imam
Inilah Fakta Imam Suyuti di Balik Tuduhan Sesat Oleh Kaum Salafi Wahabi
Disebabkan kecenderungan Imam Suyuti terhadap tasawuf maka otomatis beliau adalah seorang Sufi yang sesat menurut pandangan Salafi Wahabi. Akan tetapai faktanya, di balik tuduhan sesat atas Imam Suyuti dalam pandangan kaum Salafi Wahabi, Imam Suyuti adalah termasuk jajaran ulama elite… Continue reading
Tawassul dengan Nabi Saw Itu Sunnah, Pelaku Tawassul Bukan Musyrik
DALIL SAHIH DAN ISTIDLAL TENTANG SUNNAHNYA TAWASSUL DENGAN NABI SAW
Jika tulsianku ini bagus, maka yang bagus itu semuanya dari Allah Swt.
Tapi jika tidak bagus, maka mohon dimaklumi, karena aku bukan santri lulusan luar negri… Continue reading
Hadits Dhoif Andalan Wahabi : Bid’ah Itu Lebih Disukai Iblis daripada Maksiat
Atsar Dhoif yang Dijadikan Hujjah Oleh Wahabi
Oleh: Mahmud ‘Awy’ Al BanjariTernyata hadits yang sering dibawakan oleh Wahabi tentang perkataan Imam Sufyan Tsauri : “Bahwa bid’ah itu lebih disukai iblis daripada maksiat”, itu adalah riwayat dhoif dan TIDAK… Continue reading
Sambungan Kisah Taubatnya Salafytobat
sigit, on November 16, 2008 at 1:22 pmsaid:
mas, sekarang kalau pengajian gabung di mana? mas keluar dari salafi, apakah sekarang sudah menemukan yang lebih baik? mohon jawab
Log in to ReplyAgar Syubhat Terungkap Jelas
Oleh: Ahmad Khoiruddin
Bagaimana sikap saya terhadap tuduhan kafir, musyrik, penyembah kuburan dan ahlul bid’ah yang ditujukan kepada mayoritas kaum muslimin Indonesia? Duh…, memang ini problem yang benar-benar terus berkecamuk di tengah –tengah Ummat Islam. Efek fitnahnya sungguh luar biasa. Tapi alhamdulillah, insya Allah Ummat Islam bisa bersabar akan semuanya itu. Bahkan secara pribadi saya mengapresiasi semua tuduhan miring yang terkadang kelewat kasar dalam penyampaiannya. Lewat tulisan ini sebenarnya saya ingin memberikan suatu wacana yang agak sejuk. Saya akan tetap khusnudlon jika seandainya ada yang tidak menerima. Artinya ya tidak apa-apa, gitu lho, saya tidak akan emosi….
Atau saya tidak akan berbalik menyesatkan Para Penuduh karena berbeda dengan saya. Sungguh, saya sadar Ummat Islam pun berhak beribadah dengan cara yang diyakininya, yang diajarkan oleh guru-gurunya yang menurut mereka benar. Cuma pesan saya, setelah membaca tulisan ini hendaknya jangan terlalu gemar mennyesatkan atau membid’ahkan atau memvonis orang lain sesat hanya karena berbeda pandangan. Nah, saya untuk selanjutnya akan sering berganti nama menjadi “kami”, sebab saya akan mencoba mewakili aspirasi orang-orang yang saya bela dalam tulisan ini. Continue reading
Kembali Ke Ulama Nusantara
Para Ulama Ahlus sunnah wal jamaah telah menetapkan bahwa ada 4 mazhab besar yang sah dijadikan rujukan kaum muslimin dalam beragama. Keempat mazhab itu adalah Mazhab Hanafi yang di bangun oleh Imam Abu Hanifah (W 150 H), Mazhab Maliki yang dibangun oleh Imam Malik bin Anas (W 179 H), Mazhab Syafi’i yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (W 204 H), dan Mazhab Hambali yang dibangun oleh Imam Ahmad bin Hanbal ( W 241 H). Mereka bersepakat bahwa keempat ulama mujatahid mutlak ini memenuhi sepenuhnya ketentuan syariat dalam beragama dan teguh dalam berpegang kepada al-Qur’an dan Sunnah. Mazhab-mazhab itu tersebar diseluruh dunia dan dengan rahmat Allah setiap daerah atau wilayah memiliki mazhab tersendiri yang menjadi anutannya. Adapun generasi pertama yang menyebarkan Islam di Nusantara adalah para penganut Mazhab Syafi’i. Itulah sebabnya hingga kini sekitar 80% ummat islam yang ada di Indonesia istiqomah dalam mengikuti Mazhab Syafi’i. Continue reading
Mengaku Tak Bermazhab Itu Keblinger
Beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2004, saya pernah terlibat semacam debat kusir dengan seorang teman kerja. Lumayan alot dan tanpa ujung-pangkal, sebab berlangsung beberapa hari di sela-sela kegiatan kerja kami. Garis besar masalah yang kami ‘debatkan’ adalah mengenai perlu tidaknya bermazhab bagi seorang muslim yang masih awam seperti kami waktu itu. Dia bilang bahwa saya taklid buta karena bermazhab. Karena itu dia menyarankan dan mengajak saya untuk ikut dengannya mengaji kepada gurunya.
Saya akui terus terang kepadanya tanpa keraguan bahwa mazhab saya Syafi’i. Tapi jangan salah sangka bahwa saya fanatik mazhab. Sebab saya juga sangat toleran dengan apa yang ada di mazhab Maliki, Hambali dan Hanafi. Justru saya merasa harus bermazhab, sebab dari mana kita mengetahui ilmu agama ini kalau tidak melalui bermazhab? Memangnya kita mampu menggali sendiri ilmu-ilmu yang ada di Al-Qur’an dan Hadis tanpa ‘jalan mazhab’? Bagaimana akan menggali sendiri mengingat syarat berijtihad yang begitu sulit dan berat? Saya bertanya kepada teman saya; adakah ulama-ulama zaman ini yang mampu memenuhi syaratnya? Tentunya ada, tapi tentunya sangat sedikit sekali. Yang jelas mereka termasuk orang berilmu ‘selangit’, bukan seperti kita yang masih tergolong awam! Continue reading

Print halaman ini
















