tawassul
KISAH NYATA: Ustadz Firanda Jadi Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri
Hati-hati menimba ilmu dari Ulama Najd
SAMBUNGAN KISAH NYATA: Ustadz Firanda Menjadi Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri
( BAGIAN TERAKHIR: Efek Menuntut Ilmu kepada Ulama Najd )
Dalam postingan ini yang merupakan sambungan dari postingan terdahulu di sini, semakin memperjelas siapa sebenarnya ustadz Firanda. Sungguh payah pemahamannya tentang ajaran Islam, payah dalam arti yang sebenarnya. Pesan kami, hati-hatilah mengikuti pemahamannya, jangan sampai anda pun ikut-ikutan terjerat dalam pemahaman yang batil yang disebarkannya di muka bumi ini.
Tulisan yang diblock quote adalah dari Ustadz Firanda, sedangkan yang tanpa block quote adalah komentar atau jawaban H. Ahmad Syahid. Selamat mennyimak semoga bermanfaat bagi kita semua untuk memperoleh pemahaman yang benar tentang dienul Islam yang sesuai Al Qur’an dan Hadits menurut penjelasan yang diajarkan para Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah.
Sambungan dari Postingan: “Ustadz Firanda Bisa Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri“
Ustadz Firanda melanjutkan :
Lantas bagaimana ustadz abu Salafy menyatakan bahwasanya jika seseorang berdoa kepada selain Allah, kepada Nabi atau kepada wali maka itu bukanlah kesyirikan selama tidak disertai keyakinan bahwasanya wali atau nabi tersebut ikut mencipta dan mengatur alam semesta serta memberi rizki??!!
Perkataan seseorang “Wahai Rasulullah, sembuhkanlah aku!!!” ini bukanlah kesyirikan??, perkataan seseorang, “Wahai Abdul Qodir Jailani, tolonglah aku…!!”, ini juga bukan kesyirikan??!!, iya bukan kesyirikan, selama tidak meyakini Nabi dan Abdul Qodir Jailani ikut mencipta dan mengatur alam semesta..!!!!, demikianlah keyakinan Abu Salafy.
Dan saya harap para pembaca memperhatikan ayat-ayat dan hadits di atas yang bersifat umum tentang doa. Allah dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak pernah mengecualikan bahwasanya jika berdoa kepada makhluk dengan keyakinan bahwasanya makhluk tersebut (baik malaikat atau nabi atau wali) tidak ikut mencipta, mengatur, dan memberi rizki secara independent maka bukan kesyirikan.
Lebih aneh lagi Abu Salafy tidak menganggap istighotsah sebagai ibadah. Abu Salafy berkata ((Sebab inti masalahnya sebenarnya terletak pada pemahaman menyimpang Ibnu Taimyah dan para mukallidnya seperti Ibnu Abdil Wahhâb dan kaum Wahhâbi mukallidnya dalam mendefinisikan makna ibadah…di mana mereka memasukkan meminta syafa’at, beristighatsah, bertawassul dll. misalnya sebagai bentuk kemusyrikan… sementara para mufassir klasik yang selama ini dirujuk kaum Wahhâbiyyûn dan Salafiyyûn sama sekali tidak memasukkannya dalam daftar kemusyrikan!)) (lihat http://abusalafy.wordpress.com/2011/01/08/benarkan-kaum-musyik-arab-beriman-kepada-tauhid-rububiyyah-allah-bantahan-untuk-ustad-firanda-i/).
Jawaban Ahmad Syahid:
Di point ini saya tidak berkomentar banyak, saya serahkan kepada pembaca Budiman untuk menilai siapakah yang benar dan siapakah yang salah. Siapakah yang lebih berhak menjadi Ustadz…? Apakah Abu salafy yang kokoh argumentasinya atau Firanda yang telah menjerat dirinya sendiri dengan argumentasinya dalam kubangan kemusyrikan?
Continue reading
Tawassul dengan Nabi Saw Itu Sunnah, Pelaku Tawassul Bukan Musyrik
DALIL SAHIH DAN ISTIDLAL TENTANG SUNNAHNYA TAWASSUL DENGAN NABI SAW
Jika tulsianku ini bagus, maka yang bagus itu semuanya dari Allah Swt.
Tapi jika tidak bagus, maka mohon dimaklumi, karena aku bukan santri lulusan luar negri… Continue reading
Koreksi Ahlussunnah Wal-Jama’ah Kepada Salafy Wahabi Soal Tawassul
Bagi Anda yang pernah belajar ilmu agama Islam tahu bahwa Allah Swt memerintahkan orang-orang beriman (mukminin) untuk bertawassul sebagaimana firman-NYA: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Alloh swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Alloh SWT dan berjuanglah di jalan Alloh swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35). Jadi, bertawassul adalah perintah Allah Swt, dan merupakan amalan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Termasuk amalan Tawassul adalah berdo’a dengan menggunakan perantara, bisa dengan amal shalih, atau dengan kedudukan Kenabian Nabi Muhammad Saw atau kedudukan orang-orang Shalih di sisi Allah Swt, baik ketika masih hidup dan setelah wafatnya. Banyak hadits-hadits shahih yang menjelaskan akan hal ini, dan banyak contoh orang-orang beriman yang shalih melakukan do’a tawassul yang demikian itu.
Tapi celakanya akhir-akhir ini ada sekte Islam yang mengingkari amalan do’a tawassul dengan Nabi Saw setelah wafatnya, dengan alasan orang yang telah wafat tidak mampu memberikan manfaat atau mudhorot apa-apa. Para pengikut sekte sempalan ini lupa atau mungkin tidak menyadari bahwa pada hakekatnya yang memberi manfaat atau mudhorot adalah Tuhan satu-satunya yaitu Allah Azza Wajalla.
Bagi orang-orang yang mampu berpikir lebih dalam tentang kekuasaan Allah Swt akan menyadari, sesungguhnya tak ada perbedaan antara yang hidup dan yang mati dalam hal memberi manfaat sebab semuanya tidak ada yang mustahil dengan kekuasaan dan izin Allah swt. Yang hidup tak akan mampu berbuat melainkan dengan izin Allah swt dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila memang dikehendaki oleh Allah swt. Pengingkaran akan kekuasaan Allah swt atas orang yang mati dalam hal kemanfaatan adalah kekufuran yang sangat jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kekuasaan Allah dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah SWT.
Ketakwaan Nabi Saw dan orang-orang shalih dan kedekatan mereka kepada Allah Swt tetap abadi walau mereka telah wafat. Maka jelaslah semua ini sangat erat berkaitan dengan ibadah tawassul yang diperintahkan Allah dan dicontohkan oleh Rasul Saw. Akan tetapi ketika kaum muslimin menjalani tawassul serta-merta dianggap musyrik. Sebab menurut paham ajaran sesat itu, orang bertawassul itu disamakan dengan menyembah selain Allah Swt. Bertawassul sudah diperintahkan oleh Allah, tetapi saat ada yang bertawassul dianggap musyrik, bukankah ini suatu kontradiksi yang sangat jelas? Hal inilah yang dikoreksi oleh seorang facebooker ASWAJA terhadap tulisan artikel Ustadz Muhammad Umar As-Sewed seorang pentolan Salafy Wahabi Indonesia. Mari kita simak bersama mudah-mudahan kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah, amin….
Facebooker ASWAJA Koreksi Salafy Wahabi Soal Pemahaman Tauhid
Koreksi Tajam dari Facebooker ASWAJA kepada Salafy Wahabi so’al Tauhid
Koreksi dan sorotan tajam ini dimulai oleh display status facebooker Wahabi bernama Suripto As-salafy Al-Banyumasi. Status postingan artikel bertema Dakwah Tauhid tersebut semula tidak bermasalah akan tetapi kemudian melebar dan menyinggung persoalan Tawassul yang dianggap musyrik oleh penulis artikel tersebut. Hal ini mengundang komentar dari facebooker ASWAJA bernama Imam Nawawi yang tampil sebagai korektor handal atas kecerobohan sang penulis artikel yaitu Ustadz Muhammad Umar Assewed, yang mana beliau adalah salah seorang tokoh sentral kaum Salafy Wahabi di Indonesia.
- Sang Facebooker Imam Nawawi berkata: “Dakwah Nabi dan semua umat Islam yg mengikuti beliau adalah dakwah Tauhid, yaitu meng-Islam-kan yang kafir dan para wali songo di tanah Jawa merupakan ulama-ulama yang sangat berjasa dalam dakwah Tauhid di Nusantara ini, sehingga Islam bisa berkembang dengan pesat di Indonesia”.
Nah, bagaimana koreksi yang lebih lengkap dan sorotan tajam yang diarahkan ke ajaran Salafy Wahabi yang memusyrikkan amalan Tawassul tersebut, mari kita ikuti dan simak semoga bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Continue reading
Mengapa Salafy Wahabi Dianggap Meresahkan
Konsep Dasar Ajaran Salafy dan Wahabi
Salafi atau Salafiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah ( 661 H-728 H) atau yang sering dikenal dengan panggilan Ibnu Taimiyah. Salafi atau Salafiyah itu sering dipahami sebagai gerakan untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. beserta para Sahabat beliau.
Wahabi atau Wahabiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada pelopornya yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1702 M-1787 M/ 1115 H-1206 H). sebetulnya, nama Wahabi ini tidak sesuai dengan nama pendirinya, Muhammad, tetapi begitulah orang-orang menyebutnya. Sedangkan para pengikut Wahabi menamakan diri mereka dengan al-Muwahhiduun (orang-orang yang mentauhidkan Allah), meskipun sebagian mereka juga mengakui sebutan Wahabi. Continue reading
Kupas Tuntas Ziarah Kubur dan Tawassul Versi Ahlussunnah Waljama’ah
yusuplaskar bertanya Tentang Ziarah Kubur dan Tawassul:
Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh,
selamat dn kesejahteraan smoga dicurahkan kpada habib dan kluarga, amin…. bib, orang tua saya dulu pernah menyuruh sy ziarah ke makam keramat (dlm hl ini orang yg dihormati atau mkam ulama) supaya sy cepat mendptkn pkerjaan. sy brtanya apa yg harus sy lakukan di makam, jwb bliau, mintalah kpd ahli kubur (dlm hl ìni ulama) agar doa saya disampaikan kpd ALLAH,,,tp sy mrasa galau, krna spengetahuan sy, meminta bntuan kpd yg sudah mati, hukumnya adalah musyrik. jd sy tdk mlaksanakan perintah ortu saya. saya mohon pendapat habìb tentang msalah di atas. Terimakasih sbelumnya….
wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
JAWABAN ATAS PERTANYAAN DI ATAS: Continue reading
Masa Depan Kredibilitas Syeikh al-Albani yang Semakin Memburuk
Kedudukan Syaikh Nashiruddin al-Albani Dalam Menilai Hadits
Syaikh Nasir Al-Albani
Syaikh Nashiruddin al-AlBani adalah nama yang tidak asing di kalangan para pelajar ilmu hadis belakangan ini. Namanya banyak dicantumkan oleh para penulis buku-buku Islam (terutama yang berpaham Salafi & Wahabi) saat mengomentari suatu hadis. Karya-karyanya juga sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh para pengagumnya, sehingga namanya kini juga banyak didapati di toko-toko buku dan stan-stan pameran buku, berhubung penerbit-penerbit buku atau majalah berhaluan Salafi & Wahabi belakangan sudah semakin menjamur.
Akan tetapi, tahukah anda, bahwa sesungguhnya kepiawaian Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam menilai hadis diragukan oleh para ulama hadis, bahkan cenderung tidak diakui, menimbang bahwa beliau tidak memiliki jalur keilmuan yang jelas dalam bidang tersebut. Lebih jelasnya, penulis akan menyebutkan sekelumit gambaran tentang pribadi Syaikh al-Albani ini sebagaimana ditulis oleh Tim Bahtsul Masa’il PCNU Jember di dalam buku Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik” (H. Mahrus Ali), halaman 245-247 sebagai berikut: Continue reading
Mengaku Ahlussunnah Kok Anti Tawassul Sih?!
Berawal dari diskusi santai, pada suatu hari Ummati Press kedatangan sebuah Email dari kelompok orang yang menamakan diri “Simpatisan Nashiruddin Al-albani”. Bunyi emailnya antara lain: “Setidaknya kami tidak pernah melakukan tawassul. Bertaubatlah wahai orang musrik. Segeralah berhenti bertawasul ke kubur… Continue reading

Print halaman ini














