Berdasar Al Qur'an – Al Sunnah Menurut Pemahaman Salafus Shalih
Inspirasi Islam

Inilah Daftar Lengkap Situs Website Salafy Wahabi Indonesia

Bisa jadi selama ini anda merasa bukan seorang Wahabi tetapi termasuk pengunjung setia website yang dikelola Wahabi / Salafy. Bagi anda yang masih awam agama, tentunya sulit mengenali apakah website yang jadi langganan anda bermuatan faham Wahabi atau Ahlussunnah Wal Jamaah? Dan anda sedikit atau banyak mungkin sudah tertular ajaran-ajaran Wahabi tanpa sadar. Jika tidak mengenalinya akan sulit membedakan apakah itu ajaran Wahabi atau bukan sebab mereka  juga pandai menyamar dengan memakai baju Ahlussunnah Wal Jama’ah. Padahal mereka adalah Wahabi tulen, tidak kurang sedikit pun ciri khas Wahabi-nya. Dan yang bisa melihatnya dengan jelas tentunya mereka yang sudah berpengalaman secara empiris dan aktual bergelut dengan Wahabisme sebagai salah satu aliran / sekte Islam.

Juga bagi anda yang kebetulan adalah para pengikut Wahabisme (ajaran Syaikh Muhammad bib Abdul Wahhab),  maka daftar lengkap Website Salafy or Wahabi ini kami persembahkan untuk anda. Silahkan kunjungi sepuas anda, dan kami sudah tentu tidak akan merasa iri sedikit pun atas kunjungan anda ke website-website di bawah ini. Kalau akan merasa iri tentunya kami tidak akan memuatnya untuk anda bukan? Semuanya bebas terserah pilihan anda bahkan kami berikan fasilitas sehingga anda tinggal klik dan meluncur ke sana.

Tapi bagi anda yang bukan pengikut Salafy Wahabi, kami beritahu bahwa daftar lengkap website berikut ini adalah website milik Wahabi or Salafy (Salafy Wahabi) dan berisisi ajaran Wahabisme-nya. Hati-hati dan waspadalah, jika anda tertular virus Wahabi akan susah dicarikan obatnya alias sulit untuk bertaubat karena sudah merasa paling benar, anda akan merasa orang-orang yang menggenggam kebenran satu-satunya.

 

Berikut adalah daftar lengkapnya:

 

http://www.alsofwah.or.id/

http://muslim.or.id/

http://abuzuhriy.com/

http://alqiyamah.wordpress.com/

http://pengusahamuslim.com/

http://almanhaj.or.id/

http://ahlulhadiits.wordpress.com/

http://assunnah-qatar.com/

http://salafiyunpad.wordpress.com/

http://www.salafy.or.id/

http://www.darussalaf.or.id/

http://darussunnah.or.id/

http://almakassari.com/

http://kaahil.wordpress.com/

http://ekonomisyariat.com/

http://ainuamri.wordpress.com/

http://ahlussunnah.info/

http://www.raudhatulmuhibbin.org/

http://salafyitb.wordpress.com/

http://assunnah.web.id/

http://quranicaudio.com/

http://ulamasunnah.wordpress.com/

http://perpustakaan-islam.com/

http://samuderailmu.wordpress.com/

http://ngaji-online.com/

http://haditsarbain.wordpress.com/

http://badaronline.com/

http://arabindo.co.nr/

http://moslemsunnah.wordpress.com/

WEBSITE / BLOG PARA USTADZ SALFY WAHABI
http://www.kajianislam.net/————> Ust Abdullah Hadrami
http://rumaysho.com/—————–> Ust Muhammad Abduh
http://abusalma.net/——————> Ust Abu Salma Al Atsary
http://abusalma.wordpress.com/——-> Ust Abu Salma Al Atsary
http://nasihatonline.wordpress.com/—-> Ust Sofyan Chalid Ruray
http://al-atsariyyah.com/————–> Ust Hammad Abu Muawwiyah
http://abul-jauzaa.blogspot.com/——-> Ust Abu al Jauzaa
http://firanda.com/——————-> Ust. Firanda Andirja
——-> Ust Badrusalam, Lc
————–> Ust Kholid Syamhudi, Lc
http://ustadzaris.com/ —————-> Ust Aris Munandar, SS
http://media-ilmu.com/ ————–> Ust Zainal Abidin, Lc
————–> Ust Abu Haidar
http://ahmadsabiq.com/ ————–> Ust Ahmad Sabiq
http://abuzubair.net/ —————–> Ust Abu Zubair Al Hawary
http://abumushlih.com/—————-> Ust Abu Mushlih
http://ustadzfaiz.com/—————–> Ust Ahmas Faiz Asifuddin.
http://ustadzmuslim.com/——-> Ust Abu Isma’il Muslim Al Atsari
http://noorakhmad.blogspot.com/——> Ust Abu Ali
http://abu0dihyah.wordpress.com/—–> Ust Marwan
http://abuthalib.blogspot.com/——> Ust Andy Abu Thalib al Atsary
http://basweidan.wordpress.com/—> Ust Abu Hudzaifah al Atsary, Lc.
http://alhujjah.wordpress.com/——–> Ust Abdul Mu’thi
http://adniku.wordpress.com/———> Ust Adni Kurniawan, Lc.
http://sabilulilmi.wordpress.com/——> Ust Resa Gunarsa, Lc.
http://www.zainalabidin.org/———–>Ust Zainal Abidin, Lc.
. Ustadz Abdullah Roy, Lc.
http://www.ustadzabuihsan.blogspot.com/… Ust Abu Ihsan Al Atsari
. Ust Ali Saman Hasan, Lc.
. Ust Fariq Gazim An-Nuz
http://abumushlih.com/ ———-> Ust Abu Mushlih Ari Wahyudi
http://muhammad-assewed.blogspot.com/… Ust Muhammad As Sewed
http://albamalanjy.wordpress.com/–> Ust Abu Ubaidillah Al Bamalanjiy
http://abiubaidah.com/ ———-> Ust Abu Ubaidah As Sidawi
http://www.serambimadinah.com/> Mahasiswa Univ. Islam Madinah KSA
http://abuabdurrahman.com/ —> Mahasiswa Univ. Al-Azhar Mesir
; Ust Musyaffa ad Dariniy, Lc.
http://abuabdurrahman.com/—-> Ust Abu Abdirrahman (Al Azhar)
Abu Khaulah)

WEBSITE AKHWAT, MUSLIMAH DAN REMAJA SALAFY WAHABI

http://muslimah.or.id/

http://remajaislam.com/

http://akhwat.web.id/

http://sobat-muda.com/

http://menikahsunnah.wordpress.com/

http://ummusalma.wordpress.com/

http://ummushofiyya.wordpress.com/

SITUS MEDIA TV DAN RADIO STREAMING YANG DIKELOLA SALAFY WAHABI

1. DAKWAH TV
www.dakwahtv.com

2. SARANA SUNNAH TV
http://sss-tv.com/

3. AHSAN TV INDONESIA {channel 11VHF}

http://ahsan.tv/

4. RODJA TV

http://www.rodjatv.com/

RADIO ONLINE LENGKAP

http://belasalafy.wordpress.com/rad…

1. RADIO RODJA ~ 756 AM
Area : Jabodetabek, Cileungsi, dan sekitarnya
Alamat Website http://www.radiorodja.com/
Alamat Streaming http://live.radiorodja.com/
Facebook : .

2. RADIO HANG FM ~ 106 FM
Area : Batam dan sekitarnya
Alamat Website http://www.hang106.or.id/
Alamat Streaming

http://www.hang106.or.id:1106/

3. RADIO ASSUNNAH
Area : Cirebon dan sekitarnya
Alamat Website http://www.radioassunnah.com/
Alamat Streaming :

4. RADIO MUSLIM
Alamat : Yogyakarta
Alamat Website http://www.radiomuslim.com/
Alamat Streaming http://live.radiomuslim.com/

5. RADIO SUARA QUR’AN ~ 94,4 FM
Area : Solo dan sekitarnya
Alamat Website http://www.radioarroyyan.com/
Alamat Streaming http://live.radioarroyyan.com/

6. RADIO AL IMAN
Alamat : Surabaya
Alamat Website http://alimanradio.or.id/
Alamat Streaming http://live.alimanradio.or.id/

7. RADIO ARROYYAN
Alamat : Gresik
Alamat Website http://www.radioarroyyan.com/
Alamat Streaming http://live.radioarroyyan.com/

8. RADIO AL BAYAN
Alamat Website http://
Alamat Streaming

9. RADIO NGAJI ONLINE
Alamat Website http://www.ngaji-online.com/
Alamat Streaming

10. RADIO TELAGA HATI
Alamat Website http://abuzubair.net/
Alamat Streaming

11. ANNASH RADIO – Jakarta

http://www.annashradio.com/

12. RADIO MU’ADZ – Kendari

http://www.radiomuadz.com/

13. RADIO SYIAR SUNNAH 981 KHz – Yogyakarta

14. RADIO HIDAYAH 103.4 FM – Pekanbaru

http://hidayahfm.com/

Silahkan tambahkan jika ada yang belum masuk daftar di atas lewat kolom komentar….

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

443 Responses to Inilah Daftar Lengkap Situs Website Salafy Wahabi Indonesia

  • mang mamay says:

    dalam Kitab Shahih Muslim bi Syarah Imam Nawawi dijelaskan sebagai berikut:

    والمراد غالب البدع . قال أهل اللغة : هي كل شيء عمل على غير مثال سابق

    “Dan yang dimaksud bid’ah, berkata ahli bahasa, dia ialah segala sesuatu amalan tanpa contoh yang terlebih dahulu”[1]

    Sedangkan jika ditujukan dalam hal ibadah pengertian-pengertian bid’ah tersebut diantaranya:

    البدعة: طريقة مستحدثة في الدين، يراد بها التعبد، تخالف الكتاب، والسنة وإجماع سلف الأمة

    “Bid’ah adalah suatu jalan yang diada-adakan dalam agama yang dimaksudkan untuk ta’abudi, bertentangan dengan al Kitab (al qur`an), As Sunnah dan ijma’ umat terdahulu“
    البدعة في مقابل السنة، وهي : (ما خالفت الكتاب والسنة أو إجماع سلف الأمة من الاعتقادات والعبادات) ، أو هي بمعنى أعم : (ما لم يشرعه الله من الدين.. فكل من دان بشيء لم يشرعه الله فذاك بدعة

    Bid’ah adalah kebalikannya dari sunnah, dan dia itu apa-apa yang bertentangan dengan al qur`an, as sunnah, dan ijma’ umat terdahulu, baik keyakinnanya atau peribadahannya, atau dia itu bermakna lebih umum yaitu apa-apa yang tidak di syari’atkan Allah dalam agama…maka segala dari sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah maka yang demikian adalah bid’ah.

    الْبِدْعَةُ فِي الشَّرِيعَةِ إحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Bid’ah dalam syari’ah adalah apa yang diada-adakan yang tidak ada perintah Rasulullah shalallahu ta’ala ‘alaihi sallam.

    وَعَنْ الْهَرَوِيِّ الْبِدْعَةُ الرَّأْيُ الَّذِي لَمْ يَكُنْ لَهُ مِنْ الْكِتَابِ وَلَا مِنْ السُّنَّةِ

    Dan dari al Harawi bahwa bid’ah ialah pendapat pikiran yang tidak ada padanya dari kitab (al Qur`an) dan as Sunnah.

    Ibnu Hajar al As Qalani dalam Fathul Bari menjelaskan
    والمراد بقوله ” كل بدعة ضلالة ” ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام

    “Dan yang dimaksud dengan sabdanya “Setiap bid’ah adalah sesat” yakni apa yang diadakan dan tanpa dalil padanya dari syari’at baik dengan jalan khusus maupun umum.

    sudah sangat detil sekali para pemikir islam mendefinisikan kata bid’ah dan pemikiran mereka sudah diakui, dan sekarang balikin lagi ke anda apa definisi bid’ah menurut anda

    • Putri Karisma says:

      mang mamay,

      semua difinisi bid’ah yg disebutkan itu adalah untuk ibadah mahdhoh. Ibadah mahdhoh harus ada contoh dari Nabi saw, kalau tiak ikut contoh dari nabi maka itulah bid’ah. Contohnya, sholat Maghrib itu 3 rokaat, kalau antum sholat maghrib 1 rokaat, atau 2 rokaat atau 4 rokaat maka itulah sholat bid’ah. Contohnya lagi, misalnya ruku’, yang benar adalah telapak tangan di letakkan di lutut, kalau antum ruku’ meletakkan tanganmu di jidat atau di pantat maka itulah bid’ah. Ini ruku’ tidak sesuai contoh dari Nabi saw.

      Banyak contohnya Mang, dalam haji, dalam puasa romadhon, dalam zakat, dan ibadah2 mahdhoh yg lain. Ibadah mahdhoh ini bersifat tauqfi artinya sudah ditentukan kaifiyahnya, ketentuan2nya dan contoh2nya dari nabi saw.

      Difinisi2 yg antum sebutkan itu tidak berlaku untuk ibadah ghoiru mahdhoh, karena ibadah ghoiru mahdhoh ini cakupannya sangat luas asalkan bukan hal-hal yg mungkar, sebaliknya tentunya jika perbuatan / amalan itu makruf maka bisa menjadi ibadah (ghoiru mahdhoh).

      Sekolah menuntut ilmu bisa menjadi ibadah, padahal ini bid’ah lho mang. Pulang kampung saat lebaran itu pun bisa menjadi ibadah jika diniatkan ibadah, sebab pulang kampung adalah amal ma’ruf. Amal ma’ruf pulang kampung ini tidak ada contonya dari Nabi, apakah antum juga akan ikut2an Syaikh2 Wahabi yg menghukuminya haram (bid’ah)? Kalau demikian silahkan saja, emang begitulah kerjaan Wahabi. Mengharamkan amal makruf, na’udzu billah min dzaalik.

  • mang mamay says:

    buat neng putri, baik dan buruk tidak bisa jadi barometer dalam agama,sebab barometer agama adalah bener dan salah,jadi baik menurut anda belum tentu benar menurut agama dan buruk menurut anda blm tentu salah menurut agama tapi benar menurut agama sudah pasti baik untuk kita semua

    • Putri Karisma says:

      Oke mang mamay, kalau begitu saya tanya ya? Tahlilan kalau dalam pandangan agama, apanya yg salah? mangga dijawab, mang mamay.

      • Kunari says:

        Neng putri tahu, tahlilan dari budaya mana? dari manta pendeta hindu yang masuk islam mengaku, bahwa tahlilan adalah budaya hindu. Tasyabuh dalam ibadah, tidak diperbolehkan dalam islam. Selain itu, tahlilan juga tidak ada dalil syar’inya karena ibadah bersifat tauqifiyah

  • Putri Karisma says:

    Mas Admin,
    Saya usul agar diberikan ruang diskusi khusus buat Abu Hilya dan Mang Mamay agar diskusi tentang bid’ah menjadi tuntas. Insyaallah akan banyak manfaatnya.

    Kasih judul: Debat Terbuka Wahabi VS Aswaja NU Edisi Lebaran (menyambut lebaran).

    Gemana Mang mamay, antum siap mudzakaroh soal bid’ah dengan Abu Hilya?

    • Yanto Jenggot says:

      Saya stuju dg usulan mbak Putri, tapi mang mamay nya siap nggak? Tanya dulu dia, jangan2 juga pengecut seperti Wahabi2 yg lain? Itu komentnya aja udah kelihatan COPAS tanpa editan, apa layak dia debat lawan Abu Hilya?

    • ahmadsyahid says:

      usulan yang bagus tinggal tentukan materi diskusinya plus aturan diskusi disepakati kedua belah fihak mas Admin jadi moderator , kita lihat pemahaman Bid`ah versi manakah yang lebih dekat dengan sunnah………..? wahabi atau Ahlu sunnah wal-jama`ah.

      kita tunggu kesiapan kang mamay.

  • mang mamay says:

    kalau kesimpulan masalah bid’ah jelas ulama sudah menarik kesimpulan jd apalagi yng harus diperdebatkan.kalau masalah tahlilan siapa yang menyalahkan?yng jadi masalah kan kenduri arwah.pak polisi menanyakan dalilnya,ya silahkan jawab.kalau solat magrib 3 rakaat menjadi 1 atau asar 4 jd 3 itumah bukan bid’ah tapi ngaco, anak kecil aja pada tahu.begitu neng

    • Putri Karisma says:

      kalau solat magrib 3 rakaat menjadi 1 atau asar 4 jd 3 itumah bukan bid’ah tapi ngaco, anak kecil aja pada tahu.begitu neng

      Emang berarti antum benar2 belum mengerti apa itu bid’ah dalam prakteknya. Nah, kalau ada orang melakukan seperti contoh itu (maaf itu sekedar contoh) , maka orang tsb telah mengerjakan bid’ah sebab tidak sesuai contoh Nabi. Sholat adalah ibadah mahdhoh yg tauqifi makanya harus ikut contoh. Kalau sholat tidak ikut contoh Nabi Itu namanya ibadah yg bid’ah sesat.

      mang mamay, saya kasih contoh yg lebih jelas dan benar2 terjadi. Orang sholat dalam duduk Tahiyat memutar-mutar telunjuknya, itu tidak ada contoh dari Nabi saw, itulah bid’ah sesat. Atau dalam sholat berdirinya mendekap dada, itu juga bid’ah sesat sebab sholat itu ibadah mahdhoh yg tauqifi harus sesui contoh Nabi saw, sholat mendekap dada itu tidak ada contohnya.

      Antum sebaiknya belajar dulu tentang ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh biar cepat paham ato ngerti penjelasan saya barusan.

      • sarah salsabila says:

        dari koment2 mBak Putri saya tahu Mbak Putri pinter, dulu pernah nyantri di mana mBak?

        kok pintar ngasih penjelasannya, gitu Mbak?

    • ahmadsyahid says:

      kang mamay said : yng jadi masalah kan kenduri arwah.pak polisi menanyakan dalilnya,ya silahkan jawab , yang dipermasalahkan apanya mang………?

    • @bu hilya says:

      mang mamay@.

      Benar kiranya anda tidaklah sepenuhnya faham pendapat yang anda COPPAS, terbukti anda sendiri tak dapat memberi kesimoulan atas uraian anda yang mungkin maaf, hanya COPAS…

  • @bu hilya says:

    Mang Mamay@.

    Bismillah…..

    Mang mamay, untuk mendapatkan HADD pelanggeran/batasan yang syamil mengenai konsep BID’AH dibutuhkan nadhor atas sumber dalil yang ada.

    Konsep BID’AH menurut ana sebaiknya kita mulai dari Hadits
    كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة

    “Setiap yang diada-adakan (muhdatsah) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat’. (HR.Abu Daud dan Tirmidzi).

    Dalam Hadits diatas kita dapati pemahaman bid’ah dari segi bahasa, dimana Rosululloh Bersabda “ KULLU MUHDATSATIN BID’AH “ dimana sejauh yang ana tahu tidak ana dapati dalil lain yang membatasi kata “KULLU” yang ada pada Qodhiyah “ KULLU MUHDATSATIN BID’AH “ dan juga berdasar pada ta’rif bid’ah secara bahasa yang juga anda nuqil:
    قال أهل اللغة : هي كل شيء عمل على غير مثال سابق
    “Berkata ahli bahasa, dia ialah segala sesuatu yang di amalkan tanpa contoh yang terlebih dahulu”

    Definisi ini berarti mencakup juga apa yang dilakukan oleh sebagian sahabat RA. baik dimasa Rosululloh masih hiudup maupun ketika Rosululloh telah wafat, Diantaranya:

    عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ ( رواه البخاري )
    Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata: “sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata: “rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih”. Setelah selesai shalat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itu menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikat berebutan menulis pahalanya”. (HR. al-Bukhari [799]).

    Dalam Hadits diatas kita dapati adanya seorang sahabat yang mengerjakan sesuatu yang baru yang sebelumnya belum pernah ada contohnya, yakni terdapat pada do’a ketika I’tidal : “rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih”.

    Juga berikut ini :

    عن عبد الرحمن بن ابي ليلى قال : ( كان الناس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا جاءه الرجل وقد فاته شيئ من الصلاة اشار اليه الناس فصلى ما فاته ثم دخل في الصلاة ثم جاء يوما معاذ بن جبل فاشاروا اليه فدخل و لم ينتظر ما قالوا , فلما صلى النبي صلى الله عليه وسلم ذكروا له ذلك فقال لهم النبي صلى الله عليه وسلم : ” سن لكم معاذ ” و في رواية سيدنا معاذ بن جبل : ( انه قد سن لكم معاذ فهكذا فاصنعوا ). رواه ابو داود و احمد و ابن ابي شيبة, و غيرهم, و قد صححه الحافظ ابن دقيق العيد و الحافظ ابن حزم
    Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bila seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam shalat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah rakaat shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, maka Mu’adz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yang harus kalian kerjakan”. (HR. al-Imam Ahmad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Daqiq al-’Id dan al-Hafizh Ibn Hazm al-Andalusi).

    Sedangkan contoh bid’ah setelah wafatnya Rosululloh SAW, diantaranya:

    - Penghimpunan al qur’an oleh Kholifah Abu Bakar RA, atas prakarsa Umar RA.
    - Pnghimpunan jama’ah sholat tarowih 20 rokaat dengan satu imam oleh Kholifah Umar RA, juga terjadinya Had (hukuman) cambuk bagi peminum Khomer sebanyak 80 kali, dimana pada masa Rosululloh dan Kholifah Abu Bakar hanya 40 kali.
    - Penambahan adzan Jum’ah menjadi dua hingga tiga kali oleh Kholifah Utsman RA, dll.

    Dari uraian diatas dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwa, kata “KULLU” pada qodhiyah hadits “WA KULLU BID’ATIN DHOLALAH” tidak dapat kita artikan “SEMUA”, karena adanya dalil lain yang membatasinya, sehingga para ulama’ menyimpulkan “WA KULLU BID’ATIN DHOLALAH” adalah Qodhiyah yang “’AM MAKHSUSH”.

    Maka tepatlah kiranya ketika Imam Syafi’I ra, yang membagi bid’ah menjadi dua sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al Baigaqi:

    اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ, مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ وَمَا اُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا ِمْن ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَة
    Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

    Sementara disisi yang lain terdapat para Ulama’ yang mendevinisikan BID”AH dengan pengertian terminologhi (syara’) yang diantaranya anda kutip yang subtansinya sama dengan BID’AH MADZMUMAH fersi Imam Syafi’i.

    Kesimpulan kami, meskipun bid’ah dalam pengertian bahasa adalah “Mengadakan sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak ada contohnya”, namun kata kunci untuk menghukumi sesuatu itu menyimpang atau tidak, bukan terletak pada apakah ia sesuatu yang baru yang belum perna ada pada masa Rosululloh SAW, atau sudah di contohkan oleh Rosululloh SAW, tapi kata kunci untuk menghukumi apakah sesuatu itu tercela atau tidak, kata kuncinya adalah “ apakah ia MUKHOLAFAH/Menyalahi Kitabulloh, Sunnatu Nabiyyihi (baik Am’ maupun Khos), Ijma’, Qiyas.

    Mohon maaf penulisnya Cuma lulusan Madrasah Ibtidaiyah, jadi bahasanya agak belepotan.

    Wallohu a’lam….

  • ukhti says:

    janganlah menyalahkan yg belum tentu bersalah, Allah lebih tahu yg mana yg salah dan mana yg benar. . .
    coba dipelajari dulu dimana letak kesalahannya, baru menilai, apakah bertentangan dengar Al Quran dan Assunnah. . .
    hati hati, ini akan menimbulkan perpecahan umat islam, karena kebenaran dan kesalahan, Allah yg lebih tahu. . .

  • BAMBANG says:

    Jangan memfitnah saudara sendiri…, belum tentu semua itu benar…, justru malah mungkin antum yang ga’ suka dengan Sunnah Nabi SAW dengan gampangnya, dengan latahnya menuduh para penegak Sunnah ini sebagai Wahabi yang antum pikir sesat…., Masya’ Allah….

    Kalau mau nulis nulis tuduhan kayak gitu …, di pikir dulu brow…., Ingat dengan hari Akherat…. hari pembalasan…, kalau tuduhanmu itu benar…, ga’ jadi so’al …, kl tuduhanmu itu sudah kelewatan batas dan salah…, antum harus siap mempertanggung jawabkan perbuatan antum baik di dunia dan di akhirat…. & Nerakalah tempat seburuk-buruknya kembali…, ya subhanalloh….

    • Putri Karisma says:

      ukhti n Bambang@

      Website di atas memang benar corong Wahabisme, yaitu mereka menyebarkan ajran Wahabi yg ngaku-ngaku atas nama Qur’an dan Sunnah. Kenapa sih antum2 pada nggak terima dibilang penyebar ajaran Wahabi jika faktanya memang Wahabi? Banggalah jadi Wahabi, BROW. Kalau nggak bangga ngapain antum2 jadi pemeluk ajaran Wahabi?

  • Indah says:

    ALHAMDULILLAH
    SEJAK SAYA MENGIKUTI DAN MEMBACA SITUS-SITUS SALAFY TERSEBUT SAYA JADI SADAR BAHWA KEBENARAN MANHAJ SALAF YANG TIDAK ADA DITAMBAH2KAN DAN DIKURANGI SESUAI DENGAN YANG DIAJARKAN RASULLUAH DAN SAHABAT
    SEMOGA INDONESIA SEMAKIN BANYAK ORANG-ORANG YANG MENGIKUTI MANHAJ SALAF AGAR NEGARA YANG HINA INI TERSELAMATKAN OLEH PRAKTEK2 TAQLID BID’AH DAN CHUROFAT…

    SAYA HERAN TERHADAP ORANG-ORANG YG NGOTOT MEMPERTAHANKAN TRADISI2 YANG BUKAN DARI AJARAN RASUL DAN SAHABAT..
    APA SIH MOTIVASI MEREKA??
    WALLAHUALAM BI SHOWAB

    • marmiji says:

      Ustadz Firanda Bisa Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri
      oleh Membongkar Kesesatan Wahabi pada 9 Februari 2013 pukul 2:51 ·

      KISAH NYATA

      By Ummatihttp://ummatipress.com

      Pengantar Redaksi

      Di bawah ini adalah ustadz Firanda yang membantah tulisan uztadz Abu Salafy tentang syirik dan kemusyrikan. Akan tetapi karena bantahan ustadz Firanda yang ngawur tidak sesuai standar ilmu yang diajarkan oleh para ulama Ahlussunnah, maka oleh Ahmad Syahid diluruskan agar tidak menyesatkan bagi para pembacanya. Banyak ilmu yang bisa ditimba dari Ahmad Syahid terutama agar kita memperoleh pemahaman yang benar tentang ibadah, syirik dan akibat-akibatnya jika kita salah dalam memahaminya. Penjelasan yang disampaikan oleh Mas Ahmad Syahid menyentak kesadaran kita, betapa selama ini ada yang salah dari pemahaman keislaman yang dianut oleh merka-mereka yang bergelar Ustadz sekali pun.

      Na’udzubillah tsumma nau’dzu billah min dzaalik.

      Tulisan dalam blockquote adalah artikel ustadz Firanda, sedangkan tulisan tanpa blocquote adalah jawaban dari H. Ahmad Syahid. Selamat menyimak semoga bermanfaat bagi kita semua.

      Ustadz Firanda Menjadi Musyrik Karena Pemahamannya Sendiri

      Oleh: H. Ahmad Syahid

      Berkata Ustadz Firanda dengan menukil perkataan Abu Salafy:

      Kesyirikan Menurut Abu Salafy

      ((Abu Salafy berkata:

      Syirik adalah sudah jelas, ia menyekutukan Allah SWT. dalam:

      A) Dzat, dengan meyakini ada tuhan selain Allah SWT.

      B) Khaliqiya, dengan meyakini bahwa ada pencipta dan ada pelaku yang berbuat secara independen di alam wujud ini selain Allah SWT.

      C) Rububiyah, dengan mayakini bahwa ada kekuatan selain Allah SWT yang mengatur alam semesta ini secara independen. Adapun keterlibatan selain Allah, seperti para malaikat, misalnya yang mengaturan alam adalah dibawah kendali Allah dan atas perintah dan restu-Nya.

      D)Tasrî’, dengan meyakini bahwa ada pihak lain yang memiliki kewenangan secara independen dalam membuat undang-undang dan syari’at.

      E) Hâkimiyah, dengan meyakini bahwa ada kekuasaan yang dimiliki oleh selain Allah secara independen.

      F) Ibadah dan penyembahan, dengan menyembah dan bersujud kepada arca dan sesembahan lain selain Allah SWT, meminta darinya sesuatu dengan kayakinan bahwa ia mampu mendatangkannya secara independen dan dengan tanpa bantuan dan izin Allah SWT.

      Batasan-batasan syirik, khususnya syirik dalaam ibadah dan penyembahan adalah sudah jelas dalam Al Qur’an dan Sunnah. Dari ayat-ayat Al Qur’an yang mengisahkan kaum Musyrikin dapat dimengerti bahwa kendati kaum Musyrikin itu meyakini bahwa Allah lah yang mencipta langit dan bumi, pemberi rizki dan pengatur alam, akan tetapi tidak ada petunjuk bahwa mereka tidak meyakini bahwa sesembahan mereka itu; baik dari kalangan Malaikat maupun Jin memiliki pengaruh di dalam pengaturan alam semesta ini! Dengan pengaruh di luar izin dan kontrol Allah SWT. Mereka meyakini bahwa sesembahan mereka mampu menyembuhkan orang sakit, menolong dari musuh, menyingkap bencana dan kesusahan dll tanpa izin dan restu Allah!)) http://abusalafy.wordpress.com/)

      Dari sini jelaslah bahwasanya Abu Salafy hanya menyatakan seseorang terjerumus dalam kesyirikan jika meyakini Dzat yang ia ibadahi memiliki hak independent dalam pengaturan alam semesta. Dari sini terungkap rahasia kenapa Abu Salafy ngotot pada dua perkara :

      – Ngotot kalau kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah. Adapun pernyataan mereka dalam Al-Qur’an bahwasanya Allah adalah pencipta dan pemberi rizki hanyalah sikap berpura-pura, akan tetapi batin mereka tidak beriman kepada Allah. (yang telah saya bantah dalam tulisan saya http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/82-persangkaan-abu-salafy-al-majhuul-bahwasanya-kaum-musyrikin-arab-tidak-mengakui-rububiyyah-allah dan http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/113-sekali-lagi-tipu-muslihat-abu-salafy-cs-bag-2)- Ngotot kalau keyakinan kaum musyrikin bahwasanya malaikat adalah putri-putri Allah maksudnya adalah para malaikat ikut mencipta dan member rizki (sebagaimana telah saya bantah dalam tulisan saya http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab)

      Karena dengan dua perkara di atas maka Abu Salafy ingin menggolkan pemikirannya bahwa yang namanya kesyirikan adalah jika seseorang meyakini ada dzat lain yang ikut mencipta dan memberi rizki dan mengatur alam semesta selain Allah.

      Oleh karenanya wajar jika Abu Salafy menyatakan bahwa :

      Pertama : Berdoa kepada selain Allah jika dilakukan oleh seorang muslim maka itu bukanlah kesyirkian. Jika seseorang berdoa dan berkata ; “Wahai Rasulullah sembuhkanlah aku, wahai Rasulullah selamatkanlah aku” maka ini bukanlah kesyirikan selama orang tersebut tidak meyakini Rasulullah ikut mencipta alam dan pemberi rizki serta ikut mengatur alam semesta. Oleh karenanya wajib bagi kita untuk membawakan lafal orang ini pada artian “Wahai Rasulullah mintalah kepada Allah agar menyembuhkan aku dan agar menyelamatkan aku”

      Abu Salafy berkata ((Sebab sebagaimana harus kita yakini bahwa seorang Muslim Mukmin yang meyakini bahwa apapun selain Allah SWT tidak memiliki daya dan kekuatan apapun… tidak dapat memberikan manfa’at atau mudharrat apapun…. kecuali dengan izin Allah, sudah cukup sebagai alasan bagi kita untuk menilai positif apa yang ia lakukan… cukup alasan untuk mengatakan bahwa sebenarnya apa yang ia lakukan adalah tidak lain hanyalah meminta syafa’at dan meminta dido’akan. Andai-kata kita tidak mengetahui dengan pasti apa yang menjadi tujuan dari apa yang ia kerjakan, maka adalah wajib untuk menilai positif amalan dan ucapan seorang Muslim dengan dasar kewajiban penilai positif setiap amalan atau ucapan Muslim selagi bisa dan ada jalan untuk itu, sehingga tertutup seluruh jalan untuk penafsiran positif dan tidak ada penafsiran lain selai keburukan)), Abu salafy juga berakta ((misalnya ketika ia menyeru, ‘Ya Rasulullah sembuhkan aku’ sebenarnya ia sedang meminta agar Rasulullha saw. sudi menjadi perantara kesembuhan dengan memohonkannya dari Allah SWT. kendati ia meyakini bahwa kesembuhan itu dari Allah, akan tetapi karena ia dengan perantaraan do’a dan syafa’at Rasulullah, maka ia menisbatkannya kepada sebab terdekat. Penyusunan kalimat dengan bentuk seperti itu banyak kita jumpai dalam Al Qur’an, Sunnah dan pembicaraan orang-orang Arab. Mereka menamainya dengan Majâzz ‘Aqli, yaitu “menyandarkan sebuah pekerjaan tertentu kepada selain pelakunya, baik karena ia sebagai penyebab atau selainnya, dikarenakan adanya qirînah/alasan yang membenarkan”.

      Seperti dalam contoh, “Si Raja membangun Istana yang sangat megah” dalam ucapan di atas, semua tau bahwa bukan maksud si pengucap bahwa sang raja itu sendiri yang membangun dinding-dinding, memasang altar, dan kramik istana itu misalnya, semua mengerti bahwa yang ia maksud ialah bahwa yang membangun adalah para tukang bangunan, yang merancang adalah para arsitek, mereka adalah sebab terdekad terbangunnya istana megah itu, akan tetapi karena semua itu atas peritah sang Raja, maka tidaklah salah apabila ia mengatakan bahwa Sang raja membangun istana! Sebagaimana tidak salah pula apabila ia mengatakan bahwa para pekerja/tukang bangunan telah membangun istana Raja!

      Dalam kasus kita di atas misalnya, qarînah yang membenarkan pemaknaan tersebut adalah dzahir keadaan si Muslim. Karena pengucapnya adalah seorang Muslim yang meyakini dan mengikrarkan bahwa selain Allah tidak ada yang memiliki daya dan kekuatan apapun baik untuk dirinya maupun untuk orang lain, baik memberi manfa’at ataupun mudharrat… semua yang terjadi adalah dengan taqdir dan ketetapan Allah SWT… maka hal ini sudah cukup sebagain qarînah yang membenarkannya.

      Oleh sebab itu para ulama mengatakan bahwa ucapan seperti: ‘Musim semi itu menumbuhkan tanaman’ jika diucapkan oleh seorang Muslim maka ia tidak menunjukkan kemusyrikan, sebab ia termasuk ketegori majâz ‘aqli, akan tetapi jika pengucapnya adalah seorang ateis atau yang tidak percaya Tuhan, misalnya maka ia menunjukkan kemusyrikan, sebab ia bukan termasuk majâz ‘aqli, ia mengucapkannnya dengan haqîqatan! Ia menisbatkan pelaku penumbuhan tanaman itu kepada musim semi dengan sepenuh keyakinan bahwa musim semi-lah yang yang menumbuhkannya bukan Allah SWT.

      Dari sini dapat dimengerti bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan antara ucapan seorang Muslim ‘Musim semi itu menumbuhkan tanaman’ dengan ucapannya “Wahai Rasulullah, sembuhkan aku dari sakitku”?!)), Abu Salafy juga berkata ((Lalu apakah dikarenakan ucapan tersebut di atas seorang Muslim dihukumi telah musyrik/menyekutukan Allah SWT.?! Tentu tidak!!

      Benar, apabila seorang yang mengucapkannya meyakini bahwa yang ia seru itu mampu melakukan apa yang ia minta dengan tanpa bantaun dan taqdir Allah maka ia jelas telah menyekutukan Allah SWT. dan pastilah kaum Muslimin akan berlepas diri dari kemusrikan itu. Tetapi permasalahannya, apakah demikian yang diyakini kaum Muslimin ketika mereka ber-istghatsah dan memanggil mana Rasulullah saw., atau nama hamba-hamba shaleh pilihan Allah sepeti Ahlulbait Nabi dan para waliyullah! )) ((lihat http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/22/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-18/))

      Kedua : Jika seseorang menyembelih kepada selain Allah, kepada para wali misalnya, maka demikian pula menurut Abu Salafy maka itu bukanlah kesyirikan jika dilakukan oleh seorang muslim. Karena tidak seorang muslimpun yang meyakini wali tersebut ikut mengatur dan mencipta serta memberi rizki. Oleh karenanya jika ada seorang muslim yang menyembelih kepada selain Allah maka harus dibawakan kepada makna orang tersebut menyembelih untuk wali agar sang wali menjadi perantara antara ia dengan Allah dalam memenuhi hajatnya. Abu Salafy juga berkata ((…. ketika ada seorang bernazar menyembelih seekor binatang ternak untuk seorang wali misalnya, maka kaum wahhabi segera menudingnya sama dengan kaum Musyrik yang memberikan sesajen kepada para arca …. padahal yang perlu mereka ketahui bahwa seorang muslim yang sedang bernazar itu ia sedang meniatkan agar pahala sembelihannya diberikan kepada si wali tersebut! Anggap praktik seperti itu salah, tetapi ia pasti bukan sebuah kemusyrikan…))(http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/22/kasyf-asy-sybuhat-doktrin-takfir-paling-ganas-14/)

      Sanggahan

      Untuk menyanggah pernyataan Abu salafy maka saya ingatkan kepada para pembaca tiga perkara:

      Pertama : Bahwasanya hakekat kesyirikan adalah menyerahkan ibadah kepada selain Allah. Kita telah mengikrarkan dalam sholat kita

      إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

      Hanya Engkaulah yang Kami sembah (QS Al-Faatihah : 5)

      Oleh karenanya seluruh peribadatan kepada selain Allah adalah bentuk kesyirikan.

      Contoh-contoh ibadah seperti sujud, ruku’, bernadzar, menyembelih, dan merupakan ibadah yang sangat agung adalah berdoa, demikian juga istigotsah yang merupakan bentuk berdoa tatkala dalam keadaan genting.

      Oleh karenanya sebagaimana sujud, ruku, menyembelih jika diserahkan kepada selain Allah merupakan kesyirikan maka demikian pula berdoa. Bahkan ayat-ayat yang menunjukan akan larangan berdoa kepada selain Allah lebih banyak daripada ayat tentang larangan sujud dan menyembelih kepada selain Allah.

      Jawaban dari Ahmad Syahid:

      Untuk meluruskan pemahaman ustadz firanda saya sampaikan sebagai berikut :

      1. Semua ummat Islam sepakat jika Ibadah hanya untuk Allah, semua sepakat siapa pun yang memalingkan seluruh atau sebagian kecil Ibadah kepada selain Allah maka ia telah keluar dari Islam. Hanya persoalannya apakah Ibadah itu? Dan tampaknya ustadz Firanda keliru dalam memahami apa itu Ibadah. Ustadz Firanda keliru dalam mendifinisikan kata Ibadah.

      2. Sujud, ruku, bernadzar dan menyembelih dia kategorikan sebagai Ibadah tanpa menjelaskan sujud ruku menyembelih dan nadzar seperti apakah yang disebut Ibadah. Dengan kata lain ustadz Firanda tidak membedakan antara Ibadah dalam makna bahasa (lughowi ) dengan makna Ibadah secara Isthilah atau syar`i. Jika seperti ini ibadah difahami / didifinisikan maka telah kafirlah ayah bunda nabi Ya`qub dan saudara-saudara nabi Yusuf karena telah sujud kepada Nabi Yusuf. Begitu juga dengan ruku` (membungkuk ) kafirlah semua abdi dalem kerajaan kerajaan Islam karena telah ruku` (membungkuk) kepada raja mereka. Begitu juga dengan menyembelih dengan pemahaman seperti itu maka telah musyriklah Nabi Ibrohim karena telah menyembelih sapi untuk para tamunya dst.

      3. Kekliruan ustadz Firanda ini sama persis dengan kekeliruan yang dialami oleh pendiri sekte Wahabi, sehingga sejarah mencatat bagaimana sekte Wahabi memerangi (membantai) kaum muslimin yang bertawassul hanya karena pendiri sekte Wahabi keliru dan salah dalam memahami kata Ibadah.

      Kedua : Hakekat kesyirikan kaum musyrikin Arab adalah menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara untuk mendekatkan mereka kepada Allah dan juga sebagai pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah (sebagaimana telah saya jelaskan di http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab)

      Ar-Roozii berkata : “Mereka (kaum kafir) mereka menjadikan patung-patung dan arca-arca dalam bentuk para nabi-nabi mereka dan orang-orang mulia mereka, dan mereka menyangka bahwasanya jika mereka beribadah kepada patung-patung tersebut maka orang-orang mulia tersebut akan menjadi pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah. Dan yang semisal ini di zaman sekarang ini banyak orang yang mengagungkan kuburan-kuburan orang-orang mulia dengan keyakinan bahawasanya jika mereka mengagungkan kuburan-kuburan orang-orang mulia tersebut maka mereka akan menjadi pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah” (Mafaatiihul Goib/At-Tafsiir Al-Kabiir 17/63)

      Ibnu Katsiir berkata : “Mereka membuat patung-patung di atas bentuk para malaikat yang mendekatkan (kepada Allah-pen) menurut persangkaan mereka. Maka merekapun menyembah patung-patung berbentuk tersebut dengan menempatkannya sebagai peribadatan mereka kepada para malaikat, agar para malaikat memberi syafaat bagi mereka di sisi Allah dalam menolong mereka dan memberi rizki kepada mereka dan perkara-perkara dunia yang menimpa mereka…

      Oleh karenanya mereka berkata dalam talbiyah mereka tatkala mereka berhaji di zaman jahiliyyah : “Kami Memenuhi panggilanmu Ya Allah, tidak ada syarikat bagiMu kecuali syarikat milikMu yang Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki”

      Syubhat inilah yang dijadikan sandaran oleh kaum musyrikin zaman dahulu dan zaman sekarang” (Tafsiir Al-Qur’aan Al-’Adziim 12/111-112)

      Para pembaca yang budiman dalam pernyataannya di atas Ar-Roozi dan Ibnu Katsir dengan tegas menyatakan bahwa syubhat mencari syafaat inilah yang telah menjerumuskan kaum muysrikin zaman dahulu dan zaman sekarang.

      Jawab dari Ahmad Syahid:

      Lagi – lagi ustadz Firanda keliru atau sengaja membawa faham keliru terhadap apa yang disampaikan oleh para Mufassir. Ustadz Firanda menampakkan jika mereka (kafir quresy) menjadi Musyrik karena telah menjadikan sesembahan mereka sebagai WASILAH (perantara). Padahal begitu jelas jika pembaca budiman perhatikan, penyebab mereka (kafir quresy) menjadi Musyrik adalah karena mereka menyembah selain Allah. Mereka telah beribadah kepada selain Allah. Kafir quresy menjadi musyrik bukan semata-mata karena menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara.

      Ketiga : Beristigotsah kepada selain Allah yaitu kepada para wali yang sudah meninggal atau kepada Rasulullah dengan meyakini bahwa para wali tersebut hanyalah sebagai sebab dan pada hakekatnya Allah-lah yang menolong…itulah hakekat kesyirikan kaum musyrikin Arab di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beristigotsah kepada selain Allah adalah bentuk berdoa kepada selain Allah. Dan doa merupakan ibadah yang sangat agung, maka barangsiapa yang menyerahkan kepada selain Allah berarti ia telah beribadah kepada selain Allah, dan barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah maka dia adalah seorang musyrik.

      Jawaban Ahmad Syahid:

      Disini ustadz Firanda menegaskan pemahamannya yang keliru / salah terhadap definisi Ibadah , dan ustadz firanda salah dalam menentukan penyebab atau hakekat kesyirikan kaum musyrikin arab zaman Nabi SAW. Ustadz Firanda menyangka jika yang menjadikan musyrikin quresy Musyrik adalah karena mereka mengambil perantara dalam ber-doa. Padahal yang sebenarnya membuat mereka Musyrik adalah mereka menyembah, mereka ber-ibadah kepada selain Allah, itulah penyebab mereka jadi Musyrik. Ustadz Firanda juga keliru saat menjadikan doa sebagai Ibadah, sebab tidak semua do’a adalah Ibadah. Karena do’a juga berarti meminta , siapakah yang tidak pernah meminta kepada selain Allah? Jika semua do’a adalah Ibadah maka Ustadz firanda pun telah musyrik karena ustadz Firanda pun saya yakin telah banyak dan sering meminta kepada selain Allah. Dia sering meminta kepada orang tuanya, dia juga sering meminta kepada istrinya. Inilah contoh kekeliruan fatal dalam memaknai kata Ibadah.

      Ustadz firanda mengatakan :

      Doa adalah ibadah yang sangat penting maka jika diserahkan kepada selain Allah merupakan syirik besar

      Ibadah secara bahasa berarti ketundukan dan perendahan, Al-Jauhari rahimahullah berkata:

      “Asal dari ubudiyah (peribadatan) adalah ketundukan dan kerendahan…, dikatakan الطَّرِيْقُ الْمُعَبَّدُ (jalan yang ditundukan/mudah untuk ditempuh) dan الْبَعِيْرُ الْمُعَبَّدُ (onta yang tunduk/taat kepada tuannya) (As-Shihaah 2/503, lihat juga perkataan Ibnu Faaris di Mu’jam Maqooyiis Al-Lugoh 4/205, 206 dan perkataan Az-Zabiidi di Taajul ‘Aruus 8/330)

      Adapun definisi ibadah menurut istilah adalah tidak jauh dari makna ibadah secara bahasa yaitu ketaatan dan ketundukan serta kerendahan:

      At-Thobari berkata pada tafsir surata al-Faatihah:

      “Kami hanyalah memilih penjelasan dari tafsir ((Hanya kepada Engkaulah kami beribadah)) maknanya adalah kami tunduk, kami rendah, dan kami patuh… karena ubudiyah menurut seluruh Arab asalnya adalah kerendahan” (Tafsiir At-Thobari 1/159)

      Al-Qurthubi berkata :

      “((kami beribadah)) maknanya adalah : kami taat kepadaNya, dan Ibadah adalah : ketaatan dan kerendahan, dan jalan yang ditundukan jika ditundukan agar bisa ditempuh oleh para pejalan, sebagaimana dikatakan oleh Al-Harowi” (Tafsiir Al-Qurthubi 1/223)

      Sesungguhnya doa merupakan ibadah yang sangat penting, karena pada doa nampaklah kerendahan dan ketundukan orang yang berdoa kepada dzat yang menjadi tujuan doa. Pantas saja jika Nabi bersabda :

      الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ : {وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ}.

      “Doa itulah ibadah”, kemudian Nabi membaca firman Allah ((Dan Rob kalian berkata : Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan bagi kalian))” (HR Ahmad no 18352, Abu Dawud no 1481, At-Tirmidzi no 2969, Ibnu Maajah no 3828, dan isnadnya dinyatakan jayyid (baik) oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 1/49)

      Ibnu Hajar berkata menjelaskan agungnya ibadah doa :

      “Jumhur (mayoritas ulama) menjawab bahwasanya doa termasuk ibadah yang paling agung, dan hadits ini seperti hadits yang lain

      الْحَجُّ عَرَفَةُ

      “Haji adalah (wuquf di padang) Arofah”

      Maksudnya (wuquf di Arofah) merupakan dominannya haji dan rukun haji yang paling besar. Hal ini dikuatkan dengan hadits yang dikeluarkan oleh At-Thirimidzi dari hadits Anas secara marfuu’ :

      الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

      “Doa adalah inti ibadah”

      Telah banyak hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memotivasi dan mendorong untuk berdoa, seperti hadits Abu Huroiroh yang marfuu’:

      لَيْسَ شَيْئٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ

      “Tidak ada sesuatupun yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa”

      Diriwayatkan oleh At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbaan” (Fathul Baari 11/94)

      Oleh karenanya pantas jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

      أقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ؛ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ

      “Kondisi seorang hamba paling dekat dengan Robnya tatkala ia sujud, maka perbanyaklah doa” (HR Muslim no 215)

      Imam An-Nawawi berkata;

      أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ وَهُوَ مُوَافِقٌ لِقَوْلِ اللهِ تعالى وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ وَلِأَنَّ السُّجُوْدَ غَايَةُ التَّوَاضُعِ وَالْعُبُوْدِيَّةِ للهِ تعالى

      “((Kondisi seorang hamba paling dekat dengan Robnya tatkala ia sujud)) dan ini sesuai dengan friman Allah ((Sujudlah dan mendekatlah)), dan karena sujud merupakan puncak tawadhu’ dan peribadatan kepada Allah” (Al-Minhaaj 4/206)

      Oleh karenanya posisi sujud merupakan posisi yang menunjukan rendahnya seorang hamba karenanya merupakan kondisi yang sangat pas bagi seorang hamba untuk memperbanyak doa. Karena tatkala doa nampaklah kebutuhan dan kerendahan seorang yang berdoa di hadapan Allah.

      Al-Hulaimi (wafat tahun 403 H) berkata :

      “Dan doa secara umum merupakan bentuk ketundukkan dan perendahan, karena setiap orang yang meminta dan berdoa maka ia telah menampakkan hajatnya (kebutuhannya) dan mengakui kerendahan dan kebutuhan kepada dzat yang ia berdoa kepadanya dan memintanya. Maka hal itu pada hamba seperti ibadah-ibadah yang dilakukan untuk bertaqorrub kepada Allah. Oleh karenanya Allah berfirman ((Berdoalah kepadaku niscaya akan Aku kabulkan, sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepadaku akan masuk dalam neraka jahannam dalam keadaan terhina)). Maka Allah menjelaskan bawhasanya doa adalah ibadah” (Al-Minhaaj fai syu’ab Al-Iimaan 1/517)

      Al-Hulaimi juga berkata :

      “Hendaknya rojaa’ (pengharapan) hanyalah untuk Allah karena Allah-lah Yang Maha Esa dalam kepemilikan dan pembalasan. Tidak ada seorangpun selain Allah yang menguasai kemanfaatan dan kemudhorotan. Maka barangsiapa yang berharap kepada dzat yang tidak memiliki apa yang ia tidak miliki maka ia termasuk orang-orang jahil. Dan jika ia menggantungkan rojaa (pengharapannya) kepada Allah maka hendaknya ia meminta kepada Allah apa yang ia butuhkan baik perkara kecil maupun besar, karena semuanya di tangan Allah tidak ada yang bisa memenuhi kebutuhan selain Allah. Dan meminta kepada Allah adalah dengan berdoa” (Al-Minhaaj fi Syu’ab Al-Iimaan 1/520)

      Ar-Roozi berkata :

      “Dan mayoritas orang berakal berkata : Sesungguhnya doa merupakan kedudukan peribadatan yang paling penting, dan hal ini ditunjukkan dari sisi (yang banyak) dari dalil naql (ayat maupun hadits-pen) maupun akal. Adapun dalil naql maka banyak” (Mafaatihul Goib 5/105)

      Kemudian Ar-Roozi menyebutkan dalil yang banyak kemudian ia berkata :

      “Allah berfirman ((Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang aku maka sesungguhnya aku dekat)), dan Allah tidak berkata ((Katakanlah aku dekat)), maka ayat ini menunjukkan akan pengagungan kondisi tatkala berdoa dari banyak sisi. Yang pertama, seakan-akan Allah berkata : HambaKu engkau hanyalah membutuhkan washithoh (perantara) di selain waktu berdoa adapun dalam kondisi berdoa maka tidak ada perantara antara Aku dan engkau” (Mafaatihul Goib 5/106)

      Lantas bagaimana jika kerendahan dan ketundukkan kondisi seseorang yang sedang berdoa ini diserahkan dan diperuntukkan kepada selain Allah?, kepada para nabi dan para wali??!!. Bukankah ini merupakan bentuk beribadah kepada selain Allah alias syirik??!!

      Jawaban:

      Disini sangatlah jelas jika ustadz Firanda salah dalam mendifinisikan Kata Ibadah, dia katakana : “Ibadah secara bahasa berarti ketundukan dan perendahan.

      Dia mengutip perkataan Al-Jauhari rahimahullah:

      “Asal dari ubudiyah (peribadatan) adalah ketundukan dan kerendahan…, dikatakan الطَّرِيْقُ الْمُعَبَّدُ (jalan yang ditundukan/mudah untuk ditempuh) dan الْبَعِيْرُ الْمُعَبَّدُ (onta yang tunduk/taat kepada tuannya) (As-Shihaah 2/503, lihat juga perkataan Ibnu Faaris di Mu’jam Maqooyiis Al-Lugoh 4/205, 206 dan perkataan Az-Zabiidi di Taajul ‘Aruus 8/330)

      Adapun definisi ibadah menurut istilah adalah tidak jauh dari makna ibadah secara bahasa yaitu ketaatan dan ketundukan serta kerendahan.

      Begitulah definisi ustadz Firanda akan Makna Ibadah. Pemaknaan dan pendefinisian seperti ini jelas merusak tatanan kehidupan. Tidak akan ada seorang muslim pun di muka bumi ini yang tidak musysrik, semuanya menjadi musyrik, termasuk Ustadz Firanda sendiri akan menjadi Musyrik. Karena saya yakin tentunya ustadz firanda juga adalah seorang anak yang TAAT, TUNDUK dan MERENDAH di hadapan Orang tuanya. Dengan definisi yang dia tetapkan itu, dia akan banyak mengkafirkan orang bahkan dirinya pun otomatis terjerat oleh pemahamannya yang salah fatal itu.

      Ustadz firanda melanjutkan :

      Sungguh dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya berdoa kepada selain Allah merupakan kesyirikan sangatlah banyak. Diantaranya firman Allah :

      وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

      Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? (QS Al-Ahqoof : 5)

      وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
      Dan Barangsiapa berdoa kepada Tuhan yang lain di samping Allah, Padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, Maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung (QS Al-Mukminun 117)

      فَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ

      Maka janganlah kamu berdoa kepada Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang di’azab (Asy-Syu’aroo : 213).

      أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

      Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (QS An-Naml : 62)

      وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا إِلَهَ إِلا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

      Dan janganlah kamu berdoa di Tuhan apapun yang lain disamping (berdoa kepada) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan (QS Al-Qoshosh : 88).

      وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

      Dan Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu berdoa seseorangpun di dalamnya di samping berdoa Allah. (QS Al-Jin : 18)

      Rasulullah bersabda :

      مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

      “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan berdoa kepada selain Allah maka masuk neraka” (HR Al-Bukhari no 4497)

      Itulah dalil yg banyak yang menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah merupakan kesyirikan.

      Jawaban:

      Ternyata ustadz Firanda banyak keliru dalam memahami dalil, baik Qur`an, Hadist maupun perkataan para Ulama. Dia tidak dapat membedakan kapan do’a menjadi Ibadah dan Kapan Do’a tidak menjadi Ibadah. Ditambah dengan penetapan definisi yang salah akan makna Ibadah lengkaplah sudah jika ustadz Firanda adalah seorang yang menjadi Musyrik karena fahamnya sendiri. Kasihan Ummat Islam jika Do’a dan Ibadah difahami seperti itu.

      Ustadz Firanda melanjutkan :

      Lantas bagaimana ustadz abu Salafy menyatakan bahwasanya jika seseorang berdoa kepada selain Allah, kepada Nabi atau kepada wali maka itu bukanlah kesyirikan selama tidak disertai keyakinan bahwasanya wali atau nabi tersebut ikut mencipta dan mengatur alam semesta serta memberi rizki??!!

      Perkataan seseorang “Wahai Rasulullah, sembuhkanlah aku!!!” ini bukanlah kesyirikan??, perkataan seseorang, “Wahai Abdul Qodir Jailani, tolonglah aku…!!”, ini juga bukan kesyirikan??!!, iya bukan kesyirikan, selama tidak meyakini Nabi dan Abdul Qodir Jailani ikut mencipta dan mengatur alam semesta..!!!!, demikianlah keyakinan Abu Salafy.

      Dan saya harap para pembaca memperhatikan ayat-ayat dan hadits di atas yang bersifat umum tentang doa. Allah dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak pernah mengecualikan bahwasanya jika berdoa kepada makhluk dengan keyakinan bahwasanya makhluk tersebut (baik malaikat atau nabi atau wali) tidak ikut mencipta, mengatur, dan memberi rizki secara independent maka bukan kesyirikan.

      Lebih aneh lagi Abu Salafy tidak menganggap istighotsah sebagai ibadah. Abu Salafy berkata ((Sebab inti masalahnya sebenarnya terletak pada pemahaman menyimpang Ibnu Taimyah dan para mukallidnya seperti Ibnu Abdil Wahhâb dan kaum Wahhâbi mukallidnya dalam mendefinisikan makna ibadah…di mana mereka memasukkan meminta syafa’at, beristighatsah, bertawassul dll. misalnya sebagai bentuk kemusyrikan… sementara para mufassir klasik yang selama ini dirujuk kaum Wahhâbiyyûn dan Salafiyyûn sama sekali tidak memasukkannya dalam daftar kemusyrikan!)) (lihat http://abusalafy.wordpress.com/.

      Jawaban Ahmad Syahid:

      Di point ini saya tidak berkomentar banyak, saya serahkan kepada pembaca Budiman untuk menilai siapakah yang benar dan siapakah yang salah. Siapakah yang lebih berhak menjadi Ustadz…? Apakah Abu salafy yang kokoh argumentasinya atau Firanda yang telah menjerat dirinya sendiri dengan argumentasinya dalam kubangan kemusyrikan?

      Ustadz firanda melanjutkan :

      Sungguh kedustaan yang dinyatakan oleh Abu Salafy, justru para ahli tafsir telah menjelaskan hal tersebut merupakan kesyirikan. Kita malah balik bertanya ulama ahli tafsir mana yang menyatakan bahwa beristigotsah dan berdoa kepada selain Allah –selama tidak syirik dalam rububiyah- bukanlah kesyirikan??!!

      Karenanya jika kita bertanya kepada orang-orang yang beristigotsah kepada para wali dengan berdoa kepada wali tatkala dalam keadaan genting, “Apakah jika kalian beristigotsah dan berdoa kepada Allah tatkala dalam keadaan genting maka bukankah hal itu merupakan ibadah?”, tentunya mereka akan menjawab : iya. Tidak ada seorang muslimpun yang mengingkari hal ini bahwa seseorang yang dalam keadaan terdesak lantas berdoa kepada Allah maka berarti ia beribadah kepada Allah !!! Ini semakin menegaskan bahwasanya berdoa dan beristigotsah merupakan ibadah. Lantas bagaimana Abu Salafy tidak menganggap istighotsah sebagai ibadah??!!

      Jawab:

      Justru kita yang bertanya kepada ustadz Firanda, Ulama Tafsir manakah yang menyatakan bahwa beristighostah dan berdoa kepada selain Allah Adalah kesyirikan? Saya mohon ustadz Firanda menyampaikannya di sini satu saja ( jika Istighotsah dan tawassul menurut ahli tafsir adalah syirik ) jika memang ada. Jika tidak ada, sungguh ustadz Firanda telah berdusta atas nama Ulama Tafsir, untuk mendukung kekeliruannya yang fatal hingga dirinya pun menjadi musyrik ( karena pemahamannya sendiri ).

      Ustadz firanda melanjutkan :

      Tentang majaz ‘aqliy

      Untuk semakin memperkuat igauannya maka ustadz Abu Salafy berdalil dengan majaz aqli, ia berkata ((misalnya ketika ia menyeru, ‘Ya Rasulullah sembuhkan aku’ sebenarnya ia sedang meminta agar Rasulullha saw. sudi menjadi perantara kesembuhan dengan memohonkannya dari Allah SWT. kendati ia meyakini bahwa kesembuhan itu dari Allah, akan tetapi karena ia dengan perantaraan do’a dan syafa’at Rasulullah, maka ia menisbatkannya kepada sebab terdekat. Penyusunan kalimat dengan bentuk seperti itu banyak kita jumpai dalam Al Qur’an, Sunnah dan pembicaraan orang-orang Arab. Mereka menamainya dengan Majâzz ‘Aqli, yaitu “menyandarkan sebuah pekerjaan tertentu kepada selain pelakunya, baik karena ia sebagai penyebab atau selainnya, dikarenakan adanya qirînah/alasan yang membenarkan”.))

      Maka sanggahan terhadap perkataannya ini dari beberapa sisi, diantaranya :

      Pertama : Pendalilan dengan majaz ‘aqli untuk membenarkan kesyirikan atau mentakwil kesyirikan tidak pernah disebutkan oleh seorang ulama pun dari kalangan mutaqoddimin sepanjang pengetahuan saya. Semua ulama menghukumi syiriknya seseorang dengan dzohir lafal kesyirikan yang terucap. Pentakwilan dengan majaz ‘aqli ini adalah bid’ah yang dicetuskan oleh Ali bin Abdil Kaafi As-Subki (wafat 746 H) dalam kitabnya Syifaa As-Siqoom fi ziyaaroh khoir Al-Anaam (hal 174), kemudian ditaqlid buta oleh Ahmad bin Zaini Dahlaan (wafat 1304 H) dalam kitabnya “Ad-Duror As-Saniyah fi Ar-Rod ‘alaa Al-Wahaabiyah” dan Muhammad Alawi Al-Maaliki dalam kitabnya “Mafaahiim yajibu an tushohhah”. Dan sekarang diwarisi oleh muqollid mereka Abu Salafy.

      Jawab :

      Tentang majaz ‘aqli , majaz ‘aqli bukanlah dalil bukan pula hujjah , majaz ‘aqli digunakan untuk menjelaskan sebuah perkara atau persoalan kepada orang-orang ngeyel seperti ustadz firanda ini. Dia mengeneralisir jika semua do’a adalah Ibadah. Dia tidak mau menjelaskan kata Do’a dalam al-qur`an mempunyai banyak arti, rupanya dia sengaja sembunyikan jika al-Qur`an membawa 6 atau 7 maksud dan arti dalam satu kata ” Do’a”. Karena kengeyelan dan penyembunyian fakta dalam Al-qur`an inilah, akhirnya dia pun terjerat dalam perangkap yang dia buat sendiri. Secara tidak sadar dia telah menjadikan dirinya Musyrik karena tentunya dia juga TAAT, TUNDUK dan MERENDAH dihadapan Makhluq yaitu kedua orang tuanya.

      Di point ini pun kelihatan sekali akhlak buruk Ustadz Firanda dalam menyebut dan menyikapi perbedaan pendapat dari Imam-imam besar. Imam As-Subki seorang Muhaddits, Sayyid Ahmad Zaini dahlan adalah mufti makkah pada zamannya dan Ulama besar di zamannya Sayyid Al-maliki .

      Ustadz firanda melanjutkan :

      Kedua : Hal ini melazimkan bahwa tidak seorang pun yang kafir dengan lisannya, karena setiap seseorang mengucapkan kesyirikan atau bahkan kekufuran maka harus dibawakan kepada makna yang benar dengan qorinah (indikasi) keislaman pengucapnya.

      Yang lebih parah lagi Abu Salafy tidak hanya menerapkan majaz ‘aqli pada perkataan syirik seperti doa “Yaa Rasuulallah sembuhkanlah aku”, bahkan ia juga menerapkan majaz ‘aqliy pada perbuatan syirik, seperti menyembelih kepada wali.

      Jika perkaranya demikian maka percuma bab-bab tentang kemurtadan yang ditulis oleh para ulama, tidak ada faedahnya, karena jika ada seseorang yang mengucapkan kekufuran atau kesyirikan maka harus di takwil pada makna yang tidak syirik karena pelakunya ber KTP islam, padahal para ulama telah sepakat bahwasanya seseorang tidak boleh mengucapkan perkataan kufur kecuali jika dipaksa.

      Jawab :

      1. Bagi Ahlu Sunnah Wal-jama`ah (asy`ariyah/maturidiyah pemeluk madzhab 4 ) sangatlah sulit menghukumi sesorang dengan hukum Kafir. Apalagi jika perkataan kufur keluar dari lisannya seorang Muslim karena Qorinah yang kuat adalah keislamannya. Ada tatacara dan proses yang panjang untuk menghukumi sesorang dengan Hukum Kafir, sebab jika tidak terbukti maka hukum kafir itu akan kembali dan mengenai yang menghukumnya. Saya harap Ustadz Firanda tidak gampangan dalam menghukumi seseorang dengan kata Kafir .

      2. Begitu juga dengan menyembelih, saya harap ustadz Firanda tidak serampangan dengan menghukumi palakunya dengan hukum syirik. Sebab al-Qur`an pun pernah bercerita tentang Nabi Ibrohim yang menyembelih anak sapi untuk para tamunya. Apakah di mata ustadz Firanda, Nabi Ibrohim pun telah Musyrik karena menyembelih untuk tamunya? Jika ya, maka keterlaluan sekali ustadz Firanda ini. Sebab dalam kisah itu Allah pun tidak menghukumi syirik kepada Nabi Ibrohim. Begitu juga Rosulallah SAW tidak mengatakan bahwa perbuatan Nabi Ibrohim adalah perbuatan Syirik.

      3. Mungkin bab-bab fiqh tentang kemurtadan yang ditulis oleh para Ulama Islam adalah percuma dan tidak ada Faidahnya bagi ustadz firanda? Karena ustadz Firanda tidak bisa melampiaskan Hasyratnya untuk mengkafirkan dan memusyrikkkan orang lain. Karena memang bab-bab tentang Riddah dan takfir ditulis oleh para ulama bukan untuk mengkafirkan dan memusyrikkan orang lain. Dan sangat berbahaya jika digunakan oleh orang-orang semisal ustadz Firanda yang kacamatanya kotor dan pisau analisanya tumpul dalam memahami Qur`an, Hadist dan perkataan para ulama. Terbukti jika dirinya pun terjerat oleh perangkap kesyirikan yang dibuatnya sendiri.

      Ustadz firanda melanjutkan :

      Ketiga : Hal ini melazimkan bahwasanya kaum musyrikin yang menyembah berhala orang sholeh atau menyembah malaikat juga tidak bisa dihukumi sebagai kaum musyrikin. Karena mereka mengakui dalam banyak ayat bahwasanya Allahlah satu-satunya pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta. Pengakuan mereka terhadap rububiyah Allah ini merupakan qorinah bahwasanya permintaan mereka kepada berhala orang sholeh hanyalah majaz ‘aqliy.

      Jawab :

      Perkataan ustadz Firanda ini berawal dari pemahamannya yang salah terhadap kata kunci ” penyebab kemusyrikan kafir Quresy ”. Dia menetapkan jika yang menyebabkan kafir Quresy Musyrik adalah karena mereka mengambil perantara dalam berdo’a. Padahal yang benar adalah: karena Kafir Quresy menyembah selain Allah yaitu laata Uzza dan manath serta sesembahan lainnya. Karena mereka menyembah selain Allah inilah, Kafir Quresy menjadi Musyrik. Dan rupanya Ustadz Firanda pun tidak faham apa itu majaz ‘aqly sehingga keliru dalam menerapkannya.

      Ustadz firanda melanjutkan :

      Keempat : Dalih majaz ‘aqliy ini melazimkan bolehnya para penyembah kubur untuk menyerahkan sebagian ibadah kepada para wali dengan alasan mereka hanya menjadikan para wali penghuni kuburan tersebut sebagai sebab, dan yang mengabulkan hanyalah Allah.

      Jawab :

      Rupanya ustadz Firanda belum faham jika sumber hukum dalam Islam adalah Qur`an, hadist ijma’ dan Qiyas. Abu salafi, Imam As-subki , Mufti makkah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan Sayyid Al Maliki serta ulama-ulama besar lainnya tidak pernah menjadikan Majaz ‘aqly sebagai dalil. Majaz ‘aqli hanya dipakai untuk menjelaskan kepada orang – orang ngeyel seperti ustadz Firanda ini agar sadar bahwa dirinya telah keliru. Kalau ngeyel terus akhirnya ustadz firanda pun tidak selamat dari perangkap yang dibuatnya sendiri, karena dia telah TAAT , TUNDUK dan MERENDAH-kan diri di hadapan kedua orang tuanya.

      Ustadz firanda melanjutkan :

      Kelima : Hal ini melazimkan tidak boleh ada pengingkaran sama sekali terhadap kesyirikan yang terjadi ditengah kaum muslimin yang memiliki KTP muslim, karena KTP nya merupakan qorinah bahwasanya perkataan dan perbuatan syiriknya adalah bukan kesyirikan.

      Jawab :

      Pengingkaran terhadap kemungkaran haruslah tetap ditegakkan di mana pun itu terjadi. Seperti pengingkaran dan menunjukkan kekeliruan sekaligus meluruskan pemahaman keliru Ustadz Firanda agar sadar dan tidak terus menerus dalam kemungkaran. Sebab faham keliru ustadz Firanda ini bila dibiarkan akan menyebabkan kehancuran besar bagi aqidah Ummat Islam, termasuk Ustadz Franda dan orang tuanya. Karena saya yakin orang tua Ustadz Firanda adalah orang sholeh yang TAAT, TUNDUK dan MERENDAH di hadapan kedua orang nenek dan kakek ustadz Firanda.

      Ustadz firanda melanjutkan :

      Keenam: Bahkan berdasarkan pemahaman Abu Salafy memang tidak ada kesyirikan sama sekali di umat ini, karena tidak ada diantara mereka yang meyakini bahwa ada dzat lain yang ikut mencipta, mengatur alam semesta, dan memberi rizki secara independent.

      Jawab :

      Selama Ummat Islam tidak ada yang meyakini bahwa ada dzat lain yang ikut mencipta, mengatur alam semesta, dan memberi rizki secara independent, selama itu pulalah tidak ada kemusyrikan. Lalu kenapa sih ustadz Firanda begitu menggebu-gebu agar ada ummat Islam menjadi Musyrik? Ya akhi, gunakanlah ilmumu untuk membawa Ummat menuju Ridlo Allah, janganlah pergunakan ilmumu untuk mengkafirkan dan menginginkan kemusyrikan terjadi dalam ummat Islam.

      Ustadz firanda melanjutkan :

      Ketujuh : Majaaz ‘aqliy secara umum adalah menyandarkan fi’il (perbuatan) bukan kepada pelakunya yang hakiki akan tetapi kepada salah satu dari dua perkara:

      – Penyandaran fi’il kepada waktu atau tempat terjadinya fi’il. Penyandaran perbuatan kepada waktu seperti misalnya perkataan “Musim semi telah menumbuhkan tanaman” (maksudnya : Allah menumbuhkan tanaman di waktu musim semi). Penyandaran perbuatan kepada tempat misalnya perkataan “Jalan kota Jakarta ramai” (maksudnya : “Orang-orang ramai di jalan kota Jakarta”, karena keramaian dilakukan oleh orang-orang para pengguna jalan dan bukan dilakukan oleh jalan)

      – Penyadaran fi’il (perbuatan) kepada sebab terjadinya fi’il. Contohnya perkataan “Gubernur membangun gedung yang tinggi” (maksudnya : Gubernur sebab dibangunnya gedung yang tinggi yaitu dengan memerintahkan para pekerja” (lihat Al-Balaagoh Al-Waadhihah karya Ali Al-Jaarim dan Mushthofa Amiin, hal 115-117)

      Maksud dari ustadz abu salafy dengan pendalilan majaz ‘aqliy di sini adalah menyandarkan fi’il kepada sebab terjadinya fi’il, bukan kepada waktu atau tempat terjadinya fi’il. Karenanya ustadz Abu Salafy menjelaskan bahwasanya perkataan seseorang “Wahai Rasululullah sembuhkanlah aku” atau “Wahai wali fulan selamatkanlah aku, angkatlah musibahku” maksudnya adalah, “Yaa Allah sembuhkanlah aku, yaa Allah angkatlah musibahku”. Sebagaimana taktala kita berkata “Musim semi menumbuhkan tanaman” maksudnya “Allah menumbuhkan tanaman tatkala musim semi”

      Oleh karenanya agar bisa tepat penerapan majaz aqliy di sini maka seorang yang beristighotsah kepada wali tatkala dalam kondisi genting maka dia harus meyakini bahwa wali tersebut merupakan sebab yang pasti untuk datangnya pertolongan Allah, maka ia harus memiliki tiga keyakinan:

      – Wali yang sudah mati ini bisa mendengar seruannya tatkala ia dalam keadaan genting dimanapun ia berada

      – Meyakini bahwa sang wali yang sudah mati ini mengetahui kondisi musibah yang sedang ia alami, karena jika sang wali tidak pasti tahu maka berarti sang wali bukanlah sebab.

      – Meyakini bahwasanya wali ini pasti memberi syafaat baginya di sisi Allah. Karena kalau tidak pasti maka berarti wali ini bukanlah sebab

      Dan ketiga keyakinan ini 1)bahwa wali mendengar secara mutlaq, dan 2)sang wali memiliki ilmu yang mutlaq sehingga mengetahui musibah yang sedang dialaminya, dan 3)syafaat mutlaq (bahwasanya sang wali pasti memberi syafaat kepadanya) tidak diragukan lagi merupakan kesyirikan.

      Jawab :

      Lagi-lagi ustadz Firanda keliru dan salah faham, karena 3 syarat yang disebutkan oleh ustad Firanda adalah murni Aqidah Ustadz firanda kenapa dinisbatkan kepada Abu Salafy? Kenapa kacamata milik ustadz Firanda dipakaikan kepada Abu salafy…? Gak cocok dong kacamata kotor di pakaikan ke orang lain…, entar orang lainnya marah gemana? Lagian kalo Abu Salafy enggak min dipakein kaca mata ustadz Firanda yang min bisa pusing tuh Abu Salafy.

      BERSAMBANG PADA FARAF2 https://www.facebook.com/membongkar.kesesatan.wahabi/info

  • dian says:

    Alhamdulillah, syukron infonya admin, ana malah sering masuk web2 yg penuh TBC, soalnya ana newbie ketemu web ini ana jd tau web2 yg benar2 menyuarakan Islam yg benar. sekali lg syukron

  • dadan salafy says:

    syukron atas infonya, ana jadi tau web2 tempat tuk mendulang ilmu dan tau web sohib2 ana, jazakallahu khairan wa barakallahu fiik…

    • Ummati says:

      dadan salafy, rusdiantoro, dian, Indah dan Wahabiyyin yang lainnya…@

      Mungkin antum sudah baca postingan di atas dan langsung koment seakan-akan tidak lihat kata pengantar postingan di tas, padahal bukankah sudah kami jelaskan dalam pengantar postingan di atas bahwa daftar Situs Wahabi dan variant-nya itu memang disajikan buat antum-antum para penganut ajaran Wahabi?

      demikian semoga antum benar2 gembira bukan cuma sekedar untuk menutupi kemarahan sambil bilang syukron and syukron.

  • Islam satu says:

    Saya dari kalangan Ahlussunnah Waljamaah sudah membaca situs situs di atas, isinya sesuai Quran dan Hadist. Tidak ada satupun kata atau kalimat yang bermaksud mengkafirkan seseorang tertentu. Kalau saya temukan “Saya adalah orang yang tidak setuju dengan hal itu”. Untuk pemilik situs ini, anda seperti takut kalah. sebaiknya anda berdakwah dengan lebih elegan dengan tidak mengkodifikasi situs2 dan memprovokasi netter agar sepaham dengan anda. Anda sendiri siapa ya? apakah sudah cukup pengetahuan untuk menilai aliran-aliran yang ada dalam Islam ? kalau anda sedang kuliah, belajar sajalah dulu ya…..

    • Ummati says:

      Untuk pemilik situs ini, anda seperti takut kalah. sebaiknya anda berdakwah dengan lebih elegan dengan tidak mengkodifikasi situs2 dan memprovokasi netter agar sepaham dengan anda.

      -Untuk melihat apakah situs-situs itu milik Wahabi atau bukan, itu sangat mudah. Jika muatan / isinya berupa ajaran-ajaran Wahabisme maka jelas lah itu situs-situs Wahabi.

      -Tentang daftar situs-situs di atas milik kaum Wahabi, sungguh ini adalah informasi yang benar, anda saja yanng kebakaran jenggot sehingga menganggap informasi ini sebagai provokasi.

      -Kami sekedar memberikan informasi yang benar dan jujur, situs-situs dalam daftar di atas adalah milik para penganut Wahabisme.

    • ucep says:

      @islam satu
      Apakah anda pemilik blog satuislam.wordpress.com ? kalau ya.
      “Saya dari kalangan Ahlussunnah Waljamaah sudah membaca situs situs di atas”
      Kenapa disitus tersebut terpampang foto-foto Ulama Ahlusunnah wal jamaah, tapi link yang tertera adalah situs-situs Wahabi, Radio Rodja dll.

  • Ajaran Salafi Wahabi ini baru dengar tetangga bahwa masang gambar foto hidup yang bernyawa tidak boleh lainya = gambar pemandangan alam tidak boleh karena menyaingi ciptaan Allah, masang tulisan Allahuakhkbar kaligrafi tidak boleh dan apalagi jenis patung baik platik apalagi batu, kayu. habis lah para seniman kita semua.and tetapi anehnya Raja Soudi Arab memasang gambar raja di Istana dengan ukuran sangat besar …aneh tapi nyata..

    • Putri Karisma says:

      Padahal yg jadi sasaran orang2 yg dianggap musyrik oleh Periontis Paham Wahabi tsb adalah para Ulama dan kaum muslimin yg sholih yg taat kpda Allah, demikianlah fitnah yg ditebarkannya. Dan anehnya ini diikuti sampai sekarang oleh para pengikut paham Wahabi, yg jadi sasarannnya adalah kaum muslimin dan para Kiyai untuk kasus di Indonesia.

      Nggak tahu kalau di negara2 di luar Indonesia, tapi yg jelas kaum Wahabi itu kaum penebar fitnah di kalangan intern Ummat Islam. Wajar kalau di seluruh dunia Wahabi mendapat perlawanan dari kaum muslimin, sebab dakwahnya mengandung muatan fitnah.

      Bisa diibaratkan Wahabi itu bagaikan benalu yang menempel dalam Islam, di mana ada Ummat Islam di situlah Wahabi menempel dan jadi peyakit (fitnah). Ini terbukti mereka tidak punya sejarah mengislamkan orang2 non muslim. Tetapi sebaliknya pekerjaan mereka yg paling utama adalah memusyrik-musyrikkan kaum muslimin dan mengkafir-kafirkannya. Bagaimana mereka bisa mengaku-ngaku mengikuti dakwah Nabi Saw, padahal Nabi tidak pernah memberi contoh dakwah seperti yg dilancarkan Wahabi selama inin di seluruh dunia.

  • Salafi says:

    Al Lajnah Ad Daimah, Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa di Saudi Arabia ditanya, “Siapakah wahabiyah?”

    Jawaban para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah, Wahabiyah adalah kata yang dimunculkan oleh para penentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah. Padahal Syaikh rahimahullah berdakwah untuk memurnikan tauhid dari berbagai macam kesyirikan. Beliau ingin menghapus berbagai macam cara beragama di luar yang dituntunkan oleh Nabi kita Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Maksud dari pemunculan nama ini sebenarnya adalah untuk menjauhkan dan menghalangi manusia dari dakwah beliau.

    Namun usaha semacam ini tidaklah membahayakan dakwah beliau. Bahkan dakwah beliau semakin tersebar di berbagai penjuru dunia dan semakin dicintai. Di antara mereka yang diberi taufik oleh Allah untuk mengenal dakwah beliau, mereka melakukan penelitian lebih lanjut tentang hakikat dakwah beliau, mereka pun membelanya, karena beliau selalu bersandar pada dalil Al Kitab dan As Sunnah yang shohih pada setiap apa yang beliau sampaikan. Sehingga mereka semakin berpegang teguh dengan dakwahnya, mengikutinya dan mengajak manusia kepada dakwah beliau. Wa lillahil hamd (Segala pujian hanyalah milik Allah).

    Wabillahit taufiq. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada pengikut dan para sahabatnya.

    Yang menandatangani fatwa ini: Anggota : Syaikh Abdullah bin Ghodyan Wakil Ketua : Syaikh Abdur Rozaq ‘Afifi Ketua : Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz

    [Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Iftah (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) no. 9450, pertanyaan kedua]

    Tentang Siapakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Wahabi secara lebih lengkap, silakan baca tulisan Al Ustadz Abu Ubaidah di sini: http://abiubaidah.com/kritikhadits-wahabi.html/

    Prepared after ‘Isya in Riyadh, KSU, on 22nd Dzulhijjah 1431 H (28/11/2010)

    Muhammad Abduh Tuasikal

    http://www.rumaysho.com

    • Putri Karisma says:

      (Maaf Mas Admin,
      koment saya di atas bukan saya tujukan ke zaenal abidin blogs@ tetapi ke SALAFY@ ,
      tolong Mas Admin agar menghapus koment saya di atas, terimakasih Mas Admin).

      Padahal yg jadi sasaran orang2 yg dianggap musyrik oleh Periontis Paham Wahabi tsb adalah para Ulama dan kaum muslimin yg sholih yg taat kpda Allah, demikianlah fitnah yg ditebarkannya. Dan anehnya ini diikuti sampai sekarang oleh para pengikut paham Wahabi, yg jadi sasarannnya adalah kaum muslimin dan para Kiyai untuk kasus di Indonesia.

      Nggak tahu kalau di negara2 di luar Indonesia, tapi yg jelas kaum Wahabi itu kaum penebar fitnah di kalangan intern Ummat Islam. Wajar kalau di seluruh dunia Wahabi mendapat perlawanan dari kaum muslimin, sebab dakwahnya mengandung muatan fitnah.

      Bisa diibaratkan Wahabi itu bagaikan benalu yang menempel dalam Islam, di mana ada Ummat Islam di situlah Wahabi menempel dan jadi peyakit (fitnah). Ini terbukti mereka tidak punya sejarah mengislamkan orang2 non muslim. Tetapi sebaliknya pekerjaan mereka yg paling utama adalah memusyrik-musyrikkan kaum muslimin dan mengkafir-kafirkannya. Bagaimana mereka bisa mengaku-ngaku mengikuti dakwah Nabi Saw, padahal Nabi tidak pernah memberi contoh dakwah seperti yg dilancarkan Wahabi selama inin di seluruh dunia.

  • Agung says:

    @salafi : “Padahal Syaikh rahimahullah berdakwah untuk memurnikan tauhid dari berbagai macam kesyirikan.”

    Kesyirikan seperti apa yg ingin diperangi oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah? Tolong dicontohkan. trm kasih

  • wandi says:

    Assalamu’alaikum…..
    Terimakasih atas info nya gan admin, sangat bermanfaat bagi kami dipapua….soalnya sekarang banyak sekali web dan siaran TV yang mengaku AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH, padahal mereka SAWAH!!!
    semoga ALLAH merahmati para pembela AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH…..,Amiin…Allahumma Amiin

  • BARU BELAJAR AGAMA says:

    Ane bukan Aswaja, yang nyembah2 kuburan, atau membuat syariat2 agama yang baru kaya umat nasrani jaman kebelakang, ane suka ajaran rasulullah apa adanya, tanpa ditambah2 dgn embel2 bid’ah (nyapein tapi ga dpt apa2), ane dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, satu pemahaman dgn sahabat seperti Ibnu Mas’ud dan Abu Musa Al Asy’ari radhiallahuanhuma yang mengingkari orang yang zikir berjemaah, syukran ya Admin atas info2 websitenya, kebetulan ane lagi nyari, daripada tahlilan ga jelas, mending belajar ilmu syariat, biar ga nyasar ke neraka

    • Khoirudin. says:

      BARU BELAJAR AGAMA says:@
      nyembah kubur siapa itu bos yg nyembah kubur bos.
      siapa yg membuat syariat2 baru ?
      zikir ber jamaah salah lagi ?
      wah wah….wahabi memang bingungke
      apa bahasa artikel yg di tulis teman2 aswaja masih kurang jelas ya sehingga temen 2 wahabi masih kliru pemahamannya ( yg g bisa yg nulis artikel apa yg baca artikel nih ) soalnya banak yg paham n terus sadar dg pahaman wahabinya yg mbulet ruwet ALIAS DEDEL

      • muslim jawa says:

        anda bilang ini negeri hina,silahkan anda bakar KTP RI anda,anda jual RUMAH+tanah terakhir Silahkan MINGGAT dari NKRI bikin negara sendiri,oke

  • Agung says:

    @BARU BELAJAR AGAMA

    Tahlilan terambil dari kosa kata tahlil, yang dalam bahasa Arab diartikan dengan mengucapkan kalimat la ilaha illallah. Sedangkan tahlilan, merupakan sebuah bacaan yang komposisinya terdiri dari beberapa ayat al- Qur’an, shalawat, tahlil, tasbih dan tahmid, yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun sudah meninggal, dengan prosesi bacaan yang lebih sering dilakukan secara kolektif (berjamaah), terutama dalam hari-hari tertentu setelah kematian seorang Muslim. Dikatakan tahlilan, karena porsi kalimat la ilaha illallah dibaca lebih banyak dari pada bacaan- bacaan yang lain.

    Dalam kitab Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiah disebutkan:
    “Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendo’akan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illa billaah) dan shalawat kepada Nabi SAW. Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam
    berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al- Bukhari, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhrrya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”, lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi,
    “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca’a Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta padi sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah SAW dan hambahamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22, hal. 520)

    Bila saudara melarangnya maka mana dalilnya ? Munculkan satu dalil yang mengharamkan
    acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yang wafat) tidak di Alqur’an,
    tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya
    saudara saja yang mengada ada dari kesempitan pemahamannya.

    • jazz says:

      Terus maksud Isi dari “Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabi’uts tsani 1345 H/ 21Oktober 1926 M mencantumkan pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan setelah kematian (yakni Tahlilan dan Yasinan-ed) adalah Bid’ah yang hina/tercela. <<< ini kesepakatan Ulama NU terdahulu,silahkan rujuk ke Kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin [Salah Satu Kitab Utama NU] tentang tahlillan

      Terus maksud perkataan Imam Syafi'i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata:
      "…dan aku membenci al-ma'tam, yaitu proses berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat." (al-Umm (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1393) juz I, hal 279) .

      jadi gimana tuh maksud 2 point diatas??

      • @bu hilya says:

        Bismillah,

        saudaraku @Jazz, sekali lagi kami peringatkan anda dan segenap saudara dari salafi/wahabi, jika hendak menyampaikan sesuatu, pelajari dulu apa yang anda mau sampaikan!!! jangan suka ngutip-ngutip sebagian dan menafikan yang lain hanya untuk menimbulkan fitnah!!!

        Hasil Muktamar yang saudara maksud termaktub dalam “AHKAMUL FUQOHA” pada masalah no 18 dan 19 pada halaman 17-19, apa anda sudah baca semuanya? jika belum kami beri anda kesempatan untuk membacanya, dan selanjutnya silahkan diklarifikasi sebelum kebohongan anda kami bongkar!!

    • jazz says:

      @Agung:

      Terus maksud Isi dari “Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabi’uts tsani 1345 H/ 21Oktober 1926 M mencantumkan pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan setelah kematian (yakni Tahlilan dan Yasinan-ed) adalah Bid’ah yang hina/tercela. <<< ini kesepakatan Ulama NU terdahulu,silahkan rujuk ke Kitab Hasyiyah I’anah al Thalibin [Salah Satu Kitab Utama NU] tentang tahlillan

      Terus maksud perkataan Imam Syafi'i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata:
      "…dan aku membenci al-ma'tam, yaitu proses berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat." (al-Umm (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1393) juz I, hal 279) .

      jadi gimana tuh maksud 2 point diatas??

      • Agung says:

        @Jazz

        Mengenai muktamar NU yg bersepakat bahwa tahlilan dan yasinan adalah Bid’ah yg tercela, saya tidak tahu. Saya baru tahu dari saudara. InsyaAllah teman teman ASWAJA yg lain, dapat menerangkannya. apakah memang benar apa yg saudara katakan tersebut.

        Terus maksud perkataan Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata:
        “…dan aku membenci al-ma’tam….” disana Imam Syafi’i tidak mengatakan haram. Jadi dalam hal ini, saya akan mengutip pendapat ulama lain, yg setahu saya ulama tersebut bermazhab Syafi’i.

        Imam Nawawi mengatakan : “Bid’ah Ghairu Mustahibbah bermakna Bid’ah yang mubah atau yang makruh”. Imam Nawawi berpendapat bid’ah terbagi 5 bagian, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram (rujuk Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 6 hal 164-165).

        Imam Ibnu Hajar Al Haitsamiy menjelaskan :
        “mereka yang keluarga duka yang membuat makanan demi mengundang orang adalah hal Bid’ah Munkarah yang makruh” (bukan haram).

        Imam Ad-Dasuqi Al-Maliki berkata berkumpulnya orang dalam hidangan makan makan dirumah mayit hukumnya Bid’ah yang makruh (bukan haram tentunya).

        Syaikh An-Nawawi Al-Banteni rahimahullah menjelaskan adat istiadat baru berupa “Wahsyah” yaitu adat berkumpul di malam pertama saat mayyit wafat dengan hidangan makanan macam – macam, hal ini makruh, (bukan haram).

        Hukum darimana makruh dibilang haram?,

        Berkata shohibul Mughniy (Seingat saya, pengarang kitab Almughniy bermazhab HAmbali, maaf bila saya salah ^^) :
        Bila keluarga mayyit membuat makanan untuk orang, maka makruh, karena hal itu menambah atas musibah mereka dan menyibukkan, dan meniru – niru perbuatan jahiliyah. (Almughniy Juz 2 hal 215)

        Lalu Shohibul Mughniy menjelaskan kemudian :
        Bila mereka melakukannya karena ada sebab atau hajat, maka hal itu diperbolehkan, karena barangkali diantara yang hadir mayyit mereka ada yang berdatangan dari pedesaan, dan tempat – tempat yang jauh, dan menginap dirumah mereka, maka tak bisa tidak terkecuali mereka mesti dijamu (Almughniy Juz 2 hal 215).

        Disini hukumnya berubah, yang asalnya makruh, menjadi mubah bahkan hal yang mulia.

      • @bu hilya says:

        Bismillah,

        @Jazz, sekalia lagi kami peringatkan!! Jangan suka gunting-gunting perkataan orang lalu menisbatkannya sebagai kesepakatan ulama NU, mungkin anda tahunya dari baca dari buku “MANTAN KIYAI NU MENGGUGAT TAHLIL….” maka jadinya anda seperti penulis buku tsb…

        • jazz says:

          @ Agung & bu hilya: silahkan rujuk ke Kitab I’anatut Thalibin Juz 2 hal. 165 -166 ( kitab pegangan NU ),memang di Muktamar itu tidak sampai mengharamkannya,alias makruh ( dibenci ), yg saya katakan bukan lah dusta,silhakan anda rujuk di kitab yg saya tulis tsb untuk membuktikannya.:)

          Terlampir di dalam Kitab I’anatut Thalibin :

          1. Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk Bid’ah Mungkar, yang bagi orang yang melarangnya akan diberi pahala.

          2. Dan apa yang telah menjadi kebiasaan, ahli mayit membuat makanan untuk orang-orang yang diundang datang padanya, adalah Bid’ah yang dibenci.

          3. Dan tidak diragukan lagi bahwa melarang orang-orang untuk melakukan Bid’ah Mungkarah itu (Haulan/Tahlilan : red) adalah menghidupkan Sunnah, mematikan Bid’ah, membuka banyak pintu kebaikan, dan menutup banyak pintu keburukan.

          4. Dan dibenci bagi para tamu memakan makanan keluarga mayit, karena telah disyari’atkan tentang keburukannya, dan perkara itu adalah Bid’ah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih, dari Jarir ibnu Abdullah, berkata : “Kami menganggap berkumpulnya manusia di rumah keluarga mayit dan dihidangkan makanan , adalah termasuk Niyahah”

          5. Dan dibenci menyelenggarakan makanan pada hari pertama, ketiga, dan sesudah seminggu dst.

          [Buku "Masalah Keagamaan" Hasil Muktamar/ Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang. Kata Pengantar Menteri Agama Republik Indonesia : H. Maftuh Basuni]

          • @bu hilya says:

            Bismillah,

            @Jazz, untuk menghukumi masalah ini apakah ia makruh, mubah atau haram perlu anda memahamai 2 hal:

            - fahami dulu istilah-istilah yang digunakan para ulama semisal Ma’tam, Niyaha, Ghoiru Mustahab, berikut kandungan hukum yang ada didalamnya….

            - fahami juga obyek yang akan anda hukumi, lakukan kajian menyeluruh atas praktek-praktek yang anda tuduh bid’ah sesat? apakah ia sebagaimana yang dimaksud dalam fatwa tsb? jangan hanya dengan satu atau dua praktek lantas anda menggeneralisir semua obyek (mahkum ‘alaih) lantas anda tuduh sebagai bid’ah munkar…

            sesungghnya apa yng ada dalam i’anah, fatawi Ibn Hajar, Nihayah Az Zain, atau kitab-kitab yang lain telah kami jelaskan pada beberapa waktu yang lalu… dan insy Alloh akan kami ulang lagi kalau ada kesempatan…

          • jazz says:

            @bu hilya: maaf perlu diketahui ,bukan saya yg menghukumi ini adalah makruh atau mubah,dan bukan tuduhan saya.Saya hanya nukil Tapi ini udah sudah menjadi keputusan dari MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
            KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926,ada buku nya kok

            dan tentunya Ulama2 NU yg menghadiri Muthamar NU pertama ini sudah pasti melakukan kajian-kajian tersebut dong,hingga mengeluarkan fatwa makruh ( dibenci )Ratapan Bid’ah Tercela ,jadi bukan saya yg tuduh.

            Wassalam

          • Agung says:

            @Jazz

            Makru itu secara bahasa artinya dibenci. Namun, dalam pengertian fiqih makruh hukumnya yutsab ala tarkihi wala yu’aqabu ala fi’lihi (mendapat pahala bila ditinggalkan dan tidak mendapat dosa bila dilakukan).

            Namun, bila jamuan yg diberikan diniatkan untuk tujuan shadaqah untuk mayyit, dan pahalanya itu untuk mayyit, maka hal tersebut bermanfaat.

            Dari Aisyah ra bahwa sungguh telah datang seorang lelaki pada Nabi saw seraya berkata
            : Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal mendadak sebelum berwasiat, kukira bila ia sempat bicara mestilah ia akan bersedekah, bolehkah aku bersedekah atas namanya?, Rasul saw menjawab : “Boleh” (Shahih Muslim hadits No.1004).

            Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi rahimahullah :
            “Dan dalam hadits ini (hadits riwayat shahih muslim diatas) menjelaskan bahwa shadaqah untuk mayit bermanfaat bagi mayit, dan pahalanya disampaikan pada mayyit, demikian pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, dan demikian pula mereka bersepakat atas sampainya doa doa” (Syarh Imam Nawawi ala Shahih Muslim juz 7 hal 90)

            Jadi, sebelum berbicara, lebih baik dipelajari dulu, apa itu pengertian makruh menurut syara’. Bedakan antara makruh dan haram.

            Al-Imam Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan, murid terbaik dan penyebar madzhab al-Imam Abu Hanifah, menyelisihi gurunya (Abu Hanifah) dalam 2/3 madzhab. Akan tetapi keduanya tetap dianggap sebagai pengikut dan penyebar madzhab Hanafi. Para ulama pengikut madzhab Maliki, dalam banyak masalah menyelisihi pendapat Imam Malik bin Anas, sang pendiri madzhab sendiri. Namun mereka tetap dianggap sebagai pengikut madzhab Maliki.

            jadi, walaupun ulama ulama NU pada muktamar terdahulu melarang, bukan berarti perbuatan yg dilakukan oleh warga NU saat ini tercela, karena tidak sesuai dengan pendapat pendahulu mereka.

            Ahlussunah Wal Jama’ah itu satu dalam masalah aqidah, berpaham As-’Ariyyah Maturidiyah, dalam masalh fiqih berpegang pada mazhab yg empat. dan mengakui akan tasawuf.
            kaum Muslimin mengikuti madzhab al-Imam al-Syafi’i dalam bidang fiqih, madzhab Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam bidang akidah dan madzhab Hujjatul Islam al-Ghazali dan Abu al-Hasan
            al-Syadzili dalam bidang tashawuf. Demikian seperti dijelaskan oleh Hadlratusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahl al-Sunnah wa al- Jama’ah.

            Ahlussunah Wal Jama’ah itu, saling kerjasama dalam hal hal yg telah disepakati, dan toleransi dalam masalah cabang.

          • jazz says:

            @Agung: dari tadi saya juga nulisnya makruh ( dibenci ),tidak pernah nulis kata:”haram”
            @bu hilya: kesimpulan saya dari mana?itu jelas kesimpulan Muktamar NU

            Apapun pembelaannya saya lebih menghargai Isi Muktamar NU pertama ini dan Ulama2 NU terdahulu,ketimbang NU sekarang yg sudah kemasukan paham liberal

          • Agung says:

            @Jazz

            Dari Thaawus ra : “Sungguh mayyit tersulitkan di kubur selama 7 hari, maka merupakan
            sebaiknya mereka memberi makan orang – orang selama hari hari itu” (Diriwayatkan
            Oleh Al Hafidh Imam Ibn Hajar pd Mathalibul ‘Aliyah Juz 1 hal 199 dan berkata sanadnya
            Kuat).

            Diatas saya juga telah menyebutkan bahwa hukumnya adalah makruh. Namun, hukumnya dapat berubah dari makruh menjadi mubah sebagaimana yg telah dikatakan oleh shohibulmughny.

          • @bu hilya says:

            Bismillah,

            @Jazz, pernyataan anda:

            dan tentunya Ulama2 NU yg menghadiri Muthamar NU pertama ini sudah pasti melakukan kajian-kajian tersebut dong,hingga mengeluarkan fatwa makruh ( dibenci )Ratapan Bid’ah Tercela ,jadi bukan saya yg tuduh.

            pernyataan kami:

            itu adalah kesimpulan anda, dan kalaupun kita sependapat dengan fatwa atas masalah No:18 yakni hukumnya makruh, ketahuilah kemakruhan tersebut tidak menghalangi pahala shodaqoh baik berupa bacaan tasbih, tahlil atau yang lain sebagaimana secara global tertuang pada fatwa No:19.

            wallohu a’lam

          • Agung says:

            @bu Hilya

            Mungkin saudara Jazz tidak dapat membedakan antara Makruh dan Haram dalam pengertian syara’.

          • @bu hilya says:

            Bismillah,

            @Ust, Agung

            mungkin benar apa kata anda ustadz, gimana bisa memahami istilah-istilah yang dipakai oleh para ulama’ syafi’iyyah kalo beliaunya sendiri anti madzhab, sehingga rancu nggak bisa ngidentifikasi madzmumah, ghoiru mustahab, makruh, munkaroh, dll

          • Agung says:

            @bu Hilya

            Jangan panggil saya ustadz mas. Saya ini juga baru belajar. Kuliah saja saya ini jurusan kesehatan :D

          • ucep says:

            Iya @Abu Hilya, gak boleh panggil ustad, wong Rasulullah aja gak boleh dilengkapi dengan kata ‘Sayyidina”, apalagi mas Agung. Nanti2 panggil Syeikh Albani gak usah pakai Syeikh cukup Albani, juga kepada Syaikul Islam Ibnu Taimiyah gak usah lengkapnya cukup Taimiyah aja.
            Nanti Orang pinter sedunia yaitu sekte Wahabi Marah.

          • @bu hilya says:

            Bismillah,

            mohon maaf yang sebesar-besarnya, mas agung dan mas ucep, sikap ini tidak lebih adalah bentuk penghormatan kami terhadap ilmu dan orang-orang berilmu, sebagaimana yang diajarkan orang tua dan guru-guru kami. namun jika panjenengan tidak berkenan kami tidak akan memaksakan…. selamat berjuang dan semoga Alloh menjaga niat kita untuk senantiasa lurus menegakkan yang kita yakini “ALLOHU YUWAFFIQUNA WAIYYAKUM ILAA MA YUHIBBU WA YARDHO”

          • ucep says:

            @abu hilya
            Bukan begitu Ustad, ane sih tetap memanggil Ustad, Kyai, Syeikh, Imam apalagi kepada Rasulullah dengan menambah Sayyidina, itu merupakan sebagai penghormatan ane kepada si Fulan, apapun resiko yang akan ane hadapi diakhirat kelak, ane tetap memanggil sebagai penghormatan bukan sebagai penghambaan.
            Beda dengan Kaum sawah, kalau Imam2nya dipanggil Alu Syeikh, al Imam, tapi kepada Rasulullah seperti panggilan kepada teman aja, bahkan dikatakan Haram hukumnya.

          • Agung says:

            @bu Hilya

            saya sih tetap memanggil Ustad, Kyai, Syeikh, Imam apalagi kepada Rasulullah dengan menambah Sayyidina kepada Nabi Muhammad saw. Karena hal itu merupakan bentuk pengagungan dan penghormatan kepada mereka, terutama panggilan sayyidina, merupakan pengagungan kepada sosok paling mulia, yaitu Nabiyullah Sayyidina Muhammad saw.

            Perkataan saya tersebut ditujukan kepada golongan pengingkar yg menolak penyebutan sayyidina kepada Nabi Muhammad saw. Logikanya, jika kelompok pengingkar tersebut membid’ahkan panggilan sayyidina kepada Nabi Muhammad saw, lantas mengapa kelompok pengingkar ini memanggil guru atau ulama mereka dengan sebutan syaikh dsb. mengapa kelompok pengingkar ini tidak membid’ahkan panggilan tersebut.

    • kafi says:

      Anda harus tahu Ushul fiqh asala dari setiap ibadah itu haram hingga datang dalil/perintah untuk melaksanakannnya,utnuk Ibadah jangan di cari yang melarangnya cari Perintahnya .sampai kiamat pun mencari larangan suatu ibadah tak kan ada , Dalil shalat subuh 3 rakaat apa ada larangan nya kenapa tidak dilakukan

      • ucep says:

        @kafi
        “Anda harus tahu Ushul fiqh asala dari setiap ibadah itu haram hingga datang dalil/perintah untuk melaksanakannnya”

        Jadi kesimpulannya, Pembagian Tauhid menjadi 3 Haram dong hukumnya ?
        Terus gimana tuh hukuman bagi yang masih meyakininya kalau Haram hukumnya, masuk Neraka gak ?

    • aswaja wahabib says:

      Kata Tahlil kan cuma hanya sebagai aksesoris untuk mengelabui umat Islam yang keblinger seperti antum. Asal ritual itu adalah selamatan yang berasal dari ajaran Hindu. Agar umat Islam mau melaksanakan ritual Selamatan yang notabene adalah ajaran Hindu, maka dibungkuslah ritual itu dengan nama Tahlilan, sehingga terkesan bahwa ritual ini berasal dari ajaran Islam.

      Seperti ritual nujuh bulanan, yaitu upacara Selamatan kehamilan usia tujuh bulan. Orang Hindu berkeyakinan bahwa dengan mengadakan ritual nujuh bulanan ini kelak anak yang dilahirkannya akan seperti dewa atau dewi yang memiliki ketampanan atau kecantikan. Kalau anaknya laki-laki maka diharapkan akan setampan dewa Kamajaya, dan kalau anaknya perempuan akan secantik dewi Ratih. Dan keyakinan tersebut pada awalnya juga diyakini oleh orang Islam yang mengadakan ritual nujuh bulanan tersebut.

      Setelah banyak orang Islam mulai “melek” ajaran Islam, maka Iblis dan antek-anteknya membungkus ritual tersebut dengan nuansa Islam dan keyakinannya pun dirubah sehingga orang Islam gampang ditipu. Yang semula berkeyakinan kalau lahir anak laki-laki maka akan setampan dewa Kamajaya dirubah menjadi setampan Nabi Yusuf dan kalau lahir anak perempuan akan secantik dewi Ratih dirubah menjadi secantik Maryam alaihi salam.

      Dan Iblis dan antek-anteknya sampai sekarang mati-matian mempertahankan ritual batil dan sesat tersebut untuk menjerumuskan umat Islam ke lembah kesyirikan.

      Naudzubillah min dzalik!!!

      • ucep says:

        @aswaja wahabib
        Gak apa2 terserah ente mau bilang apa, ini itu bid’ah yang penting didalamnya ada kalimat LA ILA HA ILLAH pasti ane ikutin. Apalagi ada menyebut kalimat Salawat pasti juga ane ikutin.

        “Setelah banyak orang Islam mulai “melek” ajaran Islam, maka Iblis dan antek-anteknya membungkus ritual tersebut dengan nuansa Islam dan keyakinannya pun dirubah sehingga orang Islam gampang ditipu.”

        Iya MELEK TAPI BUTA percuma aja jadi Makhluk ALLAH

  • Agung says:

    @BARU BELAJAR AGAMA

    Diatas anda berkata : “yang nyembah2 kuburan”.

    Ziarah kubur adalah sunnah Nabi, sebagaimana sabdanya :

    “Ziarahlah kubur, pasti engkau akan mengingat akhirat……..”. (HR. Imam Hakim)

    Apa alasan saudara menganggap musyrik kaum muslimin yg ingin berziarah?

  • gobel says:

    wahabi/salafi:tidak mau ijma’ dan qiyas padahal sampainya pemahaman islam atas manhajul fikr melalui tahapan tersebut….wahabi/salafi dalam hujjahnya adlah tentang bid’ah…dan semua bid’ah adalah sesat… padahal dalam kesehariannya ..sering berlumuran bid’ah..dengan demikian mereka para penganutnya senantiasa berlumuran kemunafikan… dan jelas ganjaran orang2 yang munafik… kalau gak percaya.. tengoklah mereka..sesuaikah sudah dengan tuntunan Al-Quran n SUnnah yng sering mereka gembar gemborkan… mereka gak benar2 lurus.. hanya OmDoNg..sok lurus,,sok suci..dll..

  • vira says:

    @bu hilya

    tolong dijawab pertanyaan dr saudara jazz
    soalnya komentar” anda sangan bermutu dan berbobot…
    saya banyak dapat pencerahan dari web ini
    trims..

    • @bu hilya says:

      Bismillah,

      Maaf mbak @vira, kami baru on, habis liburan melepas penat…. Insya Alloh pemasalahan tsb akan kami kupas sejauh pengetahuan kami yang telah dianugerahkan Alloh ttg masalah tsb…

  • Fikri says:

    Info yang menarik. Mohon izin untuk saya save buat arsip pengetahuan saya, atau mungkin bisa saya bagikan, tentunya Insya Allah saya akan sertakan sumbernya dari website Ummatipress.com
    Jazakumullah…

  • Laziafah says:

    Kok rame Gini? Diskusinya yang santun dan tidak mengarah menyalahkan mungkin lebih baiklah, apalagi kita sesama muslim. Kita manusia nggak ada yang sempurna, seratus persen kebenaran ada pada Allah SWT saja. Jangan ambil alih milik Allah ini. Saya suka diskusi ini, tapi kalau ada beda pendapat berlapang dada dong. Masing-masing balik aja kepada kitabullah dan sunnah rasul.

  • Bukan Munafik says:

    Ana setuju dengan pernyataan admin bahwa website yang disebut webnya wahabi gampang dikenali sebagai webnya Islam, sebab jelas misi dan ajarannya berdasarkan Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Para Sahabat. Nggak bikin bingung alias menerka-nerka seperti menerka-nerka kitab mujarobat atau kitab primbonnya orang-orang yang mengaku aswaja.

    Alhamdulillah sejak mengenal ajaran yang oleh ‘orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit’ disebut ajaran wahabi, hati saya jadi tenteram dan bahagia.

    • ucep says:

      @Bukan Munafik
      “sebab jelas misi dan ajarannya berdasarkan Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Para Sahabat. Nggak bikin bingung alias menerka-nerka”

      Motto yang bagus tuh, coba ente jelaskan maksud ayat Al Isra : 72 :
      “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”.
      Ingat menurut ajaran Wahabi gak boleh ditakwil ya !!!!

  • Bukan Munafik says:

    Kang @bu hilya mbok ya kalau mau ngambil contoh amalan bid’ah buat dijadikan rujukan amalan bid’ah anda dan teman-teman sejenis anda, mbok ya jangan diambil dari amalannya para sahabat semasa Rasululloh masih hidup. Soalnya amalan para sahabat yang anda uraikan tersebut sama sekali tidak bisa disebut bid’ah, karena amalan tersebut disetujui oleh Rasululloh sebagai utusannya Pembuat Syariat (ALLAH). Bukankah persetujuan Rasululloh juga bagian dari Sunnah, yaitu sunnah takririyah? Kalau amalan bid’ah anda siapa yang menyetujuinya, Kiyai atau Habib? Yang bener aja masa Kiayi dan Habib mau disejajarkan dengan Rasululloh.

    Sedangkan perbuatan atau amalan yang dilakukan Para Amirul Mukminin bukanlah bid’ah sama sekali, bahkan itu termasuk sunnah qauliyahnya Rasululloh. Sebab semasa hidupnya beliau pernah berpesan kepada Para Sahabatnya seperti yang diceritakan oleh Irbadh bin Sariyah, bahwa “wajib bagi kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnahnya Khulafaur Rasyidin sepeninggalku”.

    Firman Allah:

    “APAKAH MEREKA MEMPUNYAI SEMBAHAN-SEMBAHAN SELAIN ALLAH yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak DIIZINKAN ALLAH? Sekiranya tak ada Ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya ORANG-ORANG YANG ZALIM ITU AKAN MEMPEROLEH AZAB YANG AMAT PEDIH”

    Sekian dan terima kasih semoga menjadi bahan renungan kita semua.

    • Agung says:

      @Bukan Munafik

      “Bahwa Sungguh Zeyd bin Tsabit ra berkata : Abubakar ra mengutusku ketika terjadi pembunuhan besar – besaran atas para sahabat (Ahlul Yamaamah), dan bersamanya Umar bin Khattab ra, berkata Abubakar : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : “Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa “Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung – gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga ia pun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari)

      Perhatikan kalimat Abubakar : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an

      Umar ra adalah salah seorang khulafurrhosyidin, dan sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw : “wajib bagi kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnahnya Khulafaur Rasyidin sepeninggalku”.

      Tapi, mengapa Abubakar Asshiddiq ra berkata kepada Umar ra: “Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?”

      Perhatikan juga kalimat zayd : “bagaimana kalian berdua (Abubakar ra dan Umar ra) berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”.

      Mengapa zayd tidak langsung menyetujui perbuatan Abubakar ra dan Umar ra? Karena mengumpulkan dan menulis Alqur’an adalah perkara baru, dengan kata lain hal tersebut adalah bid’ah, tapi bid’ah yg baik. Sebagaimana perkataan Abu Bakar: “bahwa hal itu adalah kebaikan”.

    • Agung says:

      @Bukan Munafik

      Jika anda mengingkari adanya bid’ah hasanah, saya ingin bertanya, apa hukum bayi tabung?

      Tidak ada satupun keterangan mengenai bayi tabung, baik dari Nabi Muhammad saw. maupun para sahabat. Apakah dia langsung di vonis bid’ah atau tidak?

    • Agung says:

      @Bukan Munafik

      Diatas anda mengutip firman Allah swt :
      “APAKAH MEREKA MEMPUNYAI SEMBAHAN-SEMBAHAN SELAIN ALLAH yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak DIIZINKAN ALLAH? Sekiranya tak ada Ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya ORANG-ORANG YANG ZALIM ITU AKAN MEMPEROLEH AZAB YANG AMAT PEDIH”

      Saya punya pertanyaan juga untuk anda, yaitu mengenai zakat buah zaitun. Pada masa Rasulullah saw, jenis tanaman yg dipungut zakat adalah : gandum, padi, kurma dan anggur kering (HR. Darruqutni, Hakim, Thabrani dan Baihaqi yg mengatakan perawinya dapat dipercaya)

      Namun, mengenai buah zaitun. Imam Zuhri, Auza’I, Laits, Malik, Tsauri, Abu Hanifah dan Abu Tsaur mengatakan wajib zakat padanya.

      Berani tidak anda mengatakan bahwa para Imam Imam tersebut telah menyelisihi Al-Qur’an dan Hadist karena menetapkan sesuatu yg tidak ditetapkan oleh pembawa syari’at, Nabi Muhammad saw?

      mohon penjelasannya. trm ksh.

  • Mamba'ul Ilmi Zulfitri says:

    Assalamu’alaikum..
    Rame nih di sini, qiqiqi :grin:
    Kangen juga mampir di sini..

    Manteph, matur nuwun buat admin :grin:

  • Salam buat mba putri karisma .. saya dukung anda saya tau mana orang yang belajar dari buku dan mana orang belajar dari guru. kalo orang belajar dari buku biasanya mereka pinter berdebat tapi ga punya akhlak karena buku ga mencontohkan. kalo orang belajar dari guru pasti pake buku juga terus diterangin sama gurunya diperagakan cara sholat gimana baca Al-quran gimana dll. maka murid akan berilmu dan berakhlak sopan santunnya dijaga cara bicaranya dijaga. jadi belajar sopan santun dan akhlak itu belajar langsung mencontoh langsung dari guru seperti anak terhadap orang tuanya yang mencontoh kelakuan orang tuanya kalo ortunya nyuruh sholat tapi ortunya tidak sholat jangan harap anak mau bisa sholat. tapi kalo orangtua sholat tanpa disuruh anak akan melihat perbuatan ortunya dan bertanya yah lagingapain? oh ini nak ayah lagi sholat. ntar kalo ayah sholat kamu ikut sholat ya… mungkin ini jangan dikatakan debat ya ga baik kata rasullullah saw. yang enak diskusi aja ya… maaf kalo ada salah kata…

  • woko_aswaja says:

    Assalamu’alaikum Warrahmatullah…kang admin ummati…mohon sudi kiranya untuk melihat” situs berikut ini jika ada waktu luang…

    http://referensiislam.blogspot.com/

    kalau dari penglihatan saya situs tersebut adalah situs wahabi,mungkin situs baru,karena saya sudah cari di daftar situs diatas tetapi tidak termasuk diantaranya, di dalamnya pun menyediakan link”forward ke link” wahabi seperti yg ada dalam daftar diatas,streaming radionya pun radio” wahabi,mgkn admin bisa menambahkan link tersebut pada daftar situs wahabi, insyaAllah saya akan terus membantu ummati untuk mencari link” wahabi yg baru agar saudara” kita yg awam tidak terjerumus salah langkah,semoga kita semua slalu dijauhkan dari kesesatan oleh Allah SWT..aminn Ya Rabbiy

    • Joyo Marto says:

      Dugaan Mas Woko benar 100%, memang blog tsb milik kaum wahabi. Maaf mungkin saya agak lancang mendahuhului mas Admin, mungkin mas Admin lagi sibuk sehingga belum sempat2 menjawab dari pertanyaanmas Woko.

      Bukankah begitu Mas Admin UMMMATI?

  • luqman says:

    Alhamdulillah berkat web yang hasad ini saya malah lebih banyak tahu web2nya yg disebut wahaby, jadi semakin banyak referensi2 rujukan untuk menambah ilmu yang lurus. Oh ya sepupu saya di Unair, katanya dakwah yg kalian sebut wahaby semakin berkembang pesat loh disana. Apalagi saya di ITB dulu, wahaby makin rame loh, belum lagi kalian lihat wahaby di UI apalagi UGM. Sementara aswaja masih berkutat di Pasar Minggu ama di Citayam, entar lagi kalo mereka pada sekolah tinggi pasti nyadar tuh.

    • Santri says:

      @Kang luqman, silahkan saja berkunjung ke web2 Salafy. Kalo di blog2 Salafi, sulit untuk kita lihat pemberitahuan web2 yang dipunyai kaum Aswaja. Mengenai kami kaum Aswaja yang divonis bukan pengikut Salaf, ini ada sedikit perbandingan yang mungkin berguna –

      1. Tentang Iman / Tauhid / Aqidah – kami mengikut Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (Tauhid Sifat 13) dan Imam Abu Manshur al-Maturidy (Tauhid Sifat 20) yang juga Imam Salaf. Kalo Salafy, mereka ikut Imam Ibnu Battah (Tauhid 3) yang bukan Imam Salaf.
      2. Tentang Islam / Fiqh / Syariat – kami ikut Imam Syafi’i, dan meraikan juga ijtihad Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Hanbali, yang masing2 punya aturan ushul fiqih dan qawaid fiqihiyyah. Kalo Salafy, mereka ikut Ibnu Taimiyah yang bukan Imam Salaf.
      3. Tentang Ihsan / Akhlak / Tashawuf, kami ikut Imam Junaid al-Baghdadi yang juga Imam Salaf. Kalo Salafy, mereka bilang tashawuf itu bid’ah masuk neraka.

  • ibn abdul chair says:

    Mas Luqman ini pandai sekali. Untuk menjadi baik dan lurus tidak perlu melakukan kesalahan sendiri, lihat dan pelajari aja dari kesalahan org lain.
    Pinter…pinter…

  • ibn abdul chair says:

    Kalau dr apa yg ditulis oleh santri, sy bisa menilai bahwa santri ini tdk tahu apa2 tentang salafiyah (di blog ini disebut wahabi). Atau info yg didapat dari ustadz dan kyai-nya info yg sesat tentang salafiyah (di blog ini disebut wahabi).
    Mugkin ustadz dan kyai-nya takut kehilangan jama’ah-nya kali, jadi dibuatlah fitnah2 tentang wahabi.
    Jadi inget ama kejadian yg udah lama (sekitar thn 2008) wkt itu pd pengajian kampung, sorg ustadz di daerah Condet – Jakarta menyampaikan begini “Ibu-ibu, sy ingatkan utk tidak mendengarkan radio rodja, krn radio ini sesat dan berbahaya”. eh…emang dasar ibu-ibu, ada 1 – 2 org ibu yg ‘nakal’ juga, maka dicobalah utk mendengarkan radio rodja. “wah ini mah malah yg bener” begitu katanya.
    Karuan saja berita ini disebar lewat sms. Maka terjadilah yg dikehendaki Allah tabarooka wa ta’ala, ibu-ibu pengajian itu semua jadi rajin dengerin radio rodja.
    mau tahu..apa yg terjadi dengan pengajian ustadz itu? bubar…krn enggak ada lagi yg mau datang. Begitu cerita temen sy dari Jakarta.

    • abi raka says:

      @ibnu abdil chair

      saya tuh seneng antum koment disini! karena antum sebagai contoh batapa efek buruk dari wahabi itu emang nyata, kebanyakan koment antum disini khan cerita2 penuh fitnah, jadi antum koment cerita2 disini ada sisi baiknya juga hehehe :mrgreen:

    • ucep says:

      @ibn abdul chair
      Yah ente bohong lagi disini, ane tiap selasa malam main bulu tangkis disana.
      Yang ane tahu, daerah condet masih sangat kental dengan Madzhab Syafi’i nya dan tuduhan ente kalau masjid dicondet sepi, tuduhan yang gak bagus. Disana ada 1 masjid yang selalu penuh dengan pengunjung (warga sekitar maupun datang dari luar), disana ada Habib muda (ane lupa namanya, tapi pernah ane dengerin) yang hafal 200.000 Hadist dan pengajiannya sangat penuh, bahkan sampai kejalan. Tepatnya Jalan Batu ampar Condet, kalau ada pengajian jalan sampai ditutup karena membludaknya pengunjung.

      Jangan bohonglah @ibn abdul chair.

  • WONK bingung (bukan Abdurrahman. hanya saja ingin dipanggil dgn nama abdurrahman) says:

    spertinya ada perubahan dgn tulisan nama2 situs yg ada diatas…
    knapa ya ??

    #apa mungkin saya lupa kali ea,, :?:
    coz, jarang berunjung ksini.

  • ibn abdul chair says:

    Jadi…mang ucep nih..tinggal di jakarta ya? oh…kl begitu panggilnya Bang ucep aja yah.
    200.000 hadist? shohih semua tuh?. Coba itung lagi.
    total hadis dari kutubusittah ada berapa? atau tambah lagi deh jadi total hadist dari kutubutis’ah. Ada gak 200.000 hadist?.
    tambah ama kitab hadist yg enggak termasuk diatas, sampe nggak 200.000 hadist?
    tambah lagi deh ama silsilah hadist dhoifah karya Albani, yg 20 jilid hrgnya aja lebih dari 3 juta. (tp dihitung gak nih…ini khan hadist dhoif, lagian juga dari Albani…)
    kyknya sih…enggak nyampe…

  • ibn abdul chair says:

    Oh ya bang ucep, sy juga suka ke condet – jakarta. kl kebetulan silaturahmi ke kerabat yg tinggal disana, dan juga sekalian ziarah ke makam Ibunda sy. Beliau dimakamkannya disana.

    • ucep says:

      @ibn abdul chair
      di Jl Raya condet kan ada GOR Bulu tangkis depan masjid al Amin, bagaimana kita ketemu ? yah silaturahmi lah !!!

      • jalu says:

        Inilah yg paling ditakuti ama anak2 wahabi, ajakan Silaturami! Dijamin ga bakalan mau kalo ketemu anak2 Aswaja…atut! :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: emang jagonya cuma berkoar di dunia maya aja sie.

    • ucep says:

      @ibn abdul chair
      “dan juga sekalian ziarah ke makam Ibunda sy. Beliau dimakamkannya disana”.

      Apa ente gak takut syirik, kan kata Wahabi, pergi kemakam itu syirik juga gak diterima doa seseorang kalau berdoa didepan Makam.

      !!!!!!!!!!!!!!

  • ucep says:

    @ibn abdul chair
    He .. he … he, ente sudah berbohong ngeles lagi !!!
    Satu Musnad Imam Ahmad bin Hanbal aja ada 600.000 Hadist, ente gimana cara belajar Islam….., ane tanda tanya nih keislaman ente ?????

    • ucep says:

      @ibn abdul chair
      Hadist adalah perkataan, perbuatan dan Sabda Rasulullah saw.
      Ente gak percaya ?? Coba ente pikir pakai akal !!!, sehari Rasulullah berapa kali bicara dan berbuat ? dan itu setiap ucapan dan perbuatan Rasulullah saw diperhatikan dan dihafal oleh para sahabat, Coba lagi dihitung, sebulan berapa, kemudian setahun berapa, terus berapa lama Rasulullah menyiarkan Agama Islam ?

      Nah semua nya itu tercatat oleh para Muhadist.
      Perhatikan aja ente sendiri hitung, berapa kali ente bicara dan berapa kali ente berbuat ? trus kali sama jumlah umur ente !!

  • ibn abdul chair says:

    Yang ada pd saya :
    Shohih Bukhori = 7008 hadist
    Shohih Muslim = 5362 hadist
    Sunan Abu Daud = 4590 hadist
    Sunan At tirmidzi = 3891 hadist
    Sunan Nasa’i = 5662 hadist
    Musnad Imam Ahmad = 26.363 hadist
    Muwatho Imam Malik = 1595 hadist
    Sunan Ad darimi = 3367 hadist

  • ucep says:

    @ibn abdul chair
    Ane lupa lengkapnya, tapi Imam Ahmad berkata : Seorang Muhadist, apabila dia Hafal minimum 100.000 Hadist beserta sanad nya.

    • Munib Muslih says:

      Ya mas Ucep,
      berdasar syarat Imam Ahmad itulah maka Syaikh Albani digelari oleh Ummat Islam sebgai Muhaddits Gadungan. Lha Al Albani tsb cuma hafal satu hadits di luar kepala, yaitu hadits “KULLU BiD’ATIN DHOLALATUN…. dst.”

      Walaupun begitu, Syaikh Albani di kalangan intern Wahabi digelari Muhaddits Abad Ini, kex kex kex kex…..

      • ucep says:

        @Munib Muslih
        Biarin aja mereka menobatkan Albani sebagai al Muhadist abad ini.
        Ane pikir hampir sama lah dengan tukang koran dipinggir jalan, coba aja ente tanya tukang koran sebelum ente beli tentang isi koran yang dijual, pasti dijawab melebihi isi koran, padahal baru judulnya, tapi isi koran tentang politik akan dijawab panjang lebar.

  • ibn abdul chair says:

    Selain yg sdh sy sebutin, pd sy juga masih ada kitab hadist spt Adabul Mufrod dll. Sy punya kitab hadist baik yg berbahasa arab maupun terjemah hanya utk muroja’ah aja. spy enggak asbun

  • ibn abdul chair says:

    Bang Ucep, sy mendo’akan ke dua orang tua sy, setiap sholat. Sedangkan ziarah (kl lagi kebetulanke condet – jakarta) ke maqam Ibunda, selain mendo’akan beliau juga mendo’akan yg lainnya. Dan yg paling penting bagi saya berziarah itu utk mengingatkan saya dgn kematian, menahan diri (bersabar) dari maksiat dan berbekal.
    Kalau meminta-minta, sy hanya kepada Allah tabarooka wa ta’ala saja.

    • ucep says:

      @ibn abdul chair
      Kata wahabi kan kalau ziarah kubur itu Syirik, entah mau ingat kematian apa gak, pokoke syirik, bukan begitu @ibn abd chair ?

      Jadi kalau ane lihat, ente belum sepenuhnya Wahabi ya !!!!
      Kesimpulan ane, ente datang ziarah kemakam Ibunda adalah atas dasar GAK TEGA kepada Makam Ibunda ya.
      Kalau ente tega atau wahabi full, pasti makam ibunda ente ratakan dengan tanah dan gak usah diingat lagi atau dibiarkan hilang.

  • ibn abdul chair says:

    Kl sy mampu, pasti sy akan buat maqam ibunda sy sesuai dgn sunnah, tp masalahnya khan pemakaman itu dijaga ketat, ada kuncen-nya.

  • ibn abdul chair says:

    Bang ucep, jgn fitnah begitu dong…. sy ziarah ke maqam ibunda layaknya menjalankan sunnah saja. Tapi maaf, tidak tabaruuk disana.
    Ada info yg bang ucep belum tahu nih, ibunda sy dipanggil dgn kunyah-nya dgn nama saya lho, dan sempet belajar hadist arba’in Imam Nawawi dan kitabuttauhid-nya Syaikh Muhammad Abd Wahhab juga. Tapi ngumpet2 bang, takut diomelin…kl ketahuan.
    sy sih yg ngajak2. Jadi berangkat kajiannya setlh selesai masak dan kembalinya sebelum abi pulang ngantor

    • ucep says:

      @ibn abdul chair
      Kan dalam wahabi sudah jelas ada fatwanya, kenapa makam Rasulullah mau dibongkar ? kan albani yang keluarkan fatwa, takut dijadikan tempat kesyirikan katanya.
      Lihat dikitab Fathul Majid karangan Muhammad Abdul Wahab, dia Top karena berhasil membongkar makam2 para sufi dan makam para ahli Badar di diriyyah Najd.

      Nah gimana dengan Koment ente ??? ente suka (walau gak sering) kemakam Ibunda, yang ane tanya kan – apakah gak bertentangan dengan faham Wahabi ??
      Nah disinilah timbul rasa Gak TEGA di benak ente kan !!!!

  • imam ko'mani says:

    …………………………………………Dari uraian diatas dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwa, kata “KULLU” pada qodhiyah hadits “WA KULLU BID’ATIN DHOLALAH” tidak dapat kita artikan “SEMUA”, karena adanya dalil lain yang membatasinya, sehingga para ulama’ menyimpulkan “WA KULLU BID’ATIN DHOLALAH” adalah Qodhiyah yang “’AM MAKHSUSH”.

    ARTINYA!!!!!!!!!!!!“TIDAK SEMUA yang diada-adakan (muhdatsah) adalah bid’ah dan TIDAK SEMUA bid’ah adalah sesat dan TIDAK SEMUA yang sesat tempatnya dineraka.

    jika TIDAK SEMUA yang sesat tempatnya dineraka., berarti ada kesesatan yg tempatnya di…………………

  • jalu Asmawi says:

    Mau nanya, radionya Aswaja koq sedikit yah di bandingkan radio/TVnya wahaby?
    Temen2 kantor dan tetangga saya banyak ikutin Radio Rodja, itu bukannya termasuk radionya Ahlussunnah ? Koq diatas termasuk radionya wahaby yah? …jadi bingung.

    • woko_aswaja says:

      Assalamu’alaikum Warrahmatullah…. kang jalu asmawi…mohon maaf klo mungkin tmn” gak sempet jawab pertanyaan ente karna lagi fokus dengan yg lain, yg ane tau nih ye, kebanyakan dri komunitas dakwah wahaby seperti TV,Radio,Website/Blog,Buku, mereka membawa nama ahlussunnah wal jamaah,nah jd kita jgn tertipu, bagaimana supaya tau bahwa mereka wahaby,salah satunya ya baca” deh di web ini pasti ntr hapal gimana mereka wahaby dalam berdakwah, dengerin aja tuh dakwah mereka di radio, kalau sebentar” ada menyebut kata bid’ah,syirik,haram,kafir kepada sesuatu yg lagi umum dilakukan masyarakat islam di indonesia seperti maulid,yasinan,tahlilan,ziarah, nah itu dia ketahuan kalau mereka itu wahaby, karna hanya mereka yg getol banget menyebarkan paham” bid’ah kepada ibadah umat islam yg mereka anggap bid’ah…. semoga kita smua diberi hidayah oleh ALLAH SWT terlebih lagi kepada mereka wahaby…Amin Ya Rabbiy….

  • ibn abdul chair says:

    jelas khan…begitu banyak perbedaan antara fitnah yg ditimpakan kpd wahabi dan realitanya. Masalah meratakan qubur itu bukanlah yg utama, yg paling penting luruskan tauhid-nya dulu.

    • ucep says:

      @ibn abdul chair
      “Masalah meratakan qubur itu bukanlah yg utama, yg paling penting luruskan tauhid-nya dulu”

      Jadi cukup jelas ya, bahwa ziarah kubur tidak menandakan kesyirikan, bergantung pada hati seseorang dalam mendatangi makam atau kubur, baik orang2 shaleh maupun orang2 biasa dan cukup jelas juga bahwa yang melihat lantas tidak sampai memvonis syirik kepada si penziarah.
      Disinilah ilmu tauhid masing2 muslim yang bermain, jadi jangan sembarangan menuduh syirik ya. Hati tidak bisa dibaca, sekalipun dia malaikat. Ingat pada saat Rasulullah berhadapan dengan Ahli Ramal (Rahib) Yahudi, padahal Rasulullah membaca surah Ad Dukhan, dijawab oleh Rahib Yahudi : “Ad Duk… Ad Duk…”.

      Ane sih berharap ente gak begitu gampang.

    • woko_aswaja says:

      @Ibn abdul chair
      yah ente mah kebanyakan ngurusin tauhid org lain…jadinya ente sendiri yg ngelantur, benerin dulu tuh tauhid ente ma temen” ente wahaby, klo dah bener nah ucap lagi 2 kalimat syahadat biar ga salah” mulu….hehehe becanda kang abdul jgn ngambek ya ga seru ah klo ngambek….hehehhe

  • ucep says:

    @ibn abdul chair
    Didunia ini berlaku hukum sebab akibat. Masalah tauhid pasti ada media yang menyebabkannya, bagaimana dikatakan syirik kalau gak ada media yang disyiriki, ya gak !!!!
    Begitu juga perkataan miskin, kalau gak ada orang kaya, mana bisa seseorang disebut miskin.

  • Abu Ulya says:

    Saya sudah mencoba membuka web-web dan radio streaming wahabi, begitu saya sering menyimak dan mempelajari betul-betul, eh ternyata luar biasa ulasanya, bikin kagum, akan islam yang di sampaiakan wahabi, akhinya saya meninggalkan sedikit demi sdikit tradisi isalm ke-NU-an yang benar benar penuh khurafat, syirik dan bid’ah, dan kesesatan-kesesatan lainnya.
    Dan perlu saya sampaikan kepada kaum muslimin Islam Wahabi adalah islam yang sessuai manhaj ahlusunah waljama’ah yang sesumgguhnya alias bersumber dari al qur’an dan al hadist yang sahih dan ilmiah, good bay NU sesat….
    Wassalam

    • Andi says:

      Abu Ulya,

      Wah, antum ketinngalan zaman kalau baru tahu situs2 Wahabi di atas. Dulu saya selalalu berkunjung ke situs2 Wahabi di atas, bangga rasanya saya waktu itu.Tapi sekarang saya sudah sembuh, sejak mengenal blog Ummati Press kesangan saya ini. Saya menjadi sadar selama ini saya tercebur dalam kepalsuan dan kedustaan Wahabi, itu setelah saya bertemu dg Ummati Press.

      Oleh karena itu dalam kesmpatan ini saya sekaligus menghaturkan banyak2 terimakasih kepada Ummati Press. Tanpa mu pastilah saya masih terbuai oleh jargon2 indah nan membanggakan tapi penuh kepalsuan.

    • nasir ex wahabi says:

      @Abu Ulya,
      Kalau Wahabi adalah Islam yang sesuai Manhaj Aswaja yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadits, mengapa kok tauhidnya dibagi tiga (Trinitas) yang tasyabuh dengan Trinitasnya Nasrani, adakah dalilnya dalam Qur’an dan Hadits coba tolong tunjukkan ? kalau NU Sesat, sesatnya dimana ?

  • ucep says:

    @abu ulya
    “good bay NU sesat….”. Jadi Masuk neraka ya ?
    Yang bisa bilang sesat adalah cuma Allah swt, makhluk gak berhak !!!, katanya sudah belajar ilmu dari Wahabi kok bisa bilang sesat sih sama muslim yang masih mengucapkan La Illa Ha Ilallah ??

    “akhinya saya meninggalkan sedikit demi sdikit tradisi isalm ke-NU-an yang benar benar penuh khurafat, syirik dan bid’ah, dan kesesatan-kesesatan lainnya”.

    Menurut ane, Bagus ente keluar dari Al Jama’ah, dari pada bagaikan debu yang mengakibatkan kotor dalam jama’ah, sehingga merusak aqidah didalam Jama’ah.
    Lakum dinukum waliyaddiin.

    • @bu hilya says:

      Bismillah,

      Mas @Ucep, dan segenap saudaraku ASWAJA, kami menyadari bahwa kita semua jengkel dan dongkol atas Wahabi dan Wahabisasi yang terjadi di sekitar kita. Akan tetapi terhadap mereka saudara kita yang terjebak kedalam perangkap Wahabi/Salafi ada baiknya kita bersikap arif, mengingat kami yakin mereka hanyalah “korban” karena keterbatasan pengetahuan.

      Jangankan mereka yang belajar tentang keislaman melalui buku-buku bacaan, radio, atau media yang lain. Jujur saya pribadi sempat termakan dogma-dogma salafi. Hampir kurang lebih dua tahun kami enggan berziyarah, tahlilan, apalagi ke makam para Auliya’…. Beruntung Alloh mengembalikan kesadaranku, tapi butuh proses yang panjang, proses tabaayun (hingga aku sempat beradu argumentasi dengan ustadzku ketika dipesantren), kembali membuka kitab-kitab yang dulu pernah kupelajari, istikhoroh, dst…. semua itu menjadi pengalaman paling bodoh dalam sejarah hidupku, dan semoga hanya kami yang menjadi pelajaran buat semua saudaraku ASWAJA….

      Dan sampai sekarang aku masih menyimpan buku-buku semacam “Ritual Bid’ah Dalam Setahun”, “Taqlid Buta”, “Buku Putih Abul Hasan Al ‘Asy’ari” (versi wahabi), dan beberapa buku yang lain… Dan dari buku-buku tersebut pula aku menemukan titik balik, betapa bodohnya aku… karena setelah kami telaah lebih mendalam kami banyak menemukan penipuan dan pembodohan dalam buku-buku tsb….

      Betapa banyak loncatan-loncatan pemahaman dari dalil hingga produk hukum, Tahrif, penyelewengan fatwa para ulama, dst… hingga membuat kami antipati terhadap siapapun mereka dari salafi/wahabi. Namun kini kami sadar, sebagian mereka adalah saudara kita yang menjadi korban, yang patut untuk mendapat pengarahan..

      Apa yang kami ceritakan diatas adalah pengalaman kami pribadi, dan Alloh sebagai saksinya…

      • ucep says:

        Ustad @abu hilya
        Memang sih kalau diskusi sama wahabiyan agak jengkel, dongkol dan gemasin, tapi yah itulah kenyataan yang ada, mungkin Allah mengatur demikian, jadi yah musti Sabar aja.
        Ane Shaum daud udah hampir 14 tahun, kalau menghadapi masalah dunia, ane masih bisa sabar (Ujian materi, keluarga, jabatan dll). Tapi pas berdiskusi sama wahabiyan, darah ane seolah-olah naik sampai ubun-ubun, tapi apa dikata, Allah punya cerita seperti itu, jadi yah ditahan lah amarah sama Wahabiyan. Kasihan juga ane sama mereka. Mereka mungkin baru melek Agama.

        • Sodron says:

          Mang @Ucep
          Waduh 14 taon shaum Daud,salut mang..moga2 bisa jadi motivasi buat ane,krna mau mulain berat banget,beneran dah… javascript:grin(‘:smile:’)
          Maaf Mang,dari ceramah yang pernah ane dengar (klo gk salah ceramah dr kitab hikam syech ibn atho’illah) kita tak boleh membanggakan/memberitahukan amal kita di hadapan sesama manusia,karena itu dpt menjerumuskan kpd riya’. Cukup Allah sj yg tahu. Maaf bukannya ane menggurui..
          Tapi bener juga koq Mang.. klo ngadepin wahabi jadi gedeg,lah di kasih tahunya ngeyel..tapi ya itulah kehendak Allah,klo ga ada beginian (mengaku bermanhaj salaf) mungkin generasi2 muda aswaja masih terlena & kurang ghiroh untuk belajar & mendalami lagi kitab2 klasik.
          Klo mnurut ane,kehadiran wahabi justru menjadi berkah & wasilah untuk seluruh aswaja lbih belajar & mendekat kepada ulama yg bener2 beri’tiqod aswaja..
          Semoga pengasuh blog ini & para asatidz2 di mari slalu dlm lindungan & bimbingan Allah SWT untuk terus berjuang,termasuk Mang Ucep.
          Terima kasih.

          • ucep says:

            @sodrom
            Ane gak ada sedikitpun bangga dengan shaum yang ane jalanin / Riya dalam hal shaum, tapi ane memberi motivasi agar kaum muslimin dapat shaum, karena shaum itu ternyata enaaak banget. Kenapa Rasulullah selalu shaum, ternyata memang nikmat dan selalu sehat. Mudah2an dan ane yakin kalau semua muslim shaum, pasti gak ada rumah sakit.
            Paling2 pilek / flu, itu yang ane alamin.

            Wahabi lahir kedunia ini, gak ada faedahnya, mereka membuat kedengkian kaum muslimin yang lain, apalagi setiap amalan muslim dianggap bid’ah, sesat, syirik dll, menjadikan hati setiap muslim kotor lagi, yang tadinya bersih. Apalagi mereka sampai menghina Para shahabat dan Ulama2, padahal ilmu mereka baru a,i,u,e,o alias kajiannya baru 3 kul, tapi seolah2 sudah habis itu menghafal al Qur’an dan 500.000 hadist beserta sanadnya.

  • NU sebagai organisasi massa islam itu luar biasa dalam segala halnya, tangguh menghadapi berbagai cobaan dalam sepanjang perjalanan sejarahnya sejak berdirinya tahun 1926. Warga NU menjungjung tinggi (bukan menyembah) Nabi Muhammad saw serta keluarga dan keturunannya sampai saat ini. Juga menjunjung tinggi para Ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi mata rantai (sanad) ilmu hingga hari ini. Semoga NU bersama Habiab ( keturuanan Nabi saw ) semakin jaya menyebarkan dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah di hari-hari dan tahun-tahun yang akan datang. Amin….

  • Rijal says:

    ADa satu pertanyaan yang mendasar, kenapa pada saat orang NU pergi haji, kok tidak tahlilan di depan makam Nabi atau makam para sahabat ? kenapa pada saat sholat di masjidil Haram dan Masjid Nabawi mereka mengikuti imam kedua masjid tersebut yg nota bene para Wahabi ? tapi begitu pulang ke tanah air penyakit mereka pada kambuh,
    tahlilan, ziarah ke para wali dengan puja-pujanya, sungguh mereka benar-benar merendahkan Allah SWT dan Rasulullah, benar benar katak dalam tempurung

    • Jabir says:

      Rijal@
      Itu sih bukan pertanyaan mendarasar tapi pertanyaan orang paling tolol sedunia, tahu?

      Nte kan tahu di sana yg pegang kuasa itu Wahabi, mana bisa tahlilan di depan makam Nabi Saw? Nanti kalau Wahabi sudah jeblog karena Amerika atau juga Israel sdh tidak bisa lindungi Wahabi lagi, Insyaallah kami Aswaja seluruh dunia akan tahlilan di makam Nabi tak perlu nunggu malam Jum’at, OK?

    • ucep says:

      @Rijal
      Ente tahu gak apa itu Tahlilan ?
      Ibadah Haji, Wajib gak bagi yang mampu dari semua segi ?
      Disebuah masjid apalagi Masjidil Haram, kan punya susunan pengurus ya, Wajib Gak seorang jemaah mengganti susunan pengurus itu, sehingga Imam nya musti diganti ?
      Kalau kemakam Rasulullah, apa sih yang dibaca dan dihayati disana ?

      Ane minta tolong dijawab, nti dikupas deh pertanyaan ente itu sama ustad2 disini.

    • nasir ex wahabi says:

      @Rijal,
      anda sudah menuduh orang lain merendahkan Allah, dan anda sendiri merasa sudah meninggikan (Mentauhidkan) Allah dengan Tauhid tiga (Trinitas) yang gak ada dalil dan contohnya dari Nabi bahwa Tauhid dibagi menjadi 3. itulah tauhid Trinitas Wahabi yang tasyabuh dengan Trinitasnya Nasrani apa bukan anda yang seperti katak dalam tempurung.

  • lasykar says:

    Mas rijal pernah pergi haji? Tahu perlakuan keamanan di masjidil haram? Dan maaf pernah melihat orang arab yang sangat keterlaluan walaupun tidak alim agama? Kita beribadah haji menjauhi nafsu dan angkara, karena menghormati pendapat mereka, bukan berarti membenarkan. Dan apakah mas rijal juga tahu, bahwa muslim arab yang non wahabi mengadakan majlis dzikir? Innalloa ya’lamu wa anta laa ta’lamu maa fissuduur….

  • abu dzar says:

    mas admin alhamdulillah jazakallah khairan atas info webnya,heeee, saya save deh webnya, coz udah lama banget ane ga ketemu ust kholid syamhudi (yang mengajar mustholah hadits n fiqih 4 mahdzab), ust firanda, ust ahmas fais (yang mengajar kitab aqidah), makasih banget…………….. admin.

    • Andi says:

      ust firanda n ust ahmas fais emangnya ngakjar aqidah apaan mas, ngajarin aqidah Tauhid Trinitas sam,a sifat2 Allah yg tak boleh ditakwil ya?

      Kalau sifat2 Allah nggak boleh ditakwil, bagaimana dg sifat bosan Allah, sifat Lapar Allah, sifat Sakit Allah, masak sih nggak boleh ditakwil, kasihan dong Allah kok lapar, sakit dan bosan?

      Dulu saya juga sempat mempelajari yg begituan, tapi sekarang saya sudah sembuh, alhamdulillah.

  • abu dzar says:

    assalamu’alaikum mas andi boleh saya tanya ap yang dimaksud aqidah tauhid trinitas itu apa? coz sy lom pernah mendengar kata itu dari ust ahmas fais?????apa ente sudah membaca kitab aqidah alwashitiyah? atau kitab athohawiyah? klo lom baca, baca lah dlu pasti anda mengetahui apa yang di maksud dengan ta’wil dan penjelasannya okay, baca nya yang bener mas andi sampai tamat jangan cari2 kesalahannya.okay

    • ucep says:

      @abu dzar
      Kemana ente ? ane perihatin dan turut sedih juga, dengan musibah yang diderita atas kebanjiran didaerah ente ya, semoga daerah ente cepat diatasi oleh gubernur Jakarta.
      Ane tanggal 19 Januari lalu, sudah diatas toll mau masuk kedaerah sana gak boleh karena banjir yang cukup tinggi. Lain waktu aja, ane kesana ya !!

  • rodi says:

    sy mau kasih tau aia sama orang2 wahabi, yang sering membid’ahkan amalan-amalan orang nu, ketahulilah sebenarnya NU lah penjaga ajaran islam sebenarnya, banyak kelakuan wahabi yang fatal sehingga dapat membahayakan islam masa mendatang, contoh penghancuaran rumah nabi dan siti khodijah,apalagi ada rencana meratakaan kuburan Nabi SAW, gmana nasib anak-anak cucu kita kalo tidak ada situs-situs yang menjadi saksi keberadaan Nabi muhammad, bisa jd anak cucu kita berfikir sejarah nabi hanyalah kaarangan saja karena ga da bukti sejarah, ini bahaya sekali, jangan-jangan wahabi adalah agen yahudi, yang sengaja menghancurkan islam dari dalam.

    • Ansyah Ikbal says:

      Kalau saya nggak ragu bahkan yakin 1000%, Wahabi emang agen Yahudi untuk merusak ajaran Islam dari dalam. Bisa dilihat dari track-record mereka yg selalu beretentangan dg ajaran Islam tetapi ngotot mereka yg paling benar. Padahal mereka banyak menyalahi Al Qur’an dan Hadits, baik masalah aqidah ataupun yg lain-lainnya.

  • iyan says:

    ikut nimbrung…wahabi berasal dari bahasa arab khususnya diambil dari asmaul husna AL WAHHAB yg artinya Yang Maha memberi anugrah, jd sebutan wahabi maksudnya adlh orang2 yg dianugrahi oleh Allah. Demikianlah sesuai artinya bahwa dakwah salafi wahabi adlah dakwah yg dianugrahi Allah. Bahkan sekarang ini banyak sudah ponpes dan perguruan islam yg bermanhaj salaf wahabi hampir di kota2 besar dn pelosok di Indonesia bahkan di Eropa, Jepang, Amerika, Afrika, Korsel, asia tenggara krna dakwah mereka betul2 dianugrahi Allah. Carilah kebenaran itu walaupun dengan pil yg pahit..

    • ucep says:

      Ini dia satu lagi cerita alias dongengan dari ustad2 Wahabi.

      Yang memberi Nama “Wahabi” itu kakak kandung Muhammad ibn Abdul Wahab sendiri yaitu Syeikh Sulaiman ibn Abdul Wahab, gak percaya lihat n baca kitab syeikh Sulaiman ibn Abdul Wahab “As-Shawaiqul Al-Ilahiyyah Fi Ar-Raddi ‘Ala Al-Wahhabiyah”.

      @iyan, ente jangan mau dengerin dongengan basi ya.

  • lasykar says:

    @mas iyan.
    Apakah anda punya dasar penguat tentang devinisi yg anda buat? Dari Al quran, alhadist? Salafussholih sahabat, tabi’in? Dan apakah benar wahabi sudah menyebar begitu hebatnya? Tolong dikasih data yg valid. Trims. Wallohu a’lam

  • pakdhekeong says:

    Puji Syukur Alhamdulillah.
    Dengan adanya Gerakkan Wahabi yang semakin memasyarakat, bahkan sampai pelosok2 daerah, membuat generasi muda Nahdliyin membuka pikirannya untuk mempertahankan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah dikalangan masyakat umum.
    Membuat generasi muda bangkit menghadapi kenyataan Gazwul Fikr.

    • ridho says:

      Bener bnget pak dhe dulu aku yg suka baca koran jd suka baca Qur’an.dulu malas tahlilan skrg jadi rajin tahlilan.dulu anggap enteng sholawatan skrg mulai ngefans ma dhiba’an…..

      Ternyata ada manfaatnya juga timbulnya ajaran wahabi ini.
      Kbanyakan situs mereka (wahabi) postingannya menghujat,menyesatkan,membenarkan wahabi saja,menghina dll.dsitulah aku bs blajar legowo,mskipun kdg” ikut nafsu jg.
      Kadang postingannya bikin ngakak jg apalagi baca komen”nya jd tambah ngakak…yg pro ngawur yg kontra ngawur.adminnya jg ikut ngawur…yg paling lucu itu plin plannya…hehehe
      Terus terang aku bodoh dlm agama,g tau dalil,g tau hadits shohih,palsu,lemah,baik,munkar atau kitab” pegangan ulama’” aswaja.tp ngeliat postingan yg berbobot sm yg tidak,udah dketahui dr akhlak sang admin/juragan post.

      “Didalam diri Rosul terdapat uswah hasanah”

  • agus soleh says:

    Begini, para saudaraku semuanya! kita semua sama-sama mengakui bahwa bid’ah adalah amalan yang tidak baik, baik itu menyangkut ibadah mahdloh atau ibadah ghoiru mahdloh yang tentunya tidak ada rekomendasi dari nabi. Kasus Mu’adz bin Jabal yang menyalahi atuaran pada waktu itu dan kemudian diberitahukan kepada nabi lalu nabi membenarkan (tidak menyalahkan Mu’adz bin Jabal) berarti itu ada rekomendasi dari nabi alias itu hadits nabi. Sekarang nabi tidak bisa merekomendasikan hal-hal yang baru karena nabi sdh wafat dan agama islam sdh dinyatakan sempurna, artinya jangan ditambahi dan dikurangi. Memang ibadah sunnah cakupannya luas, tetapi bukan berarti tanpa aturan. Contoh kita mambaca yasin dimalam jum’at, itu tidak bid’ah asalkan kita tidak memvonis bahwa kita disunnahkan membaca yasin dimalam jum’at, hanya kebetulan hari-hari sebelumnya kita tidak sempat karena sibuk dan kebetulan kita memang ingin tahu isi kandungan surat yasin. Ingat, bahwa generasi shahabat nabi adalah generasi terbaik. Mereka tahu benar hak-haknya Allah dan kewajiban mereka.

  • muslimin says:

    alhamdulillah, semakin jelas mana yang baik dan buruk. kelihatan dari cara berkomentar dan menyikapi masalah, dan saya yakin masyarakat semakin pintar dalam menilai, walaupun ngaku ahlussunnah tapi sikap dan akhlaknya jauh dari tuntunan nabi maka akan terlihat keburukanya, walaupun digelari sebutan2 yang buruk kalaulah menunjukan akhlak yang mulia dan mencontoh nabi maka akan nampak kemuliaan dihadapan Allah dan makhlukNya,
    jadi kesimpulan saya walaupu orang2 yang digelari wahaby itu dicemooh dan dihina tapi sekarang ini kelihatanya banyak yang menrujuk dan mengikuti, contohnya saya, dulunya saya itu orang nu, bahkan saking fanatik saya kepada gus dur, saya oleh teman2 saya sampai sekarang dipanggil dengan sebutan gus dur
    alhamdulillah hidayah Allah menerangi saya untuk mengikuti Islam yang sebenarnya bukan islal ikut2an tanpa dasar… dan itu banyak berpengaruh pada saudara dan teman2 saya….

    • waho says:

      saya menyarankan agar saudara muslimin mencari beritanya(tabbayun) lebih berhati2,karena kearifan tidak menjadi ukuran kebenaran yg hakiki. banyak yg arif didepan kita tapi di belakang menghantam. Banyaklah cari berita dan lebih teliti lagi. To be continue

      • vijay says:

        @Muslimin, bagi anda dapat hidayah, tpi bagi kami anda nyempal (baca nyasar).
        Anda keluar dari Wal Jamaah, dari golongan yg Mayoritas yang didalamnya terkumpul Ulama Ahlusunnah Waljamaah yang Muktabar dan Kredibel, yang sanadnya tanpa terputus tersambung sampai kepada Junjungan Baginda Rosullulah.

      • adi says:

        Semoga Allah selalu menyatukan semua umat muslim dalam kebenaran..
        dan memberikan kita fikiran yang jernih tanpa hawa nafsu yang merusak.. Aamiin

  • mang mamay says:

    sebenarnya kl mau fair persoalan ini tidak sulit,tidak usah saling cemooh sebab itu sama sekali tidak mencerminkan kita sebagai muslim kl yng satu mengatakan bi’ah yng lain nga itu namanya samar susah cari titik temunya atuh coba cari yng jelas sebab ibadah itu harus jelas dalam arti ada qur’an n hadisnya kl tidak ada buat apa cape cape ngehabisin biaya n pikiran kl hasilnya nol tapi kl berdasarkan qur’an n hadist pasti banyak pahala yng kita dapat

    • nasir eks wahabi says:

      @insan dhaif,
      Sama saja salafy, salafiyah kadang-kadang juga ngaku “Ahlusunnah wal Jamaah” tapi semua itu cuma ngaku2 yg sebenarnya sama yaitu “Wahabi” ajaran dan sepak terjangnya tasyabuh dengan yahudi dan yg paling mendasar tauhidnya dibagi tiga sangat mirip dengan ajaran trinitasnya Nasrani.

      • insan dhaif says:

        ane ga akan ngasih tanggapan lagi, dalam kajian tersebut telah jelas ..
        jika belum mendengarkan tolong jangan berkomentar ..

        • Ansyah Ikbal says:

          Insandhoif, kalau ada sekte tauhidnya trinitas (uluhiyyah, rububiyyah dan asma wasifah), itulah Wahabi. Karena tidak ummat Islam selain Wahabi yang bertauhid TRINITAS seperti itu.

          Jadi kesimpulannya, mau pakai nama Salafi kek, mau ngaku-nagku sebgai Sunni kek, kalau Tauhidnya Trinitas maka jelas lah bahwa itu adalah Wahabi. Ini sangat mudah dikenali, walupun apa pun nama yg dipakainya sebagia penyamaran. Orang awam seperti antum tentunya hanya anut grubyuk tanpa mempelajarinya lebih mendalam.

          tentang tauhid Trinitas coba pelajari lebih mendalam di link ini : http://ummatipress.com/2011/05/31/membantah-pembagian-tauhid-jadi-3-trinitas-wahabi-dengan-dalil-dalil-shahih/

          • insan dhaif says:

            afwan, sebagian besar website yang ada di atas memang bermanhaj salaf, salafi dan wahabi sangatlah berbeda, yang sebenar-benar salafi tidak pernah menyatakan bertauhid trinitas .

            jika memang semua website di atas bertauhid trinitas, cobalah sertakan buktinya, posting atau perkataan ustadz-ustadz yang mengelola website-website di atas atau apalah yang sekiranya dapat dijadikan bukti .

            ane tidak ingin menanggapi salafi yang dianggap wahabi bukan berarti ane hanya anut grubyuk tampa mempelajarinya lebih dalam seperti yang antum tuduhkan, hanya saja ustadz yang lebih luas ilmunya yaitu ust.Abu Yahya telah menjelaskan secara gamblang dan tegas .
            tolong sekali lagi, jangan lantas semua orang yang menyatakan dirinya salafi dianggap dia bertauhidkan trinitas,
            jika antum memiliki waktu silahkan download dan dengarkan baik-baik lalu pahami penjelasan ust.Abu Yahya tersebut .

      • nasir eks wahabi says:

        Saya juga gak ah, radio Ahlusunnah aja (linknya ada di Ummati, Sarkub dll blog anti wahabi) ngapain dengerian radio wahabi seperti Radio Rodja bikin kita tambah tolol.

  • ummu hasanah says:

    Yaa kalo enggak mau dengerin radio-nya, bisa juga nonton TV-nya. Ada rodja TV, Ahsan TV, Yufid TV dll.

  • insan dhaif says:

    saudaraku yg dirahmati Allah,

    jika memang yang dipermasalahkan adalah pembagian tauhid menjadi tiga dan dianggap mirip dengan trinitas bagi pemeluk nasrani, sejatinya pembagian tauhid menjadi tiga (uluhiyah, rubbubiyah, asma wa sifat) sangatlah berbeda makna dan implementasinya dengan trinitas yang dianut pemeluk nasrani .

    kesampingkan dulu rasa fanatik, silahkan baca dan pahami penjelasan ust.Firanda Andirja tentang tauhid uluhiyah, rubbubiyah dan asma wa sifat berikut ini
    http://firanda.com/index.php/artikel/aqidah/403-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-adalah-trinitas

    • Yanto Jenggot says:

      yang jelas tauhid tiga itu asli bid’ah yg dibuat2 oleh Wahabi, tauhid 3 itu bukan ajaran Allah dan Rasul_NYA.

      adapun implementasi tauhid 3 itu yg paling mencolok adalah hanya berguana untuk memusyrikkan muslimin yg bertawassul dan bertabarruk. selain itu tidak ada. Tauhid tiga sama sekali tidak ada gunanya dalam mengenal Allah, sebab untuk mengenal Allah sudah ada ilmunya yg lebih komprehensif.

      • insan dhaif says:

        tolong yaa akhi fillah, dibaca dulu penjelasan ust.Firanda baik-baik, siapa yg sebenarnya pertama kali membagi tauhid menjadi tiga ..

        • Jabir says:

          insan dhoif@

          setahu saya yang membagi tauhid jadi 3 itu bukan Nabi Muhammad Saw, juga bukan Para Sahabtnya, bukan pula para Tabi’in, juga bukan para Tabi’ut Tabi’in. Dengan demikian, Tauhid dibagi tiga adalah benar2 bid’ah dholalah di bidang aqidah.

          Ingat akhi, aqidah adalah masalah pokok agama, jangan dibuat2, kalau dibuat2 itu namanya aqidah bid’ah, alias aqidah bukan ajaran Rasul Saw. Demikian akhi, mudah dipahami kan?

          • insan dhaif says:

            benar, yang membagi tauhid jadi 3 itu bukan Nabi Muhammad Saw, juga bukan Para Sahabatnya, bukan pula para Tabi’in, juga bukan para Tabi’ut Tabi’in.

            apakah antum sudah membaca penjelasan ust.Firanda?
            di sana dijelaskan bagaimana asal-usul pembagian tauhid, tolong sekali lagi ya akhi dibaca dulu dan dipahami, tanpa membawa ego diri ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 9 = forty five

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

habib habaib

Diskusi Pengunjung