… Dan jadilah engkau hamba-hamba Allah yg bersaudara”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW bersabda:
“…Jadilah kamu semua hamba-hamba Allah yg bersaudara”. (HR. Bukhari Muslim)