Friday , 31 October 2014
Breaking News
Home / Berita Fakta / Kembali ke Al Qur’an – Al Sunnah Itu Kalau Anda Seorang Mujtahid Mutlaq

Kembali ke Al Qur’an – Al Sunnah Itu Kalau Anda Seorang Mujtahid Mutlaq

Akibat yang timbul dari jargon kembali ke Al Qur'an dan SunnahOleh Qodrat Arispati

Sungguh Tidak Proporsional Jika Orang-orang Awam Disuruh Kembali ke Al Qur’an dan Al sunnah. Apalagi jika yang menyerukan juga sesama kaum awam, sebab seruan itu hanya pas jika diserukan oleh orang-orang yang kapable keilmuannya,  diserukannya juga kepada orang-orang yang kapable. Sungguh tidak semudah yang diucapkan kembali ke al Qur’an dan al Sunnah, diperlukan ilmu yang memadai. Singkatnya bahwa kembali ke Al Qur’an dan Al sunnah itu ditujukan kepada para pengambil keputusan hukum-hukm Syar’i, sungguh berlebihan jika ini ditujukan kepada kaum wawam. Akibat yang ditimbukannya bukan kebaikan akan tetapi hanya fitnah-fitnah di tengah Ummat Islam. 

 

Sebagaimana akhir-akhir ini di dunia internet seperti Facebook atau blog-blog pribadi terutama blog milik pengikut sekte Salafy Wahabi dan variant-nya sudah semakin banyak yang latah menyerukan dengan sombongnya agar kembali ke Al Quran dan Al Sunnah. Bahkan mereka mengklaim sekte merka sebagai satu-satunya pengikut Al Qur’an dan Sunnah sedangkan yang bukan golongannya dianggap sebagai penyembah akal, ahlul hawa dan ahlul bid’ah. Oke, no problem, terserah mereka apa yang ingin dikatakannya.

Kembali ke tema awal, adakah yang salah dengan seruan mereka kembali ke Al Qur’an dan Al Sunnah ini? Sepintas memang sepertinya anda melihat tidak ada yang salah tetapi bahkan yang tampak bagi anda dari seruan ini adalah kebenaran belaka. Namun sebelum anda bisa melihat kekeliruan dari seruan yang asal-asalan ini mari kita pertanyakan kepada mereka hal-hal berikut:

1) Yang menyerukan itu orangnya sudah hafal Al Quran 30 juz atau belum, dan sudahkah mereka menguasai Ulumul Qur’an dan ilmu-ilmu tafsir Al Qur’an?

2) Bagi mereka itu perlu ditanyakan sudah berapa ribu hadits yang dihafalnya dan sudahkah ilmu-ilmu Mustholah hadits dikuasainya?

3) Dalam sehari semalam mereka mamapu berapa juz yang dibaca dari Al Quran?

4) Masih ada banyak pertanyaan perlu diajukan tetapi tiga saja dulu bagaimana mereka mampu menjawab dengan jujur?

 Pertanyaan diatas adalah konsekwensi logis dari arogansi dakwah Wahabi yang ingin memunculkan citra bahwa Ummat Islam sudah keluar dari bingkai al Qur’an dan Al sunnah dan wahabi mencitrakan dirinya  sebagai satu-satunya pengikut Al Qur’an dan al Sunnah. Okelah tak mengapa, no problem. Akan tetapi, kalau mereka berani mengajak kembali ke Al Qur’an dan Al Sunnah, maka mereka harus mengetahui dari mana memulainya dan kemana tujuannya. Kalau tidak tahu apa-apa, lantas bagaimana bisa diikuti?

Apalagi jika yang menyerukan itu tergolong orang-orang awam yang masih pemula dan baru belajar baca Al qur’an berani-beraninya berseru demikian yang sering diikuti sikap arogans. Tidakkah mereka sadar apabila mengajak-ajak kembali kepada Al Qur’an dan Al Sunnah, sekurang-kurangnya mereka harus ahli tentang Ulumul Qur’an dan Ulumul Sunnah. Atau paling tidak mestinya  mereka hafal 30 Juz Al Qur’an dan beberapa ribu hadits-hadits shahih, hadits hasan dan hadits-hadit dhoif atau bahkan yang maudhu’ atau palsu. Kenapa mesti begitu, ya karena para Imam Mujtahid Mutlaq semisal Imam Ahmad itu hafal satu juta hadits beserta sanadnya, hafal Al Qur’an 30 juz dan mengetahui maksud dan tafsirnya. Demikian juga kurang lebihnya para Imam-imam yang lain semisal Imam syafi’i, Iamam Abu Hanifah dan Imam Malik. Bahkan demikian para penerus mereka semisal Imam Ibnu hajar Al Atsqalani, Imam Nawawi, Imam Al Suyuti, Iamam al ghozali dan masih terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu.

*****

Rasanya tidak salah kalau kaum wahabi or Salafi mulai berani kritis terhadapa dirinya sendiri. Bagaimana  mau mengajak-ajak kembali ke Al Qur’an dan al sunnah kalau ternyata bukan ahlinya? Kebanyakan mereka yang petantang-petenteng di facebook atau di blog-blog mereka, memberi i’rab pada susunan kalimat bahasa Arab saja nggak bisa, balaghah nggak mudeng, usul tafsir Al qur’an dan asbabul wurud hadits juga nggak faham, apalagi yang baru belajar tajwid makharijul huruf dan tahsin qiraat belum bener, bagaimana mereka berseru mengajak-ajak kembali ke al Qur’an dan al Sunnah? Kalau orang yang mengajak-ajak itu tidak kapable secara nyata seperti yang disebutkan di atas maka sangat pantas jika dikatakan mereka adalah orang-orang pendusta. Jadi dengan demikian tidakkah seharusnya kaum Wahabi kritis terhadap diri mereka sendiri agar Allah Swt menurunkan hidayah-NYA?

Sebelum ditutup pembahasan masalah ini, sebaiknya kita hayati ayat Qur’an berikut ini agar ke depan bisa lebih kritis terhadap diri sendiri, semoga bisa terhindar dari sikap arogansi dakwah Salafy Wahabi yang selalu ucapan-ucapan mereka menimbulkan fitnah di tengah-tengah kaum muslimin.

يا أيها الذين آمنوا لم تقولون ما لا تفعلون
كبر مقتا عند الله أن تقولوا مالا تفعلون

Mayoritas ulama tafsir mengatakan ayat ini umum, bukan khusus pada sebab nuzulnya.
Dan perlu diketahui bahwa ayat ini ada sebab nuzulnya, insyaallah nanti akan kita ketengahkan secara singkat di sini.

Imam Thobari memberi makna ayat tersebut begini :

“Wahai orang-orang yang beriman, dan membenarkan Allah dan rasul-NYA, kenapa antum mengatakan suatu perkataan yang kalian tidak bisa mengamalkannya secara benar, lalu amal-mal  antum tidak sesuai dengan pengakuan kalian? Sangat besar murka Tuhan kamu dangan perkataan yang kalian katakan tadi, padahal kamu tidak sanggup mengerjakannya.”

Diantara asbabun nuzulnya ayat ini adalah mencela sebagian sahabat Nabi, yang mana mereka berbangga dengan kata-kata manis di tengah umum, dimana mereka mengaku-ngaku dengan perkataan mereka, bahwa mereka telah mengerjakan amal baik paling banyak, paling sesuai ajaran Nabi (nyunnah), paling benar sesuai ajaran al Qur’an, paling banyak berinteraksi dengan Qur’an, padahal mereka tidak mengerjakan nya alias “omdo” (omong doang). Dan kelakuan seperti ini banyak dilakukan oleh para pengikut Wahabi or Salafy, tidakkah sebaiknya mereka mulai sekarang dan seterusnya berani kritis atas diri mereka sendiri? Tidakkah sebaiknya mereka perlu berpikir panjang sebelum mengatakan amal-amal shalih kaum muslimin sebagai amalan bid’ah yang menurut mereka sesat yang bisa mengantarkan muslimin ke neraka?

Sedangkan Imam syafi’i berpendapat dengan ayat ini sebagai dasar hukum wajibnya melaksanakan nazar dan janji yang bagus. Imam Syafi’i adalah ahli hukum Islam, maka lihatlah betapa tepat apa yang menjadi pendapatnya. Ini karena beliau amat sangat kapable, sehingga kaum muslimin yang terdiri dari para Ulama sedari dulu sampai hari ini menobatkannya sebagai Mujtahid Mutlaq.

Oleh karena itu berkaitan dengan seruan kembali ke Al; Qur’an dan Al Sunnah oleh kaum Wahabi,  baik mereka yang awam atau para ulamanya sebaiknya menimbang kapabilitas mereka sendiri. Bandingkan dengan para Imam Mujtahid, adakah ilmu-ilmu yang mereka kuasai ada “seujung kuku”-nya para Imam Mujtahid semisal Imam Syafi’i? Para Imam Mujtahid yang sedemikian sempurna penguasaan ilmunya begitu tawadhu tanpa koar-koar kembali ke Al Qur’an dan Al Sunnah, padahal mereka tentu saja lebih sesuai dengan Al Qur’an dan Al Sunnah dibanding kaum Wahabi or Salafi.

Kesimpulan: seruan kembali ke Al qur’an dan Al Sunnah itu sungguh tidak pantas diserukan oleh kaum awam dan untuk kaum awam, sebab sudah pasti mereka tidak akan mampu menggalinya sendiri. Mereka sangat jauh dari persyaratan keilmuan yang harus dikuasainya terlebih dulu sebelum menggali sendiri apaapa yang tersembunyi di balik ayat-ayat Qur’an dan hadits. Jika mereka memaksakan diri berkoar-koar menyeru kembali ke al Qur’an dan Sunnah efeknya sungguh sangat merugikan ummat Islam sebab hanya fitnah-fitnah yang akan muncul dari mulut-mulut mereka. Wallohu a’lam.

 

136 comments

  1. Gue jg dulu mikirnya gitu, pokonya kembali kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Tapi ternyata tekstual aja gk cukup, harus ada penjelasan dari ulama yang ilmunya dah mumpuni. Good… lanjut terus UMMATI

  2. Gue mau nanya tentang shalat (sorry keluar dari pembahasan).
    1. Siapa ulama salaf yang pertama kali memperaktekkan menggerak2kan jari ketika tasyahud,
    2. Siapa saja ulama2 salaf yang mendahulukan meletakkan tangan ketika sujud sebelum lutut.

    ini buat referensi.
    atas jawabannya jazakumullah.

  3. Bismillaah,

    Bagaimanapun caranya, kita tetap harus kembali kepada Qur’an dan Sunnah karena Allah memerintahkannya. Bila tidak, maka kita akan berada jauh dari Qur’an dan Sunnah, jauh dari Islam.

    Wallaahu a’lam.

  4. Kang Ibnu Suradi,

    Cara yang benar bagi orang-orang seperti antum dan saya untuk kembali ke Al Qur’an dan Sunnah adalah dengan mengikuti pahamnya para Ulama yang kapabilitasnya memadai seperti yg diuraikan dalam sorotan di postingan ini.

    Jadi tidak dibenarkan kembali langsung menggali sendiri kandungan ayat-ayat Qur’an dan makna-makna tersirat di balik al Sunnah. Jika nekad maka bukan kebenaran yang didapat, justru kesesatan yang akan didapatnya. seperti kita lihat paham Wahabi atau salafi selama ini, para Ulamanya sesungguhnya adalah termasuk kaum awam tetapi nekad sehingga menimbulkan paham sesat.

    Allah menyuruh kembali ke Al qur’an bukan ditujukan kepada kaum awam sebagaimana yg slalu digembar-gemborkan secara serampangan oleh kaum Salafi wahabi.

  5. Yup, Slogan “kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para Salaf” adalah hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi.

    Kaum Zionis Yahudi mengupah ulama-ulama untuk membuat tulisan atau kitab yang sesungguhnya adalah dalam rangka gerakan anti mazhab untuk meruntuhkan Ukhuwah Islamiyah atas timbulnya perselisihan dikarenakan perbedaan pemahaman

    Yang disebut sebagai “pemahaman para Salaf” adalah ketika mereka membaca hadits, tentunya ada sanad yang tersusun dari Tabi’ut Tabi’in , Tabi’in dan Sahabat. Inilah yang mereka katakan bahwa mereka telah mengetahui pemahaman para Salaf. Bukankah itu pemahaman mereka sendiri terhadap hadits tersebut.

    Perbedaan pemahaman atau pendapat di antara Imam Mujtahid adalah rahmat atau sunnatullah namun perbedaan pemahaman atau pendapat di antara orang awam (yang tidak berkompetensi sebagai mujtahid) adalah kesalahpahaman.

  6. Mungkin ini dapat menjadi referensi tambahan untuk antum

    http://jundumuhammad.net/category/sholat-seperti-nabi/

  7. Bismillaah,

    Kang Baihaqi,

    Bagaimana anda mengatakan bahwa perintah Allah untuk kembali kepada Qur’an itu bukan ditujukan kepada orang awam? Semua orang berkewajiban kembali kepada kedua sumber hukum utama Islam tersebut. Bila seseorang kebingungan dalam beragama Islam, ia wajib kembali kepada Qur’an dan Sunnah.

    Hanya saja cara kembalinya musti benar. Bila memiliki kemampuan secara syar’i kembali kepada Qur’an dan Sunnah, maka ia bisa mengerjakannya sendiri. Bila tidak mampu, maka wajib bertanya kepada orang yang mampu.

    Sebagai contoh, bila seseorang menemukan ayat Qur’an sulit dipahami, maka ia harus melihat ayat lain yang menjelaskan ayat terdahulu. Jangan lupa ia harus melihat perkataan Rasulullaah, para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dst yanag menjelaskan ayat tersebut. Bial ia tidak mampu melakukannya sendiri, maka carilah guru yang mampu menjelaskan ayat tersebut dengan benar.

    Saya dan juga mungkin kawan-kawan lainnya memang tidak mampu memahami masalah agama ini sendirian. Namun, kita mampu bertanya kepada guru mampu memahami masalah itu dengan benar.

    Wallaahu a’lam.

  8. mengajak kembali kepada Qur`an dan Sunnah tentu sangat bagus , hanya saja hal itu sering disampaikan salah alamat , kaum Asy`ariyah maturidiyah sebagai representasi Ahlu Sunnah wal-Jama`ah sudah berada dalam naungan Qur`an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaf as-sholihin.

    ajakan ini lebih tepat ditujukan kepada kaum wahabi salafi agar segera kembali kepada Qur`an dan Sunnah sesuai pemahaman salaful Ummah as-sholihah.

  9. @Ibnu Suradi
    sepertinya antum kurang faham dengan apa yang dikatakan Baihaqi.
    Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah itu benar, tapi tidak bisa asal ngambil aja, jadi harus ada yang mengajarkannya agar fahamnya benar. kalo asal ngambil aja bisa jadi sesat nanti. contoh :
    – mungkun kita masih ingat ada orang yang shalatnya pake bahasa indonesia, karena berpendapat orang yang shalat itu musti faham apa yang dibacanya.
    – dalam shalat, meletakkan talapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri, bisa jadi orang yang tidak mau belajar sama guru, bisa2 shalatnya seperti orang yang sedang pidato, benar2 meletakkan tangan seperti sedang jabatan tangan.

    o ya, antum bisa ngasih referensi dari pertanyaan saya diatas?

  10. @ahmadsyahid

    Assalamua’alaikum kang? dah lama nunggu komen dari antum

  11. Bismillaah,

    Kang Ahmad Syahid,

    Sebaiknya, Ahlussunnah wal Jamaah jangan dibatasi hanya pada Imam Abu Hasan Al Asy’ari dan Imam Maturudi. Para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, Imam Hanafy, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad juga Ahlussunnah wal Jamaah. Mereka semua berpegang pada Qur’an dan Sunnah.

    Siapa saja yang mengikuti mereka, ia masuk dalam golongan Ahlussunnah wal Jamaah. Dan siapa saja yang mengaku Islam tapi tidak mengikuti mereka apakah dia Wahabi atau NU, dll, maka ia wajib kembali kepada Qur’an dan Sunnah dengan bimbingan guru yang benar.

    Wallaahu a’lam.

  12. Bismillaah,

    Kang Zon Jonggol menilis:

    “Yang disebut sebagai “pemahaman para Salaf” adalah ketika mereka membaca hadits, tentunya ada sanad yang tersusun dari Tabi’ut Tabi’in, Tabi’in dan Sahabat. Inilah yang mereka katakan bahwa mereka telah mengetahui pemahaman para Salaf. Bukankah itu pemahaman mereka sendiri terhadap hadits tersebut.”

    Komentar:

    Sepengetahuan saya, pemahaman salaf tidak seperti yang anda katakan. Dalam menghadapi masalah agama, kita musti menggunakan pemahaman generasi salaf yaitu sahabat, tabiin dan tabiut tabiin untuk memahami masalah tersebut. Caranya, kita mencari tahu ayat Qur’an dan hadits shahih berkaitan dengan masalah tersebut. Setelah itu, kita musti melihat perkataan sahabat, tabiin, tabiut tabiin serta ulama-ulama yang mengikutinya dengan benar tentang masalah tersebut.

    Wallaahu a’lam.

  13. Alhamdulillah, Ummati sudah bisa diakses kembali setelah beberapa hari ini terkena SUSPENDED disusul -error-error. Semoga Web kesayanagn ini tetap eksis dan tambah baik lagi, amin.

  14. Mas Ahmad Syahid, kemana aja selama ini Mas? Syukurlah antum masih eksis,saya terus terang kuatir keadaanmu, jg saya kangen kehadiranmu and koment2 mu. Ummatier semuanya pasti juga merasakan seperti apa yg saya rasakan, beberapa bulan merasa kihilangan dan dg kehadiranmu ini menjadi obat.

    Bravo Mas Ahmad Syahid!

  15. Sepakat, kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah sesuai pemahaman salaf ash-sholih tidak bisa dengan hanya bermodalkan terjemahan dan pemikiran sendiri, akan tetapi harus dengan petunjuk dari guru yang berkompeten dan memiliki sanad dan ijazah dari semua fan ilmu agama yang dimilikinya…

  16. Akhina Mas Ahmad Syahid@

    Ahlan wa sahlan bi khudhurikum, alhamdulillah…. benar kata akhina Baihaqi, semuanya rindu kehadiranmu. Banyak email masuk ke Redaksi UmmatiPress menanyakan tentang Mas Ahmad Syahid, dan kami hanya bisa jawab bahwa Mas Ahmad syahid masih dalam kesibukan bisnisnya seperti yang antum pernah sampaikan via SMS.

    ========================

    Mohon maaf kepada semua Ummatier….

    Oh ya, kami mohon maaf kepada semua pengunjung dan komentatator, memang beberapa hari ini sejak 22 Juni sore terkena error dan akhirnya disuspended oleh pihak hosting. Lalu kami pun tdk bisa masuk C-Panel dan diperingatkan: error : “Forbidden
    You don’t have permission to access /index.php on this server.
    Additionally, a 403 Forbidden error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.”

    Alhamdulillah, akhirnya bisa diatasi tadi dini hari, untuk itu kami tak lupa sampaikan terimakasih kpd pihak hosting atas kerjasamanya yg baik selama ini.

  17. Al-hamdulillah ummati bisa diakses lagi , awalnya saya kira ada yang eror dengan pc saya , mas Admin, kang Amr, mas Baihaqi dan all pengunjung Ummati juga Mas Jundu , saya salut dan Bangga atas ke Istiqomahan kalian semua dalam meluruskan faham-faham yang wajib diluruskan.

    untuk Ibu suradi teruslah bergabung dengan Ummati semoga melalui web ini sampean dapet pencerahan .

    oh ya ada buku baru mungkin ada pengunjung yang belum tahu , judulnya ” mafhumul bid`ah atsaruhu fi Idthirobi al-fatawa al-mu`ashiroh ” pemahaman Bid`ah dan pengaruhnya terhadap goncangnya fatwa-fatwa kontemporer , karya Dr. Abdul Ilah Afraj.

    dalam buku ini disebutkan lebih dari 20 fatwa ulama wahabi yang goncang dan lebiih berhak disebut bid`ah ketimbang yang selama ini mereka tuduhkan pada orang lain.

  18. mas ahmad syahid bisa pesen saya

  19. Assalamu’alaikum.wr.wb

    Salam kenal buat semua saudara2 aswaja saya di sini sekalian mohon izin untuk numpang ngaji disini.

    @Mas Ahmad Syahid: mohon share dimana saya bisa mendapatkan buku karya Dr.Abdul Ilah Afraj tsb. Jazakalloh khoiron katsiro.

    Wassalam

  20. mas amiq dan Abah fikri , Insya Allah kalo mas Admin berkenan saya mo kirim Shoftcopy nya biar bisa do douwnload oleh semua pengunjung , mudah2an manfaatnya bisa lebih …..

  21. @ahmadsyahid
    makasih kalo boleh yang bukunya dapat dibeli dimana?

  22. Bismillaah.

    Semua kitab yang dalam setiap penjelasannya menyampaikan ayat Qur’an dan hadits shahih insyaallaah bagus. Hindarilah buku yang berisi penjelasan panjang lebar namun sedikit atau bahkan sama sekali tidak pernah menyampaikan ayat Qur’an dan hadits shahih.

    Wallaahu a’lam.

  23. Abah fikri mas Amiq , untuk dapetin bukunya dimana ana juga gak tahu kalo di dalem negeri dimana , ana dapet dari kuwait , wallahu a`lam di indonesia udah ada belum , yang ana punya cetakan th 2009 , 392 halaman.

    dalam buku ini penulis menggolongkan pendapat Ulama tentang Bid`ah 3 golongan
    1. yang berbendapat adanya Bid`ah hasanah (jumhur) yang dipimpin Imam As-syafi`i
    2. yang berpendapat tidak ada Bid`ah Hasanah ( minoroti ) dipimpin kaum wahabi
    3. al-mutawashith yang dipimpin As-syathibi

    manakah dari 3 pendapat ini yang paling dekat dengan Qur`an dan Sunnah dalam kitab inilah diungkap bagaima hebatnya Imam As-syafi`i dalam memahami Nushus as-syari`ah

    dalam buku ini juga diungkap bagaimana goncangnya pendapat yang mengatakan tidak ada Bid`ah hasanah

  24. ibnu suradi , hati-hatilah dalam membaca kitab yang dalam setiap penjelasannya menyampaikan ayat Qur’an dan hadits shahih jika tanpa dibarengi dengan penjelasan Ulama Ahlu Sunnah wal-jama`ah , tidak jarang Qur`an dan Hadist shahih hanya dijadikan propaganda dan pemikat untuk mengelabui orang awam.

  25. @ahmadsyahid

    Mas Ahmad Syahid, apakah maksudnya scan kitab tsb, atau fotocopy kertas? Kalau scan kitab, silahkan kirim ke email:

    ummatiummatika@yahoo.com

    atau

    admin@ummatipress.com

  26. @Mas Ahmad Syahid

    Wah, sangat menarik isi bukunya Mas, sebaiknya diterjemahkan aja langsung untuk dimuat di ummati secara bersambung, tentu maksud saya jika mas Ahmad ada waktunya.

    Bagaimana teman2 Ummati, se7 dg usulan saya ini?

  27. Setujuuuuuuuuuu… Hahaaai akhirnya Mas Ahmad Syahid muncul jg dimari, dan kangen saya dgn komen2 beliaupun terobati… ^^

    Wah tampilan Ummati berubah lagi niiiih… Simple dan ringan loading pagenya…. Siiiip
    Oya mbah Ummati, diwebsitenya Kang ELHOODA ada widgets radio inovasi baru tuh… Dlm widgets tersebut sdh tersedia hampir semua chanel streaming radio2 aswaja dgn mode false juga ringan loading scrip widgetsnya ^^

  28. Ok mas Wahyu, thanks infonya. Waktu yang sedikit ini masih untuk memperbaiki performance Ummati agar loading lebih ringan lagi dan tidak mengganggu Resource Usage yang tersedia buat Ummati oleh pihak Hosting.

  29. Bismillaah,

    Kang Syahid,

    Terima kasih atas sarannya untuk berhati-hati dalam memilih kitab. Apa yang anda sarankan telah saya jalankan sejak dahulu kala. Saya selalu mengikuti pendapat para imam memahami ayat Qur’an dan hadits shahih.

    Saya sangat senang atas upaya Ummatipress untuk mengangkat tema: “Kembali kepada Qur’an dan Sunnah.” Semoga diskusi ini dapat mengurangi keawaman kebanyakan umat Islam yang kekeh mengikuti tradisi, kebiasaan, keumuman, kelaziman dan kata orang dalam beragama Islam. Padahal, kebiasaan. tradisi, kelaziman dan keumuman di suatu tempat bisa jadi berbeda dari kebiasaan, tradisi, kelaziman dan keumuman di tempat lain. Padaha, pendapat seseorang bisa jadi berbeda dari pendapat orang lain. Cara beragama seperti itulah yang menimbulkan banyak perbedaan dan perselisihan dalam umat Islam. Semoga mereka tersadarkan untuk kembali kepada Qur’an dan Sunnah atas bimbingan guru yang lurus sehingga perbedaan dan perselisihan dapat berkurang secara signifikan.

    Wallaahu a’lam.

  30. Benar bahwa belajar itu harus atas bimbingan guru yang lurus, yaitu para ulama’ yang benar2 sudah teruji kemampuannya, dan tentunya mereka yang bersanad keilmunya.

    Syair syeikh hamzanwadi lombok:

    sak tui jati teparan ulama’ (yang benar2 dikatakan ulamak)
    si alim soleh ikhlas dan tegak (yang alim, shaleh, ikhlas dan tegak)
    berjuang ndekne ngarepang upak (berjuang tidak mengharapakan upah/balasan)
    lek padan makhluk si jari panjak (kepada sesama makhluk yang jadi budak/hamba)
    cume lek nene’ si meha berhak (hanya kepada Tuhan yang maha berhak)
    dua akhirat memberikan jazak (dunia akhirat memberikan balasan)

    sifat sak wajib lek para ambiya (sifat yang wajib pada para nabi)
    wajib para ulama’ (wajib juga untuk para ulama’)
    lamun empat sifat sino ndek ne arak (jika empat sifat itu tidak ada ‘pada mereka)
    mereka jahil juhalak (mereka adalah orang jahil/bodoh)
    apalagi girang lekak (apalagi suka bohong)
    remehang guru dait inaq amaq (meremehkan guru dan ibu bapak)
    berjuang selalu mengambil muka (berjuang selalu mencari muka)
    lek padan makhluk si jari panjak (kepada sesama makhluk yang jadi budak/hamba)
    ngarep pujian kursi dan perak (mengharapkan pujian, kursi dan harta)

  31. Baihaqi:
    @Mas Ahmad Syahid

    Wah, sangat menarik isi bukunya Mas, sebaiknya diterjemahkan aja langsung untuk dimuat di ummati secara bersambung, tentu maksud saya jika mas Ahmad ada waktunya.

    Bagaimana teman2 Ummati, se7 dg usulan saya ini?

    setuju, boleh tuh diringkas

  32. erick firmansyah

    assalamu ‘alaikum wr.wb.

    salam kenal semuanya. saya Erick dari Solo. Alhamdulillah dpt bertemu ummati. semoga bisa nambah ilmu dari sini.
    diskusi ini sy anggap penting, krna di solo sendiri memang menjamur pengajian-pengajian yg seolah-olah benar secara akal tp belum tentu dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

    pertama kali saya tinggal d solo, sy meminta nasihat kepada kyai saya d kediri bgmna caranya istiqomah berada di jalannya para kyai dan ulama. beliau berpesan sederhana, “meskipun kamu sering dihujat dalam amalanmu atau selalu kalah dalam berdebat krna miskinnya ilmu, gak apa-apa. diakui saja karena memang km gak tau ilmunya.”
    “tapi yakinkan hatimu bahwa jalannya para kyai itu benar dan dapat dipertanggung jawabkan”

    beliau menambahkan, “ilmu yg sy dapet ini yg ngajari Mbah Yai Mahrus Aly Lirboyo, mbah Yai mahrus dari Mbah yai Abdul karim lirboyo, mbah Yai abdul Karim dari mbah Yai Kholil bangkalan, mbah Yai Kholil terus ke atas sampai Walisongo, Walisongo ke atas sampai imam empat, imam empat terus ke para Sahabat, dan akhirnya Kanjeng Nabi.”
    Seketika sy ingat hadist nabi bahwa Ulama itu pewaris nabi yg artinya yg diwariskan ialah ilmunya.

    sy sangat sependapat bahwa mengaji itu harus ada gurunya. apalagi mengaji Alqur’an yg Kalamullah. terlalu percaya diri kita kalau mengandalkan otak dalam memahaminya. begitu pula Hadist nabi. harus tahu juga kita asbabun nuzulnya karena, menurut Gus Mus, Kanjeng Nabi itu satu-satunya orang yang sangat mengerti perasaan manusia yang lain sehingga beliau bersabda itu juga disesuaikan kepada siapa beliau berbicara.
    Semoga Allah senantiasa melimpahkan karuniaNya kepada para Alim Ulama yg telah berjuang mendidik kita semua.

    wallohu a’lam bisshowab

  33. erick firmansyah,

    itulah yg disebut sanad kang erick, jadi ilmu agama yg ipelajari kaum nahdhuyyin itu adalah ilmu agama yg bersanad yg bersambung ke Rosululloh. Agama tanpa sanad itu agama palsu.

  34. erick firmansyah@,

    Yanto Jenggot@,

    Segeralah tobat dari agama dusta tanpa guru yg nyambung ke Nabi Muhammad, agama Islam Wahabi itu disebarkan dg sanad terputus. Terputus cuma nyampai ke syaikh Muhammad bid Abdul Wahhab atau paling tinggi cuma mentok ke Ibnu Taymiyyah. Ini agama sesat karena gak nyanad ke Nabi Muhammad Saw. Bahkan yg paling ngeri, sanadnya cuma nyampaiu ke buku2 atau kitab2 Ulama yg sudah dipalsukan oleh kalangan Wahabi sendiri.

  35. Ibnu Suradi: Semoga mereka tersadarkan untuk kembali kepada Qur’an dan Sunnah.

    Kesannya anda tidak baca artikel di atas, atau sudah baca tapi loncat2 sehingga tidak bisa memahami apa yg tertulis dg sangat jelas

  36. Enak banget yah berfaham wahabi/salapi, ngak perlu susah payah mempelajari fan2 ilmu pendukung yg sgt penting agar jangan sampek salah dalam mengaplikasikan AlQur’an dan Hadist, seperti: Ilmu nawhu, shorof, mantiq, bayan, qiroth, usul fiqh, asbabul nuzul, tafsir, baniyah ayat dsb yg sejak behuela kala adalah materi wajib yg diterapkan di lembaga2 pendidikan dispilin ilmu agama islam ASWAJA, bisa langsung menyeru “Kembalilah pada AlQur’an Dan Hadist”

    Kesannya AlQur’an dan Hadist itu seperti kayak koran saja, bebas mempelajarinya secara outodidak.
    Padahal secara nalar yg sehat jika membandingkan dgn disiplin ilmu pemrograman komputer maka untuk menjadi ahli harus menguasai dasar2 ilmu pemrograman yg rumit dan butuh waktu lama.
    Nah… Mempelajari disiplin ilmu programer komputer saja rumitnya kayak gitu, dan ngak bisa asal alias sebarangan, apatah lagi mempelajari disiplin ilmu agama islam.

  37. Bismillaah,

    Kang Wahyu,

    Setiap orang boleh berseru “Kembalilah kepada Qur’an dan Sunnah” karena setiap orang wajib kembali kepada Qur’an dan Sunnah. Hanya saja, dalam upaya kembali kepada Qur’an dan Sunnah, setiap orang harus belajar kepada guru yang benar-benar memiliki kemampuan dalam Qur’an dan Sunnah.

    Kalau kita melihat ada perselisihan hebat antara dua orang Muslim karena masing-masing berkeras mengikuti tradisi, kebiasaan, keumuman, kelaziman dan kata orang (inilah sumber perbedaan dan perselisihan di mana-mana dan kapan saja), maka kita wajib mengajak mereka kembali kepada Qur’an dan Sunnah. Mereka yang berselisih diajak menemui guru yang benar-benar mampu dan lurus yang bisa menjelaskan bagaimana kembali kepada Qur’an dan Sunnah yang benar.

    Wallaahu a’lam.

  38. saya yakin , untuk kembali kepada Qur`an dan Sunnah cukup dengan mengikuti salah satu dari Madzhab yang 4 , mau Hanafi , Maliki , Syafi`i atau Hanbali monggo , yang jadi persoalan justru munculnya sebagian orang yang anti Madzhab , merasa diri sudah mampu bahkan setara ilmunya dengan Imam Madzhab , inilah sumber perbedaan dan perselisihan sesungguhnya.

  39. Bismillaah,

    Antum benar, ya akhi Ahmad Syahid. Kita harus kembali kepada Qur’an dan Sunnah yang dipahami oleh para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, Imam Hanafy, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Majjah, Imam Tabrani, Imam Tirmidzi, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayim, dst hingga ulama-ulama sekarang yang mengikuti mereka dengan benar.

    Dengan pemahaman para Imam tersebut, kita kembali kepada Qur’an dan Sunnah.

    Wallaahu a’lam.

  40. Sunnah yang difahami Sahabat , Tabi`in dan tabi` tabiin sebagian besar tidak terkodifikasi secara utuh , lebih selamat kita mengikuti madzhab yang 4 karena para Imam yang 4 inilah yang lebih mengerti dengan pemahaman para Sahabat , Tabi`in dan Tabi`tabiin serta madzhab mereka terkodifikasi secara utuh dan sampai kepada kita dengan aman , tinggal amalkan.

    adapun Ulama yang akh , Ibnu Suradi sebutkan tidak keluar dari madzhab yang 4 kecuali syeikh Ibnu Taymiyah dan muridnya.

  41. Bismillaah,

    Mungkin anda benar, ya akhi Ahmad Syahid, bahwa Imam Ibnu Taimiyah dan muridnya keluar dari madzhab, lebih tepatnya tidak fanatik madzhab. Beliau mengambil pendapat imam madzhab yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah dan meninggalkan pendapat imam madzhab yang tidak sesuai dengan Qur’an dan Sunnah. Beliau memiliki kapasitas untuk menilai apakah pendapat imam madzhab sesuai dengan Qur’an dan Sunnah atau tidak.

    Wallaahu a’lam.

  42. setiap Mujtahid bisa benar dalam Ijtihadnya bisa juga salah , hanya saja saya melihat 4 madzhab ini lebih dekat dengan kebenaran lebih dekat dengan Qur`an dan Sunnah ,

    yang menjadi Musibah adalah munculnya sebagian orang yang mengklaim kebenaran hanya ada pada mereka dan ini banyak muncul dari pengikut syeikh ibnu Taymiyah seolah syeikh Ibnu Taymiyah adalah Ma`shum , dan fatwanya kebal kritik karena tidak ada yang salah , tidak jarang kita melihat kelompok kecil ini menyalah nyalahkan amalan Madzhab 4.

  43. Bismillaah,

    Akhi Ahmad Syahid,

    Antum mungkin benar bahwa ada (tidak semua) pengikut Imam Ibnu Taimiyah yang fanatik buta menganggap bahwa beliau ma’shum sama seperti orang yang mengatakan: “Kyai saya, habibana, Walisongo, Imam Syafii tidak mungkin salah.” ketika disampaikan kepadanya ayat dan hadits yang bertentangan dengan amalannya. Jadi keawaman yang menjadikan orang fanatik buta bisa ada di mana-mana tanpa terkecuali di NU, Muhammadiyah, Wahabi, dll.

    Namun antum musti mencari tahu apakah Ibnu Taimiyah menganggap dirinya ma’shum. Apakah Ibnu Qayim murid Ibnu Taimiyah menganggap Ibnu Taimiyah ma’shum.

    Tentang sikap orang-orang yang anda sebut sebagai Wahabi, ada baiknya anda melihat lagi thread yang berjudul: “Ibnu Taimiyah bertawassul, Pengikutnya Meninggalkan Tawassul.” Saya sendiri belum mengetahui tawassul yang bagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah. Mungkin saja itu tawassul yang syar’i. Kalau tawassul yang syar’i, Wahabi melakukannya.

    Wallaahu a’alam.

  44. Yang paling baik adalah kembali kepada pemahaman para ulama’ salafus shalih, karena mereka itulah yang lebih baik pemahamamannya tentang kembali kepada Al-Quran dan Sunnah, seperti Pendapat para Imam Mazhab dan para ulama yang mengikuti mereka.
    Adapun jika ada yang menyelisihi pendapat mereka yang sudah menjadi kesepakatan para ulama maka mereka yang menyelisihi itulah yang pantas di teliti kembali pendapatnya.

  45. afwan akh Ibnu Suradi , yang saya maksud dengan ” pengikut ibnu taymiyah ” bukanlah pengikut awamnya , yang saya maksud adalah ” pembesar ( ulama ) wahabi ” seperti syeikh ibn baaz syeikh ibn ustaimin , syeikh al-albani , bahkan syeikh ibn Abdil wahhab , seperti merekalah yang saya maksud dengan ” Pengikut Ibnu Taymiyah ” .

    akh Ibnu suradi , terlalu ceroboh jika sampai syeikh Ibnu Taymiyah atau Muridnya syeikh Ibnu qoyyim menganggap diri mereka sebagai ma`shum , hanya orang-orang jahil yang menganggap diri mereka Nabi ( ma`shum) , andai Ibnu Taymiyah menganggap dirinya Ma`shum apa bedanya beliau dengan Ahmad Mushodek………? justru pada hal -hal yang samarlah orang banyak tertipu apalagi dengan Jargon ” kembali kepada kitab dan Sunnah yang shohih ” .

    lalu soal Tawassul adakah Tawassul yang tidak Syar`i yang diajarkan oleh Imam Madzhab yang 4 ……. mohon penjelasan……?.

  46. Bismillaah,

    Akh Ahmad Syahid,

    Saya kira orang-orang seperti Ibnu Baz, Ibnu Ustaimin, Albani dan Ibnu Abdul Wahab tidak menganggap bahwa Syaikh Ibnu Taimiyah itu seolah-olah ma’shum. Mereka mengikuti pendapat Ibnu Taimiyah yang sesuai Qur’an dan Sunnah. Bila pendapat Ibnu Taimiyah menyelisihi Qur’an dan Sunnah, mereka pasti meninggalkannya. Atau anda bisa menunjukkan bukti bahwa mereka berkeras mengikuti pendapat Ibnu Taimiyah meski pendapat tersebut bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah.

    Wallaahu a’lam.

  47. Ibnu suradi

    baiklah saudaraku Ibnu suradi , mudah – mudahan ada manfaatnya , saya akan sampaikan 2 pendapat syeikh Ibnu Taimiyah yang bertentangan dengan Qur`an dan Sunnah Shohihah namun tetap dibela dan diajarkan oleh ” pengikut Ibnu Taimiyah ” .

    1. dalam Tuhid Rububiyah dikatakan , bahwa meng Imani Allah SWt dengan Tauhid Rububiyah saja tidak cukup , alias seseorang belum dikatakan Muslim jika ia hanya ber Iman dengan Tauhid Rububiyah meskipun dia telah mengucapkan 2 kalimah Syahadat.

    pendapat Ibnu Taimiyah ini didukung penuh oleh para pengikutnya padahal pendapat ini bertentangan dengan Firman Allah : sesungguhnya orang -orang yang mengatakan Robbunallah ( tuhan kami adalah Allah ) kemudian mereka Istiqomah didalamnya , akan turun kepada mereka malaikat janganlah kalian takut dan bersedih dan mereka akan diberi kabar gembira berupa surga dst.

    dalam ayat ini jelas sekali jika pengakuan Rububiyah saja sudah cukup memasukkan orang menjadi Ahli Surga ( mukmin) lalu kenapa para pengikut Ibnu Taymiyah masih saja mengatakan : Tauhid Rububiyah saja tidak cukup , Tauhid Rububiyah saja belum muslim…..?

    tentu masih banyak ayat lain yang menunjukkan cukupnya Tauhid Rububiyah menjadikan seseorang menjadi Ahli Tauhid , begitu juga dengan Hadist Shohih tentang pertanyaan Malaikat di alam kubur yang ditanya adalah Man Robbuka ……? ( tauhid rububiyah) tidak ada satu riwayatpun yang menyebutkan pertanyaannya ” Man Robuka wa Ilahuka “. ( rububiyah dan uluhiyah )

    saya rasa sudah jelas bahwa pendapat yang mengatakan bahwa Tauhid Rububiyah saja tidak cukup menjadikan seseorang menjadi muslim ahli Tauhid , nyata bertentangan dengan Qur`an dan Sunnah .

    2. pendapat syeikh Ibnu Taimiyah tentang ” Punahnya neraka ” dibela penuh oleh pengikutnya meskipun bertentangan dengan Qur`an dan Hadist bahkan syeikh Sholih al-fauzan menulis sebuah buku untuk mendukung Aqidah syeikh Ibnu taimiyah yang mengatakan bahwa Neraka tidak kekal , Neraka akan punah.

    Pendepat ibnu taimiyah ini bertentangan dengan banyak ayat Qur`an dan Hadist shohih diantaranya : Firman Allah dalam surat jin / 23 , : sungguh orang-orang yang bermaksiat ( kafir ) kepada Allah dan Rosulnya , bagi mereka Neraka Jahannam selama-lamanya ( kholidiina fiiha abada ). Menurut Ulama ada 37 ayat yang menyatakan kekalnya Neraka dan siksa didalamnnya

    Kemudian pendapat tentang tidak kekalnya Neraka atau akan punahnya neraka juga bertentangan dengan Hadist Shohih yang diriwayatkan sahabat Anas tentang Syafaat Rosul dalam hadit itu Rosulallah SAW bersabda : maka dikeluarkanlah orang-orang yang berada dineraka ( karena Syafa`at Nabi ) dan tetaplah dineraka orang – orang yang di penjara oleh Qur`an ( orang kafir selama lamanya ).

    Dan masih banyak pendapat syeikh Ibnu Taimiyah yang bertentangan dengan Qur`an dan Hadist seperti : keberadaan Allah pada al-jihah al-adamiyah ( arah yang tidak berwujud ) , qidamul alam binau` , al-hawadits la awala laha , aqidah julus dll.

    Inilah 2 contoh pendapat Syeikh Ibnu Taimiyah yang bertentangan dengan Qur`an dan Sunnah , yang masih saja diamini , diikuti oleh para ” pengikutnya Semoga saudaraku Ibnu suradi dapat memahaminya amin. Wallahu a`lam Bishowab.

  48. akhuna , Ibnu suradi , bukankah kita sedang diskusi disini…….?

  49. Prabu Minakjinggo

    mantab kang syahid, monggo di lanjut saya ikut nyimak

  50. Bima As-Syafi'i

    @Ibnu Suradi
    Pengen ikut nyimak nih diskusi Anda dengan Ustadz Ahmad Sahid.
    Mohon dijawab juga pertanyaan Ustadz Ahmad Sahid : “lalu soal Tawassul adakah Tawassul yang tidak Syar`i yang diajarkan oleh Imam Madzhab yang 4 ……. mohon penjelasan……?”.
    Terima kasih

  51. Bismillaah,

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Para pendahulu umat ini, imam-imamnya, dan seluruh Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah sepakat, bahwa ada sebagian makhluk yang tidak akan binasa, tidak akan hancur sama sekali. Seperti surga, neraka, ‘arsy, dan lainnya.” (Majmu’ Fatawa, 18/308).

    Syaikhul Islam juga menyatakan, “Pemeluk agama Islam semua mengatakan, surga dan neraka tidak ada akhirnya. Keduanya terus menerus kekal. Demikian juga penduduk surga, terus-menerus di dalam surga, bersenang-senang. Dan penduduk neraka di dalam neraka disiksa. Hal itu tidak ada akhirnya.” (dar’ut Ta’arudhil ‘Aql Wan Naql, 2/358).

    Baca selengkapnya: http://www.konsultasisyariah.com/kekalkah-siksa-neraka/#ixzz1znRpwXbb

    Tentang Tauhid Rububiyyah, uUluhiyyah dan Asma wa Sifat, silahkan baca di thread sebelah di situs ini.

    Wallaahu a’lam.

  52. Baiklah saudaraku Ibnu Suradi , dari link yang antum sampaikan terlihat jelas jika kita dalam masalah ini sepakat akan bathilnya pendapat yang mengatakan Neraka akan punah , hanya saja sayang kata-kata ini :

    ” Pendapat bahwa neraka tidak kekal, merupakan pendapat yang batil, walaupun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan murid beliau, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, condong kepada pendapat tersebut. Sesungguhnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah telah mengajarkan kepada kita, bahwa mencintai Al-haq didahulukan daripada mencintai orang-orang yang agung ”

    tidak antum sampaikan dalam diskusi kita , yang menunjukkan seolah antum enggan mengatakan syeikh Ibnu taimiyah dan muridnya telah keliru ” .

    dan sebenarnya Insya Allah saya juga bisa tunjukkan jika kata – kata yang antum nukil dan sampaikan diatas (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Para pendahulu umat ini, dst….. ) sebenarnya bukanlah ucapan beliau ( ibnu taimiyah ) ,
    namun itulah yang sudah terjadi syeikh Ibnu taimiyah bukanlah Nabi yang ma`shum ,

    saya berharap agar ” pengikut ibnu Taimiyah ” dapat berlaku adil ( lemah lembut dan penuh toleransi ) dalam menyikapi pendapat Ulama Ahlu sunnah Asy`ariyah dan Ulama madzhab 4 ) termasuk juga pendapat syi`ah meskipun bersebrangan dengan pendapat Ibnu taimiyah dan pengikutnya .

  53. Aryati Kartika

    Ibnu Suradi@

    Maaf kang, saya cuma mau ingatkan saja seperti juga Mas Ahmasd syahid telah mengingatkannya di bawah ini, sebaiknya antum kalau menukil ucapan secara lengkap. Kenapa akang Ibnu Suradi tidak menukil kata2 berikut: ”Pendapat bahwa neraka tidak kekal, merupakan pendapat yang batil, walaupun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan murid beliau, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, condong kepada pendapat tersebut. Sesungguhnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah telah mengajarkan kepada kita, bahwa mencintai Al-haq didahulukan daripada mencintai orang-orang yang agung ”

    Coba perhatikan kalimat tsb benar2 sangat kontradiktif bukan, tentunya bagi kita yg bisa berpikir tertib kang Ibnu Suradi?

    Monggo dilanjut diskusinya, karena saya cuma mengingatkan antum agar tidak menyembunyikan kekeliruan Ibnu Taymiyyah dan muridnya tsb.

    Mengenai thread sebelah tentang tauhid trinitas itu yg mana, kasih dong link nya biar saya juga bisa ikut nyimak, terimakasih.

  54. Bismillaah,

    Akh Ahmad Syahid,

    Yang saya tangkap dari artikel itu bahwa Ibnu Taimiyah menyampaikan pendapat-pendapat baik yang menyatakan bahwa neraka itu kekal maupun yang menyatakan bahwa neraka itu tidak kekal. Beliau tidak memilih salah satu dari dua pendapat itu. Namun beliau menyampaikan bahwa semua ulama Ahlussunnah wal jamaah dan semua umat Islam berpendapat bahwa neraka itu kekal.

    Kalaupun Ibnu Taimiyah mengatakan neraka itu tidak kekal, tidak serta merta semua ulama seperti Bin Baz, Utsaimin, Albani, dll mengikutinya. Buktinya, Albani menentang pendapat bahwa nereka itu titak kekal. Beliau menyampaikan dalil-dalil yang sama dengan dalil yang anda samapaikan di sini.

    Jadi, perkataan anda bahwa ulama-ulama Arab Saudi dan lainnya yang anda anggap Wahabi menganggap seolah-olah Ibnu Taimiyah ma’shum itu tidak benar.

    Wallaahu a’lam.

  55. al-akh ibnu suradi , bagi saya tidak aneh pemutar balikkan Fakta , dan pengingkaran juga ghuluw terhadap syeikh Ibnu taimiyah dan ajarannya menjadi ciri khas ” pengikut Ibnu taimiyah ” bahkan nama ” wahabipun ” kalian ingkari , lalu di blow up ” wahabi ” bukanlah nama pengikut syeikh Ibnu abdil wahhab.

    akh ibnu suradi , sebaiknya segera kembali ke ajaran Ahlu Sunnah wal-jama`ah , dan masih banyak materi diskusi tentang pendapat syeikh Ibnu taimiyah yang bertentangan dengan Qur`an dan Sunnah namun tetap saja diikuti dibela oleh penganutnya seperti Tauhid Rububiyah , bisakah antum buktikan jika pemahaman Tauhid Rububiyah tidak bertentangan dengan Qur`an dan Sunnah………?

  56. Bismillaah,

    Akh Ahmad Syahid,

    Jadi, apakah anda masih beranggapan bahwa ulama-ulama yang anda sebut sebagai Wahabi itu seolah-olah menganggap Ibnu Taimiyah itu ma’shum? Semoga tidak lagi begitu.

    Tentang Pembagian Tauhid menjadi 3, silahkan lihat kembali diskusi anda dan kawan-kawan dengan Akh Abu Umar Abdillah dan Akh Downpay. Setelah itu tersera anda. Bagi kami amal kami dan bagi anda sekalian amal anda sekalian.

    Untuk sementara saya akan belajar merapatkan shaf yang benar sesuai dengan perintah Rasulullaah dan contoh dari sahabatnya. Amalan tersebut dianggap remeh oleh banyak umat Islam, namun merupakan buah dari aqidah yang benar.

    Wallaahu a’lam.

  57. afwan saudaraku Ibnu Suradi , kebenaran Aqidah sama sekali tidak dapat diukur dengan Rapatnya Shaf dalam Sholat , kebenaran Aqidah hanya dapat di timbang dengan Al-qur`an dan Al-Hadist sesuaikah dengan keduanya atau tidak….

    saya kira kaum khowarij lebih hebat Ibadahnya ketimbang kita namun sayang Aqidah mereka menyimpang.

  58. bang zon afwan , saya berulangkali kirim komen di blog antum yang muncul galat terus kenapa ya bang……..?

  59. melihat coment ust Ahmadsyahid “saya kira kaum khowarij lebih hebat Ibadahnya ketimbang kita namun sayang Aqidah mereka menyimpang”, sy jd inget kisah seorang sahabat, Beliau mengatakan kurang lebih bahwa “Aku belum pernah melihat orang yang ibadahnya lebih kuat dari mereka, mereka terlihat seperti tidak tidur malam”.

  60. Bismillaah,

    Buat kawan-kawan semua,

    Bila membicarakan kaum khawarij, anda harus hati-hati. Anda harus menyebutkan ciri utama mereka, yakni penyimpang aqidah mereka. Anda musti menjelaskan penyimpangan aqidah mereka dengan gamblang.

    Janganlah anda hanya menyebutkan ciri ketekunan beribadah mereka karena itu akan menggiring pembaca untuk membuat kesimpulan bahwa orang yang tekun beribadah itu khawarij. Akibatnya, umat Islam tak mau rajin beribadah karena takut disebut khawarij.

    Wallaahu a’lam.

  61. Hanya orang bego yang bilang kalo orang yang tekun ibadah bakal di katain khawarij. itu hanyalah anggapan ente aja. khawarij itu adalah orang yang merasa paling benar dan memusuhi orang lain yang di anggap tidak benar. Kalo di otak hanya merasa paling bener dan selalu menjelek2kan amalan orang lain, yang amalan itu masih dalam taraf khilafiah maka merekaitu lah yang error kepalanya.

  62. Bismillaah,

    Apakah Akh Ahmad Syahid tidak setuju bahwa aqidah yang benar akan membuahkan ibadah yang benar? Shalat berjamaah adalah salah satu bentuk ibadah. Dan merapatkan shaf shalat adalah bagian dari kesempurnaan shalat berjamaah.

    Jadi, kemampuan melakukan amalan merapatkan shaf shalat berjamaah yang benar adalah salah satu dari buah aqidah yang benar.

    Wallaahu a’lam.

  63. Bismillaah,

    Kang Amr,

    Coba anda teliti lagi hadits yang meriwayatkan tentang orang yang menuduh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak adil dalam membagi harta rampasan perang. Orang tersebut menentang Rasulullaah. Itulah penyimpangan aqidah kaum khawarij.

    Jadi, orang yang tidak rajin ibadah pun bisa disebut khawarij bila menentang Rasulullaah. Rasulullaah memerintahkan manusia untuk merapatkan shaf shalat berjamaah. Jika ada seorang Muslim yang menolak perintah merapatkan shaf shalat berjamaah, maka padanya ada sifat khawarij.

    Wallaahu a’lam.

  64. mas Amr , mohon maaf tolong jangan sebut saya ustadz , karena memang saya bukan seorang Ustadz , saya hanyalah seorang tholibul Ilm yang masih harus banyak belajar.

    mas Amr , rupanya saudara kita ( Ibnu Suradi ) belum bisa berfikir secara tertib dan teratur , sehingga kita cenderung mendapatkan adanya kontradiksi bahkan mugholathoh ( perkeliruan ) bahkan Talbis antara yang hak dengan yang Bathil dalam komen2 beliau.

    kita dapati diantara komen beliau : ” Anda musti menjelaskan penyimpangan aqidah mereka dengan gamblang. Janganlah anda hanya menyebutkan ciri ketekunan beribadah mereka karena itu dst ”

    bukankah akh Ibnu suradi sendiri yang mengukur ” kebenaran Aqidah ” dengan ketekunan merapatkan shaf dalam sholat………? lalu kenapa sekarang bilang ” janganlah anda dst…….? yang artinya akh Ibnu suradi juga jangan hanya mengukur ” kebenaran Aqidah ” dari Shof sholat saja
    inilah kontradiksi pertama akh Ibnu Suradi .

    komentar beliau ( ibnu suradi ) lainnya mengatakan : Apakah Akh Ahmad Syahid tidak setuju bahwa aqidah yang benar akan membuahkan ibadah yang benar ? dst…….

    inilah perkeliruan akhuna Ibnu suradi , dimana pada diskusi sebelumnya beliau mengukur kebenaran Aqidah dengan rapatnya shof dalam sholat , dan itulah yang saya tidak setujui , adapun pertanyaan diatas adalah menjadikan ” kebenaran Aqidah ” sebagai Ukuran kebenaran Ibadah , mohon jangan dibolak balik .

    lalu soal dzul khoaishiroh ( cikal bakal khowarij ) akh Ibnu suradi hanya menyebutkan 1 ciri kaum khowarij , padahal jika akh ibnu suradi mau konsisten ( dengan pernyataannnya diatas ) sebutkan juga dong ciri-ciri kaum khowarij lainnya , seperti merasa paling benar sendiri , tidak memiliki toleransi dalam perbedaan , merasa paling nyunnah dan merasa paling mengikuti dan mengerti Qur`an , orang lain diluar kelompok mereka adalah salah dan yang paling menonjol adalah Ibadah mereka yang luar biasa hingga para sahabatpun kagum .

    dan yang terakhir akh Ibnu suradi mentalbis , seolah kita menentang Sunnahnya merapatkan Shof dalam sholat , padahal tidak ada seorangpun diantara kita yang menentang ” Sunnahnya merapatkan Shof dalam sholat berjama`ah , yang kita tentang ( tidak setuju) adalah pendapat akh Ibnu suradi yang menjadikan rapatnya Shof dalam sholat sebagai ukuran ” kebenaran Aqidah ” , ini lho yang saya tidak setuju …..

    jadi sama sekali bukan menentang perintah Rosul untuk merapatkan shof , yang ditentang adalah pendapat akh ibnu Suradi yang menjadikan rapatnya Shof sebagai ukuran kebenaran aqidah.

    lalu soal menentang perintah Rosulallah , menurut akhuna Ibnu Suradi , menentang perintah Rosul Saw adalah ciri kaum Khowarij , dapatkah akhuna Ibnu suradi konsisten dalam pernyataannya ini…. sebab Pembagian Tauhid yang diyakini akh Ibnu Suradi telah jelas menentang Al-qur`an dan Sunnah Nabi dapatkah akh Ibnu suradi berlaku adil dan konsisten………? mohon jawaban yang tulus….

  65. Assalamu’alaikum

    @Ibnu Suradi

    Apakah wajib hukumnya menempelkan mata kaki utk tujuan merapatkan shaf ?

    Dan bagi orang yang tidak mengerjakan sunnah itu (menempelkan mata kaki) apakah bisa dikategorikan MENENTANG ?

  66. Coba antum teliti juga kisah Ibnu Abbas ketika mellihat orang-orang khawarij, seperti yang saya sampaikan diatas. saya setujuh dengan merapatkan shaf shalat, tapi kalo sampai berdesak-desakan itu malah bikin gak khusyuk, itu pernah saya alami. Jika orang tersebut gak bisa diam, saya juga ikut goyang. Untuk antum tahu saya juga ngajak merapatkan shaf shalat. Tapi yang kurang di fahami oleh kawan-kawan yang selalu mengajak merapatkan shalat juga adalah kaki mereka di buka terlalu melebar. Bukankah para shahabat biasa merapatkan shaf dengan menempelkan pundak dengan pundak, kaki dengan kaki (tapi bukan berdesak-desakan)? itu bisa dilakukan dengan membuka kaki selebar bahu, seperti cara berdiri istirahat dalam PBB.

  67. Bima As-Syafi'i

    Untuk mengenali ciri-ciri Kaum Khawarij masa kini, saya mohon izin mengutipkan dari blog Ustadz H. Zon Jonggol dan Ustadz Jundu Muhammad, sebagai berikut :

    Syech Bin Baaz di dalam kitabnya Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Mutanawwi’atun Juz 9 Halaman 230:
    “Al-wahhabiyah adalah penisbatan kepada syech al-imam muhammad bin abdul wahab (wafat 1206 H), Beliau adalah orang yang berupaya mengajak kepada jalan Allah Ta’ala di Najd.”
    (Kitab ini dapat didownload di situs perpustakaan digital Wahabi http://waqfeya.net/book.php?bid=1749)
    Demikianlah apa yang disampaikan oleh Syech Bin Baaz tentang siapa jati diri sekte Wahhabiyyah ini, beliau menyatakan bahwa kaum wahhabiyyah adalah dinisbatkan kepada Syech Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi. Dan pernyataan beliau ini juga mengokohkan tentang pendapat memang benar bahwa Najd itu berada di Hijjaz bukan di Iraq, karena Syech Muhammad bin Abdul Wahhab berasal dari daerah Najd dan bukan berasal dari Iraq (ingat tentang hadits bahwasanya Najd tempat munculnya Qarn asy-Syaithaan?)
    Dan sudah bukan rahasia lagi, bahwasanya awal mula lahirnya sekte wahhabiyyah ini diwarnai kekejaman demi kekejaman yang ditujukan kepada orang-orang dan ulama-ulama yang berseberangan dengan ajaran sekte ini. Rekaman sejarah kekejaman sekte ini banyak ditulis oleh ulama’-ulama’ ahlussunnah wal jama’ah, diantaranya adalah:
    1. Syech Ahmad bin Muhammad ash-Shawi al-Maliki
    Beliau menuliskannya di dalam karyanya Hasyiyah ash-Shawi ‘alaa Tafsiir al-Jalaalain, halaman 255, Tafsir ayat 7 dan 8 Surat Al-Fathir:
    وقيل هذه الاية فى الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة ويستحلون بذالك دماء المسلمين وأموالهم, لما هو مشاهد الان فى نظائرهم وهم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون انهم على شيء ألا إنهم هم الكاذبون, استحوذ عليهم الشيطان, فأنساهم ذكر الله, اولئك حزب الشيطان, ألا إن حزب الشيطان هم الخاسرون, نسأل الله الكريم أن يقطع دابرهم
    “Dikatakan, ayat ini turun terkait kaum khawarij yang telah mengubah ta’wilan Al Quran dan Sunnah, dan dengan itu mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Sebagaimana hal serupa juga kita saksikan saat ini, khususnya pada suatu kelompok yang ada di tanah Hijjaz, yang mana mereka dikenal dengan sebutan Wahhabi. Mereka mengira bahwa mereka berpijak di atas dalil yang kokoh. Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah para pendusta. Syaithon telah mengalahkan mereka, sehingga membuat mereka lupa dari mengingat Allah. Mereka itulah kelompok syaithon. Ketahuilah, sesungguhnya kelompok syaithon adalah orang-orang yang benar-benar merugi. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia untuk membinasakan mereka.”
    Catatan khusus mengenai kitab Hasyiyah ash-Shawi ini
    Mengenai karya al-Imam Ahmad bin Muhammad ash-Shawi al-Maliki ini pada tahun 1420 H melalui penerbit Dar al-Kutub al-ilmiyyah, Beirut, Libanon, kaum salafy-wahabi berusaha melakukan tahrif/mengubah atas kitab ini dengan tujuan untuk menyembunyikan jati diri wahabi sebenarnya.
    Berikut ini adalah nukilan dari teks yang dipalsukan:
    Hasyiyyah ash-Shawi ‘alaa Tafsir al-Jalalain (cetakan Dar al-Kutub al-ilmiyyah, Beirut, Libanon. Tahqiiq: Muhammad Abdul Salam Syahin)
    هذه الأية نزلت فى الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب والسنة, ويستحلون بذلك دماء المسلمين وأموالهم, استحوذ عليهم الشيطان, فأنساهم ذكر الله, اولئك حزب الشيطان, ألا إن حزب الشيطان هم الخاسرون, نسأل الله الكريم أن يقطع دابرهم
    “Ayat ini turun terkait kaum khawarij yang telah mengubah ta’wilan Al-Quran dan Sunnah, dengan itu mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Syaithon telah mengalahkan mereka, sehingga membuat mereka lupa dari mengingat Allah. Mereka itulah kelompok syaithon. Ketahuilah, sesungguhnya kelompok syaithon adalah orang-orang yang merugi. Kitamemohon kepada Allah Yang Maha Mulia untuk membinasakan mereka.”
    Perhatikanlah, bahwasanya kaum Salafy-Wahabi memotong/menghilangkan kalimat:
    لما هو مشاهد الان فى نظائرهم وهم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون انهم على شيء ألا إنهم هم الكاذبون
    Yang artinya: “Sebagaimana hal serupa juga kita saksikan saat ini, khususnya pada suatu kelompok yang ada di tanah Hijjaz, yang mana mereka dikenal dengan sebutan Wahhabi. Mereka mengira bahwa mereka berpijak di atas dalil yang kokoh. Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah para pendusta.”
    Jadi demi munutupi sejarah kekejian di masa awal-awal sekte ini dimunculkan, maka kalangan elit dari Wahabi melakukan tahrif atau pemalsuan atas kitab ulama’ ahlussunnah wal jama’ah ini.
    2. al-Imam ibn Abidin al-Hanafi
    Salah seorang ulama di kalangan madzhab Hanafiyyah, al-Imam ibn Abidin al-Hanafi rahimahullah memberikan penjelasan khusus mengenai sekte Wahhabiyyah (pengikut ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab an-Najdi) yang tertuang di dalam kitab karya beliau yang berjudul Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘Ala ad-Durr al-Mukhtar (halaman 413). Disitu dijelaskan secara gamblang bahwasanya kaum pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab an-Najdi adalah Khowarij di masa kini.
    Pembahasan tentang Pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab sebagai Golongan Khawarij di Zaman Kita
    Adapun perkataan ["Mereka (khawaarij) mengafirkan para shohabat Nabi Shollallaah 'alaih wa sallam"]; Aku memahami bahwasanya hal ini bukanlah syarat di dalam penamaan kelompok Khowarij, akan tetapi hal ini (penyebutan “khawarij”) menjelaskan bagi siapa saja bagi mereka yang keluar dari barisan Sayyidinaa ‘Ali radhiyallaah ‘anhu, jika memang tidak demikian maka cukuplah dengan mengkafirkan siapa saja yang menyelisihi pendapat mereka, seperti halnya yang dapat ditemui di zaman kita saat ini, yaitu sekelompok pengikut Abdul Wahhab dari Nejd (Muhammad ibn Abdul Wahhab an-Najdi) yang menguasai secara paksa dua tanah suci (al-haramain) dan mereka mengaku-ngaku bermadzhabkan Hanbaliyyah, bahwasanya mereka menganggap kelompok mereka adalah muslimin yang sebenarnya, dan yang menentang kelompoknya adalah musyrikin. Oleh sebab itu mereka membolehkan membunuh (memerangi) kaum ahlussunnah wal jama’ah dan membunuh (memerangi) pula para ulama’ ahlussunnah wal jama’ah. Hingga kemudian Allah menghancurkan kekuatan mereka dan membumihanguskan tempat tinggal mereka hingga mereka dikuasai oleh balatentara orang-orang Islam, yaitu pada tahun seribu dua ratus tiga puluh tiga hijriyah (tahun 1233 H).
    3. Al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi Al Hambali dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, menuliskan sebagai berikut: “Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275). “
    Begitupula apa yang dinformasikan secara turun temurun oleh keturunan mereka yang telah dibantai hanya dikarenakan perbedaan pemahaman http://www.facebook.com/photo.php?fbid=220630637981571&set=a.220630511314917.56251.100001039095629
    ****** awal kutipan *****
    Pada zaman dahulu di kota Mekkah keluarga Syeikh Nawawi bin Umar Al-Bantani (pujangga Indonesia dan makamnya di Ma’la Mekkah Saudi Arabia) pun tidak luput dari sasaran pembantaian Wahabi. Ketika salah seorang keluarga beliau bernama Syeikh Ahmad Hadi asal Jaha Cilegon Banten sedang duduk memangku cucunya, tiba-tiba gerombolan Wahabi datang memasuki rumahnya tanpa diundang dan dengan kejamnya mereka langsung membantai dengan cara menyembelihnya hingga tewas. Dalam pembantaian (penyembelihan) itu darah Syeikh Ahmad Hadi mengalir membasahi tubuh cucunya yang masih kecil yang sedang berada dalam pangkuannya.
    Sedangkan keluarga Syeikh Nawawi Al-Bantany yang lainnya dari golongan laki-laki dikejar-kejar oleh gerombolan Wahabi untuk dihabisi dan dibunuh. Alhamdulillah Allah swt masih melindungi mereka, sehingga mereka selamat sampai ke tanah air Indonesia dengan cara menyamar sebagai perempuan.
    ******* akhir kutipan ******

    Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 menjelaskan dalam kitab-kitab beliau seperti ‘al-Khiththah al-Mardhiyah fi Raddi fi Syubhati man qala Bid’ah at-Talaffuzh bian-Niyah’, ‘Nur al-Syam’at fi Ahkam al-Jum’ah’ bahwa pemahaman Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qoyyim Al Jauziah menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang empat yang telah diakui dan disepakati oleh jumhur ulama yang sholeh dari dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)
    Begitupula Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari (pendiri pondok pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur dan pendiri organisasi Nahdhatul Ulama) dalam kitab “Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah” telah membantah apa yang dipahamai oleh Ibnu Taimiyyah maupun apa yang dipahami oleh ulama Muhammad bin Abdul Wahhab. Kutipannya dapat di baca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/04/22/kabar-waktu-lampau/
    Jadi kesimpulan sementara saya dari pendapat para ulama di atas :
    1. Wahabi dinisbatkan kepada Syech Muhammad Abdul Wahab An-Najd
    2. Wahabi sama dengan khawarij
    3. Paham Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim Al Jauziah yang diikuti Wahabi menyelisihi ahlus sunnah waljama’ah
    Dari informasi lain :
    1. Kalau terjadi fitnah Rasulullah memerintahkan pergi ke Yaman
    2. Nasihat Syayidina Ali kepada putranya agar mengikuti pendapat “ayah-ayah mu yang terdahulu” hingga Rasulullah (dari kalangan Ahlul Bait)
    3. Menurut Hamka, para habib di Indonesia adalah keturunan dari Sayidina Husein bin Ali bin Abi Tholib, utamanya dari Yaman.
    Jadi bila kita mengikuti Habib yang sholeh dari keturunan cucu Rasulullah, berarti kita mengikuti nasihat Syayidina Ali dan Rasulullah. Masa sih Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, dan Hamka bohong sama kita muslim Indonesia?
    Walllahu a’lam.

  68. assalamu alaikum saudara saudaraku semua , khusunya ikhwan Ummati yang ahli – ahli internet , saya mohon bantuan , setiap kali kirim komen diluar Ummati seperti di MZ dan jundu Muhammad : selalu gagal , yang muncul kata Galat , silahkan masukan alamat surel yang sah , mohon petunjuk kira kira apa yang salah

  69. Afwan Mas Ahmad Syahid,

    Mungkin terjadi kesalahan saat mengisi nama dan alamat, coba periksa kotak isiannya.

    paling atas isi alamat surel/email antum

    bawahnya isi nama antum

    paling bawah isi alamat url web antum, boleh gunakan url ini: http://ummatipress.com

  70. toyyib , syukron mas admin atas bantuannya ana mo coba mudah2an berhasil

  71. belum berhasil , tapi yang jelas icon gravatar ana berubah , dari merah jadi hijau mungkin ada cara lain mas admin…..? mohon petunjuknya

  72. biasanya kalau gravatar itu kaitannya dg email, coba cek huruf-huruf email antum Mas, harus huruf kecil semua dan rapat tidak ada spasi, coba bandingkan dengan email antum yg terkirim di Ummati.

  73. Al-hamdulillaaaah , syukron katsiron jazakumullah ahsanal jaza , lakum walana Jannah Insya Allah , terimakasih mas Admin.

  74. sama-sama Mas….

  75. Bismillaah,

    Kawan-kawan semua,

    Biar tidak terjadi salah paham di antara kita, maka kita musti memperhatikan dengan seksama hadits tentang cikal-bakal khawarij berikut:

    Cikal bakal khawarij telah ada sejak jaman Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Diriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Ketika kami berada di sisi Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau sedang membagi-bagi (harta), datanglah Dzul Khuwaisirah dari Bani Tamim, kepada beliau. Ia berkata: “Wahai Muhammad, berbuat adillah!” Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda: “Celakalah engkau! Siapa lagi yang berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Benar-benar merugi jika aku tidak berbuat adil.”

    Maka ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku untuk memenggal lehernya!” Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Biarkanlah ia, sesungguhnya ia akan mempunyai pengikut yang salah seorang dari kalian merasa bahwa shalat dan puasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan puasa mereka, mereka selalu membaca Al Qur’an namun tidaklah melewati kerongkongan mereka [1], mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari ar-ramiyyah [2], dilihat nashl-nya (besi pada ujung anak panah) maka tidak didapati bekasnya. Kemudian dilihat rishaf-nya (tempat masuknya nashl pada anak panah) maka tidak didapati bekasnya, kemudian dilihat nadhiy-nya (batang anak panah) maka tidak didapati bekasnya, kemudian dilihat qudzadz-nya (bulu-bulu yang ada pada anak panah) maka tidak didapati pula bekasnya. Anak panah itu benar-benar dengan cepat melewati lambung dan darah (hewan buruan itu). Ciri-cirinya, (di tengah-tengah mereka) ada seorang laki-laki hitam, salah satu lengannya seperti payudara wanita atau seperti potongan daging yang bergoyang-goyang, mereka akan muncul di saat terjadi perpecahan di antara kaum muslimin.”

    Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Aku bersaksi bahwa aku mendengarnya dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan aku bersaksi pula bahwa ‘Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘Anhu yang memerangi mereka dan aku bersamanya. Maka ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhu memerintahkan untuk mencari seorang laki-laki (yang disifati oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, di antara mayat-mayat mereka) dan ditemukanlah ia lalu dibawa (ke hadapan ‘Ali), dan aku benar-benar melihatnya sesuai dengan ciri-ciri yang disifati oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.” (Shahih, HR. Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitabuz Zakat, bab Dzikrul Khawarij wa Shifaatihim, 2/744)

    Jadi, meski seseorang rajin beribadah, tapi kalau menentang Rasulullaah, maka ia masuk dalam golongan khawarij. Kalau ada orang yang rajin beribadah dan taat kepada Rasulullaah, maka ia bukanlah dari golongan khawarij. Lalu, bagaimana dengan orang yang malas beribadah dan menentang Rasulullaah? Orang ini lebih parah daripada kaum khawarij.

    Wallaahu a’lam.

  76. Bismillaah,

    Akh Ahmad Syahid,

    Saya tidak mengatakan bahwa merapatkan shaf shalat berjamaah itu merupakan barometer kebenaran aqidah, tapi merapatkan shaf shalat berjamaah yang benar itu merupakan buah dari aqidah yang benar. Ia merupakan salah satu, bukan satu-satunya buah aqidah yang benar.

    Jadi, aqidah yang benar akan membuahkan ibadah yang benar. Oarng yang memiliki aqidah yang benar meyakini bahwa Allah menciptakan jin dan manusia hanya utuk beribadah kepadaNya. Mereka meyakini bahwa Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk mengajak manusia beribadah hanya kepada Allah. Beliau diutus untuk mengajari manusia cara beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, orang yang memiliki aqidah yang benar senantiasa ingin mengetahui cara beribadah yang diajarkan Rasulullaah agar mereka dapat beribadah dengan benar.

    Tidak mungkin aqidah yang benar membuahkan ibadah yang salah.

    Wallaahu a’lam.

  77. saudaraku ibnu suradi ini pernyataan antum : Untuk sementara saya akan belajar merapatkan shaf yang benar sesuai dengan perintah Rasulullaah dan contoh dari sahabatnya. Amalan tersebut dianggap remeh oleh banyak umat Islam, namun merupakan buah dari aqidah yang benar.

    yang saya garis bawahi ; ” .namun merupakan buah dari aqidah yang benar. apakah antum sudah benar – benar Yakin jika akidah antum sudah benar…….?

    artinya Akidah yang antum yakini itu sudah sesuai dengan yang dicontohkan Nabi dan para sahabatnya…….?

  78. Bima As-Syafi'i

    Yang mengatakan Wahabi Khawarij itu antara lain ulama-ulama di atas, yaitu :

    1. Syech Ahmad bin Muhammad ash-Shawi al-Maliki
    2. al-Imam ibn Abidin al-Hanafi
    3. Al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi Al Hambali
    4. (Mungkin masih ada yang lain)

    Jadi kalau Wahabi biarpun merapatkan shaf, tetap Khawarij sesuai yang dicirikan para ulama di atas.

    Kalau saya insya Allah percaya dan ikut para ulama di atas.

  79. Bismillaah,

    Ya Akhi Ahmad Syahid,

    Apakah salah pernyataan saya bahwa amalan merapatkan shaf shalat berjamaah yang benar sesuai dengan perintah Rasulullaah dan dicontohkan sahabatnya merupakan buah dari aqidah yang benar? Apakah salah pernyataan saya bahwa aqidah yang benar membuahkan ibadah yang benar? Kalau salah, salahnya di mana?

    Menurut anda, apakah ada hubungan antara aqidah dan ibadah? Kalau ada, bagaimana hubungan tersebut?

    Wallaahu a’lam.

  80. Bismillaah,

    Kang Bima,

    Sebelum membaca pendapat orang, sebaiknya anda membaca hadits tentang cikal bakal kaum khawarij. Haditsnya sudah saya sampaikan. Silahkan mencermatinya. Hadits tersebut menyebutkan ciri-ciri kaum khawarij. Ciri utamanya adalah bahwa khawarij menentang Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Jadi, seorang muslim disebut khawarij bila menentang Rasulullaah, tanpa terkecuali apakah ia seorang Wahabi, NU atau pengikut habib.

    Wallaahu a’lam.

  81. Apakah salah pernyataan saya bahwa amalan merapatkan shaf shalat berjamaah yang benar sesuai dengan perintah Rasulullaah dan dicontohkan sahabatnya merupakan buah dari aqidah yang benar?

    merapakatkan shof dalam sholat adalah masalah Furu` (cabang ) sedangkan Aqidah adalah masalah Ushul ( pokok ) tidaklah tepat jika masalah furu` dijadikan landasan untuk mengukur masalah pokok .

    Apakah salah pernyataan saya bahwa aqidah yang benar membuahkan ibadah yang benar? Kalau salah, salahnya di mana?

    nah pernyataan antum yang ini lebih mendekati kebenaran , meskipun sebenarnya tidak selalu ( tidak pasti dan tidak mesti ) aqidah yang benar akan menghasilkan ibadah yang benar.
    contoh pengikut ” awam ” asy`ariyah Aqidahnya udah benar , namun dalam perkara sholat berjama`ah belum memperhatikan sunnahnya merapatkan shof , karena mungkin karena ke awamannya mereka belum tahu jika merapatkan shof adalah sunnah.

    Menurut anda, apakah ada hubungan antara aqidah dan ibadah? Kalau ada, bagaimana hubungan tersebut?

    hubungan Aqidah dengan Ibadah sangatlah erat karena Islam datang dengan tiga hal yang tidak terpisah 1. masalah Amaliyah termasuk didalamnya Ibadah , 2 masalah Iman atau Aqidah , 3 masalah kamaliyat atau ikhsan sebagaimana yang dicantumkan dalam Hadist Jibril as.

    namun sekali lagi apakah antum benar2 yakin jika Aqidah yang antum anut itu sudah benar……? sehingga lebih perduli terhadap masalah furu` ketimbang masalah Ushul……..?

  82. Bismillaah,

    Ya, akhi Ahmad Syahid,

    Anda tidak menjelaskan hubungan antara aqidah dan ibadah secara gamblang. Kalau seorang guru menyampaikan penjelasan seperti itu, jangan harap muridnya dapat beribadah dengan benar.

    Wallaahu a’lam.

  83. akhi ibnu suradi , penjelasan seperti apalagi yang lebih gamblang dari penjelasan Nabi ketika ditanya oleh malaikat jibril……..? antum ingatkan pada akhir hadist itu Rosul bertanya pada sahabat : apakah kalian tahu siapakah tadi yang bertanya , sahabat menjawab Allah dan Rosulnya lebih tahu lalu Rosul berkata : susungguhnya ia Jibril mengajarkan kepada kalian agama kalian .

    apakah ketika saya menjelaskan mengikuti penjelasan Rosulallah SAW akan mengakibatkan orang akan beribadah dengan tidak benar…….?

    apakah ada penjelasan yang lebih jelas dari penjelasan Rosulallah SAW……?

    saya jadi pengen tahu penjelasan Gamblang dari akh ibnu suradi seperti apa….?

  84. Bismillaah,

    Sebenarnya, bila anda dapat menjelaskan kalimat syahadat yang kedua: Asyhadu anna muhammadarrasuulullaah, maka anda akan menemukan hubungan antara aqidah dan ibadah dengan gamblang. Pada haikatnya, Allah mengutus Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia untuk hanya beribadah kepada Allah. Beliau diutus untuk mengajari manusia cara beribadah yang diinginkan Allah.

    Keimanan kepada Allah menuntun kita untuk menyembahNya. Keimanan kita kepada Rasulullaah menuntun kita untuk beribadah kepada Allah dengan benar sesuai yang diajarkan beliau.

    Wallaahu a’lam.

  85. akhuna Ibnu Suradi , yang antum tanyakan adalah hubungan Aqidah dengan Ibadah , bukan Hubungan dua Kalimat syahadah gimana tho……..?

    penjelasan antum itu lebih tepat jika dikaitkan dengan hubungan penciptaan dengan Ibadah sebab telah jelas dalam Qur`an : jin dan manusia diciptakan Hanya untuk beribadah

    adapun hakekat diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan Akhlak ( prilaku ) baik prilaku manusia dengan tuhannya maupun prilaku manusia dengan sesamanya , sebagaimana Hadist Nabi : inama buist tu li utamima makarimal akhlaq ,

    innama adalah adatul hasr , semoga saudaraku ibnu suradi dapat memahaminya.

  86. @Ibnu Suradi
    “Sebelum membaca pendapat orang, sebaiknya anda membaca hadits tentang cikal bakal kaum khawarij. Haditsnya sudah saya sampaikan. Silahkan mencermatinya. Hadits tersebut menyebutkan ciri-ciri kaum khawarij. Ciri utamanya adalah bahwa khawarij menentang Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

    Komentar saya :
    Ketiga ulama yang kutip di atas itu sudah membaca hadits tersebut. Percaya ga? Jangan dikira cuma Anda doang yang membaca hadits di atas. Alhamdulillah saya juga sudah membaca, tetapi saya tidak berani berpendapat seperti Anda. Makanya saya ikuti saja kata-kata ulama. Kalao Anda kan terbukti bisa mengartikan sendiri hadits, seperti hadits mengenai “membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongan ditujukan kepada orang yang hafal Yasin”. Walaupun akhirnya Anda mengaku merujuk. Tetapi kita tidak boleh sembarangan, kemudian dengan mudahnya merujuk. Yang aman, kita ikuti kata ulama, termasuk dalam mengenali ciri khawarij yang melekat pada Wahabi. Ngomong-ngomong Anda Wahabi ya? Belajarnya sama siapa sih?

  87. Bismillaah,

    Ya Akhi Ahmad Syahid yang semoga disayangi Allah,

    Akhlak yang mulia itu buah dari ibadah yang benar. Makanya, Allah berfirman: Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Dan ibadah yang benar itu buah dari aqidah yang benar.

    Sedangkan tugas semua Rasul dan nabi adalah mengajak manusia menyembah Allah. Banyak ayat Qur’an yang menjelaskannya diantaranya yang berarti: “Wahai manusia beribadahlah kepada tuhanmu yang menciptakan kalian dan umat sebelum kalian.” (QS. Al Baqarah) dan “Wahai kaumku, aku adalah pemberi peringatan yang jelas. Beribadahlah kepada Allah, bertakwalah dan ikutilah aku.” (QS. An Nuh). Rasul dan nabi tidak hanya mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah, tapi juga mengajari bagaimana cara beribadah kepada Allah. Makanya, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukharai, Muslim, dll), dan “Barang siapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dariku, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

    Yang jadi pertanyaan, kebanyakan kita umat islam itu shalat, tapi mengapa kekejian dan kemungkaran masih merajalela? Ada apa dengan shalat kita sehingga tidak dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar?

    Nah, dengan aqidah yang benar, maka kita dapat beribadah dengan benar. Dan dengan ibadah yang benar, maka kita dapat berakhlak mulia. Itulah hubungan antara aqidah, ibadah dan akhlak.

    Kang Bima,

    Hadits tentang cikal bakal kaum khawarij tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dan disyarah oleh Imam Nawawi. Lebih baik anda merujuk ke Imam Nawawi untuk memahami hadits tersebut daripada ulama masa kini.

    Wallaahu a’lam.

    Wallaahu a’lam.

  88. akhuna ibnu suradi , antum selalu aja pindah – pindah pokok bahasan , ( saya jawab antum pindah , saya jawab antum pindah ), jika terus seperti ini cara antum berdiskusi , habis waktu kita tanpa faidah ya akhi , sebaiknya kita tentukan 1 materi diskusi , lalu kita bahas hingga tuntas supaya ada natijah dan faidah , gimana apakah antum setuju……..?

  89. @Ibnu Suradi
    Hadits tentang cikal bakal kaum khawarij tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dan disyarah oleh Imam Nawawi. Lebih baik anda merujuk ke Imam Nawawi untuk memahami hadits tersebut daripada ulama masa kini.

    Komentar saya :
    Waktu Imam Nawawi mensyarah hadits tersebut, Wahabi belum ada. Kalau sudah ada mungkin akan berpendapat yang sama. Anda lebih baik mengikuti Imam Mazhab yang empat daripada mengikuti ulama Wahabi. Hati-hati lho Wahabi itu Khawarij lho. Artinya yang menyempat dari Ahlus Sunnah Waljamaah seperti kata ulama-ulama yang saya kutip di atas.
    Wallahu a’lam.

  90. Bismillaah,

    Akhi Ahmad Syahid,

    Baik kita tentukan bahasan diskusi kita pada perkataan saya berikut:

    Saya mengatakan bahwa kemampuan merapatkan shaf shalat berjamaah sesuai dengan yang diperintahkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan dicontohkan oleh sahabatnya adalah buah dari aqidah yang benar. Amalan merapatkan shaf itu merupakan bagian dari shalat berjamaah. Melaksanakan shalat berjamaah dengan benar itu adalah buah dari Aqidah yang benar. Shalat berjamaah merupakan salah satu bentuk ibadah. Melaksanakan ibadah yang benar merupakan buah dari aqidah yang benar.

    Jadi, aqidah yang benar akan melahirkan ibadah yang benar. Dan ibadah yang benar akan melahirkan akhlak yang mulia seperti yang Allah firmankan: “Shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.”

    Bagaimana?

    Kang Bima,

    Silahkan anda mengikuti penjelasan ulama kontemporer yang anda ikuti. Yang penting anda mengetahui ciri utama kaum khawarij sehingga anda tidak sembarangan dalam menuduh orang lain sebagai khawarij. Saya lebih memilih mengikuti penjelasan ulama klasik seperti Imam Nawawi.

    Wallaahu a’lam.

  91. ahlan wasahlan wamarhaban , hanya materinya kurang menggigit tidak banyak manfaat dan faidahnya , saya lebih sertuju jika materi diskusinya tentang Tauhid 3 , atau masalah – masalah yang berkaitan dengan Aqidah , baik aqidah Asy`ariyah ataupun Aqidah wahabiyah salafiyah ,

    apakah antum setuju……..?

  92. @Ibnu Suradi
    Silahkan anda mengikuti penjelasan ulama kontemporer yang anda ikuti. Yang penting anda mengetahui ciri utama kaum khawarij sehingga anda tidak sembarangan dalam menuduh orang lain sebagai khawarij. Saya lebih memilih mengikuti penjelasan ulama klasik seperti Imam Nawawi.

    Komentar saya :
    Yang bilang Wahabi Khawarij itu para ulama. Benar nih Anda mengikuti Imam Nawawi? Imam Nawawi mengakui ada bid’ah hasanah lho. Imam Nawawi mengakui sampainya pahala baca Qur’an untuk mayat lho? Anda ikuti ga? Anda ikut Al Bani dan Bin Baz ga? kan mereka lebih kontemporer dari ulama yang bilang Wahabi Khawarij.
    Yang benar mana nih? Saran saya, mari kita sama-sama ikut Imam Mazhab yang empat, dengan memilih salah satu yang sesuai dengan nurani. Jangan ikuti Wahabi yang lahir abad 12 H yang seumur dengan ulama-ulama yang anda bilang kontemporer di atas. Apalagi Bin Baz, Al Bani dan Usaimin. Mereka lebih “baru” lagi. Kalo bisa Anda juga jangan menyalah-nyalahi orang yang hafal Surat Yasin.
    Wallahu a’lam

  93. Ibnu Suradi said: Jadi, aqidah yang benar akan melahirkan ibadah yang benar.

    Koment saya:
    Berarti aqidah yang antum anut aqidah batil, sebab shalat antum itu shalat batil.
    Coba periksa, sholat Wahabi mendekap dada seperti orang sakit hati, yahudi shalatnya juga mendekap dada. Kalau tidak percaya cari tahu deh saya tidak bohong. Imam Madzhab tidak ada yg ngajari sholat mendekap dada. Kok tega2nya antum-antum menyandarkan shalat batil itu kepada shalat Sifat Nabi?

    Coba pikir, antum pernah bilang kalau sholat jamaah harus lutut ketemu lutut orang di sebelahnya, mata kaki ketemu mata kaki orang di sebelahnya. Bagaimana prakteknya kang? Apakah Nabi pernah ajarkan hal itu? Yang diajarkan Nabi adalah berbaris rapat dan lurus, dan seluruh ummat Islam selain Wahabi juga melakukan hal seperti itu.

  94. Yang Mbak Putri maksud seperti pada gambar ini?

    
    

    ibadah yahudi kok mirip shalatnya kaum wahabi ya?

  95. betuuuul, itulah yg saya maksudkan mas admin….

    saya lihat yg gambarnya lebih besar.ada di link ini

  96. izin nyimak ya…

  97. Alhamdulillah…disqusnya udah agak santun, insy ane mau masuk kalo santun n ilmiyah kayak gini.
    salam buat semua teman ummati press… benteng ASWAJA

  98. sampe pegel begini, nunggu kang Ibnu Suradi muncul….. kemana ya?

  99. masyallah, astaghfirullah…. ternyata benar-benar mirip Yahudi cara shalatnya Wahabi, saya pikir cuma ledekan teman2 Ummati saja.

    Kalau imam2 madzhab gak ada yg ngajarin sholat spt itu artinya jelas itu sholat niru2 Yahudi. Karena Imam2 Madzhab adalah para pengikut ajaran sholat Nabi Muhammad Saw.

    Sebaiknya fakta di atas bisa menginspirasi kita semua jangan malas mencari kebenaran, Merenungkan hal2 yg diperdebatkan atau memikirkannya lebih dalam adalah salah satu cara menemukan kebenaran.

    Tetapi kalau fakta gambar tsb tentunya tak perlu dipikir sudah sangat jelas artinya.

  100. Ikut nyimak Kang, sangat menarik diskusinya. Luar biasa!

  101. berkunjung di sini dan ikut nyimak debatnya bisa nambah pengetahuan, benar blog ini benar2 inspirative.

    izin nyimak terus boleh kan?

  102. Tapi kalau diperhatikan ada yg aneh, kenapa dari pihak Wahabi cuma kang ibnu suradi, yg lainnya kenapa nggak berani muncul membantunya. Kalau nggak sanggup, laporin aja ke ustadz kalian biar mereka membantu. Pasti akan lebih menarik lagi.

    Tetapi saya yakin, teman2 simpatisan blog ini sulit sekali dimentahkan argumen2 nya walaupun oleh ustadz2 Wahabi pun.

  103. Mbak Putri Karisma,
    hmmm, sangat menarik, gambarnya sanggup menghancurkan kesombongan kang Ibnu Suradi yg merasa ibadahnya paling benar karena lahir dari aqidah yg benar. Buktinya niru2 Yahudi ibadahnya, bagaimana bisa ngaku2 paling benar ibadah mu kang Ibunu Suradi?

    Jangan2 aqidahnya jg niru2 aqidah Yahudi atau Nasroni? Maaf lho kang Ibnu suradi, kalau antum masih merasa yg paling benar, kasih dong argumentasi yg kuat. Maaf ya, koment saya ini cuma ingin menggugah daya kritis antum, smg bisa mikir yg benar itu yang mana, gitu kang Ibnu Suradi.

  104. sepakat….

  105. wah mas gondrong kemana aja nih baru keliatan mas…… ? mbak putri , komen nya bikin ketawa …..komen yang pertama itu lho mbak , mendekap dada seperti orang sakit hati.

    oh ya akhuna Ibnu Suradi lagi sibuk kali ya …..belum ol aja nih….

  106. sarah salsabila

    For All Pengunjung@

    
    

    RATAPAN WAHABI

    Ya Allah, kudekap dadaku
    Karna sakit hati ini
    Sakiit sekali

    Mengapa aku minoritas
    Hiks!

    Capek2 banget aku berdakwah
    Tetep aja umatku dikitz

    Ngomong udah tak serem-seremin
    Bid’ah, neraka, kafir, syirik, tasyabbuh
    Isbal, khurafat, taqlid buta
    Eh, malah diketawain

    Jidat dah kami itemin
    Biar nampak soleh
    Biar terkesan alim
    Eh, malah diledekin

    Nama udah kami bikin keren
    Pembela sunnah
    Penegak tauhid
    Eh, katanya kok malah lucu..
    Hiks

    Ya Allah,
    Kapan kami jadi pintar
    Biar debat jadi pemenang
    Kami kok kalah melulu

    Udah kami impor
    Para ustadz dan syekh dari manca
    Dari nejd, dari saudi
    Dari dammaj, dari iran
    Dari vatikan, dari Yunani
    Eh, tetep aja
    Jadi bulan-bulanan kaum sunni
    Yg baru lulus ibtida’ lagi
    Malu ya Allah

    Ya Allah,
    Mengapa mereka pinter
    Iri banget ma mereka

    Kapan syeikh kami pinter
    Seperti mereka?

  107. Assalamu’alaikum akang ahmad, mohon maaf sebelumnya kalau saya boleh berkenalan, saya org awam selama ini saya dapat pemahaman yg salah, mohon bantuannya jika berkenan, jika ada FB bisa add FB saya… nu.music.player@live.com / Nu Woko D. Hubby…. mohon maaf sebelumnya saya hanya ingin menjadi org yg benar ^_^

  108. assalamualaikum mas syahid,…
    ya mas syahid, ana nyimak saja ya mas, sambil nimba ilmu nya dr ummati, mas syahid dan semua teman2 aswaja lainnya,…

  109. dimana ya kang suradi ko’ gak nongol? padahal ana tunggu penjelasannya tentang hadits yang di bawakannya “Barang siapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dariku, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)…

  110. dimana ya kang ibnu suradi padahal ane pingin tahu penjelasan dia ttg hadits “Barang siapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dariku, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim) ?….

  111. Abu Hilya@

    saya juga lagi nungguin Ibnu Suradi dari kemarin lho. Kenapa ya kok gak nongol, aku cuma pingin tahu apa komentarnya tentang sholat mendekap dada yg tidak ada contohnya dari Nabi. Seandainya ada contoh, pastilah para Imam Mazhab sudah mengajarkannya kepada Ummat Islam.

    Bener itu kata Mbak Putri, sholat mendekap dada seperti orang sakit hati, xix xix xi.. juga puisinya mbak Sarah Salsabila itu lebih memperjelasnya, bagus sekali puisinya.

  112. hehehe, mbak sarah salsabila puisinya menggigit hati,
    salam kenal

  113. waalaikum salam wr.wb , maaf mas Woko saya baru bisa jawab salam antum ,salam kenal juga mas woko semoga kehadiran antum di web ini dapat menambah wawasan dan penyegaran , kita sama – sama belajar ya mas……? ahlan wasahlan biquduumikum.

  114. Bismillaah,

    Kan, sudah ada thread sebelah tentang bantahan terhadap pembagian tauhid menjadi 3. Di situ antum berdiskusi dengan Abu Umar Abdillah dan Dowpay. Saya lebih tertarik pada pembuktian aqidah yang benar pada ibadah yang benar dan akhlak yang mulia.

    Wallahu a’lam.

  115. Ibnu Suradi@

    Menurut antum Aqidah Wahabi sudah benar dan menghasilkan ibadah yg benar. Peratanyaan saya, kenapa sholat Wahabi itu mendekap dada bertasyabbuh dg ibadah Yahudi. Lihat gambarnya di bawah dari Mbak putri.

    Tolog dijawab, jangan lari ya?

  116. baiklah saudaraku Ibnu Suradi jika materi diskusi yang antum inginkan adalah : Saya lebih tertarik pada pembuktian aqidah yang benar pada ibadah yang benar dan akhlak yang mulia .

    silahkan antum sampaikan akidah antum secara ringkas, lalu kita buktikan aqidah antum, sudah sesuaikah dengan Qur`an dan Sunnah atau belum……

    monggo……….

  117. Bismillaah,

    Kita belajar aqidah tidak lain untuk mengetahui bahwa Allah menciptakan manusia dan merintahkan manusia untuk menyembah atau beribadah hanya kepadaNya dan melarang manusia menyembah kepada selainNya.

    Kita belajar aqidah agar kita mengetahui bahwa Allah mengutus Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajak manusia menyembah atau beribadah hanya kepadaNya dan mengajari manusia cara beribadah sesuai dengan keinginanNya. Allah memberi wewenang hanya kepada Rasulullaah untuk mengajari manusia beribadah kepada Allah dengan benar.

    Jika kita mencintai Allah, maka mari kita ikuti Rasulullah dalam beribadah kepada Allah.

    Wallaahu a’lam.

  118. maaf saudaraku ibnu suradi , diforum ini semua sudah muslim , terlalu berlebihan jika antum ceramah seperti itu di forum ini , silahkan sebutkan akidah antum lalu kita diskusikan.

  119. Mas Ahmad Syahid, maaf cuma mau kasih tahu, kalau komentar jawaban monggo diklik Reply (warna biru dibawah koment) baru tulis komentnya, biar nanti tidak terpotong oleh komentar yg datang belakangan. Nanti dibacanya jadi janggal karena keduluan posisinya oleh komentar yg datang belakangan.

    koment saya ini terlebih dulu klik Reply baru koment. Posisinya jadi terkesan komunikatif, dan tidak akan bisa didului posisinya oleh koment yg datang belakangan. Silahkan dicoba Mas, klik Reply dibawah koment saya ini untuk menjawab….

  120. iya mas yanto terimakasih banyak atas sarannya.

  121. Bismillaah,

    Yaa akhi Ahmad Syahid,

    Tentang aqidah, di ummati ini sudah disampaikan pemahaman aqidah Sifat 20 dan pemahaman aqidah rubbubiyyah, uluhiyyah, asma wa sifat. Silahkan mencermatinya. Saya tidak mau menambahi perdebatan tentang kedua pemahaman aqidah tersebut. Saya hanya ingin membahas pembuktian aqidah yang benar pada ibadah yang benar dan akhlak yang mulia.

    Mumpung di sini banyak kawan yang menuduh batil pada amalan bersedekap di dada saat shalat, lebih baik kita bahas masalah aqidah yang berbuah pada amalan ibadah bersedekap di dada saat berdiri untuk shalat. Biar kawan-kawan tidak sembarang menuduh sebelum mengetahui ilmu tentang bersedekap di dada saat berdiri untuk shalat.

    Mengapa saya mengambil topik amalan dalam shalat tersebut? Ia merupakan bagian dari shalat. Dan shalat yang benar membuahkan akhlak yang mulia diantaranya perbuatan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Bagaimana?

    Wallaahu a’lam.

  122. iseng2 buka web teman sebelah yg tobat,..eh ketemu…

    Ijma 4 Madzhab : Tentang Kekufuran Orang Yang Menetapkan Tempat Dan Arah Bagi Allah

    Asy-Syaikh al-‘Allâmah Syihabuddin Ahmad ibn Muhammad al-Mishri asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 974 H) yang lebih dikenal dengan nama Ibn Hajar al-Haitami dalam karyanya berjudul al-Minhâj al-Qawîm ‘Alâ al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah menuliskan sebagai berikut:

    “واعلم أن القَرَافي وغيره حكوا عن الشافعي ومالك وأحمد وأبي حنيفة رضي الله عنهم القول بكفر القائلين بالجهة والتجسيم، وهم حقيقون بذلك”

    “Ketahuilah bahwa al-Qarafi dan lainnya telah meriwayatkan dari al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm Malik, al-Imâm Ahmad dan al-Imâm Abu Hanifah bahwa mereka semua sepakat mengatakan bahwa seorang yang menetapkan arah bagi Allah dan mengatakan bahwa Allah adalah benda maka orang tersebut telah menjadi kafir. Mereka semua (para Imam madzhab) tersebut telah benar-benar menyatakan demikian”[1].

    [1] al-Minhâj al-Qawîm ‘Alâ al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah, h. 224

    hiii…sereeemmm…

  123. Bismillah…
    Ya akhi Ibnu Suradi
    bisakah anda menjelaskan hadits yang sempat antum bawakan? krn barang kali pemahaman ana yang kurang tepat sehingga dapat pencerahan dari antum. syukron..
    ini terjemah hadits menurut antum “Barang siapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dariku, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

  124. mas prass , kaum mujassimah musyabihah ini seringkali kejam ya mas………..? banyak yang kebawa bid`ah tajsim dan tsybih , padahal ada ijmak seperti yang mas prass tunjukkan diatas , kawan2 Ummati ( mas dian mas baihaqi mas naka dll ) pada kemana ya mas……?

  125. Bismillaah,

    Yaa akhii Abu Hilya,

    Saya memahami hadits tersebut bahwa bila Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan A, maka kita harus melakukan A, bukan B. Untuk lebih jelasnya, bertanyalah kepada guru yang lurus dan membaca syarah hadits tersebut oleh Imam Nawawi dalam Kitab Syarah Shahih Muslim.

    Wallaahu a’lam.

  126. @ibnu Suradi

    coba antum tulis aja syarah yang antum baca itu. o ya.. jawab jg pertanyaan saya di awal komentar pada artikel “kembali-ke-al-quran-al-sunnah-itu-kalau-anda-seorang-mujtahid-mutlaq” ini.

  127. @Ibnu Suradi
    Mohon ditulis aja syarah yang antum baca itu, jangan-jangan Anda cuma kopi paste doang, seperti hadits merapatkan kaki, dicek sama Mbak Putri, ternyata ga benar juga. Kalo jadi Ustadz yang teliti dong, biar bisa dipercaya. Kalau menyarankan orang jangan ikuti ulama kontemporer seperti yang bilang Wahabi Khawarij, Anda juga jangan ikuti Al Bani dan Bin Baz yang lebih kontemporer. Jadi kalo bicara yang konsisten dong …

  128. Bismillaah….
    Maaf kang agak terlambat, semoga Alloh melindungi kita semua…. amiin
    Jika Hadits riwayat imam Muslim tsb antum fahami “Saya memahami hadits tersebut bahwa bila Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan A, maka kita harus melakukan A, bukan B. Untuk lebih jelasnya, maka ana jadi timbul pertanyaan :
    1. Bagaimana penjelasan antum mengenai hadits berikut :

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُجْمِرِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَحْيَى بْنِ خَلَّادٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ
    Rifa’ah bin Rofi’ berkata : “ suatu hari kami sholat dibelakang ( makmum pada ) Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam, maka ketika beliau bangun dari ruku’ beliau mengucap : Sami’allohu Liman Hamidahu , seorang leleki dibelakang beliau berucap : Robbana wa lakal hamdu hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih, ketika selesai sholat Rosululloh bertanya : “ Siapa yang berkata ? ( berucap do’a Robbana wa lakal hamdu….), laki-laki tersebut menjawab “ saya “. Rosululloh bersabda : Aku melihat tiga puluh lebih malaikat mereka saling mendahului untuk mencatat do’a tsb. ( HR. Bukhoriy no 757 versi Shameela )
    Juga Hadits berikut :
    عن عبد الرحمن بن ابي ليلى قال : ( كان الناس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا جاءه الرجل وقد فاته شيئ من الصلاة اشار اليه الناس فصلى ما فاته ثم دخل في الصلاة ثم جاء يوما معاذ بن جبل فاشاروا اليه فدخل و لم ينتظر ما قالوا , فلما صلى النبي صلى الله عليه وسلم ذكروا له ذلك فقال لهم النبي صلى الله عليه وسلم : ” سن لكم معاذ ” و في رواية سيدنا معاذ بن جبل : ( انه قد سن لكم معاذ فهكذا فاصنعوا ). رواه ابو داود و احمد و ابن ابي شيبة, و غيرهم, و قد صححه الحافظ ابن دقيق العيد و الحافظ ابن حزم
    Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bila seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam shalat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah rakaat shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, maka Mu’adz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yang harus kalian kerjakan”. (HR. al-Imam Ahmad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Daqiq al-’Id dan al-Hafizh Ibn Hazm al-Andalusi).
    Pada hadits diatas ada seorang sahabat yang berinofasi dalam sholat dengan apa yang sebelumnya tidak diajarkan oleh Nabi SAW, dan Nabi memujinya. Padahal Nabi pernah bersabda :
    صلوا كما رأيتموني أصلي
    “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat !
    Juga inovasi sayyidina Umar RA, ttg Tarowih dan jilid bagi peminum khomr, sayyidina Utsman RA ttg adzan jum’ah dan yang lain dari kalangan para sahabat, kemudian apa yang dibaca oleh Imam Ahmad bin Hambal ketika sujud berdo’a untuk Imam syafi’i dan orang tua beliau selama 40 th.
    Bagaimana tanggapan dan penjelasan kang suradi ? mohan antum jelaskan lebih gamblang biar ana yang bodoh ini mendapat tambahan ilmu. Syukron lakum wa jazakalloh khoir….

  129. mantab abu hilya , ahsantum .

  130. Bismillahir Rohmaanir Rohiim

    Mohon maaf sebelumnya, mungkin sebagai teman baru dlm komunitas ASWAJA di Ummati Press ini, apa yang ingin ana sampaikan terlalu lancang….

    Untuk sahabat dan saudaraku ASWAJA semua….
    Baiknya dalam forum diskusi ini kita hindari menghujat, mencaci, mencela atau bahkan munkin menyesatkan, karena sesungguhnya itu semua ciri khas dari ajaran yang di pelopori Syeh Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya.
    Tunjukkan bahwa ASWAJA memang bermanhaj salaf yang tidak hanya mengikuti hasil ijtihat Salafuna as Sholih dalam keilmuan tapi sekaligus dalam akhlaq dan metode berdakwa, karena iyulah sesungguhnya yang sangat prinsip yang menjadi pembeda antara ASWAJA dan WAHABI, dimana ciri khas WAHABI adalah mudah mencela, menganggap sesat, ringan dalam membid’ahkan, mensyirikkan bahkan menganggap kafir sesama saudara Muslim.
    Hendaknya dalam berdakwah terhadap mereka ( kaum wahabi ) kita tetap mengedepankan metode Bil Hikmah yang dalam aplikasinya terkadang harus agak keras namun tetap tanpa cacian atau hujatan, mengingat walau bagaimanapun mereka adalah saudara yang telah berucap Dua Kalimat Syahadat, mereka juga Insya Alloh sholat, sehingga nyawa, harta, dan kehormatan mereka tetap wajib kita jaga, seraya diiringi dengan do’a untuk semuanya semoga Alloh senantiasa berbelas kasih mencurahkan Hidayah dan bimbingan-Nya.
    Waspadalah!… karena boleh jadi sebagian mereka ( kelompok yang mudah mengkafirkan sesama ummat Islam ) tanpa sadar telah menjadi boneka yahudi yang brtujuan memecah belah ummat islam dan menjauhkannya dari panutan Ummat dengan Jargon Kembali pada Al Qur’an dan Sunnah.
    Terhadap saudara yang tdak sefaham dengan kami:
    Sadarilah sesungguhnya isu-isu yang sering kita diskusikan kebanyakan adalah isu-isu KHILAFIYAH. Jika antum semua memang bukan Wahabi maka hindarilah mem-bid’ahkan, menganggap sesat, bahkan mengkafirkan sesama muslim, karena jika itu tetap anda lakukan, maka bisa dipastikan anda adalah para pengikut WAHABI, dan semoga Alloh segera memberikan Hidayah-Nya kepada kalian semua.
    WAFFAQONALLOHU WA IYYAKUM ILAA MA YUHIBBU ROBBUNA WA YARDHO…

  131. ya mas,sereem…

  132. abu hilya benar dan saya setuju , bahkan kaum wahabipun sekarang sudah bersikap pura-pura lemah lembut , dan manis ,meskipun terus menyebarkan tuduhan2 yang tidak pantas kepada Ahlu Sunnah wal-jamaah.

  133. Bismillaah,

    Mbak Putri Kirana,

    Janganlah keburu memperolok-olok amalan bersedekap di dada jika anda belum mengetahui dalil yang mendasarinya. Berikut hadits-hadits tentang bersedekap di dada:

    “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam meletakkan ini di atas ini, di atas dadanya -dan yahya (salah seorang perawi -pent.) mencontohkan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri-.” (HR Imam Ahmad, Ibnul Jauzy)

    “Saya shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya.” (HR. Imam Ibnu Khuzaimah)

    “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian mengeratkannya di atas dadanya,dan beliau dalam keadaan shalat.” (HR. Abu Dawud)

    Wallaahu a’lam.

  134. Bismillaah,

    Mbak Putri Karisma,

    Mohon maaf, saya salah tulis nama “Putri Kirana”. Seharusnya, saya menulis nama “Putri Karisma”.

    Wallaahu a’lam.

  135. assalamu alaikum para pengunjung,sy org awam dlm agama dan sy menyimak diskusi antara akhi ibnu suradi dan akhi ahmad syahid trs terang sy kagum dengan keluasan ilmu yg di miliki keduannya,dan saya org kampung yg awam pernah mendengar guru ngaji saya di kampung mengatakan bagaimanapun bagus,hebat,rajinnya ibadah tetapi klu aqidannya salah maka sia2lah semua ibadahnya itu,,,,mohon tanggapan dr antum semua trima kasih,dan dlm hal diskusi ini sy jujur berpikah kepada akhi ahmad syahid,,,,terima kasih wassalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


3 + = 12

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>