Friday , 25 April 2014
Breaking News
Home / Berita Fakta / Kembali ke Al Qur’an – Al Sunnah Itu Kalau Anda Seorang Mujtahid Mutlaq

Kembali ke Al Qur’an – Al Sunnah Itu Kalau Anda Seorang Mujtahid Mutlaq

Akibat yang timbul dari jargon kembali ke Al Qur'an dan SunnahOleh Qodrat Arispati

Sungguh Tidak Proporsional Jika Orang-orang Awam Disuruh Kembali ke Al Qur’an dan Al sunnah. Apalagi jika yang menyerukan juga sesama kaum awam, sebab seruan itu hanya pas jika diserukan oleh orang-orang yang kapable keilmuannya,  diserukannya juga kepada orang-orang yang kapable. Sungguh tidak semudah yang diucapkan kembali ke al Qur’an dan al Sunnah, diperlukan ilmu yang memadai. Singkatnya bahwa kembali ke Al Qur’an dan Al sunnah itu ditujukan kepada para pengambil keputusan hukum-hukm Syar’i, sungguh berlebihan jika ini ditujukan kepada kaum wawam. Akibat yang ditimbukannya bukan kebaikan akan tetapi hanya fitnah-fitnah di tengah Ummat Islam. 

 

Sebagaimana akhir-akhir ini di dunia internet seperti Facebook atau blog-blog pribadi terutama blog milik pengikut sekte Salafy Wahabi dan variant-nya sudah semakin banyak yang latah menyerukan dengan sombongnya agar kembali ke Al Quran dan Al Sunnah. Bahkan mereka mengklaim sekte merka sebagai satu-satunya pengikut Al Qur’an dan Sunnah sedangkan yang bukan golongannya dianggap sebagai penyembah akal, ahlul hawa dan ahlul bid’ah. Oke, no problem, terserah mereka apa yang ingin dikatakannya.

Kembali ke tema awal, adakah yang salah dengan seruan mereka kembali ke Al Qur’an dan Al Sunnah ini? Sepintas memang sepertinya anda melihat tidak ada yang salah tetapi bahkan yang tampak bagi anda dari seruan ini adalah kebenaran belaka. Namun sebelum anda bisa melihat kekeliruan dari seruan yang asal-asalan ini mari kita pertanyakan kepada mereka hal-hal berikut:

1) Yang menyerukan itu orangnya sudah hafal Al Quran 30 juz atau belum, dan sudahkah mereka menguasai Ulumul Qur’an dan ilmu-ilmu tafsir Al Qur’an?

2) Bagi mereka itu perlu ditanyakan sudah berapa ribu hadits yang dihafalnya dan sudahkah ilmu-ilmu Mustholah hadits dikuasainya?

3) Dalam sehari semalam mereka mamapu berapa juz yang dibaca dari Al Quran?

4) Masih ada banyak pertanyaan perlu diajukan tetapi tiga saja dulu bagaimana mereka mampu menjawab dengan jujur?

 Pertanyaan diatas adalah konsekwensi logis dari arogansi dakwah Wahabi yang ingin memunculkan citra bahwa Ummat Islam sudah keluar dari bingkai al Qur’an dan Al sunnah dan wahabi mencitrakan dirinya  sebagai satu-satunya pengikut Al Qur’an dan al Sunnah. Okelah tak mengapa, no problem. Akan tetapi, kalau mereka berani mengajak kembali ke Al Qur’an dan Al Sunnah, maka mereka harus mengetahui dari mana memulainya dan kemana tujuannya. Kalau tidak tahu apa-apa, lantas bagaimana bisa diikuti?

Apalagi jika yang menyerukan itu tergolong orang-orang awam yang masih pemula dan baru belajar baca Al qur’an berani-beraninya berseru demikian yang sering diikuti sikap arogans. Tidakkah mereka sadar apabila mengajak-ajak kembali kepada Al Qur’an dan Al Sunnah, sekurang-kurangnya mereka harus ahli tentang Ulumul Qur’an dan Ulumul Sunnah. Atau paling tidak mestinya  mereka hafal 30 Juz Al Qur’an dan beberapa ribu hadits-hadits shahih, hadits hasan dan hadits-hadit dhoif atau bahkan yang maudhu’ atau palsu. Kenapa mesti begitu, ya karena para Imam Mujtahid Mutlaq semisal Imam Ahmad itu hafal satu juta hadits beserta sanadnya, hafal Al Qur’an 30 juz dan mengetahui maksud dan tafsirnya. Demikian juga kurang lebihnya para Imam-imam yang lain semisal Imam syafi’i, Iamam Abu Hanifah dan Imam Malik. Bahkan demikian para penerus mereka semisal Imam Ibnu hajar Al Atsqalani, Imam Nawawi, Imam Al Suyuti, Iamam al ghozali dan masih terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu.

*****

Rasanya tidak salah kalau kaum wahabi or Salafi mulai berani kritis terhadapa dirinya sendiri. Bagaimana  mau mengajak-ajak kembali ke Al Qur’an dan al sunnah kalau ternyata bukan ahlinya? Kebanyakan mereka yang petantang-petenteng di facebook atau di blog-blog mereka, memberi i’rab pada susunan kalimat bahasa Arab saja nggak bisa, balaghah nggak mudeng, usul tafsir Al qur’an dan asbabul wurud hadits juga nggak faham, apalagi yang baru belajar tajwid makharijul huruf dan tahsin qiraat belum bener, bagaimana mereka berseru mengajak-ajak kembali ke al Qur’an dan al Sunnah? Kalau orang yang mengajak-ajak itu tidak kapable secara nyata seperti yang disebutkan di atas maka sangat pantas jika dikatakan mereka adalah orang-orang pendusta. Jadi dengan demikian tidakkah seharusnya kaum Wahabi kritis terhadap diri mereka sendiri agar Allah Swt menurunkan hidayah-NYA?

Sebelum ditutup pembahasan masalah ini, sebaiknya kita hayati ayat Qur’an berikut ini agar ke depan bisa lebih kritis terhadap diri sendiri, semoga bisa terhindar dari sikap arogansi dakwah Salafy Wahabi yang selalu ucapan-ucapan mereka menimbulkan fitnah di tengah-tengah kaum muslimin.

يا أيها الذين آمنوا لم تقولون ما لا تفعلون
كبر مقتا عند الله أن تقولوا مالا تفعلون

Mayoritas ulama tafsir mengatakan ayat ini umum, bukan khusus pada sebab nuzulnya.
Dan perlu diketahui bahwa ayat ini ada sebab nuzulnya, insyaallah nanti akan kita ketengahkan secara singkat di sini.

Imam Thobari memberi makna ayat tersebut begini :

“Wahai orang-orang yang beriman, dan membenarkan Allah dan rasul-NYA, kenapa antum mengatakan suatu perkataan yang kalian tidak bisa mengamalkannya secara benar, lalu amal-mal  antum tidak sesuai dengan pengakuan kalian? Sangat besar murka Tuhan kamu dangan perkataan yang kalian katakan tadi, padahal kamu tidak sanggup mengerjakannya.”

Diantara asbabun nuzulnya ayat ini adalah mencela sebagian sahabat Nabi, yang mana mereka berbangga dengan kata-kata manis di tengah umum, dimana mereka mengaku-ngaku dengan perkataan mereka, bahwa mereka telah mengerjakan amal baik paling banyak, paling sesuai ajaran Nabi (nyunnah), paling benar sesuai ajaran al Qur’an, paling banyak berinteraksi dengan Qur’an, padahal mereka tidak mengerjakan nya alias “omdo” (omong doang). Dan kelakuan seperti ini banyak dilakukan oleh para pengikut Wahabi or Salafy, tidakkah sebaiknya mereka mulai sekarang dan seterusnya berani kritis atas diri mereka sendiri? Tidakkah sebaiknya mereka perlu berpikir panjang sebelum mengatakan amal-amal shalih kaum muslimin sebagai amalan bid’ah yang menurut mereka sesat yang bisa mengantarkan muslimin ke neraka?

Sedangkan Imam syafi’i berpendapat dengan ayat ini sebagai dasar hukum wajibnya melaksanakan nazar dan janji yang bagus. Imam Syafi’i adalah ahli hukum Islam, maka lihatlah betapa tepat apa yang menjadi pendapatnya. Ini karena beliau amat sangat kapable, sehingga kaum muslimin yang terdiri dari para Ulama sedari dulu sampai hari ini menobatkannya sebagai Mujtahid Mutlaq.

Oleh karena itu berkaitan dengan seruan kembali ke Al; Qur’an dan Al Sunnah oleh kaum Wahabi,  baik mereka yang awam atau para ulamanya sebaiknya menimbang kapabilitas mereka sendiri. Bandingkan dengan para Imam Mujtahid, adakah ilmu-ilmu yang mereka kuasai ada “seujung kuku”-nya para Imam Mujtahid semisal Imam Syafi’i? Para Imam Mujtahid yang sedemikian sempurna penguasaan ilmunya begitu tawadhu tanpa koar-koar kembali ke Al Qur’an dan Al Sunnah, padahal mereka tentu saja lebih sesuai dengan Al Qur’an dan Al Sunnah dibanding kaum Wahabi or Salafi.

Kesimpulan: seruan kembali ke Al qur’an dan Al Sunnah itu sungguh tidak pantas diserukan oleh kaum awam dan untuk kaum awam, sebab sudah pasti mereka tidak akan mampu menggalinya sendiri. Mereka sangat jauh dari persyaratan keilmuan yang harus dikuasainya terlebih dulu sebelum menggali sendiri apaapa yang tersembunyi di balik ayat-ayat Qur’an dan hadits. Jika mereka memaksakan diri berkoar-koar menyeru kembali ke al Qur’an dan Sunnah efeknya sungguh sangat merugikan ummat Islam sebab hanya fitnah-fitnah yang akan muncul dari mulut-mulut mereka. Wallohu a’lam.

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

136 comments

  1. Apakah salah pernyataan saya bahwa amalan merapatkan shaf shalat berjamaah yang benar sesuai dengan perintah Rasulullaah dan dicontohkan sahabatnya merupakan buah dari aqidah yang benar?

    merapakatkan shof dalam sholat adalah masalah Furu` (cabang ) sedangkan Aqidah adalah masalah Ushul ( pokok ) tidaklah tepat jika masalah furu` dijadikan landasan untuk mengukur masalah pokok .

    Apakah salah pernyataan saya bahwa aqidah yang benar membuahkan ibadah yang benar? Kalau salah, salahnya di mana?

    nah pernyataan antum yang ini lebih mendekati kebenaran , meskipun sebenarnya tidak selalu ( tidak pasti dan tidak mesti ) aqidah yang benar akan menghasilkan ibadah yang benar.
    contoh pengikut ” awam ” asy`ariyah Aqidahnya udah benar , namun dalam perkara sholat berjama`ah belum memperhatikan sunnahnya merapatkan shof , karena mungkin karena ke awamannya mereka belum tahu jika merapatkan shof adalah sunnah.

    Menurut anda, apakah ada hubungan antara aqidah dan ibadah? Kalau ada, bagaimana hubungan tersebut?

    hubungan Aqidah dengan Ibadah sangatlah erat karena Islam datang dengan tiga hal yang tidak terpisah 1. masalah Amaliyah termasuk didalamnya Ibadah , 2 masalah Iman atau Aqidah , 3 masalah kamaliyat atau ikhsan sebagaimana yang dicantumkan dalam Hadist Jibril as.

    namun sekali lagi apakah antum benar2 yakin jika Aqidah yang antum anut itu sudah benar……? sehingga lebih perduli terhadap masalah furu` ketimbang masalah Ushul……..?

  2. Bismillaah,

    Ya, akhi Ahmad Syahid,

    Anda tidak menjelaskan hubungan antara aqidah dan ibadah secara gamblang. Kalau seorang guru menyampaikan penjelasan seperti itu, jangan harap muridnya dapat beribadah dengan benar.

    Wallaahu a’lam.

  3. akhi ibnu suradi , penjelasan seperti apalagi yang lebih gamblang dari penjelasan Nabi ketika ditanya oleh malaikat jibril……..? antum ingatkan pada akhir hadist itu Rosul bertanya pada sahabat : apakah kalian tahu siapakah tadi yang bertanya , sahabat menjawab Allah dan Rosulnya lebih tahu lalu Rosul berkata : susungguhnya ia Jibril mengajarkan kepada kalian agama kalian .

    apakah ketika saya menjelaskan mengikuti penjelasan Rosulallah SAW akan mengakibatkan orang akan beribadah dengan tidak benar…….?

    apakah ada penjelasan yang lebih jelas dari penjelasan Rosulallah SAW……?

    saya jadi pengen tahu penjelasan Gamblang dari akh ibnu suradi seperti apa….?

  4. Bismillaah,

    Sebenarnya, bila anda dapat menjelaskan kalimat syahadat yang kedua: Asyhadu anna muhammadarrasuulullaah, maka anda akan menemukan hubungan antara aqidah dan ibadah dengan gamblang. Pada haikatnya, Allah mengutus Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia untuk hanya beribadah kepada Allah. Beliau diutus untuk mengajari manusia cara beribadah yang diinginkan Allah.

    Keimanan kepada Allah menuntun kita untuk menyembahNya. Keimanan kita kepada Rasulullaah menuntun kita untuk beribadah kepada Allah dengan benar sesuai yang diajarkan beliau.

    Wallaahu a’lam.

  5. akhuna Ibnu Suradi , yang antum tanyakan adalah hubungan Aqidah dengan Ibadah , bukan Hubungan dua Kalimat syahadah gimana tho……..?

    penjelasan antum itu lebih tepat jika dikaitkan dengan hubungan penciptaan dengan Ibadah sebab telah jelas dalam Qur`an : jin dan manusia diciptakan Hanya untuk beribadah

    adapun hakekat diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan Akhlak ( prilaku ) baik prilaku manusia dengan tuhannya maupun prilaku manusia dengan sesamanya , sebagaimana Hadist Nabi : inama buist tu li utamima makarimal akhlaq ,

    innama adalah adatul hasr , semoga saudaraku ibnu suradi dapat memahaminya.

  6. @Ibnu Suradi
    “Sebelum membaca pendapat orang, sebaiknya anda membaca hadits tentang cikal bakal kaum khawarij. Haditsnya sudah saya sampaikan. Silahkan mencermatinya. Hadits tersebut menyebutkan ciri-ciri kaum khawarij. Ciri utamanya adalah bahwa khawarij menentang Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

    Komentar saya :
    Ketiga ulama yang kutip di atas itu sudah membaca hadits tersebut. Percaya ga? Jangan dikira cuma Anda doang yang membaca hadits di atas. Alhamdulillah saya juga sudah membaca, tetapi saya tidak berani berpendapat seperti Anda. Makanya saya ikuti saja kata-kata ulama. Kalao Anda kan terbukti bisa mengartikan sendiri hadits, seperti hadits mengenai “membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongan ditujukan kepada orang yang hafal Yasin”. Walaupun akhirnya Anda mengaku merujuk. Tetapi kita tidak boleh sembarangan, kemudian dengan mudahnya merujuk. Yang aman, kita ikuti kata ulama, termasuk dalam mengenali ciri khawarij yang melekat pada Wahabi. Ngomong-ngomong Anda Wahabi ya? Belajarnya sama siapa sih?

  7. Bismillaah,

    Ya Akhi Ahmad Syahid yang semoga disayangi Allah,

    Akhlak yang mulia itu buah dari ibadah yang benar. Makanya, Allah berfirman: Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Dan ibadah yang benar itu buah dari aqidah yang benar.

    Sedangkan tugas semua Rasul dan nabi adalah mengajak manusia menyembah Allah. Banyak ayat Qur’an yang menjelaskannya diantaranya yang berarti: “Wahai manusia beribadahlah kepada tuhanmu yang menciptakan kalian dan umat sebelum kalian.” (QS. Al Baqarah) dan “Wahai kaumku, aku adalah pemberi peringatan yang jelas. Beribadahlah kepada Allah, bertakwalah dan ikutilah aku.” (QS. An Nuh). Rasul dan nabi tidak hanya mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah, tapi juga mengajari bagaimana cara beribadah kepada Allah. Makanya, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukharai, Muslim, dll), dan “Barang siapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dariku, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

    Yang jadi pertanyaan, kebanyakan kita umat islam itu shalat, tapi mengapa kekejian dan kemungkaran masih merajalela? Ada apa dengan shalat kita sehingga tidak dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar?

    Nah, dengan aqidah yang benar, maka kita dapat beribadah dengan benar. Dan dengan ibadah yang benar, maka kita dapat berakhlak mulia. Itulah hubungan antara aqidah, ibadah dan akhlak.

    Kang Bima,

    Hadits tentang cikal bakal kaum khawarij tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dan disyarah oleh Imam Nawawi. Lebih baik anda merujuk ke Imam Nawawi untuk memahami hadits tersebut daripada ulama masa kini.

    Wallaahu a’lam.

    Wallaahu a’lam.

  8. akhuna ibnu suradi , antum selalu aja pindah – pindah pokok bahasan , ( saya jawab antum pindah , saya jawab antum pindah ), jika terus seperti ini cara antum berdiskusi , habis waktu kita tanpa faidah ya akhi , sebaiknya kita tentukan 1 materi diskusi , lalu kita bahas hingga tuntas supaya ada natijah dan faidah , gimana apakah antum setuju……..?

  9. @Ibnu Suradi
    Hadits tentang cikal bakal kaum khawarij tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dan disyarah oleh Imam Nawawi. Lebih baik anda merujuk ke Imam Nawawi untuk memahami hadits tersebut daripada ulama masa kini.

    Komentar saya :
    Waktu Imam Nawawi mensyarah hadits tersebut, Wahabi belum ada. Kalau sudah ada mungkin akan berpendapat yang sama. Anda lebih baik mengikuti Imam Mazhab yang empat daripada mengikuti ulama Wahabi. Hati-hati lho Wahabi itu Khawarij lho. Artinya yang menyempat dari Ahlus Sunnah Waljamaah seperti kata ulama-ulama yang saya kutip di atas.
    Wallahu a’lam.

  10. Bismillaah,

    Akhi Ahmad Syahid,

    Baik kita tentukan bahasan diskusi kita pada perkataan saya berikut:

    Saya mengatakan bahwa kemampuan merapatkan shaf shalat berjamaah sesuai dengan yang diperintahkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan dicontohkan oleh sahabatnya adalah buah dari aqidah yang benar. Amalan merapatkan shaf itu merupakan bagian dari shalat berjamaah. Melaksanakan shalat berjamaah dengan benar itu adalah buah dari Aqidah yang benar. Shalat berjamaah merupakan salah satu bentuk ibadah. Melaksanakan ibadah yang benar merupakan buah dari aqidah yang benar.

    Jadi, aqidah yang benar akan melahirkan ibadah yang benar. Dan ibadah yang benar akan melahirkan akhlak yang mulia seperti yang Allah firmankan: “Shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.”

    Bagaimana?

    Kang Bima,

    Silahkan anda mengikuti penjelasan ulama kontemporer yang anda ikuti. Yang penting anda mengetahui ciri utama kaum khawarij sehingga anda tidak sembarangan dalam menuduh orang lain sebagai khawarij. Saya lebih memilih mengikuti penjelasan ulama klasik seperti Imam Nawawi.

    Wallaahu a’lam.

  11. ahlan wasahlan wamarhaban , hanya materinya kurang menggigit tidak banyak manfaat dan faidahnya , saya lebih sertuju jika materi diskusinya tentang Tauhid 3 , atau masalah – masalah yang berkaitan dengan Aqidah , baik aqidah Asy`ariyah ataupun Aqidah wahabiyah salafiyah ,

    apakah antum setuju……..?

  12. @Ibnu Suradi
    Silahkan anda mengikuti penjelasan ulama kontemporer yang anda ikuti. Yang penting anda mengetahui ciri utama kaum khawarij sehingga anda tidak sembarangan dalam menuduh orang lain sebagai khawarij. Saya lebih memilih mengikuti penjelasan ulama klasik seperti Imam Nawawi.

    Komentar saya :
    Yang bilang Wahabi Khawarij itu para ulama. Benar nih Anda mengikuti Imam Nawawi? Imam Nawawi mengakui ada bid’ah hasanah lho. Imam Nawawi mengakui sampainya pahala baca Qur’an untuk mayat lho? Anda ikuti ga? Anda ikut Al Bani dan Bin Baz ga? kan mereka lebih kontemporer dari ulama yang bilang Wahabi Khawarij.
    Yang benar mana nih? Saran saya, mari kita sama-sama ikut Imam Mazhab yang empat, dengan memilih salah satu yang sesuai dengan nurani. Jangan ikuti Wahabi yang lahir abad 12 H yang seumur dengan ulama-ulama yang anda bilang kontemporer di atas. Apalagi Bin Baz, Al Bani dan Usaimin. Mereka lebih “baru” lagi. Kalo bisa Anda juga jangan menyalah-nyalahi orang yang hafal Surat Yasin.
    Wallahu a’lam

  13. Ibnu Suradi said: Jadi, aqidah yang benar akan melahirkan ibadah yang benar.

    Koment saya:
    Berarti aqidah yang antum anut aqidah batil, sebab shalat antum itu shalat batil.
    Coba periksa, sholat Wahabi mendekap dada seperti orang sakit hati, yahudi shalatnya juga mendekap dada. Kalau tidak percaya cari tahu deh saya tidak bohong. Imam Madzhab tidak ada yg ngajari sholat mendekap dada. Kok tega2nya antum-antum menyandarkan shalat batil itu kepada shalat Sifat Nabi?

    Coba pikir, antum pernah bilang kalau sholat jamaah harus lutut ketemu lutut orang di sebelahnya, mata kaki ketemu mata kaki orang di sebelahnya. Bagaimana prakteknya kang? Apakah Nabi pernah ajarkan hal itu? Yang diajarkan Nabi adalah berbaris rapat dan lurus, dan seluruh ummat Islam selain Wahabi juga melakukan hal seperti itu.

  14. Yang Mbak Putri maksud seperti pada gambar ini?

    
    

    ibadah yahudi kok mirip shalatnya kaum wahabi ya?

  15. betuuuul, itulah yg saya maksudkan mas admin….

    saya lihat yg gambarnya lebih besar.ada di link ini

  16. izin nyimak ya…

  17. Alhamdulillah…disqusnya udah agak santun, insy ane mau masuk kalo santun n ilmiyah kayak gini.
    salam buat semua teman ummati press… benteng ASWAJA

  18. sampe pegel begini, nunggu kang Ibnu Suradi muncul….. kemana ya?

  19. masyallah, astaghfirullah…. ternyata benar-benar mirip Yahudi cara shalatnya Wahabi, saya pikir cuma ledekan teman2 Ummati saja.

    Kalau imam2 madzhab gak ada yg ngajarin sholat spt itu artinya jelas itu sholat niru2 Yahudi. Karena Imam2 Madzhab adalah para pengikut ajaran sholat Nabi Muhammad Saw.

    Sebaiknya fakta di atas bisa menginspirasi kita semua jangan malas mencari kebenaran, Merenungkan hal2 yg diperdebatkan atau memikirkannya lebih dalam adalah salah satu cara menemukan kebenaran.

    Tetapi kalau fakta gambar tsb tentunya tak perlu dipikir sudah sangat jelas artinya.

  20. Ikut nyimak Kang, sangat menarik diskusinya. Luar biasa!

  21. berkunjung di sini dan ikut nyimak debatnya bisa nambah pengetahuan, benar blog ini benar2 inspirative.

    izin nyimak terus boleh kan?

  22. Tapi kalau diperhatikan ada yg aneh, kenapa dari pihak Wahabi cuma kang ibnu suradi, yg lainnya kenapa nggak berani muncul membantunya. Kalau nggak sanggup, laporin aja ke ustadz kalian biar mereka membantu. Pasti akan lebih menarik lagi.

    Tetapi saya yakin, teman2 simpatisan blog ini sulit sekali dimentahkan argumen2 nya walaupun oleh ustadz2 Wahabi pun.

  23. Mbak Putri Karisma,
    hmmm, sangat menarik, gambarnya sanggup menghancurkan kesombongan kang Ibnu Suradi yg merasa ibadahnya paling benar karena lahir dari aqidah yg benar. Buktinya niru2 Yahudi ibadahnya, bagaimana bisa ngaku2 paling benar ibadah mu kang Ibunu Suradi?

    Jangan2 aqidahnya jg niru2 aqidah Yahudi atau Nasroni? Maaf lho kang Ibnu suradi, kalau antum masih merasa yg paling benar, kasih dong argumentasi yg kuat. Maaf ya, koment saya ini cuma ingin menggugah daya kritis antum, smg bisa mikir yg benar itu yang mana, gitu kang Ibnu Suradi.

  24. sepakat….

  25. wah mas gondrong kemana aja nih baru keliatan mas…… ? mbak putri , komen nya bikin ketawa …..komen yang pertama itu lho mbak , mendekap dada seperti orang sakit hati.

    oh ya akhuna Ibnu Suradi lagi sibuk kali ya …..belum ol aja nih….

  26. sarah salsabila

    For All Pengunjung@

    
    

    RATAPAN WAHABI

    Ya Allah, kudekap dadaku
    Karna sakit hati ini
    Sakiit sekali

    Mengapa aku minoritas
    Hiks!

    Capek2 banget aku berdakwah
    Tetep aja umatku dikitz

    Ngomong udah tak serem-seremin
    Bid’ah, neraka, kafir, syirik, tasyabbuh
    Isbal, khurafat, taqlid buta
    Eh, malah diketawain

    Jidat dah kami itemin
    Biar nampak soleh
    Biar terkesan alim
    Eh, malah diledekin

    Nama udah kami bikin keren
    Pembela sunnah
    Penegak tauhid
    Eh, katanya kok malah lucu..
    Hiks

    Ya Allah,
    Kapan kami jadi pintar
    Biar debat jadi pemenang
    Kami kok kalah melulu

    Udah kami impor
    Para ustadz dan syekh dari manca
    Dari nejd, dari saudi
    Dari dammaj, dari iran
    Dari vatikan, dari Yunani
    Eh, tetep aja
    Jadi bulan-bulanan kaum sunni
    Yg baru lulus ibtida’ lagi
    Malu ya Allah

    Ya Allah,
    Mengapa mereka pinter
    Iri banget ma mereka

    Kapan syeikh kami pinter
    Seperti mereka?

  27. Assalamu’alaikum akang ahmad, mohon maaf sebelumnya kalau saya boleh berkenalan, saya org awam selama ini saya dapat pemahaman yg salah, mohon bantuannya jika berkenan, jika ada FB bisa add FB saya… nu.music.player@live.com / Nu Woko D. Hubby…. mohon maaf sebelumnya saya hanya ingin menjadi org yg benar ^_^

  28. assalamualaikum mas syahid,…
    ya mas syahid, ana nyimak saja ya mas, sambil nimba ilmu nya dr ummati, mas syahid dan semua teman2 aswaja lainnya,…

  29. dimana ya kang suradi ko’ gak nongol? padahal ana tunggu penjelasannya tentang hadits yang di bawakannya “Barang siapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dariku, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)…

  30. dimana ya kang ibnu suradi padahal ane pingin tahu penjelasan dia ttg hadits “Barang siapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dariku, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim) ?….

  31. Abu Hilya@

    saya juga lagi nungguin Ibnu Suradi dari kemarin lho. Kenapa ya kok gak nongol, aku cuma pingin tahu apa komentarnya tentang sholat mendekap dada yg tidak ada contohnya dari Nabi. Seandainya ada contoh, pastilah para Imam Mazhab sudah mengajarkannya kepada Ummat Islam.

    Bener itu kata Mbak Putri, sholat mendekap dada seperti orang sakit hati, xix xix xi.. juga puisinya mbak Sarah Salsabila itu lebih memperjelasnya, bagus sekali puisinya.

  32. hehehe, mbak sarah salsabila puisinya menggigit hati,
    salam kenal

  33. waalaikum salam wr.wb , maaf mas Woko saya baru bisa jawab salam antum ,salam kenal juga mas woko semoga kehadiran antum di web ini dapat menambah wawasan dan penyegaran , kita sama – sama belajar ya mas……? ahlan wasahlan biquduumikum.

  34. Bismillaah,

    Kan, sudah ada thread sebelah tentang bantahan terhadap pembagian tauhid menjadi 3. Di situ antum berdiskusi dengan Abu Umar Abdillah dan Dowpay. Saya lebih tertarik pada pembuktian aqidah yang benar pada ibadah yang benar dan akhlak yang mulia.

    Wallahu a’lam.

  35. Ibnu Suradi@

    Menurut antum Aqidah Wahabi sudah benar dan menghasilkan ibadah yg benar. Peratanyaan saya, kenapa sholat Wahabi itu mendekap dada bertasyabbuh dg ibadah Yahudi. Lihat gambarnya di bawah dari Mbak putri.

    Tolog dijawab, jangan lari ya?

  36. baiklah saudaraku Ibnu Suradi jika materi diskusi yang antum inginkan adalah : Saya lebih tertarik pada pembuktian aqidah yang benar pada ibadah yang benar dan akhlak yang mulia .

    silahkan antum sampaikan akidah antum secara ringkas, lalu kita buktikan aqidah antum, sudah sesuaikah dengan Qur`an dan Sunnah atau belum……

    monggo……….

  37. Bismillaah,

    Kita belajar aqidah tidak lain untuk mengetahui bahwa Allah menciptakan manusia dan merintahkan manusia untuk menyembah atau beribadah hanya kepadaNya dan melarang manusia menyembah kepada selainNya.

    Kita belajar aqidah agar kita mengetahui bahwa Allah mengutus Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajak manusia menyembah atau beribadah hanya kepadaNya dan mengajari manusia cara beribadah sesuai dengan keinginanNya. Allah memberi wewenang hanya kepada Rasulullaah untuk mengajari manusia beribadah kepada Allah dengan benar.

    Jika kita mencintai Allah, maka mari kita ikuti Rasulullah dalam beribadah kepada Allah.

    Wallaahu a’lam.

  38. maaf saudaraku ibnu suradi , diforum ini semua sudah muslim , terlalu berlebihan jika antum ceramah seperti itu di forum ini , silahkan sebutkan akidah antum lalu kita diskusikan.

  39. Mas Ahmad Syahid, maaf cuma mau kasih tahu, kalau komentar jawaban monggo diklik Reply (warna biru dibawah koment) baru tulis komentnya, biar nanti tidak terpotong oleh komentar yg datang belakangan. Nanti dibacanya jadi janggal karena keduluan posisinya oleh komentar yg datang belakangan.

    koment saya ini terlebih dulu klik Reply baru koment. Posisinya jadi terkesan komunikatif, dan tidak akan bisa didului posisinya oleh koment yg datang belakangan. Silahkan dicoba Mas, klik Reply dibawah koment saya ini untuk menjawab….

  40. iya mas yanto terimakasih banyak atas sarannya.

  41. Bismillaah,

    Yaa akhi Ahmad Syahid,

    Tentang aqidah, di ummati ini sudah disampaikan pemahaman aqidah Sifat 20 dan pemahaman aqidah rubbubiyyah, uluhiyyah, asma wa sifat. Silahkan mencermatinya. Saya tidak mau menambahi perdebatan tentang kedua pemahaman aqidah tersebut. Saya hanya ingin membahas pembuktian aqidah yang benar pada ibadah yang benar dan akhlak yang mulia.

    Mumpung di sini banyak kawan yang menuduh batil pada amalan bersedekap di dada saat shalat, lebih baik kita bahas masalah aqidah yang berbuah pada amalan ibadah bersedekap di dada saat berdiri untuk shalat. Biar kawan-kawan tidak sembarang menuduh sebelum mengetahui ilmu tentang bersedekap di dada saat berdiri untuk shalat.

    Mengapa saya mengambil topik amalan dalam shalat tersebut? Ia merupakan bagian dari shalat. Dan shalat yang benar membuahkan akhlak yang mulia diantaranya perbuatan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Bagaimana?

    Wallaahu a’lam.

  42. iseng2 buka web teman sebelah yg tobat,..eh ketemu…

    Ijma 4 Madzhab : Tentang Kekufuran Orang Yang Menetapkan Tempat Dan Arah Bagi Allah

    Asy-Syaikh al-‘Allâmah Syihabuddin Ahmad ibn Muhammad al-Mishri asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 974 H) yang lebih dikenal dengan nama Ibn Hajar al-Haitami dalam karyanya berjudul al-Minhâj al-Qawîm ‘Alâ al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah menuliskan sebagai berikut:

    “واعلم أن القَرَافي وغيره حكوا عن الشافعي ومالك وأحمد وأبي حنيفة رضي الله عنهم القول بكفر القائلين بالجهة والتجسيم، وهم حقيقون بذلك”

    “Ketahuilah bahwa al-Qarafi dan lainnya telah meriwayatkan dari al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm Malik, al-Imâm Ahmad dan al-Imâm Abu Hanifah bahwa mereka semua sepakat mengatakan bahwa seorang yang menetapkan arah bagi Allah dan mengatakan bahwa Allah adalah benda maka orang tersebut telah menjadi kafir. Mereka semua (para Imam madzhab) tersebut telah benar-benar menyatakan demikian”[1].

    [1] al-Minhâj al-Qawîm ‘Alâ al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah, h. 224

    hiii…sereeemmm…

  43. Bismillah…
    Ya akhi Ibnu Suradi
    bisakah anda menjelaskan hadits yang sempat antum bawakan? krn barang kali pemahaman ana yang kurang tepat sehingga dapat pencerahan dari antum. syukron..
    ini terjemah hadits menurut antum “Barang siapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dariku, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

  44. mas prass , kaum mujassimah musyabihah ini seringkali kejam ya mas………..? banyak yang kebawa bid`ah tajsim dan tsybih , padahal ada ijmak seperti yang mas prass tunjukkan diatas , kawan2 Ummati ( mas dian mas baihaqi mas naka dll ) pada kemana ya mas……?

  45. Bismillaah,

    Yaa akhii Abu Hilya,

    Saya memahami hadits tersebut bahwa bila Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan A, maka kita harus melakukan A, bukan B. Untuk lebih jelasnya, bertanyalah kepada guru yang lurus dan membaca syarah hadits tersebut oleh Imam Nawawi dalam Kitab Syarah Shahih Muslim.

    Wallaahu a’lam.

  46. @ibnu Suradi

    coba antum tulis aja syarah yang antum baca itu. o ya.. jawab jg pertanyaan saya di awal komentar pada artikel “kembali-ke-al-quran-al-sunnah-itu-kalau-anda-seorang-mujtahid-mutlaq” ini.

  47. @Ibnu Suradi
    Mohon ditulis aja syarah yang antum baca itu, jangan-jangan Anda cuma kopi paste doang, seperti hadits merapatkan kaki, dicek sama Mbak Putri, ternyata ga benar juga. Kalo jadi Ustadz yang teliti dong, biar bisa dipercaya. Kalau menyarankan orang jangan ikuti ulama kontemporer seperti yang bilang Wahabi Khawarij, Anda juga jangan ikuti Al Bani dan Bin Baz yang lebih kontemporer. Jadi kalo bicara yang konsisten dong …

  48. Bismillaah….
    Maaf kang agak terlambat, semoga Alloh melindungi kita semua…. amiin
    Jika Hadits riwayat imam Muslim tsb antum fahami “Saya memahami hadits tersebut bahwa bila Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan A, maka kita harus melakukan A, bukan B. Untuk lebih jelasnya, maka ana jadi timbul pertanyaan :
    1. Bagaimana penjelasan antum mengenai hadits berikut :

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُجْمِرِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَحْيَى بْنِ خَلَّادٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ
    Rifa’ah bin Rofi’ berkata : “ suatu hari kami sholat dibelakang ( makmum pada ) Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam, maka ketika beliau bangun dari ruku’ beliau mengucap : Sami’allohu Liman Hamidahu , seorang leleki dibelakang beliau berucap : Robbana wa lakal hamdu hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih, ketika selesai sholat Rosululloh bertanya : “ Siapa yang berkata ? ( berucap do’a Robbana wa lakal hamdu….), laki-laki tersebut menjawab “ saya “. Rosululloh bersabda : Aku melihat tiga puluh lebih malaikat mereka saling mendahului untuk mencatat do’a tsb. ( HR. Bukhoriy no 757 versi Shameela )
    Juga Hadits berikut :
    عن عبد الرحمن بن ابي ليلى قال : ( كان الناس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا جاءه الرجل وقد فاته شيئ من الصلاة اشار اليه الناس فصلى ما فاته ثم دخل في الصلاة ثم جاء يوما معاذ بن جبل فاشاروا اليه فدخل و لم ينتظر ما قالوا , فلما صلى النبي صلى الله عليه وسلم ذكروا له ذلك فقال لهم النبي صلى الله عليه وسلم : ” سن لكم معاذ ” و في رواية سيدنا معاذ بن جبل : ( انه قد سن لكم معاذ فهكذا فاصنعوا ). رواه ابو داود و احمد و ابن ابي شيبة, و غيرهم, و قد صححه الحافظ ابن دقيق العيد و الحافظ ابن حزم
    Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bila seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam shalat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah rakaat shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, maka Mu’adz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yang harus kalian kerjakan”. (HR. al-Imam Ahmad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Daqiq al-’Id dan al-Hafizh Ibn Hazm al-Andalusi).
    Pada hadits diatas ada seorang sahabat yang berinofasi dalam sholat dengan apa yang sebelumnya tidak diajarkan oleh Nabi SAW, dan Nabi memujinya. Padahal Nabi pernah bersabda :
    صلوا كما رأيتموني أصلي
    “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat !
    Juga inovasi sayyidina Umar RA, ttg Tarowih dan jilid bagi peminum khomr, sayyidina Utsman RA ttg adzan jum’ah dan yang lain dari kalangan para sahabat, kemudian apa yang dibaca oleh Imam Ahmad bin Hambal ketika sujud berdo’a untuk Imam syafi’i dan orang tua beliau selama 40 th.
    Bagaimana tanggapan dan penjelasan kang suradi ? mohan antum jelaskan lebih gamblang biar ana yang bodoh ini mendapat tambahan ilmu. Syukron lakum wa jazakalloh khoir….

  49. mantab abu hilya , ahsantum .

  50. Bismillahir Rohmaanir Rohiim

    Mohon maaf sebelumnya, mungkin sebagai teman baru dlm komunitas ASWAJA di Ummati Press ini, apa yang ingin ana sampaikan terlalu lancang….

    Untuk sahabat dan saudaraku ASWAJA semua….
    Baiknya dalam forum diskusi ini kita hindari menghujat, mencaci, mencela atau bahkan munkin menyesatkan, karena sesungguhnya itu semua ciri khas dari ajaran yang di pelopori Syeh Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya.
    Tunjukkan bahwa ASWAJA memang bermanhaj salaf yang tidak hanya mengikuti hasil ijtihat Salafuna as Sholih dalam keilmuan tapi sekaligus dalam akhlaq dan metode berdakwa, karena iyulah sesungguhnya yang sangat prinsip yang menjadi pembeda antara ASWAJA dan WAHABI, dimana ciri khas WAHABI adalah mudah mencela, menganggap sesat, ringan dalam membid’ahkan, mensyirikkan bahkan menganggap kafir sesama saudara Muslim.
    Hendaknya dalam berdakwah terhadap mereka ( kaum wahabi ) kita tetap mengedepankan metode Bil Hikmah yang dalam aplikasinya terkadang harus agak keras namun tetap tanpa cacian atau hujatan, mengingat walau bagaimanapun mereka adalah saudara yang telah berucap Dua Kalimat Syahadat, mereka juga Insya Alloh sholat, sehingga nyawa, harta, dan kehormatan mereka tetap wajib kita jaga, seraya diiringi dengan do’a untuk semuanya semoga Alloh senantiasa berbelas kasih mencurahkan Hidayah dan bimbingan-Nya.
    Waspadalah!… karena boleh jadi sebagian mereka ( kelompok yang mudah mengkafirkan sesama ummat Islam ) tanpa sadar telah menjadi boneka yahudi yang brtujuan memecah belah ummat islam dan menjauhkannya dari panutan Ummat dengan Jargon Kembali pada Al Qur’an dan Sunnah.
    Terhadap saudara yang tdak sefaham dengan kami:
    Sadarilah sesungguhnya isu-isu yang sering kita diskusikan kebanyakan adalah isu-isu KHILAFIYAH. Jika antum semua memang bukan Wahabi maka hindarilah mem-bid’ahkan, menganggap sesat, bahkan mengkafirkan sesama muslim, karena jika itu tetap anda lakukan, maka bisa dipastikan anda adalah para pengikut WAHABI, dan semoga Alloh segera memberikan Hidayah-Nya kepada kalian semua.
    WAFFAQONALLOHU WA IYYAKUM ILAA MA YUHIBBU ROBBUNA WA YARDHO…

  51. ya mas,sereem…

  52. abu hilya benar dan saya setuju , bahkan kaum wahabipun sekarang sudah bersikap pura-pura lemah lembut , dan manis ,meskipun terus menyebarkan tuduhan2 yang tidak pantas kepada Ahlu Sunnah wal-jamaah.

  53. Bismillaah,

    Mbak Putri Kirana,

    Janganlah keburu memperolok-olok amalan bersedekap di dada jika anda belum mengetahui dalil yang mendasarinya. Berikut hadits-hadits tentang bersedekap di dada:

    “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam meletakkan ini di atas ini, di atas dadanya -dan yahya (salah seorang perawi -pent.) mencontohkan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri-.” (HR Imam Ahmad, Ibnul Jauzy)

    “Saya shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya.” (HR. Imam Ibnu Khuzaimah)

    “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian mengeratkannya di atas dadanya,dan beliau dalam keadaan shalat.” (HR. Abu Dawud)

    Wallaahu a’lam.

  54. Bismillaah,

    Mbak Putri Karisma,

    Mohon maaf, saya salah tulis nama “Putri Kirana”. Seharusnya, saya menulis nama “Putri Karisma”.

    Wallaahu a’lam.

  55. assalamu alaikum para pengunjung,sy org awam dlm agama dan sy menyimak diskusi antara akhi ibnu suradi dan akhi ahmad syahid trs terang sy kagum dengan keluasan ilmu yg di miliki keduannya,dan saya org kampung yg awam pernah mendengar guru ngaji saya di kampung mengatakan bagaimanapun bagus,hebat,rajinnya ibadah tetapi klu aqidannya salah maka sia2lah semua ibadahnya itu,,,,mohon tanggapan dr antum semua trima kasih,dan dlm hal diskusi ini sy jujur berpikah kepada akhi ahmad syahid,,,,terima kasih wassalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


eight − 2 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>