Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Penjahat Besar Bagi Kaum Muslimin
Haram Itu Dosa dan Bid’ah itu Tidak Selalu Haram
Sebagai seorang Muslim, maukah anda menjadi Penjahat Besar bagi kaum Muslimin? Pastinya anda tidak mau kan? Tapi secara tidak sadar selama ini mungkin anda sudah termasuk bagian dari Penjahat-penjahat Besar terhadap kaum muslimin. Cobalah teliti apakah anda hobby mempermasalahkan amal-amal shalih kaum muslimin? Misalnya, apakah anda gemar meneriaki muslimin yang sedang baca surat Yasin di malam jum’at sebagai Ahli Bid’ah sesat dan masuk neraka? Banyak isu-isu bid’ah yang disebarkan di tengah ummat Islam yang kesemuanya menimbulkan fitnah terhadap Islam. Yang Mubah jadi haram bahkan yang halal pun jadi haram, inilah fitnah kepada Islam dan sekaligus menjadi kejahatan terbesar. Pernyataan ini bukan ngawur lho, sebab yang mengatakan demikian adalah Rasulullah Saw. Mari kita simak dan hayati perkataan Rasul Saw berikut ini….
قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ
الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ
مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw :
“Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang
mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram
sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)
Berdasar pada hadits Shahih di atas sangat jelas, bahwa mempermasalahkan amalan muslimin yang tidak haram dikatakan haram itu adalah kejahatan terbesar. Itu Nabi Saw yang mengatakannya. Tahlilan, Maulid, Dzikir Berjama’ah, Yasinan, sesungguhnya adalah amal-amal shalih kaum muslimin, tetapi karena dipermasalahkan membuatnya menjadi haram (dosa bagi pengamalnya).
Kaitannya dengan itu, dalam melancarkan missi dakwahnya Kaum Wahabi sangat gemar mempermasalahkan Tahlilan yang tidak haram dikatakan haram (pengertian bid’ah menurut Wahabi adalah: berdosa jika melakukan hal bid’ah. Ini artinya tidak lain adalah haram). Maulid Nabi tidak haram dikatakan haram, Tawassul dengan Nabi Saw tidak haram dikatakan haram bahkan pelaku Tawassul dikatakan Musyrik oleh kaum Wahabi. Kenapa Kaum Wahabi hobby berbuat demikian, tidakkah mereka telah melakukan kejahatan terbesar kepada Ummat Islam menurut pandangan Nabi saw?
Bagi yang merasa pengikut Wahabi mari kita simak kembali dan renungkan sedalam-dalamnya hadits yang mulia ini agar sembuh dari Maksiat Kejahatan Terbesar Bagi Kaum Muslimin:
قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ
أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw :
“Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)
Dari penjelasan analisa singkat di atas dapat kita katakan bahwa setiap yang haram itu dosa akan tetapi bid’ah itu tidak selalu haram. Semoga kita selamat dari pengaruh fitnah Islam, dan yang selama ini sudah terlanjur jadi Tukang Fitnah Islam semoga sadar dan tidak enggan bertaubat. Wallohu a’lam….
*****
Habib Munzir dalam salah satu majelisnya menjelaskan tentang hadits shahih ini sebagai berikut:
إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
Berikut adalah penjelasan Habib Munzir: Seorang muslim yang paling jahat kepada muslim lainnya orang muslim yang paling jahat paling besar dosanya paling besar kejahatannya adalah orang yang mempermasalahkan hal yang tidak diharamkan jadi haram gara – gara ia permasalahkan. Banyak sekarang yang muncul seperti ini, yang mengharamkan maulid, yang mengharamkan nisfu sya’ban, yang mengharamkan isra mi’raj. Hal ini tidak diharamkan dipermasalahkan hingga menjadi haram, padahal semuanya adalah syi’ar :
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“barangsiapa yang membesarkan syiar – syiar Allah, sungguh itu bentuk ketaqwaan hati.” (QS Alhajj 32)
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Disinilah kita memahami bahwa keagungan – keagungan syiar di masa ghaflahnya umat sangat dibutuhkan, kalau zaman dulu sudah kuat imannya muslimin – muslimat itu tapi zaman sekarang di mana ditemukan menyerukan Nama Allah, di mana kumpulan – kumpulan dzikir, lihat kumpulan – kumpulan dosa, perbuatan – perbuatan dosa, lihat luluh lantah dan hancurnya umat Muhammad Saw paling besar. Hadirin – hadirat, umat Muhammad Saw sekarang ini betul – betul menyayat hati Sang Nabi keadaannya, siapa yang berdzikir? siapa yang mengingat Allah? siapa lagi yang mau peduli di malam nisfu sya’ban, Sang Nabi bermunajat. Hadirin – hadirat, siapa lagi yang mau baca surat yasin, qalbul qur’an jantungnya alqur’an, siapa yang mau menghidupkan sunnah – sunnahnya Rasul makin hari makin tidak dikenal. Justru perkumpulan seperti inilah yang mesti dimakmurkan, mereka yang tidak suka semoga diberi hidayah, amin.
( lebih lengkap Klik Disini )















Masalah seorang berdoa untuk orang lain yang sudah meninggal juga sudah jelas. Bukankah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengarjarkan kepada umat Islam untuk berdoa: “Ya, Allah. Ampunilah kaum mukminin dan mukminat baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.”
Tentang pahala bacaan Qur’an seseorang untuk orang lain yang sudah meninggal, maka Imam Syafii mengatakan: “Tidak sampai”. Saya mengikuti pendapat beliau.
Wallaahu a’lam.
@ibnu suradi
Waktu ane tanya ente bermadzhab, ente gak jawab, karena ente pegang Madzhab Imam syafi’i, ini tambahan buat ente ya.
Coba baca Kitab Mukhtasar Imam Muzani atau Kitab Imam Nawawi, biar jelas terus padukan sama kitab Al Umm Imam Syafi’i. Dalam beberapa kitab ya ane ambil.
Imam an-Nawawi dalam Kitab : al-Minhaj syarah Shahih Muslim :
“… dan yang masyhur didalam madzhab kami (syafi’iyah) bahwa bacaan al-Qur’an pahalanya tidak sampai kepada mayyit, sedangkan jama’ah dari ulama kami (Syafi’iyah) mengatakan pahalanya sampai dan dengan ini Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat, “…… pahala bacaaan al-Qur’an tidak sampai kepada mayit merupakan qaul yang lemah dan sebagian ashhab kami –syafi’iyyah – mengatakan sampai pahalanya kepada mayit, merupakan qaul yang kuat atau mukmatad”.
“Adapun pembacaan al-Qur’an, yang masyhur dari madzhab asy-Syafi’i pahalanya tidak sampai kepada mayyit, sedangkan sebagian ashabusy syafi’i (‘ulama syafi’iyah) mengatakan pahalanya sampai kepada mayyit, dan pendapat kelompok-kelompok ulama juga mengatakan sampainya pahala seluruh ibadah seperti shalat, puasa, pembacaan al-Qur’an dan selain yang demikian, didalam kitab Shahih al-Bukhari pada bab orang yang meninggal yang memiliki tanggungan nadzar, sesungguhnya Ibnu ‘Umar memerintahkan kepada seseorang yang ibunya wafat sedangkan masih memiliki tanggungan shalat supaya melakukan shalat atas ibunya, dan diceritakan oleh pengarang kitab al-Hawi dari ‘Atha’ bin Abu Ribah dan Ishaq bin Ruwaihah bahwa keduanya mengatakan kebolehan shalat dari mayyit (pahalanya untuk mayyit). Asy-Syaikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad Hibbatullah bin Abu ‘Ishrun dari kalangan syafi’iyyah mutaakhhirin (pada masa Imam an-Nawawi) didalam kitabnya al-Intishar ilaa ikhtiyar adalah seperti pembahasan ini. Imam al-Mufassir Muhammad al-Baghawiy dari anshabus syafi’i didalam kitab at-Tahdzib berkata ; tidak jauh (tidaklah melenceng) agar memberikan makanan dari setiap shalat sebanyak satu mud, dan setiap hal ini izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah qiyas atas do’a, shadaqah dan haji, sesungguhnya itu sampai berdasarkan ijma’.”
Dalam Kitab : Mughni Muhtaj lil-Imam al-Khatib as-Sarbini Bab : 4 hal : 110
“dan diceritakan oleh mushannif didalam Syarh Muslim dan al-Adzkar tentang suatu pendapat bahwa pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayyit, seperti madzhab Imam Tiga (Abu Hanifah, Maliki dan Ahmad bin Hanbal) dan sekelompok jama’ah dari al-Ashhab (ulama Syafi’iyyah) telah memilih pendapat ini, diantaranya seperti Ibnu Shalah, al-Muhib ath-Thabari, Ibnu Abid Dam, shahib ad-Dakhair juga Ibnu ‘Abi Ishruun, dan umat Islam beramal dengan hal tersebut, apa yang oleh kaum Muslimin di pandang baik maka itu baik disisi Allah.
Imam As-Subki berkata : .. dan yang menujukkan atas hal tersebut adalah khabar (hadits) berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an apabila di tujukan (diniatkan) pembacaannya niscaya memberikan manfaat kepada mayyit dan meringankan (siksa) dengan kemanfaatannya. Apabila telah tsabit bahwa surah al-Fatihah ketika di tujukan (diniatkan) manfaatnya oleh si pembaca bisa bermanfaat bagi orang yang terkena sengatan, sedangkan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam taqrir atas kejadian tersebut dengan bersabda : “Dari mana engkau tahu bahwa surah al-Fatihah adalah ruqiyyah ?”, jika bermanfaat bagi orang hidup dengan mengqashadkannya (meniatkannya) maka kemanfaatan bagi mayyit dengan hal tersebut lebih utama”.
Kalau ente ngambil pendapat ente itu, mungkin ente baca Kitab Tafsir Ibnu Katsir, tapi gak apa2 yang penting ente bisa terapinnya, sebab 3 Madzhab mengatakan sampai pahalanya, kenapa Imam Syafi’i tidak, penjelasannya dah ane jawab ya.
Tapi terserah ente percaya apa tidak ya !!!!
naaaah jadi nyambung nih dari ane….menurut ilmu yg dimiliki Kang Suradi, orang tua Rosululloh SAW itu, kafir yg berarti masuk neraka, atau masuk Syurga? karena Orang Tua Rosululloh SAW kan meninggal ketika Rosululloh SAW masih kecil, ingat poin : anak yg membaca Qur’an/do’a untuk ortu nya yg sudah meninggal, pahalanya akan sampai….dan ingat bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rosul Alloh SWT, Nabi terakhir, manusia paling sempurna di bumi ini….
silahkan ditanggapi….
Anda salah poin di sini. Amal kebajikan orang kafir tidak dihitung, lenyap bagaikan debu yang ditiup angin. Kebaikan orang kafir sudah dibalas secara sempurna di dunia. Biasanya ini adalah pertanyaan pancingan, setelah dijawab, lalu muncul balasan semisal “wahabi bergembira orang tua Nabi SAW masuk neraka”.
Memang kebanyakan Asjam lebih mengedepankan akal daripada dalil. Orang tua Rasulullah SAW kok kafir, padahal beliau kan makhluk yang paling dicintai Allah? Kalau Qadarallah begitu, masak mau membantah?
Ya begitulah, kalau orang tua Rasulullah tidak bisa “diislamkan”, ya berantakan itu hadits palsu tentang Nur Muhammad. Makanya mereka harus dibuat tidak kafir, terus ke atasnya juga bapak Nabi Ibrahim juga tidak kafir. Jadi untuk membuat satu dusta, harus membuat beberapa dusta pendukungnya.
hebat bgt si bedul dAh bisa lebih pintar dari Rosululloh SAW, nauzubillah…ampe merinding ada org yg merasa lebih berilmu dari para ulama salaf…bukan SAWAH loh yah…apalagi merasa lebih berilmu dari Rosululloh SAW, tanpa dia menunjukkan bukti2 nya….
saya mau nanya ke wahabi
misalnya ada si a pernah ngasih uang sama si b buat jajan. trus si a ini meninggal lalu si b merasa bahwa si a pernah berbuat baik pada dia dia ingin membalas kebaikan sia tadi tapi dia ngak punya duit untuk sedekah trus si b baca quran lalu si b menghadiahka pahala ya dia ke si a.
pertanyaannya
apakah pahala bacaan quran si b yampe atau tidak ?
Bismillaah,
Kang Ronny,
Kalau kita memiliki hutang budi kepada orang yang sudah meninggal, maka berdoalah untuknya. Mintalah kepada Allah ampunan untuknya. Sebenarnya yang dibutuhkan orang yang sudah meninggal adalah ampunan dari Allah. Bila sudah diampuni, maka selamatlah dia di alam kubur, Padang Ma’syar, Hari Hisab dan akhirnya masuk surga.
Maka, mohon ampunan dan rahmat Allah untuk orang yang sudah meninggal.
Wallaahu a’lam.
AWAS VIRUS WAHABI …..
1.Ada pembalikan skala prioritas pada cara berpikir dan bertindaknya. Misalnya, mereka lebih memilih meneriakan slogan bid’ah-sesat pada orang yang merayakan acara maulid, ziarah kubur, dll yang hukumnya masih mukhtaf fihi, walapun berpotensi mengancam persatuan umat. Karena jelas sikap keras itu akan menimbulkan ketersinggungan dan menimbulkan aksi balas yang kontra-produktif.
2.Dalam bidang pengetahuan agama, mereka terlalu konsen dengan menghafalkan tumpukan matan-syarah kitab, dan sibuk dengan fikih furu’iyah yang sering tidak di bandingi dengan pengetahuan kontemporer, sehingga yang terjadi adalah keluarnya fatwa-fatwa keras pada soal khilafiyah yang sering bertabrakan dengan kemaslahatan umat.
3.Menutup pintu kebenaran dari pendapat orang lain. Seolah yang benar hanya dirinya saja. Efeknya mereka menekan orang lain untuk ikut pendapatnya. Bahkan sebagian dari mereka tak segan untuk menyesatkan ulama yang berfatwa kebalikan dari pendapatnya. Lihat misalnya kasus yang menimpa pengarang buku best seller, La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni yang dikecam habis gara-gara berfatwa wanita boleh tak memakai cadar dan boleh ikut pemilu. Hal yang sama juga pernah menimpa almarhum Syeikh Ghazali dan Syeikh Qaradhawi.
4.Sering me-blowup permasalahan ajaran sufi, ziarah kubur, maulid nabi, tawasul dan sejenisnya, seolah-olah ukuran tertinggi antara yang hak dan bathil. Tapi pada saat yang sama mereka tidak peduli pada kebijakan publik dari pemerintahnya yang kadang tidak berpihak pada kepentingan rakyat dan umat Islam. Mereka taat total pada penguasa yang kadang kebijakannya tidak arif. Sangat jarang, kalau tak dikatakan tak ada, tokoh-tokoh Wahabi melakukan kritik pedas pada pemerintahan Arab saudi soal soal sistem pemerintah, kebijakan penjualan minyak, kebijakan politik luar negeri, lebih-lebih mengkritik “kedekatan” pemerintahanya sama Amerika dan sekutunya.
5.Terlalu mengagungkan tokoh-tokoh kuncinya, semisal Ibnu Taymiah, Bin Baz, dll, sehingga mengurangi nalar kritis. Padahal, pada saat yang sama mereka berteriak anti taklid!
6.Terlalu asyik dengan permasalahan mukhlataf fihi, sehingga sering lalai dengan kepentingan global umat Islam
7.Terlalu tekstualis, sehingga sering menyisihkan pentingnya akal dan kerap Alergi dengan hal-hal baru.
Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi : Ke mana-mana selalu menyebarkan salam. Selalu memakai baju bercorak gamis dan celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab. Jenggotnya dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya pemberlakuan syariat Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bidah, dan khurafat. Referensinya, al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya serba keren, valid, islami. Begitulah kira-kira penampilan kaum Wahabi. Sepintas dan secara lahiriah meyakinkan, mengagumkan.
Mas @assajjad
Yah begitulah mereka wahabiyun, makanya didaerah ane yang udah bersih dari sekte mereka, walau demikian ane sama temen2 tetap waspada sama penyebaran sekte wahabi.
Astaghfirullah..,jenggot lebat itu anjuran rosul bung.Ente bilang jenggot lebat terkesan menyeramkan sama aja ente menyelisihi sunnah rosul.Sama aja ente bilang Rosul itu menyeramkan.Bukankah rosul pernah memerintahkan kepada umatnya untuk mencukur kumis dan memanjangkan jenggot?.Ente mengaku umat Rosul tapi kok menghina orang yang ingin melaksanakan perintah Rosul.Kalo ente tidak bisa menjalankan perintah Rosul jangan mengaku umat Rosul.Semoga ente diberikan hidayah.
mas hamba Allah, emangnya Rasulullah nyuruh kita berjenggot sampe brapa panjangnya?trus jenggotnya kaum yahudi ama muslim dimana?
oh berarti kita dapat menambil manfaat dari yang hidup jika kita udah meninggal meskipun yang hidup itu ngak ada hubungan darah.
jadi boleh dong kalo seorang anak atau ahli waris mengundang orang lain untuk berkumpul bersama dan mendoakan orang yang udah meninggal?
Jadi Tommy Winata misalnya sebelum mati tobat, terus ahli warisnya pergi ke kampung Asjam, lalu kasih duit 10 milyar hasil dari suap, judi & narkoba, minta bacain Qur’an 1 juz perhari selama 1 tahun pahalanya untuk dia, terus bisa masuk surga, gitu?
tergantung ente yakin ngak diakhirat ada mizan, bukankan semua diperhitungkan. mau kamu nanam baik atau buruk semuanya masuk itungan. apakah kamu yakin dengan baca 1 juz perhari selama satu tahun bisa masuk surga.
jangankan tommy winata sebelum mati tobat nasuha bisa masuk surga atau enggak kang abdullah firaun juga kalo sebelum mati taubat nasuha mah masuk surga,
bukankan ente kalo doa untuk seluruh muslim yang udah meninggal semua dapat hasil doa kamu termasuk didalamnya muslim muslim yang mempunyai dosa besar.
trus catatan penting yang nentuin makhluk masuk surga cuma alloh. kami ngak pernah menyebutkan kalo melakukan amalan tertentu pasti masuk surga.
Ane baca Kitab kumpulan Cacian Albani yang ditujukan kepada para Ulama sekarang maupun ulama kontemporer dengan menyebutkan kata-kata :
Jahil (orang bodoh), Halik (binasa), Muta’ashshib (fanatik), Azhim ul-ghaflah (sangat sembrono), Thabl la yadri ma yakhruj min ra’sih (gendang yang tidak tahu apa yang keluar dari kepalanya), Syiddatu humqih (sangat tolol), Dhahalatu aqlih (sesat otaknya), Rafidhi mitslu al-himar (dia seorang rafidhi seperti keledai), Istifhalu jahlil (ketololannya amat sangat!), Jahul (orang tolol!), Mubtadi’ (ahli bid’ah), Dhal (sesat), Kadzdzab (pendusta), Mumawwih (pemalsu), Mulabbis (penipu), Ghairu mu’tamin ‘ala din (tidak amanah dalam agama), Ka dhartati ‘air fi al-’ara (seperti ringkikan keledai liar di tanah lapang), Fanzhuru ila iffatihi bal ufunatih (lihatlah kebersihannya bahkan kebusukan-kebusukannya), Huwa akdzab min himari hadza (dia lebih dusta dari keledaiku ini), Himar khassaf (keledai dungu), Waqah (tidak punya rasa malu), Kanud (kufur nikmat).
Pantaskah seorang Albani yang dikatakan seorang Muhadist oleh pengikut Wahabiyun ????. ane dapat dari Kitab : Qamus Syata’im al-Albani (Kumpulan cacian Al Albani), Pengarang : Sayyid Hasan bin Ali As-Segaf, Penerbit : Darul Imam Nawawi, Bairut Lebanon.
Masya Allah, Allahumar Zuqni qalban taqiyyan, minasyirki naqiyyan, la jafiyan wala syaqiya. Amiin ya robbal alamin.
Ya Mas Ucep, gaya albani yg kasar dikuti oleh para pengikutnya. Dan kahirnya menular ke kita-kita jadi ikut-ikutan gayanya. Ayokita perbaiki koment2 kita dg koment yg khas Aswaja. Santun dan bermartabat. Kita sebaiknya jangan terpengaruh oleh gaya Wahabi yg terinspirasi oleh gaya Albani.
kalo di pukul rata tentu aliran sesat spt ahmadyah,dll kalo pakai hadist ini tentu mereka akan mengatakan hal sama kpd yg kontra.
maka tentu wajib di rinci satu per satu apa benar amalan-2 an tsb ada celah utk di katakan bid’ah. jika Rasulullah tdk memberi contoh, khulafaur Rasyidin, sahabat tidak melakukan maka ibadah dan amalan tsb tentu bid’ah. bukankah Rasulullah mengatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat dan sesat tempatnya di neraka. Adapun makna bid’ah tentu yg secara istilah krn ibadah itu sdh petunjuknya, bukan inovasi atau modifikasi manusia.
Sedang bid’ah secara bahasa spt TV,hp,mobil, komputer maka hukumnya boleh.
setiap bid’ah adalah sesat, tp tv, radio, motor, mobil memang bid’ah tp diperbolehkan, itu kata IS, mau tanya dalil atau di Qur’an surata mana dan hadist yg mana menerangkan tv, radio, mobil, motor itu bid’ah yg diperbolehkan??????????
Untuk TATAPAN DAN RENUNGAN semua terutama Golongan Salafi Wahhabi
SILA KE SITUS INI
http://kamilzuhairi.blogspot.com/2011/12/hadiah-untuk-aizam-masud-ustaz-pilihan_15.html
saya menyenangi nasyiruddin albani, syech Abdurahman al Jibrin, abdul aziz bin baz, DR. Aid al qorni karena beliau-beliau lah yang memberantas syirik, bid’ah, tahayul dan kurafat. saya pribadi ingin beragama itu, apa yang dibawakan nabi Muhammad saw itulah yang saya laksanakan/amalkan karena Islam itu sudah sempurna, hanya orang-bodoh-bodoh akhiratlah yang menambah-nambah islam.
mas samsul bahri, saya menghargai anda menyenangi siapapun ulama yg anda senangi dan kagumi, akan tetapi kita harus faham bahwa yg namanya ulama adalah seorang yg memiliki keistimewaan yg diwariskan oleh Rasulullah SAW. bagaimana mungkin seorang ulama yg anda kagumi sebagai ulama salaf mempunyai sifat dan tingkah laku yg justru sangat bertentangan dg prilaku ulama salaf dan khalaf?apakah dibenarkan ulama mengkafirkan orang lain yg beda pendapat? bukanlah termasuk umatku yg suka menghina n menjelek2an ulama (HR.Ahmad,Thabrani n Hakim). menyakiti binatang aja sdh dilarang apalagi menyakiti hati manusia. tp jgn sampe ada alasan kita boleh menghujat dg alasan bhw kebenaran harus disampaikan. mudah2an kita tdk termasuk orng yg mencintai seeorang akan tetapi sesungguhnya dpt menjerumuskan kita.
@Syamsul Bahrie:
syekh Albani sebelum wafatnya sudah taubat dan akidahnya mengikti faham Asya’ari…sehingga sebagian kaum Wahabi yg telah mengetahui ini mengkafirkan syekh Al-bani. apakah anda belum pernah membaca perihal ini?