Berdasar Al Qur'an – Al Sunnah Menurut Pemahaman Salafus Shalih
Inspirasi Islam
Dijaga Aki Ismet

Inilah Faktanya : Wahhabi Sedikit Pun Tak Layak Mengaku Ahlussunnah!

Fakta kuat : Sekte Wahhabi Sedikit Pun Tak Layak Mengaku Ahlussunnah Wal Jamaah!

Kholil Abou Fateh

Salafy WahabiBahkan Ulama Ahlussunnah Terkemuka Sekelas Imam Ibn Hajar al-Asqalani Dituduh Sesat Oleh Kaum Wahhabi !!!  Na’udzu Billah !!

Masalah yang paling banyak mendapat pengingkaran keras dari kaum Musyabbihah [kaum Wahhabi di masa sekarang] yang sangat benci terhadap Ilmu Kalam adalah pembahasan nama-nama atau sifat-sifat Allah. Mereka seringkali mengatakan bahwa ungkapan istilah-istilah seperti al-jism (benda/tubuh), al-hadaqah (kelopak mata), al-lisan (lidah), al-huruf (huruf), al-qadam (kaki), al-jauhar (benda), al-‘ardl (sifat benda), al-juz’ (bagian), al-kammiyyah (ukuran) dan lain sebagainya, dalam pembahasan tauhid adalah perkara bid’ah. Mereka mengatakan bahwa dalam mentauhidkan Allah tidak perlu mensucikan Allah dari istilah-istilah tersebut. Menurut mereka pembahasan seperti itu bukan ajaran tauhid yang diajarkan Rasulullah, dan karenanya, -menurut mereka-, hal semacam itu bukan merupakan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Sesungguhnya mereka yang mengingkari istilah-istilah yang biasa dipakai oleh Ahli Kalam Ahlussunnah, tidak lain adalah karena mereka sendiri menyembunyikan akidah tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya) dalam hati mereka. Dan sebenarnya dari semenjak dahulu seperti itulah ungkapan-ungkapan kaum Musyabbihah untuk menyembunyikan keburukan akidah mereka. Karena itu bukan rahasia bahwa kaum Musyabbihah sangat membenci kaum teolog Ahlussunnah, menyesatkan mereka dan bahkan mengkafirkan mereka.

 

Di antara barisan kaum Musyabbihah sekarang yang sangat apriori terhadap istilah-istilah dalam Ilmu Kalam tersebut adalah kaum Wahhabiyyah. Dalam berbagai masalah akidah, kaum jumud yang sangat keras kepala ini hanya berkiblat kepada Ibn Taimiyyah. Semua akidah Tasybih dan Tajsim yang ada pada Ibn Taimiyyah dengan sangat rapih mereka ikuti setiap jengkalnya, seperti berkeyakinan bahwa Allah bertempat di atas arsy, Allah memiliki bentuk dan ukuran, nereka akan punah, dan lain sebagainya. Anehnya; mereka sangat membenci filsafat, padahal sebenarnya Ibn Taimiyah ini adalah orang yang telah jauh masuk dalam wilayah filsafat yang gelap gulita, sebagaimana diakui oleh muridnya sendiri; Adz-Dzahabi dalam risalah Bayan Zagl al-‘Ilm Wa ath-Thalab dan dalam an-Nashihah adz-Dzahabiyyah.

 

Simak tulisan salah seorang pimpinan mereka yang bernama ‘Abdullah ibn Baz dalam buku yang ia tulis sebagai bantahan terhadap Syekh Muhammad ‘Ali as-Shabuni, berjudul Tanbihat Hammah ‘Ala Ma Katabahu as-Syaikh Muhammad ‘Ali as-Shabuni Fi Shifatillah. Lihat dalam cetakan Jam’iyyah at-Turats al-Islami, Kuwait, h. 22, Ibn Baz menuliskan sebagai berikut:
“Sesungguhnya mensucikan Allah dari dari al-Jism (bentuk/tubuh), as-Shimakh (gendang telinga), al-Lisan (lidah), al-Hanjarah (tenggorokan) bukanlah model pembicaraan orang-orang Ahlussunnah. Akan tetapi hal semacam itu merupakan bahasan-bahasan para Ahli Kalam yang tercela yang mereka buat-buat saja” (lihat Tanbihat Hammah, h. 22).

 

Bukan hanya Syekh Ali ash-Shabuni saja yang mendapat serangan keras dari orang-orang semacam Ibn Baz atau orang-orang Wahhabi lainnya, bahkan tanpa sungkan sedikitpun mereka telah menyesatkan para ulama sekelas al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani, al-Imam al-Hafizh an-Nawawi, al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi dan para ulama terkemuka lainnya. Namun yang sangat mengherankan; di saat yang sama mereka juga menggunakan karya-karya para ulama Ahlussunnah tersebut sebagai referensi kajian mereka. Hasbunallah.

Simak tulisan salah seorang pemuka kaum Wahhabiyyah; ‘Abd ar-Rahman ibn Hasan, yang merupakan cucu dari Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, pendiri gerakan Wahhabi. Dalam tulisannya, setelah ia mengungkapkan kesesatan kaum Jahmiyyah sebagai kaum yang menafikan sifat-sifat Allah (Mu’aththilah), ia kemudian mengatakan:
“Kesesatan kaum Jahmiyyah ini kemudian diikuti oleh kaum Mu’tazilah dan kaum Asya’irah dan beberapa kelompok lainnya. Karena itu mereka semua telah dikafirkan oleh banyak kalangan Ahlussunnah” (Lihat buku mereka berjudul Fath al-Majid, cet. Maktabah Darussalam, Riyadl, 1413-1992, h. 353).

 

Tulisan ‘Abd ar-Rahman ibn Hasan di atas adalah sikap yang sama sekali tidak apresiatif terhadap ulama Ahlussunnah. Ia menutup matanya sendiri untuk mengelabui orang lain; bahwa sesungguhnya kaum Asy’ariyyah tidak lain adalah kaum Ahlussunnah. Tahukah dia atau memang pura-pura tidak tahu bahwa Ibn Hajar seorang Asy’ari? Adakah orang semacam ‘Abdurrahman ibn Hasan, atau orang-orang Wahhabi lainnya, yang berkeyakinan bahwa Allah bertempat di atas arsy, mansifati-Nya dengan gerak dan diam, atau turun dan naik; pantas di katakan Ahussunnah?!

Demi Allah, mereka sedikitpun tidak layak untuk dikatakan Ahlussunnah. Klaim bahwa hanya kelompok mereka saja yang berhaluan Ahlussunnah adalah bohong besar. Adakah mereka tidak melihat [atau karena memang buta mata hatinya] bahwa barisan ulama Ahlussunnah adalah kaum Asy’ariyyah; para pengikut al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari?! Adakah orang semacam Ibn Taimiyah yang berkeyakinan tasybih; mengatakan bahwa Allah memiliki bentuk dan duduk di atas arsy, pantaskah ia untuk dijadikan panutan dalam masalah akidah?

 

Simak pula tulisan pemuka Wahhabi lainnya, Shalih ibn Fauzan al-Fauzan, dengan tanpa sungkan ia berkata: “Kaum al-Asy’ariyyah dan kaum al-Maturidiyyah adalah kaum yang menyalahi para sahabat dan Tabi’in, juga para Imam madzhab yang empat dalam kebanyakan permasalahan akidah dan dasar-dasar agama. Karenanya mereka tidak layak untuk diberi gelar Ahlussunnah Wal Jama’ah” (Lihat dalam karyanya berjudul “Min Masyahir al-Mujaddidin Fi al-Islam; Ibn Taimiyah, Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab”. Cet. Dar al-Ifta’, Saudi Arabia, 1408 H, h. 32).

Pemuka wahhabi lainnya bernama Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin, salah seorang pendakwah ajaran Wahhabi terdepan, dalam salah satu bukunya berjudul Liqa’ al-Bab al-Maftuh menusikan sebagai berikut:

“Soal: “Apakah Ibn Hajar al-‘Asqalani dan an-Nawawi dari golongan Ahlussunnah atau bukan?”.

Jawab (‘Utsaimin): “Dilihat dari metode keduanya dalam menetapkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah maka keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah”.
Soal: “Apakah kita mengatakan secara mutlak bahwa keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah?”.

Jawab: “Kita tidak memutlakan” (Lihat buku dengan judul Liqa al-Bab al-Maftuh, cet. Dar al-Wathan, Riyadl, 1414 H, h. 42).

Saya, Abou Fateh katakan: “Semacam itulah ungkapan-ungkapan yang selalu dibahasakan oleh para pembenci kaum Sunni, dari dahulu hingga sekarang. Dan itulah jalan satu-satunya yang mereka miliki untuk menyembunyikan akidah tasybih yang mereka yakini”.

Berikut ini dari Tulisan al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 852 H) dalam karyanya sangat mashur Fath al-Bari dalam menjelaskan kesucian Allah dari tempat dan arah, beliau menuliskan:
“Bahwa arah atas dan arah bawah adalah sesuatu yang mustahil atas Allah, hal ini bukan berarti harus menafikan salah satu sifat-Nya, yaitu sifat al-‘Uluww. Karena pengertiannya adalah dari segi maknawi bukan dari segi indrawi. (Dengan demikian makna al-‘Uluww adalah Yang maha tinggi derajat dan keagungan-Nya, bukan dalam pengertian berada di arah atas). Karena mustahil pengertian al-‘Uluww ini secara indrawi. Inilah pengertian dari beberapa sifat-Nya; al-‘Aali, al-‘Alyy dan al-Muta’li. Ini semua bukan dalam pengertian arah dan tempat, namun demikian Dia mengetahui segala sesuatu” (Fath al-Bari, j. 6, h. 136).

Pada bagian lain dalam kitab yang sama tentang pembahasan hadits an-Nuzul beliau menuliskan sebagai berikut: “Hadits ini dijadikan dalil oleh orang yang menetapkan adanya arah bagi Allah, yaitu arah atas. Namun demikian kayakinan mayoritas mengingkari hal itu. Karena menetapkan arah bagi-Nya sama saja dengan menetapkan tempat bagi-Nya. Dan Allah maha suci dari pada itu” (fath al-Bari, j. 3, h. 30).

Pada bagian lain beliau menuliskan: “Keyakinan para Imam salaf dan ulama Ahlussunnah dari Khalaf adalah bahwa Allah maha suci dari gerak, berpindah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, menyatu dengan sesuatu. Dia tidak menyerupai segala apapun” (Fath al-Bari, j. 7, h. 124).
Wa shallallahu Ala Sayyidina Muhammad Wa Sallam
Wa al-Hamdu Lillahi Rabbil Alamin.

Kholil Abou Fateh

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

144 Responses to Inilah Faktanya : Wahhabi Sedikit Pun Tak Layak Mengaku Ahlussunnah!

  • ASY-SAIDANI says:

    >>>Kalau fatwa takfir Bin Baz atau Wahabi anda anggap bahaya, maka ..dst
    — > di riwayatkan dari abu Dzar Nabi SAW bersabdam “barang siapa menyebut (memvonis) seseoramg dg keKAFIRan, atw mengatakannya (sebagai) musuh Allah, padahal (kenyataannya) tidak seperti itu, maka (vonisnya) kembali kepada dirinya sendiri. (HR. Bukhori) itsarul Haq Hal : 381
    —– > diriwayatkan Ibnu Umarm nabi SAW bersabda,” Barang siapa mengKAFIRkan ahli la ilaha illa allah, maka dia sendiri lebih dekat kepada keKAFIRan” (HR. Thobroni). itsarul Haq Hal : 393
    >>>>Demikianlah Asy’ariyyah, firqah pertama yang mempatenkan merek ahlus sunnah wal jamaah. Lalu di luar firqah mereka itu apa?? Kafir?? Ahlu bid’ah?? atau apa??
    — > he..he..he..ya, liat2 dulu dong.. klw firqoh yang mengakui adanya nabi setelah nabi Muhammad SAW, atw berkeyakinan Dzat allah khulul pada manusia …ya kafir. Begitu juga orang yg menentang ijma’ dan maklum min addin bi addloruroh seperti mengingkari KHULUD (kekal) nya neraka.. ya kafir!!setuju? Adapun klw faham irja’ atau jabariyah atw qodariyah.. ijma’ ulama, firqoh2 tsb adlh AHLU BID’AH.
    >>>Seluruh ummat Islam di dunia tervonis kafir atau ahli bid’ah oleh doktrin Asy’ariyyah ini.
    —- > he..he.. kata2 antum hai ustadz.. ada kontradiksi.bukankah kata “seluruh umat islam” juga mencakup asy’ariyah-maturidiyah yang merupakan MAYORITAS muslimin?

  • ASY-SAIDANI says:

    @RONI
    >>>Demikianlah Asy’ariyyah, firqah pertama yang mempatenkan merek ahlus sunnah wal jamaah. Lalu di luar firqah mereka itu apa??
    —- > memperhatikan fakta bahwa mayoritas ulama mufassirin, semua penyarah kitab bukhori muslim, mayoritas ulama syafi’iyah, malikiyah, hanafiyah dan sebagian hanbaliyah adalah bermadzhab asy’ariyah-maturidiyah.. sehingga madhab asy’ariyah adlh madzhab ushul yg didukung oleh JUMHUR (mayoritas) ULAMA…
    —- > mengingat sabda Rasulullah
    “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (GOLONGAN MAYORITAS ULAMA).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)
    —- > maka agaknya tidak salah klw sebagai golongan yg didukung mayoritas ulama,… asy’ariah “mempatenkan label ahlus sunnah wal jamaah”.

    • della mariska tampubolon says:

      Shohih kang Syaidani, maka pantaslah Asy’ariyyah itu mematenkan label Aswaja karena mereka didukung oleh Mayoritas Ulama Sholihin… ini fakta yg tak mungkin diingkari oleh orang2 yg jujur hatinya. Thanks….

  • abu ahmad says:

    @ Kang Roni….antum ga usah mati2an belain Bin Baz…kalo emang salah emang pada tempatnya manusia salah/khliaf…minta maap aja atas nama beliau,,,,,dan doakan semoga ALLAH mengampuninya

    @.Asy-Saidani @ dkk…sebaiknya antum juga jangan terlalu menjelek-jelekan bin Baz…mungkin sesaat menjelang matinya bin Baz…beliau telah bertobat dan Allah menerima tobatnya

    Forum ini sangat bermanfaat bagi saya & temans……..
    ***memang gerakan wahabi/salafi beberapa tahun ini melejit….dengan metode marketing+promosi “tampil beda”….yaitu tiba2 nongol dengan kata2 Bid’ah…Firqoh yg selamat dll…seluruh harokah dibilang Bid’ah..HTI,IM JT,NU dll….karena ga sesuai dengan pendapat ulama2nya…..padahal setelah dipelajari perbedaan cuma dikit…
    ** tapi komen saya ini tidak berarti saya bersebrangan dengan ust.Roni ya….

    **saya netral aja…dan kaya’nya saya ada diantara antum berdua…ehh bukan ana plin-plan ye…ana asyaariin salafiyiin….tapi ana bukan wahabiyyun,,,,,

    ….terusin…..barakallah fiikum…!!!

    • ASY-SAIDANI says:

      @abu ahmad
      >>>Asy-Saidani @ dkk…sebaiknya antum juga jangan terlalu menjelek-jelekan bin Baz…
      —– > maap ustadz, sebenarnya bukan maksud ana menjelek2kan bin baz. Tapi yang ana lawan adl FATWA TAKFIRnya karena hal ini mengancam ukhwah islamiyah dan islam rahmatan lil alamin. Saat ini dunia islam terancam perpecahan serius karena doktrin2 takfir/tadlil dan tabdi’ oleh wahabi.
      Tengok!
      1.SOMALIA. Saat ini terjadi peperangan saudara setelah munculnya “as-syabab” yg beraflisiasi ke wahabi. Mereka membongkar kuburan orang2 salih dan mengKAFIRkan orang2 yg beristighosah/bertawasul, menembaki acara2 maulid nabi, merampok harta masyarakat yg tidak sepaham dengan alasan harta orang kafir halal (mungkin faham ini yg menyebabkan mereka menjadi bajak laut, termasuk Indonesia baru saja jadi korban kan?). wajah dunia islam jadi jelek karena ulah segelintir as-syabab Somalia yg suka bajak kapal2 laut.
      2.MESIR pasca turunnya husni mubarok. Segelintir orang yg ngaku salafi membongkar kuburan2 orang2 saleh, mereka juga menuntut dibongkarnya kubur AL HUSEIN RA yg sewaktu kecil dulu bibirnya sering dicium Nabi SAW.
      3.PALESTINA. Disaat saudara2 kita dipalestina berjuang melawan zionis, mereka yg mengaku salafy di palestin justru memerangi para mujahid.
      4.Klw wahabi di Indonesia punya kekuatan, tidak mustahil apa yg terjadi di Somalia juga terjadi di Indonesia? Apakah kita harus mendiamkan?
      >>>>mungkin sesaat menjelang matinya bin Baz…beliau telah bertobat dan Allah menerima tobatnya
      —- > semoga saja, tapi tentang fatwa2 takfirnya tetap harus kita LURUSkan.

  • Bima AsSyafi'i says:

    maikin nyata siapa yang “kurang cermat” dan menuduh orang lain kuang cermat.
    makin nyata siapa yang ittiba dan siapa yang “taklid butaaaaaaa”.
    Mungkin dari kita perlu juga membaca “buku lain” di luar buku “paham kita” sehingga terbuka cakrawala berpikir dan tidak terkungkung pada satu pandangan, apalagi kalau pandangan tersebut memfitnah ulama-ulama muktabar.
    Tapi ada ilmu baru mungkin bisa menjadi tambahan ilmu bagi kita sbb.:
    >>Seluruh ummat Islam di dunia tervonis kafir atau ahli bid’ah oleh doktrin Asy’ariyyah ini. Naudzu billah.
    — > he..he.. mau fitnah ya? Kpn dan dikitab apa.. asy’ariyah mengkafirkan muslim lain? Malu ah?
    @Ustadz Roni, mohon bisa dijelaskan tuduhan tersebut, karena kalo ga ada fakta dapat menjadi fitnah. Bukankah hal tersebut akan kita pertanggungjawabkan?

  • roni says:

    @Saidani dkk

    Bukti 1

    Akidah Asy’ariyyah hanyalah akidah adopsi dari akidah mu’tazilah dan kullabiyyah. Hal ini diakui oleh tokoh asy’ariyyah kontemporer, yang juga diikuti oleh kalian. Bahkan tokoh ini terang terangan memuji mu’tazilah dan mencemooh Imam Asy’ari. Begitu tega tokoh ini mengatakan bahwa pendiri sekte asy’ariyyah adalah bukan Abu Hasan Al-Asy’ari, tapi Imam Ghazali dan Imam Haramain.

    Hal semata mata karena Imam Asy’ari rahimahullah telah meninggalkan asy’ariyyah dan kembali pada ahlis sunnah. Sementara dia sendiri, dan juga kalian tidak mau mengikutinya.
    Simak pernyataan tokoh asy’ariyyah tersebut:

      • ASY-SAIDANI says:

        @RONI
        >>Bukti 1….
        — > mana pak bukti klw asy’ariyah mengKAFIRkan kaum muslimin diluar mereka? Kok gak nyambung ya?
        >>>Simak pernyataan tokoh asy’ariyyah tersebut:
        — > pak ustadz.. klw ngasih bukti yan otentik. Kitab apa? Halaman berapa? Klw you tobe2 tu gak akurat? lewatkan aja!
        Sebutkan kitab refrensinya…Biar kita telaah bersama? Klw yg dimaksud tokoh asy’ariyah tu ya para imam2 asy’ariyah dg bukti kitab2nya?

      • aswaja selalu says:

        Bang Roni,

        kalo pake youtube, sekalian aja rekaman-2 Maulidan di mana-2 yg di upload di youtube dong hehehehe……
        tapi kok yg ente share link tsb kaya Roja tv yah , pake soundeffect bunyi peluru, pake suara petir…kaya sinetron-2 yah….

  • roni says:

    @Saidani dkk

    Bukti 2

    Ustadz Saidani mengatakan bahwa Kullabiyyah dan Asy’ariyyah keduanya adalah ahlus sunnah. Sementara Syekh Abdul Qodir Jailani mengatakan keduanya bukan ahlus sunnah.

    Buat all asy’ariyyun. Kalau kalian harus memilih, maka kalian pilih pendapat siapa? dijamin kalian bingung dan akhirnya memilih pendapat ustadz Saidani dan mengatakan pendapat Syeikh Abdul Qadir Jailani itu palsu, dipalsukan oleh Wahabi. Bukan begitu???

    • ASY-SAIDANI says:

      @RONI
      >>>Sementara Syekh Abdul Qodir Jailani mengatakan keduanya bukan ahlus sunnah.
      —- > sebutkan saja ustadz.. dikitab apa syeh abd. Qodir mengatakan asy’ariyah bukan ahlus sunnah? Halaman berapa?
      >>>Buat all asy’ariyyun. Kalau kalian harus memilih, maka kalian pilih pendapat siapa? dijamin kalian bingung dan akhirnya memilih pendapat ustadz Saidani dan mengatakan pendapat Syeikh Abdul Qadir Jailani itu palsu, dipalsukan oleh Wahabi. Bukan begitu???
      —- > gak usah bingung pak ustadz.. ikuti saja sabda rasul…
      “ Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (GOLONGAN MAYORITAS ULAMA).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)

  • Abu Ahmad says:

    @ Roni…. ana ada pertanyaan nih ko’ sepertinya kajian salaf yang ana ikutin dulu sama sekarang beda sih…?..ada apa ya…?…yg sekarang justru pendapatnya banyak yg bersebrangan dengan ulama salah sepert imam syafii dll..
    —- dan qaul yg mahfumnya k.l. “Pelaku Maksiat lebih baik dari Pelaku bid’ah” sering dijadikan slogan dalam tiap kajian..padahal itu bukan berasal dari Nabi saw & sahabat..saking seringnya disampaikan banyak para ikhwan mengira itu Hadist Saw….sehingga bisa dikatakan orang yang lagi mabuk & judi digardu pos adalah lebih baik daripada yg lagi dimasjid dengerin ceramah maulid(yg katanya bid’ah)

    • harist says:

      allahu a’lamu bishowab…. silahkan anda ber amal dengan ketentuan/keyakinan yg anda yakini ,, karena ‘amalan itu yg akan diperliatkan…dan itulah yg akan menentukan nasib kita kelak di hadapan ALLAH azza wajalla. salamm.

  • Amr says:

    @Roni
    Matahari mengelilingi bumi? bumi tidak berputar? :-D :-D :-D
    Bro.. krg mah zamannya tekhnologi. Orang dh bisa merediksi kapan turunnya hujan meteor beberapa wktu lalu di negara tertentu. msih blm percaya atas temuan ilmuan yang mengatakan bumi mengelilingi matahari? aduh..duh..duh.
    awas hati2 jangan tertipu dengan apa yang dilihat mata saja. OK bro…

  • masruri says:

    ikut nyundul ahhhhhhhhhh biar diskusinya jalan terus:P

    “— > pertanyaannya….pernahkah terlintas dalam fikiran kita, bahwa saat tahiyat kita juga sedang BERBICARA pada Nabi?? Ataw saat itu kita hanya hapal2an saja baca tahiyat tanpa memahami makna?? Baaimana sikap kita pd nabi saat kita berucap السلام عليك ??
    Monggo”

    jadi teringat pusi gus Mus

    “Setiap saat ku baca shalawat

    Setiap kali tak lupa ku baca salam

    Assalamulaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullah wabarakatuh

    Salam kepadamu wahai nabi juga rahmat dan berkat Allah

    Tapi…tak pernah kusadari

    Apakah dihadapanku, kau menjawab salamku

    Bahkan apakah aku menyalamimu”

    Hiks hiks hiks 8 milyarx…menohok banget ya:(

  • agus suryana says:

    Nampaknya anda orang yang PINTAR sekali dalam hal ini, Alhamdulillah..
    sebagai orang awam sy cuma mau tanya tentang komentar anda ini :

    Tulisan ‘Abd ar-Rahman ibn Hasan di atas adalah sikap yang sama sekali tidak apresiatif terhadap ulama Ahlussunnah. Ia menutup matanya sendiri untuk mengelabui orang lain; bahwa sesungguhnya kaum Asy’ariyyah tidak lain adalah kaum Ahlussunnah. Tahukah dia atau memang pura-pura tidak tahu bahwa Ibn Hajar seorang Asy’ari? Adakah orang semacam ‘Abdurrahman ibn Hasan, atau orang-orang Wahhabi lainnya, yang berkeyakinan bahwa Allah bertempat di atas arsy, mansifati-Nya dengan gerak dan diam, atau turun dan naik; pantas di katakan Ahussunnah?!

    ANDA MENGATAKAN “atau orang-orang Wahhabi lainnya, yang berkeyakinan bahwa Allah bertempat di atas arsy, mansifati-Nya dengan gerak dan diam, atau turun dan naik; pantas di katakan Ahussunnah?!”

    PERTANYAAN sy :
    Apakah ALLAH tidak bergerak dalam aktifitasnya..?
    atau cuma diam dlm aktifitasnya mengurus alam ini..?

    Menurut versi anda bagaimana cara ALLAH dlm “aktifitasnya”..?

    Terimakasih…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


4 × one =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

habib habaib

Diskusi Pengunjung