Kisah Nyata: Air dan Do’a Mustajab Buat Kesembuhan Habib Munzir

Habib Munzir, siapa yang belum pernah dengar nama sosok kesohor dari Jakarta ini? Sepertinya orang jakarta hampir semua pernah dengar nama beliau disebut dan  jadi buah bibir. Selain itu, masyarakat  melihat hampir setiap malam jalan-jalan di seantero Jakarta selalu dipadati iring-iringan  bersepeda motor dengan memegang bendera Majelis Rasulullah Saw. Iring-iringan konvoi itu adalah para pemuda yang ingin mendengar nasehat-nasehat Habib Munzir. Dengan penuh antusias mereka menuju satu titik di mana Habib Munzir akan memberikan pencerahan spiritual yang menentramkan hati. Hampir setiap malam berpindah tempat, terkadang di Jakarta Selatan, berikutnya di Jakarta Timur, besoknya lagi di Jakarta Barat, Jakarta Timur,  Jakarta Pusat dan seterusnya.

Nyaris setiap malam Para pemuda Pecinta Rasulullah SAW tersebut yang jumlahnya mencapai 20.000 sampai 30.000 kaum muslimin, mereka berkumpul di sekeliling Habib Munzir, mereka mendengarkan dengan takzim nasehat-nasehat emas Habib Munzir. Sungguh-sungguh sangat berharga apa yang didengarnya, yang sanggup menyejukkan jiwa di tengah gelora hubbuddunya yang merajalela.

Di tengah padatnya Jadwal kegiatan Majelis Rasulullah Saw, ternyata Habib Munzir Al-Musawa menderita suatu penyakit yang berat. Kalau penyakit itu kambuh, tak jarang membuat beliau dalam kondisi sangat kritis. Bahkan karena sakitnya beliau pernah beredar kabar sangat kencang  sekitar akhir Juni atau awal Juli 2010, beliau dikabarkan wafat. Sontak kabar ini membuat kaum muslimin heboh dalam tangis duka. Bahkan Ustaz Yusuf Mansur saat mendengar kabar tersebut berada di Bandung sempat mengadakan Shalat ghoib bersama kaum muslimin di sana. Tapi kemudian dengan segera pula terungkap kebenaran kabar tersebut yang ternyata hanyalah kabar burung.  Alhamdulillah, semoga Allah Swt memanjangkan umur Habibana Munzir dan selalu dalam keberkahan,  amin.

Nah, berikut ini adalah penuturan Habib Munzir tentang sakit yang dilaminya pada bulan Januari 2009, yaitu satu setengah tahun sebelum beredar kabar burung tentang kewafatan beliau. Selamat membaca, mudah-mudahan kita dapat pelajaran dan hikmah dari kisah nyata ini….  

Malam kamis yg menakutkan…

Dinihari pk 4 pagi kamis 7 januari 2009 bertepatan dg 21 Muharram, aku tersentak kaget dg sakit kepala yg sangat dahsyat, penyakit ini kambuh lagi, ia kembali menyiksa, aku bangun berusaha pelahan lahan dg limbung berwudhu dan witir, lalu berdzikir sambil merintih pedih..

Aku berada di Puncak Cisarua, dihadapanku tempat menginap guru mulia.., karena sakit yg luar biasa hampir saja aku melakukan shalat subuh dan meninggalkan Puncak menuju Jakarta, mungkin langsung keruang opname RSCM.

Namun kutahan, wahai pendosa, hadir dulu shalat subuh bermakmum pada Imam agung (guru mulia Habib Umar bin Hafidz, Tarim Yaman, red.), baru tinggalkan lokasi, namun setelah subuh kupandang wajah luhur itu, tak mampu aku meninggalkan wajah mulia ini, kubiarkan sakit yg membuat tubuhku bergetar dg airmata terus mengalir menahan sakit..

Selesai beliau menyampaikan syarah dan shalat isyraq, langsung aku menuju mobil dan meninggalkan Puncak menuju kediaman, rebah, berbutir butir obat penahan sakit tak bisa meredam sakit malah semakin parah..

Jumat pagi aku masih rebah tak berdaya, sakit tak kunjung hilang, guru mulia akan meninggalkan Jakarta sore ini, lalu bagaimana dg nasibku…, nasibku adalah menuju RSCM mungkin menanti ajal disana, atau kembali menghadapi jarum suntik yg dihujamkan kekepala dg 4 atau 5 suntikan..

 

Anakku Muhammad, bocah kecil itu datang menghadap guru mulia, seraya berkata : Abuya maridh.. (ayahku sakit) sambil menyodorkan air kepada beliau yg sudah di kediaman habib muhsin sebelah rumah kediamanku..

Guru mulia mendoakan sesaat dan memberikan air pada bocah itu…
Muhammad datang berlari, abuya ini air doa dari habibana Umar..
Aku meneguknya sedikit, kurasa sejuk seluruh tubuhku..
Sore tadi kuminum lagi hingga dua pertiga botol itu, seluruh sakit itu sirna.. sirna… sirna,.. sirna…

Tinggallah tubuhku bagai habis dicabut nyawa, lemah lesu bagai ada gunung besar yg dibebankan padaku dan telah dicabut..

Ah…, 1000x Alhamdulillah. , selamat jalan guru agung… hamba tetap meneruskan perjuanganmu,

sebelum magrib aku sudah rapat dengan kordinator utama di ruang kerja di markas pusat untuk merencanakan dan membahas acara 12 rabiul awal (26 feb mendatang).
Selesai… kita terus berjuang…..!
WASSALAM

Sumber

Tags: