Wednesday , 27 August 2014
Breaking News
Home / Iman / akidah / Aqidatul Awam: Kitab Aqidah Ahlussunnah Waljama’ah Bebas Virus Wahabi

Aqidatul Awam: Kitab Aqidah Ahlussunnah Waljama’ah Bebas Virus Wahabi

 

aqidatul AwamSeorang komentator ASWAJA di Ummati Pres bernama Juman memberi saran kepada teman-teman Wahabi agar sebaiknya belajar kitab Aqidatul Awam. Begini sarannya: “Wahabi sebaiknya belajar dulu kitab Aqidatul Awam, supaya dasar tauhidnya benar sesuai pemahaman Ahlussunnah Waljama’ah. Sekarang ini setahu saya Aqidatul Awam adalah buku yg belum terkontaminasi faham sesat Wahabi. Jadi saya sarankan para Wahabiyyun belajar kitab Aqidaul Awam agar selamat dari kesesatan TAUHID TIGA (Trinitas Wahabi). Demikian semoga bermanfaat”.

Kemudian seorang komentator ASWAJA bernama Jafar menimpali seraya memperingatkan bahwa jangan-jangan Aqidatul Awam juga sudah terinfeksi virus Wahabi. Hal ini karena adanya komentar COPAS dari Donpay (Abahna Jibril?) tentang bab AqidatulAwam yang berbeda dengan yang ada di tangan Mas Jafar.  Inilah kata Mas Jafar:  “Syeikh Al-Baijuri sendiri menyusun kitab Tijanuddarori, yang membahas manengenai tauhid berdasarkan madzhab Imam Asyari, begitupun kitab Aqidatul Awam dan Jauharuttauhid. Saat ini saya memegang kitab Jauharuuttauhid yang dikutip oleh @Donpay, tapi di halaman yang dimaksud oleh COPAS-an @Donpay, hal 97, berisi pembahasan mengenai sifat Baqo. Nah, kitab Jauharuttauhid yang dimaksud oleh @Donpay, itu terbitan mana ya?”  Demikian Mas Jafar bertanya dengan heran

Akhirnya  muncul Akhi Taymiyyah yang menegaskan dengan sedikit bergurau: “Hue hue hue… donpay baca buku palsu.”

Nah, koment-koment yang kami kutip di atas bisa dibaca di sini:  KLIK 

 

Itulah sedikit cuplikan yang menggambarkan adanya indikasi kitab Aqidatul Awam sudah agak terkontaminasi oleh faham Wahabi.  Tentunya hal ini bisa terjadi melalui syarah-syarah (penjelasan-penjelasan) yang dibuat oleh orang-orang yang berpaham Wahabi. Tetapi kami tidak akan membahas tentang adanya indikasi “pencemaran”  kitab aqidatul Awam.  Di sini kami hanya merasa perlu sedikit memperkenalkan kitab Aqidatul Awam. Dari  sekelumit yang  kami sajikan tentang  apa sebenarnya isi pembahasan kitab Aqidatul Awam, kami berharap  dapat memberikan informasi  “sekilas info”  isi kitab Aqidatul Awam. Sajian ini disampaikan oleh KH. Thobary Sadzily, semoga bermanfaat buat kita semua, mari kita simak apa isi kitab Aqidatul Awam….

 

50 AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Oleh: Thobary Syadzily

Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah terdiri dari 50 aqidah, di mana yang 50 aqidah ini dimasukkan ke dalam 2 kelompok besar, yaitu:

1. Aqidah Ilahiyyah (عقيدة الهية) dan

2. Aqidah Nubuwwiyah (عقيدة نبوية)

Adapun Aqidah Ilahiyyah terdiri dari 41 sifat, yaitu:

a. 20 sifat yang wajib bagi Allah swt: wujud (وجود), qidam (قدم), baqa (بقاء), mukhalafah lil hawaditsi (مخالفة للحوادث), qiyamuhu bin nafsi (قيامه بالنفس), wahdaniyyat (وحدانية), qudrat (قدرة), iradat (ارادة), ilmu (علم), hayat (حياة), sama’ (سمع), bashar (بصر), kalam (كلام), kaunuhu qadiran (كونه قديرا), kaunuhu muridan (كونه مريدا), kaunuhu ‘aliman (كونه عليما), kaunuhu hayyan (كونه حيا), kaunuhu sami’an (كونه سميعا), kaunuhu bashiran (كونه بصيرا), dan kaunuhu mutakalliman (كونه متكلما).

b. 20 sifat yang mustahil bagi Allah swt: ‘adam (tidak ada), huduts (baru), fana’ (rusak), mumatsalah lil hawaditsi (menyerupai makhluk), ‘adamul qiyam bin nafsi (tidak berdiri sendiri), ta’addud (berbilang), ‘ajzu (lemah atau tidak mampu), karohah (terpaksa), jahlun (bodoh), maut, shamam (tuli), ‘ama (buta), bukmun (gagu), kaunuhu ‘ajizan, kaunuhu karihan, kaunuhu jahilan (كونه جاهلا), kaunuhu mayyitan (كونه ميتا), kaunuhu ashamma (كونه أصم), kaunuhu a’ma (كونه أعمى), dan kaunuhu abkam (كونه أبكم).

c. 1 sifat yang ja’iz bagi Allah swt.

 Aqidah Nubuwwiyah terdiri dari 9 sifat, yaitu:

a. 4 sifat yang wajib bagi para Nabi dan Rasul: siddiq (benar), tabligh (menyampaikan), Amanah, dan fathanah (cerdas).

b. 4 sifat yang mustahil bagi para Nabi dan Rasul: kidzib (bohong), kitman (menyembunyikan), khianat, dan baladah (bodoh).

c. 1 sifat yang ja’iz bagi para Nabi dan Rasul.

*****

I. DALIL-DALIL SIFAT WAJIB BAGI ALLAH SWT:

1. Dalil sifat Wujud (Maha Ada): QS Thaha ayat 14, QS Ar-Rum ayat 8, dsb.

2. Dalil sifat Qidam (Maha Dahulu): QS Al-Hadid ayat 3.

3. Dalil sifat Baqa (Maha Kekal): QS Ar-Rahman ayat 27, QS Al-Qashash ayat 88.

4. Dalil sifat Mukhalafah lil Hawaditsi (Maha Berbeda dengan Makhluk): QS Asy-Syura ayat 11, QS Al-Ikhlas ayat 4.

5. Dalil sifat Qiyamuhu bin Nafsi (Maha Berdiri Sendiri): QS Thaha ayat 111, QS Fathir ayat 15.

6. Dalil sifat Wahdaniyyat (Maha Tunggal / Esa): QS Az-Zumar ayat 4, QS Al-Baqarah ayat 163, QS Al-Anbiya’ ayat 22, QS Al-Mukminun ayat 91, dan QS Al-Isra’ ayat 42-43.

7. Dalil sifat Qudrat (Maha Kuasa): QS An-Nur ayat 45, QS Fathir ayat 44.

8. Dalil sifat Iradat (Maha Berkehendak): QS An-Nahl ayat 40, QS Al-Qashash ayat 68, QS Ali Imran ayat 26, QS Asy-Syura ayat 49-50.

9. Dalil sifat Ilmu (Maha Mengetahui): QS Al-Mujadalah ayat 7, QS At-Thalaq ayat 12, QS Al-An’am ayat 59, dan QS Qaf ayat 16.

10. Dalil sifat Hayat (Maha Hidup): QS Al-Furqan ayat 58, QS Ghafir ayat 65, dan QS Thaha 111.

11 & 12. Dalil sifat Sama’ (Maha Mendengar) dan Bashar (Maha Melihat): QS Al-Mujadalah ayat 1, QS Thaha ayat 43-46.

13. Dalil sifat Kalam (Maha Berfirman): QS An-Nisa ayat 164, QS Al-A’raf ayat 143, dan QS Asy-Syura ayat 51.

Dua puluh sifat yang wajib bagi Allah tersebut di atas dibagi kepada 4 bagian, yaitu:

1. Sifat Nafsiyyah. Artinya: Sifat yang tidak bisa difahami Dzat Allah tanpa adanya sifat. Sifat Nafsiyyah ini hanya satu sifat, yaitu: sifat wujud.

2. Sifat Salbiyyah. Artinya: Sifat yang tidak pantas adanya di Dzat Allah swt. Sifat Salbiyyah ini jumlahnya ada lima sifat, yaitu: Qidam, Baqa, Mukhalafah lil Hawaditsi, Qiyamuhu bin Nafsi, dan Wahdaniyyah.

3. Sifat Ma’ani. Artinya: Sifat yang tetap dan pantas di Dzat Allah dengan kesempurnaan-Nya. Sifat Ma’ani ini jumlahnya ada tujuh sifat, yaitu: Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashar, dan Kalam.

4. Sifat Ma’nawiyyah. Artinya: Sifat yang merupakan cabang dari sifat Ma’ani. Sifat Ma’nawyyah ini jumlahnya ada tujuh sifat, yaitu: Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu ‘Aliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu Bashiran, dan Kaunuhu Mutakalliman.

*****

II. DALIL-DALIL SIFAT JA’IZ BAGI ALLAH

a. QS Al-Qashash ayat 68

b. QS Al-Imran ayat 26

c. QS Al-Baqarah ayat 284

CATATAN PENTING:

Pokok-pokok Ilmu Tauhid (مبادئ علم التوحيد):

1. Definisi Ilmu Tauhid (حده):

Ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat Allah dan para rasul-Nya, baik sifat-sifat yang wajib, mustahil maupun ja’iz, yang jumlah semuanya ada 50 sifat. Sifat yang wajib bagi Allah ada 20 sifat dan sifat yang mustahil ada 20 sifat serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. Begitupula sifat yang wajib bagi para rasul ada 4 sifat (sidiq. tabligh, amanah, dan fathanah) dan sifat yang mustahil ada 4 sifat (kidzb / bohong, kitman / menyembunyikan, khianat, dan bodoh) serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. 50 sifat ini dinamakan “Aqidatul Khomsin / عقيدة الخمسين “. Artinya: Lima puluh Aqidah.

2. Objek atau Sasaran Ilmu Tauhid (موضوعه): Dzat Allah dan sifat-sifat Allah.

3. Pelopor atau Pencipta Ilmu Tauhid (واضعاه): Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (260 H – 330 H / 873 M – 947 M ) dan Imam Abul Manshur Al-Mathuridi ( 238 – 333 H / 852 – 944 M ).

4. Hukum Mempelajari Ilmu Tauhid (حكمه): Wajib ‘ain dengan dalil ijmali (global) dan wajib kifayah dengan dalil tafshili.

5. Nama Ilmu Tauhid (اسمه): Ilmu Tauhid, Ilmu Ushuluddin, Ilmu Kalam dan Ilmu ‘Aqa’id.

6. Hubungan Ilmu Tauhid dengan Ilmu-ilmu lain (نسبته): Asal untuk ilmu-ilmu agama dan cabang untuk ilmu selainnya.

7. Masalah-masalah Ilmu Tauhid (مسائله): Sifat-sifat wajib, mustahil, dan ja’iz bagi Allah swt dan para Rasul-Nya.

8. Pengambilan Ilmu Tauhid (استمداده): Diambil dari Al-Qur’an, Al-Hadits, dan akal yang sehat.

9. Faedah Ilmu Tauhid (فائدته): Supaya sah melakukan amal-amal sholeh di dunia.

10. Puncak Mempelajari Ilmu Tauhid (غايته): Memperoleh kebahagian, baik di dunia maupun akherat dan mendapat ridha dari Allah swt serta mendapat tempat di surga.

Wallahu a’lam…..

675 comments

  1. Nah… Aqidatul Awam inilah kitab akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang mantab, semoga kitab tersebut benar-benar aman dari serangan Virus Wahabi, amin….

  2. Mantab, terimakasih atas dimuatnya tentang isi kitab Aqidatul Awam, semoga bermanfaat menjadikan kita memperoleh gambaran apa isi kitab tersebut. Thank’s Ummati, jazakallohu khoiron katsiro.

  3. Ahsan Ummati, ana bersyukur ada website yg sudah mulai memperkenalkan kitab Aqidatul Awam, semoga kitab Akidah Ahlussunnah Waljama’ah ini dikenal masyarakat muslim, sehingga mereka tahu apa itu isi kitab yang bersih dari kontaminasi faham Wahabi yg menyesatkan akidah Ummat Islam.

    Ummati Bravo, syukron….

  4. Afif Fatkhurrohman

    Jazakumullahu ahsanal jaza’

  5. salam buat admin dan sesepuh
    makasih atas pencerahannya mengenai kitab ini, kitab yang penting bagi newbie membentengi diri dari Sa-Wah

  6. Syukron Ummati telah memuat artikel di atas,

    Dalam sebuah Majelis Maulid Agung Shubuh Gabungan di kediaman Al-Habib Ali bin Abdurrahman As-segaf di Tebet, Jakarta Selatan taon 2010. Habib Ali membagi-bagikan secara gratis kitab Aqidatul Awwam kepada jama’ah yang hadir. Tujuan beliau adalah untuk membentengi Ahlussunnah wal Jama’ah dari serangan2 Aqidah yang semakin hari semakin menyesatkan…..

  7. Abu Umar Abdillah

    Emang Sifat 20, apa yang ngajari Rosul….???
    Lucu-lucu….

  8. @abu umar abdillah
    Kalo Tauhid Trinitas siapa ngajari ?
    apakah Ibnu Tai-miyah atau Ibnu Bedul Wahab atau Bin Baz atau Al Bani.
    jawab dong biar ane tau ?

  9. sifat 20 itu untuk mempermudah saja….( ngikutin gaya wahabi )
    beda sama trinitas tauhid tiga malah mempersulit memahami tauhid, karena saling bertentangan, dan saling kontradiksi…..

  10. Abu Umar Abdillah

    Jawab tuh pertanyaan, jangan mengalihkan dengan menanyakan ke yang lain.

  11. Abu Umar Abdillah

    Apakah inti ajaran tauhid hanya:
    Ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat Allah dan para rasul-Nya, baik sifat-sifat yang wajib, mustahil maupun ja’iz, yang jumlah semuanya ada 50 sifat.?
    iblis itu lebih paham tauhid yang ummati maksud kalao seperti itu.
    Iblis pernah bertemu dengan Allah SWT, dan paham betul.

  12. mamo cemani gombong

    sok tau dia ……@jafar

  13. Abu Umar Abdillah

    Iblis tidak mau sujud kepada Nabi Adam, sesuai yang diperintahkan Allah kepada Iblis. Dalam Surah Al-Kahfi : 50 (Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim). Bukan hanya tidak mau sujud kepada Nabi Adam, Iblis takabur dan mengoreksi perintah Allah SWT. Dalam Qur’an Surah Al-Israa’ : 61 (Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”).Dan Dalam Qur’an Surah Al-Israa’ : 62 (Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil.” )
    Apakah itu tidak jelas, bahwa iblis bertemu langsung dengan Allah SWT

  14. yah ngomongin ngajarin rosul siapa, urusin dulu perkara tinitasnya darimana? katanya anti hasanah maju kena mundur kena tuh udah wahabi yang lurus lurus aja segala bikin macem macem malu kemakan omongan

  15. Abu Umar Abdillah murid lulusan dari gemblengan Iblis makanya dia sangat mengenal gurunya itu. Ha ha ha….

  16. Abu Umar Abdillah@

    Sifat 20 itu dalilnya jelas dan kokoh, intinya adalah tidak membagi tauhid.
    Beda lho, Tauhid itu hanya satu yaitu laa ilaha illallah…. Jadi jangan dibagi-bagi lagi akhirnya terjerus dalam bid’ah dholalah.

  17. Abu Umar Abdillah

    @jafar, @Mamo yang Ngapak, @Jabir
    Ente semua lihat di Qur’an Aja ya.. Dah jelas tuh.. Bahwa Iblis bertemu dengan Allah SWT langsung.

  18. Abu Umar Abdillah

    MAAF DIDELETE!!!

    ISI KOMENTNYA SAMA DENGAN KOMENT NO 18 diatas!

    ADMIN UMMATI PRESS

  19. Abu Umar Abdillah

    Iblis Aja ngerti Syariah

    red : lho kok? Yang benar aja, masa Iblis ngerti syariah?; ust : iya, jelas iblis ngerti syariah; red : tapi…;ust : tapi apa?; red : kayaknya provokatif amat ya; ust : ah enggak juga, memang begitu kok; red : kalo iblis ngerti syariah, lalu kenapa dia kerjanya menyesatkan manusia?; ust : justru itulah, udah ngerti syariah, eh malah menyesatkan manusia, jadilah dia namanya iblis; red : masuk neraka?; ust : iya; red : tapi apa landasannya, kok dibilang iblis ngerti syariah?; ust : landasannya?; red : iya, landasannya apa? Kan pak ustadz biasa melandasai semua pendapat pake dalil; ust : landasannya ada terselip di dalam mushaf Quran; red : ada di Quran? surat apa? ayat yang keberapa?; ust : hmm, coba buka surat Al-Araf; red : Al-Araf…… hmm ayatnya?; ust : ayat 12; red : disini tertulis ALLAH berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?”; Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.; ust : jelas kan, iblis aja mengakui adanya ALLAH, bahkan mengaku langsung bahwa dirinya adalah ciptaaan ALLAH; red : iya juga ya, tapi kenapa dia malah dikutuk dan masuk neraka?; ust : ya karena mengimani ALLAH dalam arti mengakui keberadaan ALLAH saja tidak cukup, iblis seharusnya taat pada perintah ALLAH; red : ternyata dia tidak taat?; ust : ya begitulah, iblis malah membangkang dan merasa diri besar; red : padahal dia udah mengakui ALLAH sebagai tuhan, ya; ust : tul sek; red : tul sek?; ust : betul sekali maksudnya; red : Ooo, terus, kaitannya dengan ibils ngerti syariah?; ust : nah gini ceritanya, setelah iblis dikutuk ALLAH dan dipastikan masuk neraka, maka iblis bertekad cari pengikut; red : hihihi…nggak enak kali ya di neraka sendirian?; ust : hehehe, beda sih rasanya digebukin sendirian ame digebukin tapi berdua, jadi ada teman senasib dan sepenanggungan; red : lalu lalu?; ust : lalu iblis cari teman dan pengikut agar bisa masuk neraka; red : caranya?; ust : ya cara sesuai prosedur, gimana caranya agar para teman ibilis ini bisa memenuhi syarat masuk neraka.; red : misalnya; ust :misalnya, teman dan pengikut iblis harus dibikin agar mengerjakan dosa yang sekiranya menggiringnya masuk neraka; red : jadi tugas iblis adalah menggiring dan mengarahkan ke arah dosa?; ust : betul, tapi gimana caranya agar bisa dipastikan bahwa kerjaan iblis itu sudah right on the track, iblis punya SOP; red : SOP? apaan tuh? SOP kambing atau SOP kaki?; ust : Standar Operation Procedure; red : makanan apaan tuh, ustadz?; ust : makanan melulu ente, SOP itu sebuah aturan dalam bekerja, biasanya ada di setiap perusahaan. Kalau dalam militer namanya PROTAP.; red : apaan lagi tuh?; ust : Prosedur tetap; red : oke, jadi iblis pake SOP dan PROTAP; ust : buat iblis, ini bukan proyek main-main. jadi harus serius dan profesional. harus kerja rapi dan pake SOP segala; red : soale ini urusan hidup dan mati buat iblis, ya ustadz?; ust : he eh, lebih dari urusan hidup dan mati, urusannya neraka sorga nih. makanya iblis harus memastikan semua projeknya berjalan di atas rancangan yang benar; red : percuma kerja capek-capek kalau melenceng dari arah sebenarnya; ust : nah begitu lah, jadi agar bisa pasti pekerjaannya sukses, iblis harus bisa membedakan mana hak dan mana batil, mana halal dan mana haram.; red : wah canggih juga si iblis itu; ust : kudu, maka iblis harus mengerti mana yang ibadah yang wajib bagi umat Islam, dan tugasnya bagaimana agar manusia tidak mengerjakan yang wajib.; red : bener juga ya, kalau iblis nggak tahu mana yang wajib mana yang haram, bisa jadi malah kebalik ya ustadz; ust : itu namanya iblis bego, bukannya menggiring dari wajib ke haram, tapi malah sebaliknya, dari haram ke wajib; red : hehehe iblis o-on ; ust : makanya, jadi iblis aja kudu ngerti syariah, dia bisa bedakan mana wajib dan mana haram; red : iblis bukannya nggiring orang dari rajin shalat jadi nggak rajin, eh malah ngajak orang yang tukang mabok jadi sadar,wkwkwkwk iblis geblek; ust : itu namanya iblis nggak ngarti SOP, keluar dari prosedur; red : jadi bener juga kata ustadz, jadi iblis aja harus ngerti syariah; ust : apalagi jadi orang islam; red : oh kesono maksudnya; ust : lha emang iya; red : jadi kita sebagai muslim harus ngerti syariah, gitu ya ustadz?; ust : ho.oh; red : dan kalau ada manusia nggak ngerti syariah, berarti lebih goblok dari iblis, gitu?; ust : yup; red : wah seru juga ya; ust : karena itulah iblis selalu menang, sebab dia lebih tahu hukum dan prosedur, walau digunakan untuk kejahatan; red : bener juga ya ustadz, jadi maling aja musti ngerti hukum; ust : itu namanya maling cerdas; red : terus gimana belajarnya si iblis itu biar ngerti syariah; ust : eee jangan salah sangka, jelek-jelek si iblis itu ngerti isi Quran; red : oy ha?; ust : pokoknya setiap kali ada ayat Quran turun dari langit, dia berupaya memalingkan orang dari memahami dan mengenal ayat itu. Agar bisa pasti orang tidak mengikuti isi ayat Quran itu, maka si Iblis kudu ngerti apa isi Quran; red : biar orang nggak ngejalanin Quran, gitu kan?; ust : pinterrr; red : Jadi kalau ada orang Islam kagak ngarti isi Quran?; ust : nah tebak sendiri lah; red : lebih bloon dari iblis, gitu kan?; ust : ho-oh; red : wah repot juga nih jadi manusia, musti ngerti syariah, musti ngerti Quran; ust : hidup itu kan untuk mengabdi kepada ALLAH, terus kalau kita nggak tahu perintah ALLAH itu apa aja, gimana bisa dibilang mengabdi?; red : bener juga apa yang ustadz bilang, gimana ngabdinya kalo kagak paham perintahnya; ust : ibarat seorang juragan punya pembantu bolot,; red : bolot? budeg maksudnya?; ust : yup, saking bolotnya ampe-ape tuh pembantu kagak paham apa yang diperintahin ame juragannya.; red : gimana mo paham, denger aja kagak, abis dia pembantu bolot sih; ust : disuruh nyapu malah pergi ke pasar, disuruh nyiapin makanan, malah dia nyapu halaman; red : pecat aja jangan jadi pembantu; ust : nah begitu juga dengan kita, ngaku jadi muslim, tapi perintah ALLAH yang mana yang haram yang mana yang halal, kita kagak tahu. Sama aja ame orang bolot.; red : tapi ada yang bilang meski kita kagak tahu halal-haram, tapi yang penting kan hatinya, ustadz; ust : ya ga bisa gitu dong, masak naik motor nggak pake helm lalu ditangkap polisi lalu kita bikin alasan,”Pak polisi, saya ini dalam hati mau taat lho pak, mau pake helm sih niatnya”; red : ustadz bisa aja bikin perumpamaan; ust : Nah, tuh polisi ngejawab,”Pokoknya saudara terbukti melanggar peraturan lalin, yaitu tidak pakai helm. Masalah niatnya mau pake atau tidak, itu bukan urusan saya”.; red : hehehe, polisi mah enggak lihat yang di dalam hati ya pak ustadz; ust : iya, pokoknya ada yang melanggar, ya ditilang; red : kalau alasannya tidak tahu, gimana ustadz?; ust : tetap aja ditilang, semua orang yang naik kendaraan bermotor di jalan raya dianggap sudah tahu peraturan lalu lintas, jadi kalau melanggar ya ditilang; red : jadi sebagai muslim, tahu apa nggak tahu halal haram, tetap aja dianggap tahu, begitu maksudnya kan?; ust : iya, obat tidak tahu adalah bertanya, nanya kepada ulama. Juga belajar agama, belajar ilmu syariah, jadi tahu mana halal mana haram

  20. Abu Umar Abdullah@

    Tulisan opo iki? Ora jelas babar blas. Cuma judulnya yg tampak jelas, bahwa Iblis Ngerti Syari’ah. Jiaha ha ha ha…. pantesan Iblis kalian jadikan Mahaguru kalian.

    Afwan, Nte kepergok sekarang, saya pun jadi maklum kenapa Nte-nte pada benci Dzikir Jama’ah. benci Maulid Nabi Saw, Benci Rotib Al-Haddad, benci kalau adayg baca Surat Yaasin, benci orang baca kalimat Tauhid (TAHLIL), ternyata kalian pengagum Ilmu Iblis rupanya ya?

  21. Abu Umar Abdillah

    MAAF DIDELETE!!!

    ISI KOMENT SAMADENGAN KOMENT DI NO 18 DI ATAS!

    ADMIN UMMATI PRESS

  22. Abu Umar Abdillah

    Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin Ibadah

    Kaum muslimin, semoga Allah meneguhkan kita di atas Islam yang haq. Sesungguhnya salah satu penyebab utama kemunduran dan kelemahan umat Islam pada masa sekarang ini adalah karena mereka tidak memahami hakikat kejahiliyahan yang menimpa bangsa Arab di masa silam. Mereka menyangka bahwasanya kaum kafir Quraisy jahiliyah adalah orang-orang yang tidak beribadah kepada Allah sama sekali. Atau lebih parah lagi mereka mengira bahwasanya kaum kafir Quraisy adalah orang-orang yang tidak beriman tentang adanya Allah [?!] Duhai, tidakkah mereka memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lembaran sejarah yang tercatat rapi dalam kitab-kitab hadits ?

    Kaum Kafir Quraisy Betul-Betul Mengenal Allah

    Janganlah terkejut akan hal ini, cobalah simak firman Allah ta’ala,

    Dalil pertama, Allah ta’ala berfirman,

    ???? ???? ???????????? ???? ?????????? ??????????? ???? ???? ???????? ????????? ?????????????? ?????? ???????? ???????? ???? ?????????? ?????????? ?????????? ???? ???????? ?????? ????????? ????????? ?????????????? ??????? ?????? ??????? ??????????

    “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10]: 31)

    Dalil kedua, firman Allah ta’ala,

    ???????? ???????????? ???? ?????????? ???????????? ??????? ???????? ???????????

    “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. az-Zukhruf : 87)

    Dalil ketiga, firman Allah ta’ala,

    ?????? ???????????? ???? ??????? ???? ?????????? ????? ????????? ???? ????????? ???? ?????? ????????? ???????????? ??????? ???? ????????? ??????? ???? ???????????? ??? ???????????

    “Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. al-’Ankabut: 63)

    Dalil keempat, firman Allah ta’ala,

    ???? ???? ??????? ???????????? ????? ??????? ?????????? ???????? ?????????????? ????????? ????????? ???????? ???? ??????? ???????? ??? ????????????

    “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. an-Naml: 62)

    Perhatikanlah! Dalam ayat-ayat di atas terlihat bahwasanya orang-orang musyrik itu mengenal Allah, mereka mengakui sifat-sifat rububiyyah-Nya yaitu Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, serta penguasa alam semesta. Namun, pengakuan ini tidak mencukupi mereka untuk dikatakan muslim dan selamat. Kenapa? Karena mereka mengakui dan beriman pada sifat-sifat rububiyah Allah saja, namun mereka menyekutukan Allah dalam masalah ibadah. Oleh karena itu, Allah katakan terhadap mereka,

    ????? ???????? ???????????? ????????? ?????? ?????? ???????????

    “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf : 106)

    Ibnu Abbas mengatakan, “Di antara keimanan orang-orang musyrik: Jika dikatakan kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit, bumi, dan gunung?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah’. Sedangkan mereka dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya.”

    ‘Ikrimah mengatakan,”Jika kamu menanyakan kepada orang-orang musyrik: siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab: Allah. Demikianlah keimanan mereka kepada Allah, namun mereka menyembah selain-Nya juga.” (Lihat Al-Mukhtashor Al-Mufid, 10-11)

    Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa kaum musyrikin pada masa itu mengakui Allah subhanahuwata’ala adalah pencipta, pemberi rezki serta pengatur urusan hamba-hamba-Nya. Mereka meyakini di tangan Allah lah terletak kekuasaan segala urusan, dan tidak ada seorangpun diantara kaum musyrikin itu yang mengingkari hal ini (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat) Dan janganlah anda terkejut apabila ternyata mereka pun termasuk ahli ibadah yang mempersembahkan berbagai bentuk ibadah kepada Allah ta’ala.

    Kafir Quraisy Rajin Beribadah

    Anda tidak perlu merasa heran, karena inilah realita. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah menceritakan bahwasanya kaum musyrikin yang dihadapi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang rajin beribadah. Mereka juga menunaikan ibadah haji, bersedekah dan bahkan banyak berdzikir kepada Allah. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrik juga berhaji dan melakukan thowaf adalah dalil berikut.

    Dan telah menceritakan kepadaku Abbas bin Abdul ‘Azhim Al Anbari telah menceritakan kepada kami An Nadlr bin Muhammad Al Yamami telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar telah menceritakan kepada kami Abu Zumail dari Ibnu Abbas ia berkata; Dulu orang-orang musyrik mengatakan; “LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA (Aku memenuhi panggilanMu wahai Dzat yang tiada sekutu bagiMu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ?????????? ???? ???? ???????????? ?????? ???????? ???? ???? ?????????? ????? ??????

    “Celakalah kalian, cukuplah ucapan itu dan jangan diteruskan.” Tapi mereka meneruskan ucapan mereka; ILLAA SYARIIKAN HUWA LAKA TAMLIKUHU WAMAA MALAKA (kecuali sekutu bagi-Mu yang memang Kau kuasai dan ia tidak menguasai).” Mereka mengatakan ini sedang mereka berthawaf di Baitullah. (HR. Muslim no. 1185)

    Mengomentari pernyataan Syaikh Muhammad At Tamimi di atas, Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan bahwa kaum musyrikin Quraisy yang didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kaum yang beribadah kepada Allah, akan tetapi ibadah tersebut tidak bermanfaat bagi mereka karena ibadah yang mereka lakukan itu tercampuri dengan syirik akbar. Sama saja apakah sesuatu yang diibadahi disamping Allah itu berupa patung, orang shalih, Nabi, atau bahkan malaikat. Dan sama saja apakah tujuan pelakunya adalah demi mengangkat sosok-sosok tersebut sebagai sekutu Allah atau bukan, karena hakikat perbuatan mereka adalah syirik. Demikian pula apabila niatnya hanya sekedar menjadikan sosok-sosok itu sebagai perantara ibadah dan penambah kedekatan diri kepada Allah. Maka hal itu pun dihukumi syirik (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

    Dua Pelajaran Berharga

    Dari sepenggal kisah di atas maka ada dua buah pelajaran berharga yang bisa dipetik. Pertama; pengakuan seseorang bahwa hanya Allah lah pencipta, pemberi rezki dan pengatur segala urusan tidaklah cukup untuk membuat dirinya termasuk dalam golongan pemeluk agama Islam. Sehingga sekedar mengakui bahwasanya Allah adalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur belum bisa menjamin terjaganya darah dan hartanya. Bahkan sekedar meyakini hal itu belum bisa menyelamatkan dirinya dari siksaan Allah.

    Kedua; apabila peribadatan kepada Allah disusupi dengan kesyirikan maka hal itu akan menghancurkan ibadah tersebut. Oleh sebab itu ibadah tidak dianggap sah apabila tidak dilandasi dengan tauhid/ikhlas (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Shalih Al-Fauzan)

    Dengan demikian sungguh keliru anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwasanya tauhid itu cukup dengan mengakui Allah sebagai satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta. Dan dengan modal anggapan yang terlanjur salah ini maka merekapun bersusah payah untuk mengajak manusia mengenali bukti-bukti alam tentang keberadaan dan keesaan wujud-Nya dan justru mengabaikan hakikat tauhid yang sebenarnya. Atau yang mengatakan bahwa selama orang itu masih mengucapkan syahadat maka tidak ada sesuatupun yang bisa membatalkan keislamannya. Atau yang membenarkan berbagai macam praktek kesyirikan dengan dalih hal itu dia lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Atau yang mengatakan bahwa para wali yang sudah meninggal itu sekedar perantara untuk bisa mendekatkan diri mereka yang penuh dosa kepada Allah yang Maha Suci. Lihatlah kebanyakan praktek kesyirikan yang merebak di tengah-tengah masyarakat Islam sekarang ini, maka niscaya alasan-alasan semacam ini -yang rapuh serapuh sarang laba-laba- yang mereka lontarkan demi melapangkan jalan mereka untuk melestarikan tradisi dan ritual-ritual syirik.

    ‘Kita ‘Kan Tidak Sebodoh Kafir Quraisy’

    Barangkali masih ada orang yang bersikeras mengatakan,“Jangan samakan kami dengan kaum kafir Qurasiy. Sebab kami ini beragama Islam, kami cinta Islam, kami cinta Nabi, dan kami senantiasa meyakini Allah lah penguasa jagad raya ini, tidak sebagaimana mereka yang bodoh dan dungu itu!” Allahu akbar, hendaknya kita tidak terburu-buru menilai orang lain bodoh dan dungu sementara kita belum memahami keadaan mereka. Saudaraku, cermatilah firman Allah ta’ala,

    ???? ?????? ????????? ?????? ?????? ???? ???????? ??????????? (84) ???????????? ??????? ???? ??????? ???????????? (85) ???? ???? ????? ????????????? ????????? ??????? ????????? ?????????? (86) ???????????? ??????? ???? ??????? ?????????? (87) ???? ???? ???????? ????????? ????? ?????? ?????? ??????? ????? ??????? ???????? ???? ???????? ??????????? (88) ???????????? ??????? ???? ???????? ??????????? (89)

    “Katakanlah; ‘Milik siapakah bumi beserta seluruh isinya, jika kalian mengetahui ?’ Maka niscaya mereka akan menjawab, ‘Milik Allah’. Katakanlah,’Lalu tidakkah kalian mengambil pelajaran ?’ Dan tanyakanlah; ‘Siapakah Rabb penguasa langit yang tujuh dan pemilik Arsy yang agung ?’ Niscaya mereka menjawab,’Semuanya adalah milik Allah’ Katakanlah,’Tidakkah kalian mau bertakwa’ Dan tanyakanlah,’Siapakah Dzat yang di tangannya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia lah yang Maha melindungi dan tidak ada yang sanggup melindungi diri dari azab-Nya, jika kalian mengetahui ?’ Maka pastilah mereka menjawab, ‘Semuanya adalah kuasa Allah’ Katakanlah,’Lantas dari jalan manakah kalian ditipu?.’” (QS. Al-Mu’minuun: 84-89)

    Nah, ayat-ayat di atas demikian gamblang menceritakan kepada kita tentang realita yang terjadi pada kaum musyrikin Quraisy dahulu. Meyakini tauhid rububiyah tanpa disertai dengan tauhid uluhiyah tidak ada artinya. Maka sungguh mengherankan apabila ternyata masih ada orang-orang yang mengaku Islam, rajin shalat, rajin puasa, rajin naik haji akan tetapi mereka justru berdoa kepada Husain, Badawi, Abdul Qadir Al-Jailani. Maka sebenarnya apa yang mereka lakukan itu sama dengan perilaku kaum musyrikin Quraisy yang berdoa kepada Laata, ‘Uzza dan Manat. Mereka pun sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka minta adalah sekedar pemberi syafaat dan perantara menuju Allah. Dan mereka juga sama-sama meyakini bahwa sosok yang mereka jadikan perantara itu bukanlah pencipta, penguasa jagad raya dan pemeliharanya. Sungguh persis kesyirikan hari ini dengan masa silam. Sebagian orang mungkin berkomentar, “Akan tetapi mereka ini ‘kan kaum muslimin” Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab,“Maka kalau dengan perilaku seperti itu mereka masih layak disebut muslim, lantas mengapa orang-orang kafir Quraisy tidak kita sebut sebagai muslim juga ?! Orang yang berpendapat semacam itu tidak memiliki pemahaman ilmu tauhid dan tidak punya ilmu sedikitpun, karena sesungguhnya dia sendiri tidak mengerti hakikat tauhid”

  23. @kang jabir, kayaknya AUA sedang terganggu syarafnya, omongannya ngalantur (org tidur ngomong sendiri (ngigau))?????

  24. Mas Admin, maaf nih boleh usul, komen-komen dobel berkepanjangan dari @Abu, sebaiknya dihapus aja ya.
    @mas Abu, isi dari komen mas Abu apa sih intinya?
    klo mengenai tauhid 3, kaum musyrik Mekkah yang dianggap ber”tauhid” , itu kan sudah sering mas Abu lontarkan di forum ini, di artikel sebelumnya ).
    Nah sekarang, dalam artikel yang dipaparkan oleh mas Admin di atas, apakah ada hal yang mas Abu ingin bantah? Jika ada, silakan didiskusikan.

  25. @ abu umar abdillah
    jawaban sifat 20 baca, fahami dan resapkan atikel Aqidatul Awam diatas. dalil-dalilnya sudah lengkap dan tertera.

  26. Mas Abu emang pernah bertemu Iblis ya, ko tahu sih? … :)

  27. Abu Umar Abdillah :
    Emang Sifat 20, apa yang ngajari Rosul….???
    Lucu-lucu….

    bukan hal yang aneh lagi bagi kaum SaWah senantiasa berkata seperti itu. karena boleh jadi dalam otak mereka yang disebut dalil mestilah firman Allah dan Sabda Rasulullah serta tiga generasi terbaik setelah Beliau. sembari mengacuhkan dalil-dalil lainnya yang telah disebutkan oleh para ulama Ushul. kalau sekiranya ada ZHAHIR perbuatan sahabat yang bertentangan dengan Rasul biasanya mereka akan mengatakan: “Kalau masih ada contoh dari Rasul, buat apa memegang pendapat sahabat???”
    namun sekiranya ada pendapat-pendapat ulama yang ZHAHIRnya bertentangan dengan generasi terbaik, mereka akan mengeluarkan jurus pamungkasnya, “Lau Kana Khairan La sabaquna ilaihi.”
    lain halnya jika yang berbeda dengan generasi terbaik adalah ulama-ulama mereka, dengan berbagaimacam alasan mereka akan menyatakan itu mashlahat mursalah lah, tidak merubah inti lah dan seribu alasan lainnya.
    ketika disebutkan kepada mereka sebuah dalil berupa hadits (Kasusnya Donpay ketika membahas hadits tanduk setan), biasanya mereka akan menanyakan bagaimana kualitas haditsnya? sedangkan ketika mereka mengeluarkan hadits, tidak jarang mereka tidak mencantumkan kualitas haditsnya.
    mereka berlagak paham seluk beluk ilmu hadits, padahal??? NATO
    maaf jika bahasanya kurang sopan dan salam buat para sesepuh Ummati

  28. bahr@

    Ya, itulah Wahabi, maklum gurunya syetan, ya begitulah jadinya. Tidak konsisten, tidak istiqomah, sehingga timbul kontradiksi dalam pendapat dan pemikiran mereka. Dan anehnya lagi, mereka tidak sadar (tidak merasa) kalau mereka itu kontradiktif. Mkalumlah mereka itu kaum lemah akal dan suka sekali menghina akalnya sendiri.

    ITULAH WAHABI (SALFY WAHABI)…..

  29. Paling-paling @Abu Umar yang COPAS artikel di atas gak paham dg yg diCOPASnya itu. Seandainya dia paham dg yg diCopasnya pastilah akan diringkas untuk diambil intinya, lalu dikirim sebagai koment. Seperti inilah kelakuan kaum Wahabi, seperti burung beo saja yg tak paham dg yg diomongkannya sendiri.

  30. setuju dengan bahr… coba kita kutip…” ….dengan berbagai macam alasan mereka akan menyatakan itu mashlahat mursalah lah, tidak merubah inti lah ….”

    1. untuk mashlahat mursalah….silakan tampilkan dalilnya donk…. bukankah setiap bid’ah itu sesat…. berarti ada pengecualian donk…mannaa… dalilnyaa….

    2. untuk tauhid 3 trinitas, wahabi bilang tidak merubah inti ? yang bener? bukannya malah jungkir balik artinya? orang musyrik malah disebut bertauhid ( rububiyah ), eh… orang bertauhid ( saudara muslimnya sendiri ) malah dibilang musyrik ( ilahiyah ) gara2 muslimin mencontoh Nabi SAAW dan sahabat bertabarruk dan bertawassul…..

  31. mamo cemani gombong

    memahami kata “MENGENAL “saja mereka belum tau ……..
    apa iya ” MENGENALNYA” iblis kepada Alloh itu SAMA DENGAN mengenalnya kafir Quraisy kepada Alloh ……?????
    ingat AWAL BERAGAMA ADALAH MENGENAL ALLOH ……

  32. mamo cemani gombong

    SENGTUJUUUUUH…….bro @bahr

  33. semoga abu umar dompay dan all wahabi pada sadar jika manhaj wahabi salah kaprah dan jungkir balik , semoga mereka mau menggunakan akal sehatnya untuk menemukan kebenaran, amin.

  34. Salim dulu ah buat para sesepuh…
    saya menulis komentar seperti di atas karena sedikit banyaknya saya pernah merasakan berada dalam lingkungan orang-orang SaWah, bahkan saya dulunya adalah salah satu dari mereka dalam kurun waktu yang dapat dibilang tidak sebentar (6-7 tahun).
    alhamdulillah, setelah masuk satu pesantren di bilangan ciputat, akhirnya Allah memberikan saya petunjuk bahwa apa yang saya lakukan itu adalah tidak benar.
    untuk semua teman-teman Wahabi (terutama yang suka menanyakan kualitas hadits, seperti Donpay) saya bertanya kepada kalian:
    1. apa sih yang disebut hadits Shahih itu?
    2. apakah jika kalian mengemukakan kualitas sebuah hadits, kalian terlebih dahulu menakhrijnya atau hanya copy paste saja?
    3. sekiranya kalian memang benar-benar menakhrij, siapa ulama yang kalian jadikan sebagai sandaran dalam menyimpulkan kredibilitas seorang perawi?
    Untuk Donpay:
    coba anda takhrij kembali (kalau sekiranya adna mampu) mengenai hadits fitnah Iraq yang anda koar-koarkan, manakala hadits-hadits lainnya berbicara mengenai fitnah Nejd

  35. @Dianth,
    Pertanyaan 2 malaikat di alam kubur (man rabbuka/siapa rabbmu?) maka ini tidak menunjukkan bahwasanya mereka (orang-orang musyrik) tidak mengakui rububiyyah Allah.

    Para ulama menjelaskan bahwa kalimat rabb disini maksudnya adalah ilah, karena sangat eratnya hubungan antara rububiyyah dengan uluhiyyah, dimana pengakuan terhadap rububiyyah sesuatu mengharuskan dia untuk menyembah sesuatu tersebut, dan sebaliknya orang yang menyembah sesuatu menunjukkan bahwa dia meyakini rububiyyahnya.

    Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa Rabb dan Ilah di dalam bahasa arab termasuk 2 kata yang jika bersatu maka berpisah, dan jika berpisah maka bersatu, maksudnya jika berada dalam satu tempat maka memiliki makna yang berlainan, dan jika tidak berada dalam satu tempat maka dia memiliki makna yang satu. (Lihat At-Tamhid Syarh Kitabit Tauhid, Syeikh Shalih Alu Syeikh hal: 415-416)

  36. @Dianth,
    Contoh yang lain:
    Pertama: Faqir dan Miskin, menurut sebagian ulama, faqir adalah orang yang tidak memiliki penghasilan sama sekali, dan miskin adalah orang yang memiliki penghasilan tapi tidak mencukupi kebutuhan pokoknya.

    Kalau disebutkan “faqir” dalam sebuah ayat atau hadist: saja maka masuk di dalamnya “miskin”, sebagaimana dalam hadist:

    “Apabila mereka menaatimu untuk shalat maka beritahulah bahwasanya Allah mewajibkan mereka untuk bershadaqah dari harta mereka (zakat), diambil dari orang kaya mereka dan diberikan kepada fuqara mereka.” (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

    Dan kalau disebutkan miskin saja maka masuk di dalamnya faqir.
    Akan tetapi kalau disebutkan keduanya sekaligus maka maknanya berlainan, sebagaimana dalam firman Allah:

    “Sesungguhnya shadaqah (zakat) diperuntukkan bagi orang-orang fakir dan orang-orang miskin….”

    Kedua: Islam dan Iman, Islam berkaitan dengan perkara-perkara yang dhahir (seperti syahadat, shalat, zakat, puasa, haji )sedangkan iman berkaitan dengan perkara -perkara yang bathin (beriman kepada Allah, malaikat, para rasul dll)

    Kalau disebutkan dalam ayat atau hadist islam saja maka masuk di dalamnya iman, dan kalau disebutkan iman saja maka masuk di dalamnya islam. Akan tetapi kalau disebutkan keduanya sekaligus maka maknanya berlainan.

    Demikian pula kalimat rabb dan ilah, rabb adalah yang mencipta, memelihara, memberi rezeki , sedangkan ilah adalah yang disembah.

  37. @Dianth,
    Kalau disebutkan dalam ayat atau hadist rabb saja maka masuk di dalamnya makna ilah, sebagaimana dalam pertanyaan:
    Man rabbuka? Jadi maknanya: Siapakah rabbmu dan sesembahanmu?

    Diantaranya dalilnya, hadist ‘Ady bin Hatim radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

    “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan salib emas tergantung di leherku, maka aku mendengar beliau membaca ayat:

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.”

    Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, mereka (orang-orang nashara) tidak menyembah mereka! Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Iya,akan tetapi para alim dan rahib tersebut menghalalkan bagi mereka (para pengikut) apa yang Allah haramkan kemudian mereka menghalalkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan kemudian mereka juga ikut mengharamkan, maka inilah ibadah mereka.” (HR. At-Tirmidzy 5/278, Al-Baihaqy 10/116 dan Ath-Thabrany di Al-Mu’jamul Kabir 17/92 , dan dihasankan Syeikh Al-Albany)

    Dalam hadist ini Ady bin Hatim memahami bahwa menjadikan para alim dan rahib sebagai rabb maksudnya adalah menjadikan mereka sebagai ilah/sesembahan mereka.

    Wallahu a’lam.

    Ustadz Abdullah Roy, Lc.

    Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com

  38. fasalu ahlazzikri in kuntum la ta’lamun….
    baca : “pengantar ilmu mustholahul hadist”, karangan Ustad Abdulhakim bin amir Abdat–hafizahullah.

  39. HUBUNGAN BIDAH DAN MASLAHAT MURSALAH

    Oleh
    Muhammad bin Husain Al-Jizani

    A. Kesamaan Antara Bidah Dan Mashlahat Mursalah

    [1]. Kedua-dua (baik bidah ataupun maslahat mursalah) mrpk bagian dari hal-hal yg belum pernah terjadi pada masa nabi apalagi maslahat mursalah-. Kejadian seperti ini umum berupa bidah-bidah dan ini sangat sedikit- pada zaman Nabi, seperti dalam kisah tiga orang yg berta tentang ibadah Nabi Shallallahu aihi wa sallam.

    [2]. Sesungguh masing-masing bidah ‚biasanya- dan maslahat mursalah kedua luput dari dalil yg spesifik, krn dalil-dalil umum yg muthlaq-lah yg paling mungkin untuk dijadikan sebagai dalil kedua hal itu.

    B. Sisi Perbedaan Antara Bidah Dengan Mashlahat Mursalah

    [1]. Bidah mempunyai cirri khusus yaitu bahwa bidah tdk terjadi, kecuali dalam hal-hal yg sifat ibadah (taabbudiyyah) dan hal-hal yg digolongkan ibadah dalam masalah agama. Berbeda dgn mashlahat mursalah, krn mashlahat mursalah ialah hal-hal yg dipahami makan (tujuannya) secara akal, dan seandai disodorkan pada akal tentu akal akan menerimanya, ia juga sama sekali tdk ada hubungan dgn taabbud (masalah yg sifat ibadah) atau dgn hal-hal yg sejalan dgn taabud dalam syariat.

    [2]. Bidah mempunyai cirri khusus yaitu mrpk sesuatu yg dimaksud sejak awal oleh pelakunya. Mereka –biasanya- taqarrub kpd Allah dgn mengamalkan bidah itu dan mereka tdk berpaling darinya. Sangat jauh kemungkinan –bagi ahli bidah- untuk menghilangkan amalannya, krn mereka menganggap bidah itu menang di atas segala yg menentangnya. Sedangkan mashlahat musrshalah mrpk maksud yg kedua bukan yg pertama dan masuk dalam cakupan sarana pendukung (wasail), krn sebenar mashlahat murshalah ini disyariatkan sebagai sarana pendukung dalam merealisasikan tujuan syariat-syariat yg ada. Sebagai bukti hal itu, mashlahat murshalah bisa gugur bila berhadapan dgn mafsadah (kerusakan) yg lebih besar. Maka sangat tdk mungkin untuk mendatangkan bidah melalui jalur mashlahat mursalah.

    [3]. Bidah juga mempunyai ciri khusus yaitu bahwa keberadaan membawa hal yg memberatkan mukallafun (orang-orang yg dibebani untuk melaksanakan syariat) dan menambah kesusahan mereka. Sedangkan mashlahat murshalah sesungguh mendatangkan kemudahan dan menghilangkan kesulitan mukallafun atau membantu dalam menjaga hal-hal yg sangat penting bagi mereka.

    [4]. Bidah juga mempunyai kekhususan bahwa keberadaan bertentangan dgn maqashidusysyariiah dan meruntuhkannya. Berbeda dgn mashlahat murshalah yg –agar diakui keberadaan secara syariat- hrs masuk di dalam maqashidusysyariah dan membantu pelaksanaannya. Jika tdk , maka ia tdk diakui.

    [5]. Mashlahat murshalah juga memiliki ciri khusus, yaitu tdk pernah ada pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dikrnkan tdk ada faktor pendorong utnuk melakukan atau sekalipun faktor itu ada, tapi ada hal yg menghalanginya. Sedangkan bidah yg tdk ada pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenar memiliki faktor pendorong dan tuntunan yg banyak, dan tdk ada yg menghalanginya. (Ini berarti bidah itu tdk benar, -pent).

    Jadi mashlahat murshalah itu jika dipengaruhi syaratnya, maka sangat bertentangan dan bersebarangan dgn bidah, sehingga tdk mungkin bidah bisa masuk melalui jalan mashlahat murshalah, krn jika hal ini terjadi gugurlah keabasahan maslahat tersebut dan tdk dinamakan mashlahat mursalah, tapi dinamakan mashlahat mulghah (yg dibatalkan) atau mafsadah (yg dirusak).

    [Disalin dari kitab Qawaaid Marifat Al-Bida, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bidah, Pustaka Azzam]

  40. “sebaliknya orang yang menyembah sesuatu menunjukkan bahwa dia meyakini rububiyyahnya”.

    seharusnya anda sadar bahwa kaum musyrikin Arab yang menyembah berhala meyakini berhalanya sedikit atau banyak, besar atau kecil memiliki sifat-sifat rubbubiyah.

    Kata menyembah sudah menunjukkan, karena menyembah ataupun ibadah adalah sebuah perbuatan khusus yang ditujukan kepada sesuatu yang diyakininya sebagai Rabb atau mempunyai sifat-sifat rubbubiyah dan bergantung padanya.

  41. apakah orang-orang musyrik / kafir / non muslim bisa menjawab pertanyaan 2 malaikat tersebut?

  42. lihat artikel ana di bawah Bro ttg hubungan dan perbedaan bidah dan mashlahat mursalat..pahami dengan akal…agar subhatnya hilang:)
    syukron…

  43. tetap saja perbedaan ini hanyalah perbedaan istilah bila dilihat dari satu sisi, tetapi keduanya sama bila dilihat secara menyeluruh. Illah tiada lain adalah Rabb yang disembah.

  44. keterangan anda ini juga menunjukkan bahwa Illah dan Rabb adalah sama. Maka kemusyrikan itu adalah menyembah Rabb yang lain selain Allah.

  45. jadi wahabi ga punya dalil ya untuk maslahat mursalah, atau menggunakan pendapat dan pemahaman Muhammad bin Husain Al-Jizani sebagai dalil pengganti hadits Nabi SAAW ??

    apakah yang membuat2 maslahat mursalah akan mendapat pahala?

  46. donpay :
    fasalu ahlazzikri in kuntum la ta’lamun….
    baca : “pengantar ilmu mustholahul hadist”, karangan Ustad Abdulhakim bin amir Abdat–hafizahullah.

    akhi… kan anda senantiasa menyebutkan (ketika membahas hadits tanduk setan) mana yang shahih.
    nah, saya tanya kepada anda apakah hadits yang anda sebut mengenai fitnah Iraq itu kualitasnya shahih atau tidak?
    mengenai saran anda agar saya membaca pengantar Ilmu Mustholahul hadits karya Istadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, insya Allah jika nanti dah pulang ke Indonesia akan saya cari buku tersebut. karena saya baru mendengar judul buku tersebut.

    saya sangat heran melihat Anda yang senantiasa meminta dalil hadits, namun ketika diberikan haditsnya malah mempertanyakan kualitasnya (seolah-olah anda adalah pakar hadits) dan andapun malah membantah dengan menyebutkan hadits riwayat al-Thabrani tanpa menyebutkan kualitasnya.
    makanya jika anda merasa mampu menilai (menakhrij) hadits, saya TANTANG anda menakhrij hadits tersebut!!!

  47. Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa Rabb dan Ilah di dalam bahasa arab termasuk 2 kata yang jika bersatu maka berpisah, dan jika berpisah maka bersatu, maksudnya jika berada dalam satu tempat maka memiliki makna yang berlainan, dan jika tidak berada dalam satu tempat maka dia memiliki makna yang satu. (Lihat At-Tamhid Syarh Kitabit Tauhid, Syeikh Shalih Alu Syeikh hal: 415-416)

  48. Mengatakan bahwa kaum musyrikin telah mengenal Allah dan bertauhid rubbubiyah yaitu mengesakan Allah atas sifat-sifat rubbubiyahnya adalah kesimpulan yang tidak sesuai kenyataan.

    Apalagi mengatakan tidak perlu untuk mengenalkan manusia kepada Allah, atau membahas sifat-sifat Allah, karena menganggap manusia secara fitrah telah mengakui dan mengenal Allah.

    Entah mengapa kaum wahabi bisa berpikiran seperti ini dengan hanya mengambil beberapa ayat Al Quran, tetapi tidak melihat masalah ini secara keseluruhan.

    Kalaulah dibanyak ayat kaum musyrikin itu mengakui Allah sebagai pencipta, pemberi rezeki dan sebagainya, apakah mereka dapat disebut telah mengenal Allah dengan sebenar-benarnya penegenalan? atau hanya hal-hal itu yang mereka tahu? bahkan pengetahuan mereka dan pengenalan mereka terhadap Allah hanya sedikit dan banyak salahnya.

    -Bukankah mereka menganggap Allah mempunyai anak?

    Surah Al Baqarah ayat 116:

    “Mereka berkata, “Allah mempunyai seorang anak”. Maha Suci Allah! Bahkan, segala yang berada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah. Seluruhnya tunduk kepada-Nya.”

    Berarti mereka belum mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.

    -Bukankah mereka meragukan Allah mampu membangkitkan orang yang mati

    surat Ya Sin (36): 78

    Dan dia (manusia durhaka) membuat perumpamaan bagi kami dan dia lupa kepada kejadiannya. Dia berkata,”Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” …….

    Berarti mereka tidak mengetahui arti Maha pencipta dengan sebenar-benarnya. Apa artinya mengakui Allah sebagai pencipta tapi meragukan Allah mampu membangkitkan manusia lagi?

    - perhatikanlah sebab-sebab turunnya surat Al Ikhlas, bukankah mereka menanyakan tentang Allah kepada nabi.

    ……..Terangkanlah kepada kami macam Tuhan yang engkau sembeh itu. Apakah Dia dari emas atau perak?”, lalu Allah menurunkan surah ini.
    (HR. Dahhak)

    - Coba anda tanya orang yang beragama nasrani, bukankah mereka juga akan menjawab Allah. tapi apakah mereka telah mengenal Allah dengan sebenar-benarnya?

    Maka sunnguh ajaib pendapat ulama wahabi tentang orang musyrik yang mengenal Allah, tentulah mereka itu tidak mengenal Allah dengan sebenarnya dan tidak pantas disebut bertauhid Rubbubiyah. Bagaimana bisa disebut bertauhid rubbubiyah bila mereka salah mengenalNya dengan sifat-sifatNya?

    Maka Allah telah mengutus Rasul untuk mengenalkan Allah yang sebenarnya, bukan Allah menurut pemikiran kaum musyrikin, dengan demikian mereka akan menyembah Allah dan bertauhid kepada Allah.

  49. Astaghfirullah al-Azhim….
    buat bang Admin, tolong delete saja komentar saya BAGIAN JUDUL_JUDUL KITAB ILMU HADITS yang biasa saya gunakan.
    makasih bang Admin

  50. intinya bid’ah adalah perkaran baru yang berkaitan dengan ibadah.
    Contoh :
    - maulid”an”
    - yasin”an”
    - tahlil”an”
    - Tawasul yang bid’ah
    - ziarah kubur yang bid’ah
    - tabarruk, ngalap berkah dengan kuburan orang saleh

    perhatikan, bentuknya ibadah sifatnya baru dan mengharapkan pahala.
    namun kalo bid’ah secara bahasa : mobil, komputer, speker…dll
    Wallahu ‘alam.

  51. dianth@

    Mas Dianth, itulah sebabnya mereka itu oleh anak-anak ASWAJA sering disebut burung beo karena tak tahu maksud yg diomongkannya sendiri. Kelihatannya memang ada benarnya kalau kaum wahabi itu disebut burung beo, Istilah yg paling kontradiktif dari kaum Wahabi/salafy adalah istilah TAUHID RUBUBIYYAH yg dilabelkan kepada kaum Musyrik. Bagaimana bisa kata TAUHID disandingkan kepada musyrik padahal keduanya istilah yg bertolak belakang. Inilah kekonyolan yg parah dari kaum SA-WAH. Afwan….

  52. Kalau demikian bukankah sering disebutkan kata Illah bagi kaum musyrikin itu tidak berada dalam satu tempat dengan kata Rabb? Artinya kaum musyrikin itu menganggap Illahnya juga Rabb dong…..?

  53. Yah, begitulah mas Aryo, seharusnya mereka juga belajar dengan ulama aswaja jangan dengan ulama wahabi aja yang kesimpulannya sering kontradiktif dengan penjelasannya.

  54. TAUHID RUBUBIYAH MENGHARUSKAN ADANYA TAUHID ULUHIYAH

    Oleh
    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan

    Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dan itulah tauhid uluhiyah.

    Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah ma’bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do’a kecuali Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih kurban atau bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untukNya dan karenaNya semata.

    Jadi, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah . Karena itu seringkali Allah membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

    “Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” [Al-Baqarah : 21-22]

    Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyem-bahNya dan beribadah kepadaNya. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid rububiyah, yaitu penciptaanNya terhadap manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan hujan, penumbuhan tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba. Maka sangat tidak pantas bagi mereka jika menyekutukan Allah dengan yang lainNya; dari benda-benda atau pun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan lainnya.

    Maka jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiyah. Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemadharatannya. Setelah itu berpindah kepada cara-cara ber-taqarrub kepadaNya, cara-cara yang bisa membuat ridhaNya dan yang menguatkan hubungan antara dirinya dengan Tuhannya. Maka tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah. Karena itu Allah ber-hujjah atas orang-orang musyrik dengan cara ini. Dia juga memerintahkan RasulNya untuk ber-hujjah atas mereka seperti itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tanganNya berada keku-asaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengeta-hui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” [Al-Mu'minun : 84-89]

    “Artinya : (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; …” [Al-An'am : 102]

    Dia berdalil dengan tauhid rububiyah-Nya atas hakNya untuk disembah. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi tujuan dari pencipta-an manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” [Adz-Dzariyat : 56]

    Arti ” Ya’buduun ” adalah mentauhidkanKu dalam ibadah. Seorang hamba tidaklah menjadi muwahhid hanya dengan mengakui tauhid rububiyah semata, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyah serta mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun mengakui tauhid rububiyah, tetapi hal ini tidak membuat mereka masuk dalam Islam, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka. Padahal mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

    “Artinya : Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: ‘Allah’, …” [Az-Zukhruf : 87]

    “Artinya : Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Ma-ha Mengetahui’.” [Az-Zukhruf : 9]

    “Artinya : Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: “Allah”. [Yunus : 31]

    Hal semacam ini banyak sekali dikemukakan dalam Al-Qur’an. Maka barangsiapa mengira bahwa tauhid itu hanya meyakini wujud Allah, atau meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang mengatur alam, maka sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yang dibawa oleh para rasul. Karena sesungguhnya ia hanya mengakui sesuatu yang diharuskan, dan meninggalkan sesuatu yang mengharuskan; atau berhenti hanya sampai pada dalil tetapi ia meninggalkan isi dan inti dari dalil tersebut.

    Di antara kekhususan ilahiyah adalah kesempurnaanNya yang mutlak dalam segala segi, tidak ada cela atau kekurangan sedikit pun. Ini mengharuskan semua ibadah mesti tertuju kepadaNya; pengagungan, penghormatan, rasa takut, do’a, pengharapan, taubat, tawakkal, minta pertolongan dan penghambaan dengan rasa cinta yang paling dalam, semua itu wajib secara akal, syara’ dan fitrah agar ditujukan khusus kepada Allah semata. Juga secara akal, syara’ dan fitrah, tidak mungkin hal itu boleh ditujukan kepada selainNya.

    [Disalin dari kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, Penerjemah Agus Hasan Bashori Lc, Penerbit Darul Haq

  55. kang donpay dari kesimpulannya ustadz anda mengatakan bahwa kata robb itu sama dengan kata ilah. ini gimana kesimpulan teh?
    di satu waktu katanya rab ama ilah berbeda disatu kesempatan lagi rabb itu maknanya ilah.
    kang cari guru tuh yang bener atuh jadi kesimpulannya ngak mencla mencle.

  56. donpay miskin pemahaman dia gak faham komentarnya sendiri sampai mengambil kesimpulan yang salah parah.

  57. itulah donpay begitu juga abu Umar ga faham dengan komentarnya sendiri kontradiktif

  58. wah parah donpay taqlid buta sama ustadz-ustadz wahabi yang gak paham dengan tulisannya sendiri, kacau kacau kaum muda lemah akal dijadikan panutan.

  59. Anda tidak memahami pembahasan saya.

    justru dari pembahasan ana, penyebab kaum musyrikin Arab itu tidak bertauhid ulluhiyah menurut istilah ulama ente adalah karena mereka tidak bertauhid rubbubiyah.

    “Hal semacam ini banyak sekali dikemukakan dalam Al-Qur’an. Maka barangsiapa mengira bahwa tauhid itu hanya meyakini wujud Allah, atau meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang mengatur alam, maka sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yang dibawa oleh para rasul. Karena sesungguhnya ia hanya mengakui sesuatu yang diharuskan, dan meninggalkan sesuatu yang mengharuskan; atau berhenti hanya sampai pada dalil tetapi ia meninggalkan isi dan inti dari dalil tersebut”.

    mengapa mereka belum mengetahui hakikat tauhid (ulluhiyah) dan meninggalkan sesuatu yang mengharuskan (tauhid ulluhiyah)? Karena mereka tidaklah bertauhid rubbubiyah.

    “meyakini wujud Allah, atau meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang mengatur alam”

    Mereka, kaum musyrikin itu tidak memahami wujud Allah yang sebenarnya, juga tidak memahami makna Al khaliq yang sesungguhnya. Banyak ayat-ayat lain yang memberikan gambaran bahwa mereka mempunyai gambaran yang salah tentang Allah, seperti Allah mempunyai anak, atau meragukan Allah (khaliq) sanggup membuat kebangkitan kembali dan mengingkari hari pembalasan (akhirat).

    “Maka jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiyah. Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemadharatannya. Setelah itu berpindah kepada cara-cara ber-taqarrub kepadaNya, cara-cara yang bisa membuat ridhaNya dan yang menguatkan hubungan antara dirinya dengan Tuhannya”

    inilah adalah fitrah, menurut ulama ente, kalau tidak sesuai fitrahnya maka tentu ada yang salah. Dan kesalahan itu tentulah bersumber dari awalnya…. yaitu pemahamannya akan sifat-sifat Rubbubiyah Allah.

    Kalau tauhid rubbubiyah tidak menyebabkan tauhid ulluhiyah lalu apa yang menyebabkan tauhid ulluhiyah ?

    Kalau ada yang tidak bertauhid Ulluhiyah, maka sesuai fitrahnya, pastilah orang tersebut tidak bertauhid rubbubiyah….. kalau tidak demikian apa sebabnya?

  60. makasih sebelumnya buat bang Admin…
    Akhi Donpay…(donpay ntu kependekan dari down payment bukan sih???:-))
    kelompok SaWah kan senantiasa membangga-banggakan kemampuan hadits mereka dan mereka juga memiliki ulama-ulama yang bergelar Muhaddits Hadza al-’Ashr, Syaikh al-Islam dan gelaran-gelaran lainnya.
    satu pemintaan saja akhi donpay,dari saya buat anda, COBA SEBUTKAN KUALITAS HADITS FITNAH IRAQ yang anda koar-koarkan! boleh dari COPY-PASTE, lebih baik lagi hasil usaha anda sendiri.

  61. intinya pembagian tauhid menjadi tiga itu tidak bid’ah…setuju bro semua di ummati?

  62. abu umar kesiangan nt , semua juga udah tahu jika Iblis menolak perintah Allah SWT untuk sujud… , terus apa maksudnya nt nyebut-nyebut iblis terus….. kangen ya sama iblis…?

  63. lihat artikel yang dikirim Jafar Bro…
    di artikelnya abou fateh yg tidk ilmiah…

  64. Mas Syahid, di tunggu loh ulasannya, biar kami semua dapat menambah ilmu . Salam

  65. @ donpay
    jangan-jangan anda belum menemukan di website-website langganan anda mengenai pembahasan hadits tersebut???
    maaf sekiranya nanti saya dianggap berburuk sangka. soalnya sepanjang saya mengikuti blog ini saya sering mendapati anda hanya mengCOPY-PASTE saja dari website-website kelompok anda.
    jikalau anda akan menganggap saya sebagai orang yang adiluhung, silahkan saja (maaf sekiranya nanti lagi-lagi saya dianggap berburuk sangka). saya berbuat seperti ini semata-mata karena miris melihat anda berkoar-koar mengenai kualitas hadits, namun ketika ditanya balik hanya menganjurkan membaca buku ilmu hadits, itu pun yang disusun oleh ulama anda. seolah-olah hanya anda beserta kelompok anda dan ulama-ulama anda sajalah yang paham dan mengerti ilmu hadits.

  66. baca lagiy,
    “Jadi, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah . Karena itu seringkali Allah membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

    “Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” [Al-Baqarah : 21-22]

    Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyem-bahNya dan beribadah kepadaNya. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid rububiyah, yaitu penciptaanNya terhadap manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan hujan, penumbuhan tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba. Maka sangat tidak pantas bagi mereka jika menyekutukan Allah dengan yang lainNya; dari benda-benda atau pun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan lainnya.”

  67. intinya pembagian tauhid menjadi tiga itu bid’ah dolalah … di ummati semua setuju kecuali kaum muda lemah akal . ?

  68. setuju bagaimana….. wong kesimpulan tauhidnya sudah salah kaprah. Maka kenalilah Allah dan sifat-sifatNya dengan sebenarnya. baca dan pahamilah sifat 20.

  69. betul sekali Mas Ahmadsyahid, pembagian tauhid 3 itu bidah dholalah.

  70. biar mudah difahami oleh kaum muda lemah akal (wahabi)

    kata Ilah dan Robb itu seperti kata Faqir dan Miskin seperti kata Hak dan Kewajiban berbeda Namun tidak bisa dipisahkan.

    tidak mungkin ada orang yang bertauhid Rububiyah saja tanpa Tauhid Uluhiyah
    tidak mungkin hanya Faqir saja yang diberi tanpa memberi Miskin
    tidak mungkin hanya Hak saja tanpa dibarengi dengan kewajiban

    jadi kesimpulan bahwa ada sebagian orang yang hanya bertauhid Rububiyah saja adalah kerancuan dalam berfikir , akibat lemah akal dalam memahami ayat-ayat al-qur`an dan Hadist Rosul SAW .

  71. loh kok saya yang disuruh baca lagi….?

    “Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyem-bahNya dan beribadah kepadaNya. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan tauhid rububiyah, yaitu penciptaanNya terhadap manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta seisinya, penurunan hujan, penumbuhan tumbuh-tumbuhan, pengeluaran buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba”

    Mengapa Allah menunjukkan dalil? agar mereka mengetahui siapa Allah dan apa sifat-sifat rubbubiyah Allah sehingga timbul kesadarannya hanya Allah yang berhak disebut Rabb, sehinnga dengan mereka meniadakan Rabb selain Allah, otomatis mereka akan mentauhidkan Allah bahwa tiada Ilah selain Allah.

    Pahami mas…..

    saya justru ingin bertanya dulu kepada anda, apakah kaum musyrikin yang menganggap Allah punya anak, meragukan Allah mampu membangkitkan orang mati, dapat disebut bertauhid rubbubiyah?

  72. abu umar mungkin sudah tua wajar jika beliau lemah akal wong kaum muda nya aja akalnya lemah.

  73. emang maulidan dll itu ibadah, dan memang mendapatkan pahala,… emang kalo kata wahabi bukan ibadah ya? ga dapet pahala? kalo sholat ke masjid naik mobil dapet pahala ga ? kalau khotbah pake speker dapet pahala, juga ibadah, bersihkan mesjid pake sapu dapet pahala, juga ibadah… semuanya itu ibadah, berpahala, dalam fikih hukumnya sunnah… dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak apa2….

    saya tanya dalilnya / haditsnya maslahat mursalah kok ga dijawab ya? jangan2 gada dalilnya / haditnya…. lagian siapa sih Muhammad bin Husain Al-Jizani , mujtahid aja bukan kok bisa2 nya wahabi taklid….

  74. donpay :
    lihat artikel yang dikirim Jafar Bro…
    di artikelnya abou fateh yg tidk ilmiah…

    Lho??? saya kan bertanya kepada anda wahai saudaraku!
    saya tidak mempermasalahkan bro Ja’far karena beliau tidak mempertanyakan kualitas hadits. dalam artikel tersebut, sedangkan anda senantiasa menanyakan apakah haditsnya Shahih, Dha’if, atau Maudhu?
    atau jangan-jangan menurut anda, pembagian hadits itu hanya terbatas pada Shahih, Hasan, dan Dha’if saja???
    jikalau benar dugaan saya (mohon maaf jika dianggap berburuk sangka, takut nanti dibawain dalil …) betapa dangkalnya pemahaman anda akan ilmu hadits dan membuktikan satu ungkapan: TONG KOSONG NYARING BUNYINYA….

  75. mantab mas syahid…
    tidak mungkin orang musyrik itu bertauhid ( rububiyah )
    tidak mungkin orang bertauhid ( muslim ) itu musyrik ( ilahiah )

    kalo diperhatiin, emang bener tauhid tiga mirip trinitas ya…

    Tuhan itu satu tapi tiga… tiga tapi satu….

    Kata wahabi begini :
    Tauhid itu satu tapi tiga… tiga tapi satu…

    Kalo cuma satu doang, tauhid rububiyah doang ya belum bertauhid donk, harus bertauhid ilahiayah juga.. berarti musyrik ( belum bertauhid )
    Eh ternyata yang jelas2 tuhannya banyak / rabb nya banyak, musyrikin Quraisy, malah dibilang ummat bertauhid….

  76. jadi menurut wahabi musyrikin / kafir / non muslim bisa menjawab pertanyaan malaikat ga ” man rabbuka ? “

  77. jadi intinya maulidan itu untuk mempermudah ( ngikutin gaya wahabi kalo ditanya tauhid tiga )…. yaitu mempermudah kita mengenal sejarah perjuangan Nabi SAAW, meresapi akhlak beliau, mendengar tausiah, dll yang semuanya MEMANG ibadah dan berpahala

    jadi intinya yasinan itu untuk mempermudah …. yaitu mempermudah penyebutan rangkaian kegiatan 2 amal sholeh seperti pengajian, ceramah, mendo’akan almarhum, dll yang semuanya MEMANG ibadah dan berpahala

  78. Tauhid Rububiyah berkaitan dengan Mencipta, Memberi rizki …disinilah kaum musyrikin mengakuinya …
    sedangkan Surat Al Ikhlas tentang Tahid Asma Wa Sifat, yang menjelaskan tentang Nama dan sifat Allah dan menafikan dari sifat tercela ….

  79. koq jadi hak dan kewajiban?
    kagal nyambung dehhh…hehehehe…
    kalo dia terpisah atau menyendiri hak saja, maka apakah hak diartikan kewajiban?
    blajar bhs indonesia dulu Mas …

  80. bilang nya jangan tauhid rububiyah donk bro… jangan ada embel2 tauhid di depannya donk…. dimana2 tauhid itu mengesakan, berlawanan dengan musyrik yang menyekutukan, bilangnya begini aja… musyrikin itu mengakui rububiyah Allah….

    jadi tatabahasa aja wahabi sedikit ilmunya, masih kalah jauh lah sama Imam Syafi’ie yang jagonya bahasa arab di zamannya….

    tolong ente jujur aja mengakui kesalahan di atas… dan di revisi tuh seluruh buku2 wahabi ……

  1. Pingback: Lima puluh aqidah « Mutiara Zuhud – Letakkan dunia pada tanganmu dan akhirat pada hatimu

  2. Pingback: “Kembali Kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah” Cuma Jadi Jargon Sekte Sesat « UMMATI PRESS

  3. Pingback: Jawaban Buat Seseorang Yang Mengaku Sedang Mencari Aswaja Yang Benar - Ummati Press | Ummati Press

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


+ 4 = 12

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>