Thursday , 2 October 2014
Breaking News
Home / Berita Fakta / Wahabi dan Ironisme Pemahaman Bid’ah ( bagian 1 )

Wahabi dan Ironisme Pemahaman Bid’ah ( bagian 1 )

Ironisme Bid'ah Ala WahabiOleh: A. Fawwaaz Al Q

 

Sebuah kata paling top di zaman ini adalah kata  “BID’AH”, tapi bila salah memahami dan menempatkanya dapat menyebabkan kita termasuk dalam sabda baginda Nabi Saw dalam shohih Al-Bukhori : “sungguh sebesar-besar kejahatan diantara muslimin adalah orang yang mempermasalahkan hal yang tidak diharamkan namun menjadi haram sebab ia mempermasalahkanya.”

Sekarang oleh sebagian muslimin kata “BID’AH” ini bak pedang bertangkai  yang selalu terhunus sebagai Jurus Pamungkas untuk “membunuh” muslimin lainya. Kenyataan di masa lalu bisa kita lihat dalam sejarah, darah kaum muslimin tumpah di mana-mana seperti yang telah dilakukan dua kolaborasi antara ulama’ dari Najd dan penguasa Dir’iyah yang sekarang dinastinya berdiri kokoh di jazirah Arab. Kejahatan dengan dibungkus jargon memurnikan tauhid, menyebabkan mereka nekad membuat Bid’ah Aqidah dengan membagi tauhid jadi 3 (trinitas), yaitu Uluhiyah, Rububiyah, Asma wa sifah. Akibat selanjutnya adalah manusia-manusia tidak berdosa, bayi dalam gendongan ibunya, ulama’ yang sudah tua renta mereka bunuh dengan disembelih. Naudzubillah….

“Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersaksi bahwa “Tiada tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah”, kecuali satu dari tiga orang berikut ini; seorang janda yang berzina, seseorang yang membunuh orang lain dan orang yang keluar dari agamanya dan meninggalkan jama’ah”  (shohih muslim)

Akibat bid’ah pembagian tauhid (uluhiyah, rububiyah, asma wa sifah) darah muslimin yang haram ditumpahkan menjadi halal karena dianggap murtad berdasar pembagian tauhid 3 (trinitas). Padahal jelas dalam shahih Muslim di atas, cukuplah bersaksi “Laailaahaillallah muhammadurrosulullah” seseorang haram ditumpahkan darahnya karena telah menjadi muslim.

Mengapa lebih memilih mengikuti kaum yahudi yang menyembah Rahibnya (mengikuti fatwa nafsunya, halal menjadi haram dan sebaliknya)? Karena mereka termasuk bagian sabda baginda nabi saw : “Demi Allah aku tidak takut kemusyrikan menimpa kalian, yang aku takutkan kalian berebut keduniawian. (shohih bukhori).

Dan faktanya, mereka mewariskan kekuasaan dan kekayaan kepada anak cucu (dinastinya) sampai sekarang bahkan sebagian kekuasaan dan kekayaanya dipersembahkan kepada wali / pelindung mereka yaitu para penuja syetan bangsa zionis (Amerika, Israel). Ironisnya kekuasaan dan kekayaan yang dipersembahkan kepada para pemuja syetan itu untuk membantai saudara kita muslimin di Palestina. Laahaula walaquwwata illabillah….

Aneh bin ajaib, ulama’ panutan mereka yang gemar berfatwa tak satu pun yang berfatwa (setali tiga uang) apa pun soal pembantaian di palestina. Apakah karena akibat besarnya dosa yang dilakukan kepada muslimi, maka allah swt membiarkan begitu saja berjalan menuruti akal dan nafsunya sehingga tersesat sesesat-sesatnya?

Maka yang timbul kemudian fatwa nyleneh menuruti akal dan nafsunya seperti:

FATWA DIPERBOLEHKANYA KAWIN DENGAN NIAT TALAK (ALA MUT’AHNYA SYIAH). Aahh enak tenan, makanya krasan untadz  F disana. FATWA HARAMNYA ROKOK Denan ALASAN MUDLOROT BAGI PENGHISAPNYA dengan melupakan fatwa mengebiri (memotong burung) untuk meredam pengumbar shahwat. Aah…, sayang memang kalo dikebiri kan asyik 4 plus kawin kontraknya).

Kalau memang pemahaman Bid’ah seperti yang mereka kira, surga yang diciptakan Allah swt akan sia-sia karena dihuni kurang dari 10% manusia bumi. Nah, untuk menyadarkan  pikiran yang lalai dan menjernihkan hati yang tertipu simaklah kasus-kasus bid’ah berikut ini:

BID’AH SAHABAT SEMASA HIDUP BAGINDA NABI JUNJUNGAN KITA MUHAMMAD BIN ABDILLAH ROSULULLAH SAW:

1. Rosulullah saw mendapati sejumlah sahabat sedang duduk dalam sebuah halaqoh. Lalu baginda saw bertanya: “apa yang membuat kalian duduk disini?”

“Kami duduk disini untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah dan karunia memeluk Islam.”

Rosulullah saw bertanya lagi sembari bersumpah : “Demi Allah, apakah hanya itu  kalian duduk disini?”

“demi allah, hanya itulah yang membuat kami duduk disini,” jawab sejumlah Sahabat.

Kemudian rosulullah saw bersabda: SESUNGGUHNYA SUMPAHKU TADI BUKAN BERPRASANGKA BURUK KEPADA KALIAN AKAN TETAPI JIBRIL TADI DATANG MENEMUIKU DAN MENYAMPAIKAN BAHWA ALLAH AZZA WA JALLA SEDANG MEMBANGGA-BANGGAKAN KALIAN Kepada PARA MALAIKAT. (hr. Imam Muslim, Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Pada masa Nabi hidup, Halaqoh adalah diluar kebiasaan Nabi saw dan tanpa perintah Nabi Saw, alias BID’AH.

2. Mengahiri setiap rekaat dengan surat Al-ikhlas

Syayyidatuna A’isah radiyallahuanha menceritakan bahwa pada suatu hari baginda Nabi saw mengutus beberapa Sahabat ke medan laga dengan menunjuk seorang diantara mereka menjadi pemimpin. Dan anehnya pimpinan tersebut setiap menjadi imam sholatnya selepas Al Fatihah kemudian surat lalu diahiri dengan surat Al-Ikhlas. Setelah kembali ke madinah lapor kepada Rosulullah saw.

Setelah menyimak laporan mereka rosululah saw berkata: “TANYAKAN KEPADANYA MENGAPA IA LAKUKAN HAL ITU.” Ketika para sahabat menanyakan hal itu lelaki pimpinan tersebut menjawab: “sebab surat Al-ikhlas tersebut (memuat) sifat-sifat Allah yang Maha Penyayang dan aku suka membaca sifat-sifat Allah.”

Mendengar alasan lelaki tersebut Rosulullah saw bersabda: “sampaikan kepadanya bahwa Allah mencintainya.”

(hr Al Bukhori, Al Muslim, Al Nasai)

DAN DALAM KASUS INI PUN ADALAH BID’AH, KARENA ROSULULLAH SAW TIDAK MEMERINTAH DAN MENCONTOHKANYA, JUGA TIDAK PERNAH MENGAJARKAN SEBELUMNYA.

3. DOA I’TIDAL

Suatu hari kami sholat berjamaah bersama Rosulullah saw, ketika bangkit dari ruku’ dan mengucap ”sami’allahu liman hamidah”, salah seorang di belakang beliau (makmum) mengucap: “robbana wa lakalhamdu hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fiih” secara Jahr.

Selesai salam beliau saw berkata:”Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?”

“Saya,” jawab lelaki tersebut. Lalu Rosulullah saw bersabda: ”Aku melihat lebih dari tigapuluh malaikat berebut untuk menjadi yang pertama yg mencatat pahalanya.

Lihatlah kasus ini, bukankah ini adalah jelas-jelas BID’AH, karena tidak ada contoh dari baginda Nabi Saw. Tetapi malaikat berebut untuk mencatat apa yang dilakukannya, subhanalloh….

 

TAKUT BID’AH, SIAPA TAKUT?

APAAN TUH BID’AH, BID’AH MENGAPA DI APA-APAIN!

SILAKAN BERKATA SEMUA BID’AH SESAT DAN MASUK NERAKA, MESKIPUN KALIAN  ALUSYEH, S3, DOKTOR,

- TDK ADA JAMINAN BAHWA KALIAN AKAN HUSNULKHOTIMAH SEDANGKAN KAMI YAKIN SAHABAT RODLIYALLAHUANHUM YANG MELAKUKAN BID’AH SEPERTI TERSEBUT DIATAS TELAH BAHAGIA DI SISI ALLAH SWT, DI SURGA FIRDAUS.  DAN JASAD KALIAN BELUM TENTU AMAN DARI KALAJENGKING DAN CACING-CACING DI BUMI SEPERTI UTUHNYA JASAD  SAYYID MUHAMMAD BIN ALWI AL-MALIKI AL-HASANI CUCU ROSULULLAH SAW.  ALLAH TIDAK BUTUH PENGAKUAN KALIAN DAN TIDAK BUTUH KALIAN YANG MENEGAKKAN SYARIAT. SEBELUM KALIAN LAHIR SYARIAT SUDAH TEGAK BAHKAN KALIANLAH YANG MEMBUTUHKAN SYARIAT.

- TIDAK ADA JAMINAN KHUSNUL KHOTIMAH ULAMA’ KALIAN WALAUPUN MENGARANG KITAB BANYAK MACAMNYA, HAFAL FATHUL BARI (IBNU HAJAR), TAK DIJAMIN DI AHIR HAYATNYA HUSNULKHOTIMAH. SIR JHON HAFAL TAFSIR JALALAIN, SNOECK HORGRONJE MENGUASAI GRAMATIKA ARAB DAN HAFAL ALQUR’AN BERIKUT MAKNAYA TIDAK MASUK SURGA KARENA BAGIAN DARI ZIONIS.

- SEDANGKAN  SEPERTI KHULAFAURROSYIDIN, SAHABAT BESAR NABI, Al-IMAM ASY IMAM SYAFI’I, AL-IMAM AHMAD BIN HAMBAL SELURUH MUSLIMIN MEYAKININYA BELIAU-BELIAU TELAH MENDAPATKAN KENIKMATANYA DISISI ALLAH SWT PADAHAL BELIAU-BELIAU INI PELAKU BID’AH (BID’AH HASANAH).

 

 

… b e r s a m b u n g … ke Bagian Dua ( 2 ) 

 

( disarikan dari berbagai sumber oleh:  A.fawwaaz Al.Q )

 

292 comments

  1. @ibnu suradi alias @baba
    Terus terang ane gak pernah belajar bahasa Arab, karena ane SD di Riyadh (ummi ane orang sana), Jadi ane selalu bawa kamus Arab-Indonesia karangan Ali Mukhtar terbitan Pustaka Hikmah (group Mizan) tahun 2005
    Terus terang juga ane malas, jawab koment ente, karena ilmu ente sdh kelihatan dari pertama ente koment diblog ini
    Sejali lagi Mohon maaf.

  2. fardanabumuhammad

    Penulis artikel ini mengqiyaskan bid’ah yang sahabat lakukan lakukan dengan kita, manusia yang hidup jauh setelah rasulullah.. Memangnya siapakah kita ini dibandingkan mereka?. Kalau zaman rasulullah ada sahabat yang melakukan hal baru kemudian rasulullah menyetujuinya, maka bukankah hal tersebut merupakan sunnah rasulullah karena persetujuan tersebut? Nah kalau zaman sekarang kita membuat hal baru sementara rasulullah tidak berada ditengah-tengah kita, maka siapakah yang bisa menjamin kalau apa yang kita lakukan itu benar?..
    Ana mau bertanya kepada para pendukung bid’ah hasanah :
    Apakah ada batasan bahwa suatu bid’ah itu dikatakan hasanah atau tidak?
    Bolehkah kita melaksanakan shalat tahiyatul mesjid atau shalat qabliyah dan ba’diyah berjama’ah? Bukankah shalat berjama’ah lebih hasanah daripada shalat sendirian?
    Bolehkah kita adzan dan qamat dulu sebelum shalat tarawih? Bukankah adzan dan qamat adalah salah satu hasanah terbaik?
    Kalau antum katakan itu boleh, berarti antum telah membolehkan bid’ah hasanah..
    Kalau antum katakan itu tidak boleh, kenapa tidak boleh, bukankah itu amalan-amalan bid’ah yang hasanah?..
    Kalau antum jawab itu tidak ada contoh dari Rasulullah, maka bid’ah-bid’ah yang lain yang tidak ada contoh dari Rasulullah tapi dianggap bid’ah hasanah seharusnya tidak boleh juga donk?
    Lalu kalau bid’ah hasanah itu boleh kenapa Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami maka ia tertolak” (HR. Bukhari).
    Kenapa Abdullah bin Umar r.a. mengatakan : “Setiap bid’ah itu adalah sesat, walaupun manusia memandangnya sebagai kebaikan” (Diriwayatkan oleh Al-Laalikai dalam Syarh Ushulil i’tiqad no. 205 dan Ibnu Baththah dalam Al Ibanah No. 205 dengan sanad shahih)..
    Kenapa pula Imam Malik mengatakan : “Barang siapa yang melakukan suatu bid’ah dan mengatakan itu bid’ah hasanah maka ia telah menuduh Muhammad mengkhianati risalah” (Al-I’tisam oleh Asy-Syathibi, 1/49)).
    Lalu kenapa juga Imam Syafi’i mengatakan : “Barang siapa yang menganggap baik suatu perbuatan (bid’ah) berarti dia telah membuat syariat baru” (Al ba’its ‘ala inkaril bida’ wal hawadits, hal. 50)..
    Mohon tanggapannya, terimakasih..

  3. Pardana bumuhammad

    Penulis artikel ini mengqiyaskan bid’ah yang sahabat lakukan lakukan dengan kita, manusia yang hidup jauh setelah rasulullah.. Memangnya siapakah kita ini dibandingkan mereka?. Kalau zaman rasulullah ada sahabat yang melakukan hal baru kemudian rasulullah menyetujuinya, maka bukankah hal tersebut merupakan sunnah rasulullah karena persetujuan tersebut? Nah kalau zaman sekarang kita membuat hal baru sementara rasulullah tidak berada ditengah-tengah kita, maka siapakah yang bisa menjamin kalau apa yang kita lakukan itu benar?..

    Jawab : karena antum keliru meng-identifikasi persoalan sebenarnya, antum mengira jika yang dijadikan patokan adalah ” persetujuan Rosulallah SAW , padahal kami dan penulis jadikan patokan adalah Perbuatan Sahabat itu sendiri , dengan kata lain Sahabat melakukan perbuatan tanpa ada dasar dari Nabi , kenapa hal ini mereka lakukan……..? karena sahabat faham ucapan Nabi Kullu bid`atin dolalah Maksush oleh ucapan Nabi yang lainnya.

    Pardana :
    Ana mau bertanya kepada para pendukung bid’ah hasanah :
    Apakah ada batasan bahwa suatu bid’ah itu dikatakan hasanah atau tidak?

    Jawab : batasannya sangat jelas, silahkan lihat kembali perkataan Imam as-syafi`I mengenai hal ini.

    Pardana :
    Bolehkah kita melaksanakan shalat tahiyatul mesjid atau shalat qabliyah dan ba’diyah berjama’ah? Bukankah shalat berjama’ah lebih hasanah daripada shalat sendirian?
    Bolehkah kita adzan dan qamat dulu sebelum shalat tarawih? Bukankah adzan dan qamat adalah salah satu hasanah terbaik?
    Kalau antum katakan itu boleh, berarti antum telah membolehkan bid’ah hasanah..
    Kalau antum katakan itu tidak boleh, kenapa tidak boleh, bukankah itu amalan-amalan bid’ah yang hasanah?..

    Jawab : ini menunjukkan jika antum belum faham apa itu Bid`ah Hasanah.

    Pardana
    Kalau antum jawab itu tidak ada contoh dari Rasulullah, maka bid’ah-bid’ah yang lain yang tidak ada contoh dari Rasulullah tapi dianggap bid’ah hasanah seharusnya tidak boleh juga donk?

    Jawab : semakin menunjukkan jika antum belum memahami Bid`ah Hasanah , silahkan pelajari lagi.

    Pardana :
    Lalu kalau bid’ah hasanah itu boleh kenapa Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami maka ia tertolak” (HR. Bukhari).

    Jawab : semakin menunjukkan jika antum juga tidak faham Hadist ini dengan baik.

    Pardana :
    Kenapa Abdullah bin Umar r.a. mengatakan : “Setiap bid’ah itu adalah sesat, walaupun manusia memandangnya sebagai kebaikan” (Diriwayatkan oleh Al-Laalikai dalam Syarh Ushulil i’tiqad no. 205 dan Ibnu Baththah dalam Al Ibanah No. 205 dengan sanad shahih)..
    Kenapa pula Imam Malik mengatakan : “Barang siapa yang melakukan suatu bid’ah dan mengatakan itu bid’ah hasanah maka ia telah menuduh Muhammad mengkhianati risalah” (Al-I’tisam oleh Asy-Syathibi, 1/49)).

    Jawab : perkataan seperti ini mahmul kepada Bid`ah Dolalah , bukan kepada Bid`ah Hasanah

    Pardana :
    Lalu kenapa juga Imam Syafi’i mengatakan : “Barang siapa yang menganggap baik suatu perbuatan (bid’ah) berarti dia telah membuat syariat baru” (Al ba’its ‘ala inkaril bida’ wal hawadits, hal. 50)..
    Mohon tanggapannya, terimakasih..

    Jawab : pernyataan Imam Syafi`I ini berkaitan dengan Istihsan , yaitu berpindahnya seorang Mujtahid dari qiyas Jali kepada Qiyas Khofi , tidak ada kaitannya dengan Bid`ah Hasanah .

    Demikian semoga bermanfaat.

  4. Afwan ustadz, ana kok semakin bingung dengan tanggapan ustadz..
    Bahkan pertanyaan ana pun tidak antum jawab..

    Tanggapan antum yang pertama, maka ana punya perkiraan bahwa yang antum kehendaki dari membawakan hadits-hadits tersebut adalah :
    1. Antum ingin memberikan kesan bahwa kita boleh membuat kreasi-kreasi baru dalam ibadah sekalipun rasulullah tidak berada ditengah-tengah kita sebagaimana yang dilakukan sahabat tadi..
    Tidak bisa dibayangkan, agama ini akan jadi seperti apa.. Setiap orang akan mempunyai kreasi-kreasi masing-masing dalam ibadah. Jadilah agama ini buah tambahan manusia. Seperti hadits mengenai sahabat yang membaca i’tidal..
    Andaikata hadits tadi kita praktekkan, maka kemungkinan akan terjadi peristiwa berikut :
    Misalnya ada 10 orang makmum, pada saat imam mengucap “sami’Allahuilaman hamidah”, maka akan ada 10 jenis ucapan yang berbeda-beda, yang itu diucapkan secara jahr (dikeraskan), bolehkah itu?
    2. Memberikan kesan bahwa para sahabat memahami hadits kullu bid’atin dholalah adalah disamping melarang bid’ah juga memberikan dispensasi tentang bolehnya membuat kreasi baru dalam ibadah….
    Disini kelihatannya ustadz tidak memahami (atau pura-pura tidak paham), mengenai rentang waktu hadits i’tidal dengan hadits : kullu bid’atin dholalah..
    Perlu diketahui bahwa hadits mengenai i’tidal keluar lebih dulu daripada hadits : kullu bid’atin dholalah yang terjadi menjelang berakhirnya masa kenabian..
    3. Antum ingin menekankan bahwa hadits kullu bid’atin dholalah telah di mansukh dengan hadits yang lain, artinya hadits tersebut sudah tidak berlaku lagi?.. Subhanallah.. Coba antum sebutkan sabda rasulullah SAW yang mana yang membolehkan kita melakukan bid’ah??

    Tanggapan antum berikutnya : “ini menunjukkan jika antum belum faham apa itu Bid`ah Hasanah”…
    Tanggapan ana :
    Kenapa antum tidak menjawab saja pertanyaan ana yang sebenarnya sangat mudah saja untuk dijawab, boleh atau tidak? Kalau antum tidak sanggup menjawab ana akan ganti pertanyaannya :
    Amalan yang ana sebutkan tadi, jika benar-benar dilakukan, maka masuk dalam kategori apa? Apakah bid’ah hasanah, bid’ah dholalah atau sunnah?
    Kalau bid’ah hasanah artinya boleh kita lakukan kan?
    Kalau bid’ah dholalah, kenapa bid’ah dholalah, bukankah itu perbuatan hasanah, dan ada dalil-dalil secara umum yang mengisyaratkan kehasanahannya?
    Kalau itu sunnah, apakah rasulullah atau para sahabat pernah melakukan itu?

    Tanggapan antum berikutnya : perkataan seperti ini mahmul kepada Bid`ah Dolalah , bukan kepada Bid`ah Hasanah……
    Afwan ya ustadz, kalau tanggapan ini kayaknya ana terpaksa harus tidak percaya kepada ustadz, karena itu sama saja menuduh sahabat Abdullah bin Umar dan Imam Malik bin Anas menyampaikan suatu kalimat yang membingungkan umat..
    Kecuali kalau atsar Ibnu Umar itu berbunyi : “Setiap bid’ah dholalah itu sesat, walaupun manusia memandangnya sebagai kebaikan (hasanah)”..
    Dan qaul Imam Malik berbunyi : “Barangsiapa yang melakukan suatu bid’ah dholalah dan mengatakan itu bid’ah hasanah, maka ia telah menuduh Muhammad menghianati risalah”.
    Ana tambahakan lagi, mungkin atsar sahabat Ibnu Mas’ud berbunyi : “Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah dholalah, sebab sungguh itu telah cukup bagi kalian, dan ketahuilah bahwa setiap bid’ah dholalah adalah sesat”.. Atau dalam atsar Ibnu Mas’ud yang lain : “Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah dholalah”.
    Atau atsar Ibnu Abbas berbunyi : “Tetaplah kamu beristiqamah dan berpengang dengan atsar, serta jauhilah bid’ah dholalah”..
    Atau dalam atsar Ibnu Abbas yang lain : “Tidaklah datang satu masa kepada umat manusia, kecuali di dalamnya mereka berbuat bid‘ah dholalah dan mematikan sunnah Nabi, sehingga maraklah perbuatan bid‘ah dholalah dan matilah sunnah.”
    Nah kalau seperti itu bunyinya, baru ana percaya…

    Sebagai penutup ana ingin membawakan suatu riwayat yang berasal dari atsar Abdullah bin Mas’ud :
    Al-Imaam Ad-Daarimiy dalam Sunan-nya (no. 210 – tahqiq : Husain Salim Asad) membawakan riwayat sebagai berikut :
    “Telah memberi khabar kepada kami Al-Hakam bin Al-Mubarak : Telah memberitakan kepada kami ‘Amru bin Yahya, ia berkata : Aku mendengar ayahku meriwayatkan hadits dari ayahnya, ia berkata : Sebelum shalat shubuh, kami biasa duduk di depan pintu ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu. Jika dia sudah keluar rumah, maka kami pun berjalan bersamanya menuju masjid. Tiba-tiba kami didatangi oleh Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu, seraya bertanya : “Apakah Abu ‘Abdirrahman (‘Abdullah bin Mas’ud) sudah keluar menemui kalian ?”. Kami menjawab : “Belum”. Lalu dia pun duduk bersama kami hingga ‘Abdullah bin Mas’ud keluar rumah. Setelah dia keluar, kami pun bangkit menemuinya. Abu Musa berkata : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, tadi aku melihat kejadian yang aku ingkari di masjid, namun aku menganggap – segala puji bagi Allah – hal itu adalah baik”. Kata Ibnu Mas’ud : “Apakah itu ?”. Abu Musa menjawab : “Jika engkau berumur panjang, engkau akan mengetahui. Ada sekelompok orang di masjid, mereka duduk ber-halaqah sedang menunggu shalat. Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang, sedang di tangan mereka terdapat kerikil. Lalu pimpinan halaqah tadi berkata : ‘Bertakbirlah seratus kali’, maka mereka pun bertakbir seratus kali. ‘Bertahlillah seratus kali’, maka mereka pun bertahlil seratus kali. ‘Bertasbihlah seratus kali’, maka mereka pun bertasbih seratus kali”. Ibnu Mas’ud bertanya : “Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?”. Abu Musa menjawab : “Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan”. Ibnu Mas’ud berkata : “Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan”. Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu. Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka : “Benda apa yang kalian pergunakan ini ?”. Mereka menjawab : “Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya”. Ibnu Mas’ud berkata : “Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celaka kalian wahai umat Muhammad ! Betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan. Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”. Mereka menjawab : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan”. Ibnu Mas’ud menjawab : “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami : ‘Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongannya’. Demi Allah, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian di antara kalian”. ‘Amr bin Salamah berkata : “Kami melihat mayoritas diantara orang-orang yang ikut dalam halaqah itu adalah orang yang menyerang kami dalam Perang Nahrawaan yang bergabung bersama orang-orang Khawarij”…

    Lihat, disini Ibnu Mas’ud mengingkari suatu perbuatan hasanah yang tidak ada contoh sebelumnya dari Rasulullah SAW, yang kalau zaman sekarang mungkin bisa kita katakan itu bid’ah hasanah.. Padahal pelaku bid’ah tersebut adalah generasi awal (yang dalam suatu hadits dengan derajat tidak saja shahih, tetapi juga mutawattir) adalah generasi terbaik ummat ini..
    Bagaimana jika pelaku bid’ah tersebut adalah generasi belakangan?
    Sebagai contoh Peringatan Maulid Nabi SAW.. Ustadz tentunya tahu siapa pelaku pertama bid’ah maulid?
    Yakni Syi’ah Fathimiyah Qaramithah di Mesir yang muncul pada abad ke 4 Hijriah.
    Mereka adalah salah satu sekte syi’ah, yang pernah melakukan kekacauan di tanah suci, membunuh para jama’ah haji dan mencuri hajar aswad selama 22 tahun..
    Mereka itulah yang pertama kali melaksanakan maulid nabi SAW..
    Suatu acara bid’ah yang bahkan tidak pernah disabdakan oleh rasulullah SAW, tidak pernah dilakukan di zaman nabi, zaman sahabat, zaman tabi’in, dan zaman tabi’ut tabi’in, termasuk al immatul arba’ah disini..
    Bagaimana mungkin Rasulullah memerintahkan untuk memperingati hari lahir beliau (yang mirip dengan peringatan hari natal kaum nasrani), padahal dalam banyak hadits, beliau sendiri yang memerintahkan umatnya untuk menyelisihi kaum kafir…?
    Maka jika kita ditanya, mana yang mau antum ikuti, perbuatan sahabat beserta tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang berada dalam manhaj yang lurus atau perbuatan syi’ah fathimiyah yang sudah jelas kesesatannya?
    Ana persilahkan ustadz sendiri menjawabnya..
    Demikian, wallahu a’lam…

  5. • Akhuna Pardanabumuhammad
    • Afwan ustadz, ana kok semakin bingung dengan tanggapan ustadz..
    Bahkan pertanyaan ana pun tidak antum jawab..
    Tanggapan antum yang pertama, maka ana punya perkiraan bahwa yang antum kehendaki dari membawakan hadits-hadits tersebut adalah :
    1. Antum ingin memberikan kesan bahwa kita boleh membuat kreasi-kreasi baru dalam ibadah sekalipun rasulullah tidak berada ditengah-tengah kita sebagaimana yang dilakukan sahabat tadi..
    Tidak bisa dibayangkan, agama ini akan jadi seperti apa.. Setiap orang akan mempunyai kreasi-kreasi masing-masing dalam ibadah. Jadilah agama ini buah tambahan manusia. Seperti hadits mengenai sahabat yang membaca i’tidal..
    Andaikata hadits tadi kita praktekkan, maka kemungkinan akan terjadi peristiwa berikut :
    Misalnya ada 10 orang makmum, pada saat imam mengucap “sami’Allahuilaman hamidah”, maka akan ada 10 jenis ucapan yang berbeda-beda, yang itu diucapkan secara jahr (dikeraskan), bolehkah itu?

    Jawab : tolong perhatikan lagi kaidah Imam Asyafi`I tentang Bid`ah Hasanah

    2. Memberikan kesan bahwa para sahabat memahami hadits kullu bid’atin dholalah adalah disamping melarang bid’ah juga memberikan dispensasi tentang bolehnya membuat kreasi baru dalam ibadah….

    jawab : ya , selama tidak menyelisihi Qur`an Hadist dan Ijma`

    Disini kelihatannya ustadz tidak memahami (atau pura-pura tidak paham), mengenai rentang waktu hadits i’tidal dengan hadits : kullu bid’atin dholalah..
    Perlu diketahui bahwa hadits mengenai i’tidal keluar lebih dulu daripada hadits : kullu bid’atin dholalah yang terjadi menjelang berakhirnya masa kenabian..

    Jawab : redaksi Hadist kullu bid`atin dolalah dating dalam 3 redaksi tidak semuanya diucapakan saat Haji wada` , lagipula hadist tentang ” perkara Baru ” bukan hanya yang 3 itu masih ada Hadist2 lain yang semuanya saling melengkapi.

    3. Antum ingin menekankan bahwa hadits kullu bid’atin dholalah telah di mansukh dengan hadits yang lain, artinya hadits tersebut sudah tidak berlaku lagi?.. Subhanallah.. Coba antum sebutkan sabda rasulullah SAW yang mana yang membolehkan kita melakukan bid’ah??

    Jawab : Makhsush bukan Mansukh

    Tanggapan antum berikutnya : “ini menunjukkan jika antum belum faham apa itu Bid`ah Hasanah”…
    Tanggapan ana :
    Kenapa antum tidak menjawab saja pertanyaan ana yang sebenarnya sangat mudah saja untuk dijawab, boleh atau tidak? Kalau antum tidak sanggup menjawab ana akan ganti pertanyaannya :

    Jawab : makanya fahami dulu apa itu Bid`ah Hasanah

    Amalan yang ana sebutkan tadi, jika benar-benar dilakukan, maka masuk dalam kategori apa? Apakah bid’ah hasanah, bid’ah dholalah atau sunnah?
    Kalau bid’ah hasanah artinya boleh kita lakukan kan?
    Kalau bid’ah dholalah, kenapa bid’ah dholalah, bukankah itu perbuatan hasanah, dan ada dalil-dalil secara umum yang mengisyaratkan kehasanahannya?
    Kalau itu sunnah, apakah rasulullah atau para sahabat pernah melakukan itu?

    Jawab : pertanyaan2 ini semakin menunjukkan jika antum masih mencampur adukan antara Bid`ah Hasanah dengan Bid`ah dolalah.

    Tanggapan antum berikutnya : perkataan seperti ini mahmul kepada Bid`ah Dolalah , bukan kepada Bid`ah Hasanah……
    Afwan ya ustadz, kalau tanggapan ini kayaknya ana terpaksa harus tidak percaya kepada ustadz, karena itu sama saja menuduh sahabat Abdullah bin Umar dan Imam Malik bin Anas menyampaikan suatu kalimat yang membingungkan umat..

    Jawab : tidak usah bingung akhi , perbedaan pendapat itu sudah biasa tinggal bagaimana kita menyikapinya.

    Kecuali kalau atsar Ibnu Umar itu berbunyi : “Setiap bid’ah dholalah itu sesat, walaupun manusia memandangnya sebagai kebaikan (hasanah)”..
    Dan qaul Imam Malik berbunyi : “Barangsiapa yang melakukan suatu bid’ah dholalah dan mengatakan itu bid’ah hasanah, maka ia telah menuduh Muhammad menghianati risalah”.
    Ana tambahakan lagi, mungkin atsar sahabat Ibnu Mas’ud berbunyi : “Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah dholalah, sebab sungguh itu telah cukup bagi kalian, dan ketahuilah bahwa setiap bid’ah dholalah adalah sesat”.. Atau dalam atsar Ibnu Mas’ud yang lain : “Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah dholalah”.
    Atau atsar Ibnu Abbas berbunyi : “Tetaplah kamu beristiqamah dan berpengang dengan atsar, serta jauhilah bid’ah dholalah”..
    Atau dalam atsar Ibnu Abbas yang lain : “Tidaklah datang satu masa kepada umat manusia, kecuali di dalamnya mereka berbuat bid‘ah dholalah dan mematikan sunnah Nabi, sehingga maraklah perbuatan bid‘ah dholalah dan matilah sunnah.”
    Nah kalau seperti itu bunyinya, baru ana percaya…

    Jawab : dewasalah dalam menyikapi perbedaan pendapat , dalam masalah Bid`ah saya lebih memilih pendapat Kholifah Rosulallah SAW Sayiduna Umar RA , disetujui oleh Sayiduna Abu Bakar RA , dan banyak sahabat Nabi lainnya.

    Sebagai penutup ana ingin membawakan suatu riwayat yang berasal dari atsar Abdullah bin Mas’ud :
    Al-Imaam Ad-Daarimiy dalam Sunan-nya (no. 210 – tahqiq : Husain Salim Asad) membawakan riwayat sebagai berikut :
    “Telah memberi khabar kepada kami Al-Hakam bin Al-Mubarak : Telah memberitakan kepada kami ‘Amru bin Yahya, ia berkata : Aku mendengar ayahku meriwayatkan hadits dari ayahnya, ia berkata : Sebelum shalat shubuh, kami biasa duduk di depan pintu ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu. ………..
    Maka jika kita ditanya, mana yang mau antum ikuti, perbuatan sahabat beserta tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang berada dalam manhaj yang lurus atau perbuatan syi’ah fathimiyah yang sudah jelas kesesatannya?
    Ana persilahkan ustadz sendiri menjawabnya..
    Demikian, wallahu a’lam…

    Jawab : ini menunjukkan jika antum juga belum memahami masalah ” at-tark ” silahkan pelajari lagi disitus ini ada bahasan mengenai hal itu , ringkas kata :
    Berikut ini nama nama sebagian Ulama baik yang pro maupun yang kontra akan keberadaan Bid`ah hasanah :

    Ulama yang pro bid`ah hasanah ulama yang kontra bid`ah hasanah
    Sayidina Umar bin khottob ra. Imam Malik bin anas
    Sayidina Abdullah bin umar ra. Syeikh Ibnu taimiyah
    Imam As-syafi`I Imam as-syathibi
    Ibnu Hazm ad-dhohiri Imam az-zarkasyi
    Imam al-ghozali Imam Ibnu rojab al-hanbali
    Imam `Izzuddin ibn abdi salam
    dan banyak Ulama Aswaja lainnya ulama wahabi / salafi

    Demikianlah khilaf antara yang pro dan yang kontra akan keberadaan Bid`ah Hasanah telah terjadi sejak zaman salaf as-sholihin , selayaknya kita saling menghormati dan saling memahami akan perbedaan yang memang sudah menjadi sunatullah , selama perbedaan ini tidak terkait dengan pokok – pokok ajaran Islam. (aqidah).

  6. fardanabumuhammad

    “Telah memberi khabar kepada kami Al-Hakam bin Al-Mubarak : Telah memberitakan kepada kami ‘Amru bin Yahya, ia berkata : Aku mendengar ayahku meriwayatkan hadits dari ayahnya, ia berkata : Sebelum shalat shubuh, kami biasa duduk di depan pintu ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu. Jika dia sudah keluar rumah, maka kami pun berjalan bersamanya menuju masjid. Tiba-tiba kami didatangi oleh Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu, seraya bertanya : “Apakah Abu ‘Abdirrahman (‘Abdullah bin Mas’ud) sudah keluar menemui kalian ?”. Kami menjawab : “Belum”. Lalu dia pun duduk bersama kami hingga ‘Abdullah bin Mas’ud keluar rumah. Setelah dia keluar, kami pun bangkit menemuinya. Abu Musa berkata : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, tadi aku melihat kejadian yang aku ingkari di masjid, namun aku menganggap – segala puji bagi Allah – hal itu adalah baik”. Kata Ibnu Mas’ud : “Apakah itu ?”. Abu Musa menjawab : “Jika engkau berumur panjang, engkau akan mengetahui. Ada sekelompok orang di masjid, mereka duduk ber-halaqah sedang menunggu shalat. Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang, sedang di tangan mereka terdapat kerikil. Lalu pimpinan halaqah tadi berkata : ‘Bertakbirlah seratus kali’, maka mereka pun bertakbir seratus kali. ‘Bertahlillah seratus kali’, maka mereka pun bertahlil seratus kali. ‘Bertasbihlah seratus kali’, maka mereka pun bertasbih seratus kali”. Ibnu Mas’ud bertanya : “Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?”. Abu Musa menjawab : “Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan”. Ibnu Mas’ud berkata : “Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan”. Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu. Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka : “Benda apa yang kalian pergunakan ini ?”. Mereka menjawab : “Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya”. Ibnu Mas’ud berkata : “Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celaka kalian wahai umat Muhammad ! Betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan. Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”. Mereka menjawab : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan”. Ibnu Mas’ud menjawab : “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami : ‘Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Qur’an, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongannya’. Demi Allah, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian di antara kalian”. ‘Amr bin Salamah berkata : “Kami melihat mayoritas diantara orang-orang yang ikut dalam halaqah itu adalah orang yang menyerang kami dalam Perang Nahrawaan yang bergabung bersama orang-orang Khawarij”…

    Jawab :

    Riwayat tersebut sepertinya dianggap mewakili dalil khusus yang jelas-jelas melarang zikir berjama’ah, atau melarang menghitung zikir dengan batu atau biji tasbih. Akan tetapi, memanfaatkan riwayat ini untuk menetapkan pelarangan tersebut atau untuk memvonis bid’ah amalan berzikir berjama’ah atau menghitung zikir dengan batu atau biji tasbih, tidak dapat dibenarkan, dengan alasan:

    Bertentangan dengan hadis Rasulullah Saw., “Tidaklah suatu kaum duduk di
    suatu majlis, berzikir kepada Allah di tempat itu, melainkan malaikat telah
    menaungi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka,
    dan Allah menyebut mereka pada kelompok makhluk yang ada di sisi-Nya (yaitu
    para malaikat dan para nabi-red).” (Hadis Shahih riwayat Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Dawud, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah, dan lain-lain). Abdullah bin Mas’ud Ra. Tidak mungkin tidak mengetahui hadis seperti ini, dan banyak lagi hadis-hadis lain yang senada dengan ini.

    Tentang menghitung jumlah zikir, Rasulullah Saw. juga banyak menyebut dalam
    hadis-hadis beliau, seperti: Bacaan subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar,
    yang masing-masing dibaca 33 kali, atau tentang keutamaan bacaan subhanallah
    wabihamdihi sebanyak 100 kali dalam satu hari, atau tentang bacaan laa ilaha
    illallaahu wahdahu laa syariika lahu lahul-mulku walahul-hamdu yuhyii
    wayumiitu wahuwa ‘ala kulli syai’in Qadiir sebanyak 100 kali, atau tentang
    permohonan ampun beliau dalam sehari 100 kali, dan lain sebagainya. Hadis-hadis
    tersebut menunjukkan dengan jelas legalitas menghitung jumlah bacaan zikir.

    Rasulullah Saw. tidak pernah melarang shahabat untuk menghitung zikir dengan
    batu atau yang lainnya, bahkan diriwayatkan beberapa shahabat seperti Abu Darda’
    Ra. dan Abu Hurairah Ra. memiliki sekantung batu kerikil atau biji kurma yang
    biasa digunakan untuk berzikir (lihat az-Zuhd, Abu ‘Ashim, juz 1 hal. 141, Musnad
    Ahmad, juz 2 hal. 540, Sunan Abu Dawud, juz 2 hal. 253, Hilyatul Awliya’, juz 1
    hal. 383, dan lain-lain).

    Riwayat tentang Abdullah bin Mas’ud Ra. di atas memiliki kelemahan pada
    sanad (jalur periwayat)nya, di mana terdapat ‘Amr bin Yahya bin ‘Amr bin
    Salamah yang dianggap lemah periwayatannya oleh Yahya bin Ma’in dan Ibnu
    ‘Adi.

    Riwayat tersebut tidak menunjukkan perkataan/sabda Rasulullah Saw., melainkan perkataan pribadi Abdullah bin Mas’ud Ra. (atsar shahabat), dengan kata lain merupakan qaul shahabi (perkataan shahabat) atau madzhab shahabi (pendapat shahabat). Jumhur (mayoritas) ulama ushul menganggap bahwa qaul shahabi atau madzhab shahabi tidak termasuk hujjah (argumen yang diakui) dalam menetapkan hukum kecuali bila sejalan dengan hadis Rasulullah Saw., karena para shahabat juga biasa berbeda pendapat satu sama lain (lihat Ushul al-Fiqh al-Islami, DR. Wahbah Zuhaili, juz 2, hal. 150-156), lihatlah pendapat Abu Musa al-Asy’ari pertama kali pada riwayat di atas saat ia berkata, “alhamdulillah aku tidak melihatnya kecuali kebaikan”. Bagaimana mungkin Abdullah bin Mas’ud tidak dapat melihat kebaikan yang dikatakan oleh Abu Musa al-Asy’ari tentang halaqah zikir di masjid itu, sementara pada riwayat lain Abdullah bin Mas’ud pernah berkata: “… apa yang dipandang baik oleh orang-orang muslim, maka dia adalah baik menurut Allah” (Riwayat Ahmad). Sungguh ini merupakan kejanggalan, apalagi, ternyata riwayat di atas banyak bertentangan dengan hadishadis Rasulullah Saw., maka amat sangat tidak sah untuk dijadikan dalil melarang zikir berjama’ah atau menghitung jumlah zikir, atau bahkan dijadikan dalil untuk melarang kegiatan tahlilan.

    Seandainya pun riwayat tersebut dianggap benar, maka sesungguhnya Abdullah bin Mas’ud Ra. sepertinya bukan semata-mata ingin mempermasalahkan zikir berjamaahnya atau menghitung zikirnya, tetapi sepertinya ia tahu betul siapa orang-orang yang berzikir itu, seolah ada isyarat yang ia ketahui jelas bahwa mereka itu adalah orang-orang yang akan menimbulkan masalah di kubu umat Islam. Buktinya, Abdullah bin Mas’ud Ra. langsung mengarahkan tudingan kepada mereka dengan peringatan Rasulullah Saw. tentang akan munculnya “sekelompok orang yang membaca al-Qur’an tapi hanya sebatas kerongkongan mereka saja”, yang disinyalir oleh para ulama sebagai kelompok khawarij. Dan hal itu dibenarkan dengan pernyataan si periwayat yang bernama ‘Amr bin Salamah, ‘Kami lihat sebagian besar mereka memerangi kita pada perang Nahrawan bersama dengan kelompok Khawarij.”

  7. Ustadz Ahmad Syahid n ustadz Agung, wah mantab pencerahannya, syukron. Aemoga bisa menjadi sebab hidayah bagi orang2 yg terlanjur tersesat kembali kre jalan yug benar, amin….

  8. Sedikit tambahan pelengkap untuk mas agung, mas ahmad syahid dan segenap aswaja wa bil khusus ummati press

    Benarkah Tahlilan bertentangan dengan Atsar (pendapat) Sahabat..??
    Sebagian golongan ada yang mengatakan tahlilan bertentangan dengan Atsar Sahabat
    سنن الدارمى الجزء الأول ص: 234
    أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ أَنْبَأَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ أَبِى يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ, فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ, فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الأَشْعَرِىُّ فَقَالَ: أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ؟ قُلْنَا: لاَ, فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ, فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعاً, فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّى رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ آنِفاً أَمْراً أَنْكَرْتُهُ, وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلاَّ خَيْراً. قَالَ: فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ: إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ – قَالَ – رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ قَوْماً حِلَقاً جُلُوساً يَنْتَظِرُونَ الصَّلاَةَ, فِى كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ, وَفِى أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ: كَبِّرُوا مِائَةً, فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً, فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً, فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً, وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً. قَالَ: فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟ قَالَ: مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئاً انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ: أَفَلاَ أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ. ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ, فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ: مَا هَذَا الَّذِى أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟ قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ: فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ, وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ, هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ, وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ, أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ. قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ: وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ, إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْماً يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ, وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِى لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ. ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ, فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلِمَةَ: رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ. إتحاف 13026
    Artinya: Mengkhabarkan kepadaku Hakam bin Mubarrok, menceritakan kepadaku Amrun bin Yahya, beliau berkata: Aku mendengar Ayahku berbicara dari Ayahnya, beliau berkata: Kami duduk di depan pintu Sahabat Abdillah bin Mas’ud sebelum sholat pagi, pada waktu beliau keluar rumah kami berjalan bersamaan ke masjid, kemudian Imam Abu Musa Al Asy’ari mendatangi kami, beliau berkata: “Apakah Abu Abdirrohman (Nama lain Sahabat Abdillah bin Mas’ud) keluar bersama kalian?”, Kami menjawab: “Tidak”, kemudian beliau duduk bersama kita sampai Sahabat Abu Abdurrohman datang, waktu Sahabat Abu Abdurrohman datang kami berdiri menyambutnya, kemudian Imam Abu Musa berkata pada beliau: “Wahai Abu Abdurrohman, tadi aku melihat di masjid sesuatu yang aku inkari, dan aku tidak tahu -segala puji bagi Alloh- kecuali kebaikan”, Sahabat Abu Abdurrohman berkata: “Apa itu?”, Imam Abu Musa berkata: “Apabila engkau hidup, maka engkau akan mengetahuinya” -Imam Abu Musa berkata- “Aku melihat di dalam masjid ada kaum duduk berhalaqoh (duduk memutar) menanti sholat, setiap halaqoh ada seorang laki-laki, dan disetiap tangan mereka ada kerikil, kemudian (pemimpin mereka) mengatakan: “bertakbirlah seratus kali”, maka mereka bertakbir seratus kali, kemudian (pemimpin mereka) mengatakan: “Bertahlillah seratus kali”, maka mereka bertahlil seratus kali, kemudian (pemimpin mereka) mengatakan: “Bertasbihlah seratus kali”, maka mereka bertasbih seratus kali. Sahabat Abdillah bin Mas’ud berkata (kepada Imam Abu Musa): “Apa yang engkau katakan pada mereka?”, Imam Abu Musa berkata: “Aku tidak mengatakan apa-apa, menanti pendapatmu atau menunggu perimtahmu” Sahabat Abdillah bin Mas’ud berkata: “Apakah engkau tidak meminta mereka untuk menghitung kejelekan mereka? Dan menyuruh mereka agar tidak menyia-nyiakan amal kebaikan mereka?”, kemudian Sahabat Abdillah bin Mas’ud dan kami pergi mendatangi orang-orang yang mengadakan halaqoh tersebut. Sahabat Abdillah bin Mas’ud berhenti dan berkata: “Apa yang kalian lakukan ini?”, mereka berkata: “Wahai Aba Abdirrohman (dengan) kerikil (ini) kami menghitung takbir, tahlil dan tasbih (yang kami lakukan)”, kemudian Sahabat Abdillah bin Mas’ud berkata: “Hitunglah kejelekan kalian semua maka aku akan menjamin amal kebaikan kalian semua tidak akan sia-sia, celakalah kalian umat Muhammad apakah kalian menginginkan cepat binasa? (padahal) sahabat nabi SAW. kalian semua masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, demi dzat yang memilikiku ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad? ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan?” Mereka pun menjawab: “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”. Sahabat Abdillah bin Mas’ud pun berkata: “Banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mengenai jalan yang benar, sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda kepadaku: Sesungguhnya ada satu kaum mereka membaca Al Quran tapi tidak melewati tenggorokan mereka. Demi Alloh aku tidak tahu apakah kalian semua termasuk kaum itu?” kemudian Amru bin Salamah berkata: “Aku melihat umumnya mereka yang mengadakan halaqoh itu memerangi kita pada hari perang An Nahrawan bersama kaum Khawarij”.

    ALANGKAH FAIR-NYA KALAU KITA LIHAT HADIST DAN FATWA ULAMA DIBAWAH INI:
    رياض الصالحين – (ج 2 / ص 139)
    وعن سعد بن أَبي وقاص – رضي الله عنه -, أنَّه دخل مَعَ رسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم -, عَلَى امْرأةٍ وَبَيْنَ يَدَيْها نَوىً – أَوْ حَصَىً – تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ: ((أُخْبِرُكِ بما هُوَ أيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا – أَوْ أفْضَلُ -)) فَقَالَ: ((سُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا خَلَقَ في السَّمَاءِ, وسُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا خَلَقَ في الأرْضِ, وسُبْحَانَ الله عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ, وسُبحَانَ الله عَدَدَ مَا هز خَالِقٌ, واللهُ أكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ, والحَمْدُ للهِ مِثْلَ ذَلِكَ ؛ وَلاَ إلَهَ إِلاَّ اللهُ مِثْلَ ذَلِكَ, وَلاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ مِثْلَ ذَلِكَ)). رواه الترمذي, وقال: ((حديث حسن)).
    Artinya: Dari Sahabat Said bin Abi Waqqosh RA.. Beliau bersama Rosululloh SAW memasuki (rumah) seorang perempuan yang didepannya (ditangannya) ada biji kurma atau kerikil, perempuan itu bertasbih dengan menggunakan biji kurma atau kerikil tersebut, kemudian Nabi SAW bersabda: “Apakah engkau mau Aku beritahu cara yang lebih mudah atau lebih utama dari pada ini?”, kemudian beliau Nabi bersabda: “(ucapkanlah) SubhanAlloh ‘adada Maa Kholaqo Fissama’, SubhanAlloh ‘Adada Maa Kholaqo Fil Ardli, dst…”, HR. Imam Turmudzi, dan beliau berkata: “Hadist Hasan”.
    سنن الترمذى الجزء الخامس ص: 213-214 طه فوتر سماراع
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا هَاشِمٌ هُوَ ابْنُ سَعِيدٍ الْكُوفِىُّ حَدَّثَنا كِنَانَةُ مَوْلَى صَفِيَّةَ قَالَ سَمِعْتُ صَفِيَّةَ تَقُولُ دَخَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَبَيْنَ يَدَىَّ أَرْبَعَةُ آلاَفِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا قال لَقَدْ سَبَّحْت بِهَذِهِ أَلاَ أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ بِهِ. فَقُلْتُ بَلَى عَلِّمْنِى. فَقَالَ « قُولِى سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ ». قَالَ هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ صَفِيَّةَ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ هَاشِمِ بْنِ سَعِيدٍ الْكُوفِىِّ وَلَيْسَ إِسْنَادُهُ بِمَعْرُوفٍ. وَفِى الْبَابِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ.
    Artinya: Aku (Sahabat Kinanah) mendengar Sayyidatina Shofiyyah berkata: “Rosululloh SAW., datang kepadaku (masuk ke rumahku), dan didepanku ada empat ribu biji kurma yang aku gunakan untuk bertasbih”, kemudian Nabi bersabda: “Engkau benar-benar menggunakan biji kurma ini untuk bertasbih? Apakah engkau mau aku ajari sesuatu yang lebih banyak daripada apa yang engkau tasbihkan ini?”, Aku menjawab: “Iya, Ajarilah aku”, Nabi bersabda: “Ucapkanlah SubhanAlloh ‘Adada Kholqihi (subhanAlloh sebanyak makhluk Alloh)”. Ini adalah hadist yang langka, aku tidak mengetahui dari hadist sayidatina Shofiyyah kecuali dari jalan ini, dari hadist Hasyim bin Sa’id Al Kuufii dan penyandarannya tidaklah terkenal, dan di dalam bab dari (Imam) Ibnu Abbas.
    تحفة الأحوذي – (ج 8 / ص 386)
    وَيَدُلُّ عَلَى جَوَازِ عَدِّ التَّسْبِيحِ بِالنَّوَى وَالْحَصَى حَدِيثُ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى اِمْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ الْحَدِيثَ, وَحَدِيثُ صَفِيَّةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلَافِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا الْحَدِيثَ. أَخْرَجَهُمَا التِّرْمِذِيُّ فِيمَا بَعْدُ. قَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِي النَّيْلِ ص 211 ج 2 هَذَانِ الْحَدِيثَانِ يَدُلَّانِ عَلَى جَوَازِ عَدِّ التَّسْبِيحِ بِالنَّوَى: وَالْحَصَى وَكَذَا بِالسُّبْحَةِ لِعَدَمِ الْفَارِقِ لِتَقْرِيرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمَرْأَتَيْنِ عَلَى ذَلِكَ وَعَدَمِ إِنْكَارِهِ وَالْإِرْشَادُ إِلَى مَا هُوَ أَفْضَلُ لَا يُنَافِي الْجَوَازَ وَقَدْ وَرَدَتْ بِذَلِكَ آثَارٌ فَفِي جُزْءِ هِلَالٍ الْحَفَّارِ مِنْ طَرِيقِ مُعْتَمِرِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي صَفِيَّةَ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يُوضَعُ لَهُ نِطْعٌ وَيُجَاءُ بِزِنْبِيلٍ فِيهِ حَصًى فَيُسَبِّحُ بِهِ إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ ثُمَّ يُرْفَعُ فَإِذَا صَلَّى أَتَى بِهِ فَيُسَبِّحُ حَتَّى يُمْسِي. وَأَخْرَجَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي الزُّهْدِ. وَأَخْرَجَ اِبْنُ سَعْدٍ عَنْ حَكِيمِ بْنِ الدَّيْلَمِيِّ أَنَّ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ كَانَ يُسَبِّحُ بِالْحَصَى. وَقَالَ اِبْنُ سَعْدٍ فِي الطَّبَقَاتِ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ جَابِرٍ عَنْ اِمْرَأَةٍ خَدَمَتْهُ عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّهَا كَانَتْ تُسَبِّحُ بِخَيْطٍ مَعْقُودٍ فِيهَا. وَأَخْرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي زَوَائِدِ الزُّهْدِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ لَهُ خَيْطٌ فِيهِ أَلْفُ عُقْدَةٍ فَلَا يَنَامُ حَتَّى يُسَبِّحَ. وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ فِي الزُّهْدِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ كَانَ لِأَبِي الدَّرْدَاءِ نَوًى مِنْ الْعَجْوَةِ فِي كَيس فَكَانَ إِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ أَخْرَجَهَا وَاحِدَةً يُسَبِّحُ بِهِنَّ حَتَّى يُنْفِدَهُنَّ. وَأَخْرَجَ اِبْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يُسَبِّحُ بِالنَّوَى الْمَجْمُوعِ. وَأَخْرَجَ الدَّيْلَمِيُّ فِي مُسْنَدِ الْفِرْدَوْسِ مِنْ طَرِيقِ زَيْنَبَ بِنْتِ سُلَيْمَانَ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أُمِّ الْحَسَنِ بِنْتِ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهَا عَنْ جَدِّهَا عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرْفُوعًا: ” نِعْمَ الْمُذَكِّرُ السُّبْحَةُ “. وَقَدْ سَاقَ السُّيُوطِيُّ آثَارًا فِي الْجُزْءِ الَّذِي سَمَّاهُ الْمِنْحَةُ فِي السُّبْحَةِ وَهُوَ مِنْ جُمْلَةِ كِتَابِهِ الْمَجْمُوعِ فِي الْفَتَاوَى وَقَالَ فِي آخِرِهِ وَلَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنْ السَّلَفِ وَلَا مِنْ الْخَلَفِ الْمَنْعُ مِنْ جَوَازِ عَدِّ الذِّكْرِ بِالسُّبْحَةِ بَلْ كَانَ أَكْثَرُهُمْ يَعُدُّونَهُ بِهَا وَلَا يَرَوْنَ ذَلِكَ مَكْرُوهًا اِنْتَهَى.
    Artinya: Yang menunjukkan bolehnya tasbih dengan menggunakan biji kurma dan kerikil adalah hadist Sahabat Sa’du bin Abi Waqqosh, “Beliau masuk bersama Nabi SAW,. Di rumah seorang perempuan yang di tangannya memegang biji kurma atau kerikil, perempuan itu bertasbih dengan menggunakan biji kurma atau kerikil tersebut”, Al Hadist, dan hadist Sayidatina Shofiyyah, beliau berkata: “Rosululloh SAW., datang kepadaku (masuk ke rumahku), dan didepanku ada empat ribu biji kurma yang aku gunakan untuk bertasbih”, Al Hadist, Imam Turmudzi mengeluarkan (meriwayatkan) kelanjutan kedua hadist tersebut. Imam Syaukani dalam kitab An Nail hal 211 juz II berkata: ”Kedua hadist ini menunjukkan hukum boleh menghitung tasbih dengan biji kurma, kerikil begitu pula menggunakan biji tasbih karena tidak ada perbedaan, serta karena adanya penetapan (pembenaran) dari Rosululloh SAW., pada kedua wanita diatas, dan tidak adanya pengingkaran dari Nabi, sedangkan adanya petunjuk ke sesuatu yang lebih utama tidak menghilangkan hukum boleh”. Banyak atsar yang menceritakan penggunaan biji kurma, kerikil dan biji tasbih (dilakukan oleh para sahabat) seperti: Sahabat Abu Shfiyyah… Sahabat Sa’du bin Abi Waqqosh… Sayyidatina Fatimah binti Husein… Sahabat Abu Huroiroh… Sahabat Abi Dardak… Imam Suyuthi berkata: “Tidak pernah dinukil dari seorang-pun, dari ulama Salaf dan ulama Khalaf yang melarang menghitung dzikir dengan tasbih. Melainkan kebanyakan ulama justru menghitung dzikir dengan menggunakan tasbih, dan mereka tidak mengganggap hal itu sebagai perkara makruh”.
    فيض القدير – (ج 4 / ص 355)
    (عليكن) أيتها النسوة (بالتسبيح) أي بقول سبحان الله (والتهليل) أي التوحيد (والتقديس) أي قول سبوح قدوس رب الملائكة والروح قالوا: والفرق بين التسبيح والتقديس أن التسبيح للأسماء والتقديس للآلاء وكلاهما يؤدي إلى العظمة (واعقدن بالأنامل) أي اعددن عدد مرات التسبيح بها وهذا ظاهر في عقد كل أصبع على حدته لا ما يعتاده كثير من العد بعقد الأصابع (فإنهن مسؤولات) عن عمل صاحبها (مستنطقات) للشهادة عليه فأما المؤمن فتنطق عليه بخيره وتسكت عن شره سترا من الله والكافر بالعكس فإن خيره لغير الله فهو هباء (ولا تغفلن) بضم الفاء بضبط المؤلف (فتنسين) بضم المثناة الفوقية وسكون النون وفتح السين بخطه (الرحمة) أي لا تتركن الذكر فتنسين منها وهذا أصل في ندب السبحة المعروفة وكان ذلك معروفا بين الصحابة فقد أخرج عبد الله بن أحمد أن أبا هريرة كان له خيط فيه ألفا عقدة فلا ينام حتى يسبح به وفي حديث رواه الديلمي نعم المذكر السبحة لكن نقل المؤلف عن بعض معاصري الجلال البلقيني أنه نقل عن بعضهم أن عقد التسبيح بالأنامل أفضل لظاهر هذا الحديث لكن محله إن أمن الغلظ وإلا فالسبحة أولى وقد اتخذ السبحة أولياء كثيرون ورؤي بيد الجنيد سبحة فقيل له: مثلك يمسك بيده سبحة فقال: طريق وصلت به إلى ربي لا أفارقه وفي رواية عنه شيء استعملناه في البدايات لا نتركه في النهايات أحب أن أذكر الله بقلبي ويدي ولساني ولم ينقل عن أحد من السلف ولا الخلف كراهتها نعم محل ندب اتخاذها فيمن يعدها للذكر بالجمعية والحضور ومشاركة القلب للسان في الذكر والمبالغة في إخفاء ذلك أما ما ألفه الغفلة البطلة من إمساك سبحة يغلب على حباتها الزينة وغلو الثمن ويمسكها من غير حضور في ذلك ولا فكر ويتحدث ويسمع الأخبار ويحكيها وهو يحرك حباتها بيده مع اشتغال قلبه ولسانه بالأمور الدنيوية فهو مذموم مكروه من أقبح القبائح (ت ك عن يسيرة) بمثناة تحتية مضمومة وسين وراء مهملتين بينهما مثناة تحتية وهي بنت ياسر أو أم ياسر صحابية من الأنصاريات وقيل من المهاجرات وظاهر اقتصار المصنف على الترمذي أنه تفرد به من بين الستة وليس كذلك فقد رواه أبو داود في الصلاة ولم يضعفه.
    جامع العلوم والحكم محقق – (ج 52 / ص 9) تأليف الإمام الحافظ الفقيه زين الدين أبي الفرج عبد الرحمن بن شهاب الدين البغدادي ثم الدمشقي الشهير بابن رجب المتوفى سنة (795) ه‍
    وكان لأبي هريرة خيطٌ فيه ألفا عُقدة ، فلا يُنام حتّى يُسبِّحَ به. وكان خالد بنُ معدان يُسبِّحُ كلَّ يوم أربعين ألف تسبيحة سوى ما يقرأ من القرآن.
    Artinya: “Sahabat Abi Huroiroh mempunyai tali yang ada seribu bundalan, beliau tidak akan tidur kecuali (terlebih dahulu) membaca tasbih dengan tali tersebut”. Dan “Sahabat Kholid bin Ma’dan bertasbih (dengan memakai tasbih) setiap hari empat puluh ribu tasbihan selain membaca al Qur’an”.

    صحيح مسلم – (ج 8 / ص 69)
    حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ سُمَىٍّ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ. فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ. كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِىَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ. وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ ».
    Artinya: Dari Sahabat Abi Huroiroh sesungguhnya Rosululloh SAW., bersabda:“Barangsiapa membaca Laa Ilaaha Illallahu Wahdahu La Syarika Lahu, Lahu al-Mulku Wa Lahu al-Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Syai’in Qadir sebanyak seratus kali setiap hari, maka dia seperti memerdekakan sepuluh budak, di tulis seratus kebaikan baginya, di lenyapkan seratus kejelekan darinya, pada hari itu sampai sore dia meperoleh penjagaan dari (godaan) Setan dan tidak ada seorangpun yang bisa mengunggulinya, kecuali orang yang beramal (membaca) lebih banyak dari itu. Dan Barangsiapa membaca SubhanAlloh Wa Bihamdihi setiap hari seratus kali maka kesalahannya akan di hapus walaupun (banyaknya) seperti busa lautan”.
    مسند أحمد – (ج 58 / ص 293)
    قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَجَدْتُ فِى كِتَابِ أَبِى بَخَطِّ يَدِهِ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ خَلَفٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَتْ مَرَّ بِى ذَاتَ يَوْمٍ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى قَدْ كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ – أَوْ كَمَا قَالَتْ – فَمُرْنِى بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ وَأَنَا جَالِسَةٌ. قَالَ « سَبِّحِى اللَّهَ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ رَقَبَةٍ تُعْتِقِينَهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاحْمَدِى اللَّهَ مِائَةَ تَحْمِيدَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ فَرَسٍ مُسْرَجَةٍ مُلْجَمَةٍ تَحْمِلِينَ عَلَيْهَا فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَكَبِّرِى اللَّهَ مِائَةَ تَكْبِيرَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ بَدَنَةٍ مُقَلَّدَةٍ مُتَقَبَّلَةٍ وَهَلِّلِى اللَّهَ مِائَةَ تَهْلِيلَةٍ – قَالَ ابْنُ خَلَفٍ أَحْسِبُهُ قَالَ – تَمْلأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلاَ يُرْفَعُ يَوْمَئِذٍ لأَحَدٍ عَمَلٌ إِلاَّ أَنْ يَأْتِىَ بِمِثْلِ مَا أَتَيْتِ بِهِ ». حسّن إسنادَه الحافظ الهيثميّ والحافظ المنذريّ في الترغيب الترهيب.
    Artinya: Dari Ummu Hani’ binti Abu Thalib, bahwa ia (Ummu Hani’) berkata: “Suatu ketika aku bertemu dengan Rasulullah. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku ini sudah tua dan mulai lemah, karenanya perintahkan aku dengan suatu amalan yang bisa aku kerjakan sambil duduk”. Kemudian Rasulullah bersabda: “Bacalah tasbih seratus kali, sungguh itu sebanding dengan seratus budak yang engkau merdekakan dari anak keturunan Nabi Isma’il. Bacalah hamdalah seratus kali, sungguh itu sebanding dengan seratus ekor kuda berpelana dan dikekang yang membawa perbekalan perang di jalan Allah. Bacalah takbir seratus kali, sungguh itu sebanding dengan seratus unta yang engkau sedekahkan dan diterima oleh Allah. Dan bacalah tahlil seratus kali, maka ia akan memenuhi antara langit dan bumi. Dan pada hari itu tidak ada amal seorang-pun yang diunggulkan atas kamu kecuali orang yang melakukan seperti yang engkau lakukan”. (Hadits ini dihasankan oleh al-Hafizh al-Haitsami dan al-Hafizh al-Mundziri dalam kitabnya at-Targhib Wa at-Tarhib).
    المجموع شرخ المهذب الجزء الأول ص: 47
    فَصْلٌ فِي ذَمِّ مَنْ أَرَادَ بِفِعْلِهِ غَيْرَ اللَّهِ تَعَالَى. إلى أن قال… وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: {أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَا يُنْتَفَعُ بِهِ}, وَعَنْهُ صلى الله عليه وسلم: {شِرَارُ النَّاسِ شِرَارُ الْعُلَمَاءِ.} وَرَوَيْنَا فِي مُسْنَدِ الدَّارِمِيِّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه قَالَ: ” يَا حَمَلَةَ الْعِلْمِ اعْمَلُوا بِهِ فَإِنَّمَا الْعَالِمُ مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ, وَوَافَقَ عِلْمَهُ عَمَلُهُ, وَسَيَكُونُ أَقْوَامٌ يَحْمِلُونَ الْعِلْمَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ, يُخَالِفُ عَمَلُهُمْ عِلْمَهُمْ, وَيُخَالِفُ سَرِيرَتُهُمْ عَلَانِيَتَهُمْ, يَجْلِسُونَ حِلَقًا يُبَاهِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا حَتَّى إنَّ الرَّجُلَ لَيَغْضَبُ عَلَى جَلِيسِهِ أَنْ يَجْلِسَ إلَى غَيْرِهِ, وَيَدَعَهُ, أُولَئِكَ لَا تَصْعَدُ أَعْمَالُهُمْ فِي مَجَالِسِهِمْ تِلْكَ إلَى اللَّهِ تَعَالَى “, وَعَنْ سُفْيَانَ: ” مَا ازْدَادَ عَبْدٌ عِلْمًا فَازْدَادَ فِي الدُّنْيَا رَغْبَةً إلَّا ازْدَادَ مِنْ اللَّهِ بُعْدًا “, وَعَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ: (مَنْ طَلَبَ الْحَدِيثَ لِغَيْرِ اللَّهِ مَكَرَ بِهِ).
    Artinya: Fashlun: Cacian orang yang mengharapkan perbuatannya selain untuk Alloh…. Sayidina Ali bin Abi Tholib RA., berkata: “Wahai orang yang berilmu, amalkanlah ilmumu, karena orang yang (disebut) alim adalah orang yang mengamalkan apa yang diketahuinya, dan amalnya cocok dengan ilmunya, akan ada suatu masa dimana ada beberapa kaum mereka membaca Al Quran tapi tidak melewati tenggorokan mereka, Amalnya bertentangan dengan ilmunya, rahasia dalam hati mereka bertentangan dengan kelihatannya, mereka duduk berhalaqoh (duduk memutar) saling memamerkan keahlian mereka kepada lainnya, sampai (apabila) ada lelaki yang duduk (di dekat mereka) akan meninggalkan tempat duduknya (karena kesal mendengarkan mereka), Amal mereka tidak akan sampai pada Alloh Ta’ala”.

    (+) Ulasan Tahlilan Sangat tidak bertentangan dengan Atsar (pendapat) Sahabat, diatas dengan perincian sebagai berikut:
    1. Atsar diatas dalam kitab sunan Ad Darimi dan Kitab Tafsir Al Qurthubi tanpa di dukung dengan status yang jelas (hasankah? Shohihkan? Dloifkah? Atau bahkan Maudlu’kah? Kecuali dalam kitab-kitab yang dikeluarkan faham wahabiyah/salafi, mereka mengatakan status atsar ini adalah jayyid/shohih) sehingga tidak bisa DIJADIKAN DASAR HUKUM, apalagi sampai dibuat memvonis sesat pada golongan lain.
    2. Ternyata dari hadist yang ada dalam kitab Riyadlussholihin dan Tuhfatul Ahwadzi, sangat jelas keterangan yang memperbolehkan dzikir pakai kerikil, biji kurma dan Tasbih. Dan yang paling penting beliau Nabi SAW., tidak melarang namun memberikan Dzikir yang lebih baik. Yang paling Aneh hadist dalam Sunan Tirmidzi dikatakan Munkar (di inkari) Oleh Nashiruddin Al Albani (Lihat Assamilah Tahrij wahabi/Al Albani) padahal mungkinkan orang zaman sekarang men-dloifkan hadist malah sampai me-munkarkan hadist tanpa melewati kitab-kitab dari ulama terdahulu? Padahal ulama terdahulu sekelas Imam Turmudzi mengatakan hadist ini ghorib (langka) dan cuma ditemukan dalam riwayat ini, Tidak berani mengatakan Dlo’if (lemah), Maudlu’ (palsu) apalagi munkar? Pertanyaanya adalah: Apa dasar Nashiruddin Al Albani mengatakan Hadist ini munkar? Fa taammal…
    3. Dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi, Faidlul Qodir dan Jami’ul Ulum, diterangkan bahwa Sahabat Abi Hurairoh, Sahabat Sa’du bin Abi Waqqosh, Sahabat Kholid bin Ma’dan, Istri Nabi Sayyidatina Shofiyyah, Sahabat Abu Darda’, Sayyidatina Fatimah binti Husain dan Sulthonul Auliya’ Syaikh Junaid Al Baghdadi berdzikir memakai Biji kurma, kerikil atau Tasbih, dan ketika Syaikh Junaid Al Baghdadi ditanyai tentang hal tersebut beliau berkata: “Tasbih ini adalah cara agar aku wushul (sampai) ke tuhanku, dan aku tidak akan pisah darinya”(lihat Faidlul Qodir). Apakah kita akan mengatakan mereka para Sahabat dan Ulama melakukan Bid’ah yang sesat? Menyimpang dari ajaran nabi? Beranikah kita? Robbi Fanfa’na Bi Barkatihim, Wahdinal Khusna Bikhurmatihim….
    4. Dan apabila ada yang mengatakan titik tekan pada Atsar Sahabat Abdillah bin Mas’ud adalah penjumlahan dzikir seperti yang tercantum: kemudian (pemimpin mereka) mengatakan: “bertakbirlah seratus kali”, maka mereka bertakbir seratus kali dst…”. Maka perlu diketahui hitungan yang dilakukan dalam tahlil yang terlaku di masyarakat dengan menggunakan dasar hadist shohih (lihat Kitab Shohih Muslim dan Musnad Ahmad diatas). Sebenarnya yang dimaksud oleh hadits-hadits tersebut adalah untuk menunjukkan keutamaan tertentu, bagi dzikir tertentu, dengan jumlah tertentu tersebut. Sementara itu di sisi lain banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang secara mutlak menganjurkan untuk berdzikir tanpa menyebutkan jumlah atau bilangan tertentu. Bahkan banyak ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan anjuran untuk berdzikir sebanyak-banyaknya”. Dengan demikian berdzikir dengan jumlah berapapun adalah hal yang diperbolehkan, karena anjuran untuk memperbanyak dzikir bersifat umum tanpa dibatasi dengan bilangan tertentu. Allah berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (الأحزاب: 41-42)
    Artinya: “Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah kalian (menyebut nama Allah), dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. (QS. al-Ahzab: 41-42)
    5. Apabila terjadi pertentangan antara Atsar dan hadist Maka yang dimenangkan adalah Hadist, apalagi Atsar tersebut belum jelas statusnya.
    6. dalam kitab Al Majmu Juz I hal: 47 Hadist yang diucapkan shahabat Abdillah bin Mas’ud “Sesungguhnya ada satu kaum mereka membaca Al Quran tapi tidak melewati tenggorokan mereka” ternyata oleh sayyidina Ali diarahkan pada cacian orang yang melaksanakan ibadah bukan demi Alloh, tapi mencari ilmu karena ingin dipuji, ingin mengalahkan ulama lainnya dsb., Naudzu billahi Min Dzalik.

    Wallohu a’lam

  9. TOLONG DONG PARA WAHABI JAWAB PERTANYAAN SAYA INI….. PLEASE DONG AH…… GI MANA SIE, GAK PERNAH DI JAWAB, JANGAN CUMA BISA BILANG BID’AH, BID’AH DONG, KALAU PERLU TANYA SAMA SI AL MUJTAHID FIRANDA ANDIRJA DAN SYAIKHUL WAHABI YG LAINNYA.

    1. DIMANA ALLAH SEBELUM MENCIPTAKAN TEMPAT?

    2. TEMPAT YG SAUDARA MAKSUD DENGAN TEMPAT BERSEMAYAMNYA ALLAH ITU MAKHLUK APA BUKAN? QODIM AZALI ATAU TIDAK?

    2. APA MAKNA HADIST BERIKUT INI, INGAT YA, KALIAN KAN MELARANG TAKWIL ;
    ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim).

    DEMIKIANLAH PERTANYAAN SAYA, MOHON KIRAYA KALIAN MAU MENJAWABNYA. TRM KSH.

  10. Mas agung sekedar saran silahkan antum panggil Ibnu abi Irfan alias `ajam , biasanya beliau berani diskusi sampai tuntas.

    akhuna `ajam kemarilah Mas agung ngajak antum untuk diskusi dijamin tidak akan dikeroyok ….silahkan mas `ajam kehadiran antum ditunggu.

  11. ehem, ehmmm…. konco-konco wahabinya tampaknya ngeri masuk sini, selalu menthok tak pernah tuntas, artinya mereka kalau menthok langsung menghilang begitu saja tanpa pamit, tanpa mau ngakui kekeliruannya.

    Berarti benar cerita teman2 saya sesama mahasiswa, Wahabi kalau mudzakaroh secara offline atau face to face, ketikamenthok mereka juga kabur begitu saja. Biasanya sdalam sesi istirahat mereka kabur ninggalin arena diskusi. Atau pamit ke belakang kemudian ngacir. Ntah benar atau nggaknya, memang demikianlah kabar yg beredar mengenai karak sosok2 Wahabi. Wallohu a’lam.

  12. SARAN UNTUK ADMIN

    Mungkin admin perlu membuat postingan tentang perkembangan hukum islam, kaidah kaidah hukum islam, penjelasan tentang ijma’, qiyas, istihsan, maslahah mursalah, istishhab, ‘uruf, madzhab shahababy, dan syar’un man qablana.

    buat juga postingan tentang urgensi mazhab, mujtahid dan tingkatannya, apa yg di maksud dengan ibadah, dan ijtihad, perkara apa saja yg masuk dalam lapangan ijtihad dsb.

  13. Syukron usulannya ustadz Agung, insyaallah akan kami tindak-lanjuti secara bertahap.

    Kepada Ustadz Agung, Ustadz Ahmad syahid, Ustadz Abu Hilya, ustadz Dianth dan ustadz yang lainnya, kalau ada yang mau menyumbang artikel tentang ilmu-ilmu seperti yang diusulkan, silahkan kirimkan via CONTACT US. Sekali lagi syukron.

  14. setuju banget, khususnya buat orang awam macem saya, supaya bisa mengerti :D

  15. Bismillah,
    Afwan, karena kesibukan, ana baru saja baca tanggapan antum sekalian…
    Ana juga mencoba menggunakan email yang baru, karena yang lama entah kenapa nggak bisa masuk ke blog ummati press..
    Luar biasa, ternyata tanggapan ana mendapat tanggapan pula dari beberapa ikhwan, yang ana yakin beberapa orang dari kalian adalah seorang ustadz. Tapi sayang, untuk orang awam seperti ana kalian tidak memberikan jawaban yang memuaskan, bahkan ada pertanyaan dan pernyataan ana yang kalian tidak sanggup menjawabnya….
    Seharusnya sebagai seorang ustadz kalian harus memberikan pencerahan, bukan malah bikin bingung ummat…
    Atau barangkali inilah ciri-ciri ahlul bid’ah, yang kalau ditanya, kemudian mentok, tidak bisa menjawab pertanyaan, lalu mengatakan : “Antum silahkan belajar lagi..”
    Sangat berbeda apabila ana ta’lim dan berdiskusi dengan kaum yang kalian selalu fitnah dan caci maki (salafi wahabi)… Apa yang ana tanyakan selalu dijawab dengan sangat memuaskan, logis, dengan dalil-dalil yang akurat…
    Tapi baiklah, ana tidak ingin berpanjang lebar..
    Hanya ana ingin menanggapai atas komentar Ustadz Ahmad Syahid :
    1. Pada awalnya antum mengatakan bahwa Imam Malik bin Anas dengan qaulnya : Barangsiapa yang melakukan suatu bid’ah dan mengatakan itu adalah bid’ah hasanah…..” adalah mahmul kepada bid’ah dholalah bukan bid’ah hasanah, tapi kemudian antum berubah lagi dan mengatakan bahwa Imam Malik adalah yang kontra terhadap bid’ah hasanah, bagaimana ini?
    2. Antum mengatakan bahwa Khalifah Abu Bakar r.a termasuk yang pro bid’ah hasanah? :
    Mungkin antum berdalih dengan dikumpulkannya Al qur’an dimasa pemerintahan beliau..
    Yang pertama : ya ustadz sesungguhnya dikumpulkannya Al Qur’an bukan suatu bid’ah, tetapi dizaman rasulullah salallahu alaihi wassalam pun sudah diperintahkan untuk dikumpulkan, ingatlah, salah satu nama dalam al qur’an adalah Al Kitab.. Antum tentu tahu apa arti al kitab? Yakni “mengumpulkan”,..
    Kemudian yang kedua : Pengumpulan dan Penulisan Al Qur’an adalah ijma’ para sahabat, dan ini adalah hujjah, bukan bid’ah..
    3. Antum mengatakan bahwa Umar bin Khatthab r.a. pro terhadap bid’ah hasanah? Ana yakin pasti antum berdalil dengan berkataan beliau : Ni’matul bid’ah hadzi…” saat memerintahkan manusia untuk shalat tharawih berjama’ah di Masjid..
    Pendapat bahwa Umar r.a. pro terhadap bid’ah hasanah bisa dijelaskan dari beberapa segi :
    a. Yang dimaksud Umar r.a. “bid’ah ni’mal bid’ah” adalah bid’ah secara lughawiyah (bahasa) bukan secara syar’iah. Karena apa yang perintahkan Umar bukanlah bid’ah, bukanlah hal baru, karena Rasulullah shalat tharawih kadang sendirian, kadang berjama’ah, kadang di mesjid, kadang di rumah. Hal itu untuk menunjukan kepada ummat bahwa semua itu dibolehkan.
    Umar r.a melihat maslahat apabila manusia dikumpulkan untuk shalat tharawih berjama’ah sesuai dengan sunnah Rasulullah salalahu alaihi wassalam..
    b. Kalaupun seandainya apa yang dilakukan Umar r.a itu dianggap bid’ah, maka tetap itu merupakan sunnah khulafa’ur rasyidun, bukan bid’ah.. Karena Rasulullah salalahu alaihi wassalam bersabda : “Ikutilah sunnahku, dan sunnah khulafaur rasyidun yang mendapat petunjuk”.. Ulama sepakat bahwa khulafaur rasyidun yang dimaksud adalah khalifah Abubakar, Umar, Utsman dan Ali r.a.. Karena para shahabat khusunya khulafaur rasyidun adalah manusia-manusia pilihan Allah yang diberi kemuliaan untuk mendampingi rasulullah, dan tentunya mereka lebih mengerti sunnah, sebab merekalah yang melihat langsung turunnya wahyu dan mendengar langsung sabda rasulullah salalahu alaihi wassalam..
    c. Andaikan ucapan Umar r.a. dimaknai dengan bid’ah secara syar’iah (yang berarti bertentangan dengan sabda Rasulullah salalahu alaihi wassalam: Setiap bid’ah adalah sesat” ) maka cukuplah atsar Ibnu Abbas ini jadi jawabannya “ Hampir-hampir batu-batu berjatuhan dari langit menimpa kalian, aku katakan bersabda Rasulullah, kalian justru mengatakan berkata Abu Bakar dan Umar”
    3. Antum mengatakan bahwa Abdullah bin Umar adalah termasuk yang pro bid’ah hasanah? Bagaimana dengan atsar beliau : “Setiap bid’ah itu sesat, walaupun manusia memandangnya sebagai kebaikan (hasanah)”..
    4. Antum meminta ana untuk bersikap dewasa terhadap perbedaan pendapat..
    Perbedaan pendapat yang mana ya ustadz?. Apa yang ana tuliskan dengan menambah kata “dholalah” pada perkataan : Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan Imam Malik justru menunjukan bahwa mereka sepakat untuk menolak setiap bid’ah… Tidak ada pengecualian dan tidak ada kata-kata “dholalah” disini…

    Untuk Ustadz Agung ana ingin memberikan tanggapan :
    1. Antum mengatakan bahwa atsar Ibnu Mas’ud adalah riwayat yang lemah..
    Antum salah besar karena riwayat tersebut adalah riwayat yang shahih…
    Berikut ini penjelasan para perawi yang membawakan atsar tersebut :
    a. Al-Hakam bin Al-Mubaarak Al-Khaasyitiy Al-Balkhiy, Abu Shaalih.
    Ia telah ditsiqahkan oleh Ahmad bin Hanbal, Ibnu Hibbaan, Ibnu Mandah, dan As-Sam’aaniy. Ibnu ‘Adiy saat menyebutkan dalam biografi Ahmad bin ‘Abdirrahman Al-Wahbiy mengatakan ia termasuk orang yang mencuri hadits. Namun dalam hal ini, Ibnu ‘Ady bersendirian dalam penyebutannya. Adz-Dzahabiy mengatakan bahwa ia seorang yang jujur (shaduuq). Di lain tempat, ia (Adz-Dzahabiy) mengatakan tsiqah. Ibnu Hajar mengatakan bahwa ia seorang yang jujur terkadang salah (shaduuq rubamaa wahm).
    [Mizaanul-I’tidaal 1/579 no. 2196, Al-Kaasyif 1/345 no. 1189, Tahdziibul-Kamaal 7/131-133 no. 1442, Tahdziibut-Tahdziib 1/469, Taqriibut-Tahdziib hal. 264 no. 1466, Al-Kaamil 1/304, dan Al-Ansaab 5/21].
    Yang nampak di sini bahwa Al-Hakam adalah seorang yang tsiqah, sebagaimana pendapat mayoritas ahli hadits. Adapun tuduhan mencuri hadits sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Adiy, maka ini tidak benar.
    b. ‘Amru bin Yahyaa bin ‘Amr bin Salamah Al-Hamdaaniy.
    Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Haditsnya tidak ada nilainya”, sebagaimana dibawakan Adz-Dzahabiy [Miizaanul-I’tidaal 3/293 no. 6474 – dan dari nukilan Ibnu Ma’iin inilah Adz-Dzahabiy menempatkan ‘Amr bin Yahyaa dalam kitab Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ 2/156 no. 4730]. Namun dalam Al-Jarh wat-Ta’diil, Ibnu Abi Haatim mengatakan : “Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Abdurrahman, ia berkata : Ayahku menyebutkan dari Ishaaq bin Manshuur, dari Yahyaa bin Ma’iin, bahwasannya ia berkata : ‘’Amru bin Yahyaa bin Salamah tsiqah” [6/269 no. 1487]. Tarjih atas perkataan Ibnu Ma’iin terhadap ‘Amru bin Yahyaa adalah bahwasannya ia tsiqah, karena ta’dil ini dibawakan oleh ulama mutaqaddimiin dengan membawakan sanadnya. Adapun nukilan Adz-Dzahabiy; maka sependek pengetahuan saya tidak terdapat dalam Taariikh Ibnu Ma’iin ataupun sumber-sumber lain yang bersanad sampai Ibnu Ma’iin.
    Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat (8/480). Ibnu Khiraasy berkata : “Ia bukan seorang yang diridlai” [Liisaa“Ia bukan seorang yang diridlai” [Liisaanul-Miizaan 6/232 no. 5852]. Al-Haitsamiy dalam Majma’uz-Zawaaid (3/84) melemahkannya.
    Perkataan yang benar tentang diri ‘Amr bin Yahyaa bin ‘Amr adalah ia seorang yang tsiqah. Apalagi tautsiq ini salah satunya diberikan oleh Ibnu Ma’iin yang terkenal sebagai ulama mutasyaddid dalam jarh. Ta’dil lebih didahulukan daripada jarh, kecuali jarh tersebut dijelaskan sebabnya – sebagaimana ma’ruf dalam ilmu hadits. Di sini, jarh yang diberikan tidak disebutkan alasannya. Selain itu, Ibnu Abi Haatim juga menyebutkan sekelompok perawi tsiqat telah meriwayatkan darinya sehingga lebih menguatkan lagi pen-tautsiq-an terhadapnya.
    c. Yahyaa bin ‘Amr bin Salamah Al-Hamdaaniy.
    Al-‘Ijilliy berkata : “Orang Kuffah yang tsiqah” [Ma’rifatuts-Tsiqaat 2/356 no. 1990]. Ibnu Abi Haatim menyebutkannya dalam Al-Jarh wat-Ta’diil (9/176) tanpa menyertakan adanya jarh maupun ta’dil-nya. Sejumlah perawi meriwayatkan darinya di antaranya : Syu’bah, Ats-Tsauriy, Al-Mas’uudiy, Qais bin Ar-Rabii’, dan anaknya (‘Amr bin Yahyaa). Yang menguatkan tautsiq atas diri Yahyaa adalah periwayatan Syu’bah darinya (dimana telah dikenal bahwa Syu’bah tidak meriwayatkan dari seseorang melainkan ia adalah tsiqah menurut penilaiannya).
    Yahyaa bin ‘Amr ini diikuti oleh Mujaalid bin Sa’iid sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir (9/136). Mujaalid ini seorang perawi dla’iif (dalam hapalan), namun bisa dijadikan i’tibaar.
    d. ‘Amru bin Salamah
    Al-‘Ijiliiy berkata : “Orang Kuufah, taabi’iy tsiqah” [Ma’rifatuts-Tsiqaat 2/356 no. 1990]. Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat (5/172). Ibnu Sa’d berkata : “Tsiqah, namun mempunyai sedikit hadits” [Ath-Thabaqaat 6/171]. Ibnu Hajar berkata : “Orang Kufah, tsiqah” [At-Taqriib hal. 737 no. 5076].
    Dari data di atas, terlihat bahwa atsar ini adalah shahih. Bukan dha’if sebagaimana yang antum sangkakan. Apalagi, atsar ini dibawakan dalam banyak jalan yang saling menguatkan satu dengan lainnya sehingga tidak ada kata lain selain mengatakan atas keshahihannya. Silakan lihat selengkapnya dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 2005 oleh Asy-Syaikh Al-Albani, Takhrij Al-I’tisham lisy-Syaathibi oleh Asy-Syaikh Masyhuur bin Hasan Alu Salmaan 2/323-325, dan Tahqiq Sunan Ad-Daarimiy 1/287-288 oleh Husain Salim Asad.
    2. Antum mengatakan sesungguhnya Abdullah bin Mas’ud Ra. sepertinya bukan semata-mata ingin mempermasalahkan zikir berjamaahnya atau menghitung zikirnya, tetapi sepertinya ia tahu betul siapa orang-orang yang berzikir itu, seolah ada isyarat yang ia ketahui jelas bahwa mereka itu adalah orang-orang yang akan menimbulkan masalah di kubu umat Islam.
    Antum mengatakan “sepertinya”.. Itukan keluar dari pikiran antum sendiri..?
    Tidak ada seorang ulama’ pun yang punya perkiraan seperti antum…
    Pak Ustadz, agama itu bukan berdasarkan perkiraan-perkiraan dengan mengatakan sepertinya begini dan sepertinya begitu, tetapi semuanya harus berdasarkan dalil yang shahih…
    Justru yang menjadi ‘illat pelarangan (dalam pengingkaran Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu) adalah sikap berlebih-lebihan mereka dalam beribadah yang salah satunya dengan melakukan dzikir berjama’ah. Tidakkah kita memperhatikan perkataan Ibnu Mas’ud :
    “Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celaka kalian wahai umat Muhammad ! Betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan. Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”
    Bukankah perkataan ini keluar setelah Ibnu Mas’ud mengetahui cara ibadah mereka yang menyelisihi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya dengan melakukan halaqah-halaqah dzikir ? Ibnu Mas’ud tidaklah mengingkari mereka karena mereka ini golongan Khawarij. Bahkan Ibnu Mas’ud saat itu tidak mengetahui mereka itu Khawarij atau bukan. Mereka diketahui sebagai golongan Khawarij setelah ‘Amr bin Salamah memberi kesaksian kebanyakan mereka (yang mengikuti halaqah dzikir jama’iy) adalah golongan yang memerangi para shahabat di Nahrawan.

    3. Justru Hadits mengenai menghitung dengan jari lebih shahih, berikut ana sampaikan sebagaiannya :
    Dari Abdullah bin Amr.. katanya : “Aku melihat Rasulullah saw menghitung tasbih dengan tangan kanannya..” [H.R. Abu Daud –sahih]

    Dari Yasirah(seorang perempuan Muhajirin) berkata..“Rasulullah saw pernah bersabda kepada kami :
    “Hendaklah kalian selalu tetap bertasbih..nanti akibatnya kalian akan melupakan tauhid/rahmat…Dan hendaklah kalian hitung dengan jari-jari karena sesungguhnya jari-jari itu nanti akan diminta untuk berbicara..”
    [H.R. Abu Daud- hasan]
    Hadis ini diperkuatkan lagi dengan ayat al-Quran surah Yasin ayat 65..Nur ayat 24..Fussilat ayat 20-22

    Diriwayatkan oleh Ibnu Wadldlah Al-Qurtubi di dalam kitabnya Al-Bida’u wan Nahyu ‘Anhu halaman 12 dari Shult bin Bahram..dia menceritakan..
    Ibnu Mas’ud (sahabat Nabi) pernah melewati seorang perempuan yang ada padanya biji-bijian tasbih yang dia pergunakannya untuk bertasbih..
    Maka Ibnu Mas’ud memutuskannya dan membuang biji-bijian tasbih itu..
    Kemudian beliau melewati seorang lelaki yang sedang bertasbih dengan batu-batu kecil..lalu beliau menendang dengan kakinya lalu berkata :
    “Kamu telah mendahului..! Kamu telah mengerjakan bidaah/bid’ah yang gelap! Kamu telah mengalahkan ilmunya sahabat-sahabat Muhammad salalahu alaihi wassalam..!

    Berikut adalah hadis yang digunakan sebagai dalil membolehkan menggunakan biji tasbih untuk berzikir..tetapi sekitar hadis daif/lemah dan maudhu/palsu yang tidak boleh dijadikan hujah..

    Dari Abu Hurairah ra :
    “adalah (Nabi saw) bertasbih dengan batu-batu kecil.”.[Hadis sangat lemah’]

    Dari saad bin abi Waqqas..bahwa dia pernah masuk ke rumah seorang perempuan bersama Rasulullah saw sedangkan di tangan perempuan itu ada biji-bijian atau batu-batu kecil yang dipergunakan untuk tasbih dgnnya..
    [H.R. Abu Daud At-Tirmidzi dan Hakim – DAIF/LEMAH]..

    Dari Shafiyyah dia berkata :

    “Rasulullah saw pernah masuk ke rumahku sedangkan dihadapanku ada empat ribu biji-bijian yang aku pakai untuk bacaan tasbihku dengannya…..”
    [H.R. At-Tirmidzi dan Hakim-daif/lemah]

    “Sebaik-baik pemberi ingat itu adalah subhah (biji-bijian tasbih untuk berzikir).”..[HADIST PALSU riwayat Imam Dailami dalam Musnad Fidaus]

    Ulama-ulama bahasa (arab) berkata perkataan ‘subhah’/biji-bijian tasbih itu awalnya tidak pernah dikenali oleh orang-orang Arab..Bagaimana mungkin Nabi saw memerintahkan sahabat atas perkara yang tidak pernah dikenalnya.

    Allah swt perintahkan kita supaya berdzikir dengan suara yang TIDAK KERAS…

    [Surah Al-A’raf:55 dan 205]..
    Nabi saw melarang berdzikir dengan suara keras..
    [HR Al Bukhari Muslim.Abu Daud At-Tirmidzi dan Ahmad]

    Nabi melarang orang yang sedang shalat mengeraskan bacaan masing-masing..
    [H.R. Abu Daud dan Ahmad]

    Imam As-Syafie tegas memerintahkan makmum dan imam masing-masing
    meyembunyikan bacaan…
    (Al Um-Kitab Shalat bab Zikir setelah Shalat)

    Andaikan riwayat bertasbih dengan batu atau sejenisnya itu shahih, maka tetap bertasbih dengan tangan kanan adalah lebih utama, sebagaimana hadits shahih yang sudah ana sebutkan diatas…
    Pada hadits Shafiyah (kalaupun itu dikatakan shahih), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempertanyakan perbuatan Shafiyah yang mengumpulkan biji-bijian di tangannya. Hal ini menunjukkan pengingkaran dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ia melakukan perbuatan yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain. Itulah sebabnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkannya sesuatu yang lebih baik, yaitu lafadz tasbih yang benar. Karena, jika tindakan Shafiyah yang mengumpulkan bijian itu benar, mestinya tidak akan diingkari, bahkan ia akan dimotivasi untuk melanjutkannya atau paling tidak dibiarkan tetap melakukannya. Dengan demikian, sesungguhnya hadits tersebut sama sekali tidak menunjukkan dalil bolehnya menggunakan tasbih atau kerikil untuk menghitung dzikir..

    4. Pertanyaan antum mengenai keberadaan Allah SWT, maka dapat antum jawab dengan qaul imam Malik : “ Istiwa’ (bersemayam) itu telah diketahui (maknanya), tata caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya bid’ah” (Al Qathani)..

    5. Kemudian antum membawakan hadits qudsi : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim).

    Dapat ana jawab sebagai berikut :
    Allah berada diatas langit, bersemayam diatas Arsy, tetapi ilmuNya meliputi segala sesuatu…
    Adapun hadits yang antum bawakan (wallahu a’lam) semakna dengan firman Allah :
    “Dan dia (Allah) selalu bersamamu di manapun kamu berada” (Al Hadiid : 4)..
    Hakikat pengertian kebersamaan Allah dengan makhluk tidak bertentangan dengan keberadaan Allah diatas Arsy, sebab perpaduan antara kedua hal ini bisa terjadi pada makhluk. Misalnya : ada seseorang mengatakan “ kami masih meneruskan perjalanan dan bulan pun bersama kami.” Ini tidak dianggap kontradiksi dan tak seorangpun memahami dari perkataan tersebut bahwa bulan turun ke bumi. Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagi Allah (yang meliputi segala sesuatu) walaupun berada diatas Arsy, tentu lebih patut lagi, karena hakikat pengertian kebersamaan tidak berarti berkumpul dalam satu tempat..

    Untuk Mas Lasykar :
    Afwan mas, sepertinya antum nggak nyambung, kita sedang membahas mengenai dzikir jama’ah tapi antum malah belok ke masalah tahlilan..
    Tapi okelah, ana akan memberi tanggapan mengenai hukum tahlilan :
    Tahlilan hukumnya bid’ah, dengan ijma’ para sahabat dan seluruh ulama Islam :
    Dalilnya sebagai berikut :
    1. Dari Jarir bin Abdullah , ia berkata :
    “Kami (yakni para sahabat semuanya) memandang/menganggap bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah dikuburkan mayit termasuk dari bagian meratap” (Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (No. 1612 dan Imam Ahmad di musnadnya (2/204 ).

    2. Telah berkata Imam As Syafi’i :
    “Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan”..
    Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita’wil atau ditafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa beliau dengan tegas mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?”

    3. Telah berkata Imam Ibnu Qudamah, di kitabnya Al Mughni (Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) :

    “Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah kesusahan diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah.

    4. Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya,.Apakah mayit kamu diratapi ?” Jawab Jarir, ” Tidak !” Umar bertanya lagi, ” Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, ” Ya !” Berkata Umar, ” Itulah ratapan !”

    5. Telah berkata Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, di kitabnya : Fathurrabbani tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) :

    “Telah sepakat imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya (yakni berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram.

    6. Telah berkata Imam An Nawawi rahimahullah : Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya (perbuatan tersebut)……..
    Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, ” Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : “Dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk ta’ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats (hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah ” Bid’ah.”
    Lalu Al Imam An Nawawi, dikitabnya Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang bid’ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy -Syaamil dan lain-lain Ulama dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih. Dan hal inipun beliau tegaskan di kitab beliau “Raudlotuth Tholibin (2/145).

    7. Kemudian Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna di akhir syarahnya atas hadits Jarir menegaskan : “Maka, apa yang biasa dikerjakan oleh kebanyakan orang sekarang ini yaitu berkumpul-kupmul (di tempat ahli mayit) dengan alasan ta’ziyah dan mengadakan penyembelihan, menyediakan makanan, memasang tenda dan permadani dan lain-lain dari pemborosan harta yang banyak dalam seluruh urusan yang bid’ah ini mereka tidak maksudkan kecuali untuk bermegah-megah dan pamer supaya orang-orang memujinya bahwa si fulan telah mengerjakan ini dan itu dan menginfakkan hartanya untuk tahlilan bapak-nya. Semuanya itu adalah HARAM menyalahi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Salafush shalih dari para shahabat dan tabi’in dan tidak pernah diucapkan oleh seorangpun juga dari Imam-imam Agama (kita).
    Kita memohon kepada Allah keselamatan !”

    8. Telah berkata Al Imam Asy Syairoziy, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu’ Syarah Muhadzdzab : “Tidak disukai /dibenci duduk-duduk (ditempat ahli mayit) dengan alasan untuk Ta’ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah ” Bid’ah “.
    Dan Imam Nawawi menyetujuinya bahwa perbatan tersebut bid’ah. [Baca ; Al-Majmu’ syarah muhadzdzab juz. 5 halaman 305-306]

    9. Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, di kitabnya Fathul Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah ” Bid’ah Yang Jelek”. Beliau berdalil dengan hadits Jarir yang beliau katakan shahih.

    10. Al Imam Ibnul Qayyim, di kitabnya Zaadul Ma’aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul (dirumah ahli mayit) dengan alasan untuk ta’ziyah dan membacakan Qur’an untuk mayit adalah ” Bid’ah ” yang tidak ada petunjuknya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    11. Al Imam Asy Syaukani, dikitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tersebut Menyalahi Sunnah.

    12. Berkata penulis kitab ‘Al-Fiqhul Islamiy” (2/549) : “Adapun ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak maka hal tersebut dibenci dan Bid’ah yang tidak ada asalnya. Karena akan menambah musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka dan menyerupai (tasyabbuh) perbuatan orang-orang jahiliyyah”.

    13. Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab : ” Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah mereka (ahli mayit ) membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.” [Masaa-il Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139]

    14. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta’ziyah. Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain.” [Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal.93]
    15. Berkata Al Imam Al Ghazali, dikitabnya Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi’i (I/79), ” Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit.”

    Berdasarkan dalil-dalil diatas, dapat disimpulkan :
    Pertama : Bahwa berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit hukumnya adalah BID’AH dengan kesepakatan para Shahabat dan seluruh imam dan ulama’ termasuk didalamnya imam empat.

    Kedua : Akan bertambah bid’ahnya apabila ahli mayit membuatkan makanan untuk para penta’ziyah.

    Ketiga : Akan lebih bertambah lagi bid’ahnya apabila disitu diadakan tahlilan pada hari pertama dan seterusnya.

    Keempat : Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum kerabat dan para tetangga memberikan makanan untuk ahli mayit yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Ja’far bin Abi Thalib r.a. wafat.

    “Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far ! Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukakan mereka (yakni musibah kematian).” [Hadits Shahih, riwayat Imam Asy Syafi'i ( I/317), Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205)]

    Hal inilah yang disukai oleh para ulama kita seperti Syafi’iy dan lain-lain (bacalah keterangan mereka di kitab-kitab yang ana bawakan di atas).

    Berkata Imam Syafi’iy : “Aku menyukai bagi para tetangga mayit dan sanak familinya membuat makanan untuk ahli mayit pada hari kematiannya dan malam harinya yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka, karena sesungguhnya yang demikian adalah (mengikuti) SUNNAH (Nabi)…. “ [Al-Um I/317]
    Kemudian beliau membawakan hadits Ja’far di atas.

    Demikian, wallahu a’lam…

  16. ini namanya kembali dari NOL BESAR lagi…

  17. bener mas vijay, telah di ulas panjang lebar di ummati tentang ma’tam…. kok tetep dikatakan tahlilan….saran mas ibnu muter-muter dulu di situs ummati udah pernah dibahas kok, semoga berkenan.
    wallohu a’lam

  18. Ibnu Ibrahim@

    Hati2 kalau koment ya, maksud saya kalau koment itu pakai ilmu. Jangan asal mangap. Nanti kalau ketahuan Mbak Aryati Kartika, antum akan disuruhnya belajar lagi di pesantren, belajar dari dasar, dari tingkat ibtida’iyah.

    Kang Ibnu Suradi waktu itu disuruh belajar lagi di ibtida’iyah sama mBak Aryati, eh langsung sampai hari ini nggak pernah muncul lagi di sini. Semoga Ibnu Suradi sadar, bahwa dirinya belum pernah belajar ilmu dasar yg dipelajari di Ibtida’iyah.

    kayaknya dilihat dari koment antum ini bisa dipastikan antum, belum pernah belajar ilmu2 dasar yg diajarkan di tingkat ibtida’iyah pesantren2 NU. Memang sebaiknya antum belajar dari awal lagi biar bermutu nantinya. Kalau orang awam belajar langsung tingkat lanjut, pasti jadinya seperti antum. Koment asal mangap, sesuai pa yg terlintas di otak yg sempit karena terkurung dalam tempurung kepala yg sempit pula.

    afwan, ini sekedar masukan dan saran dari saya, semoga berkenan. Terimakasih.

  19. yang menyanggah mas ibnu tampaknya enggak ilmiah… tapi tunggu aja deh, entar bakalan ada dari yg namanya ucep atau bu hilya yang ‘terusik’. tp sama juga…paling-paling cuma ngeluarin ilmu kalamnya doang.

  20. Ummu hasanah@

    Ummu, sungguh aneh deh Wahabi, bid’ah kok digunakan untuk menghukumi, ya kacau deh agama kalau main hakim dg bid’ah. Perlu kalian sadari, bahwa bid’ah itu bukan hukum, jadi nggak bisa kalian main hakim dg menggunakan bid’ah. Justru bid’ah itu ada yang hukumnya wajib, ada bid’ah yghukumnya Sunnah, ada bid’ah yg hukumnya haram, makruh dan mubah. OPleh karena itu, silahkan anda2 belajar lagi dari tingkat dasar di pesantren Nu biar punya ilmu yg komprehensif. Nanti kalau sudah belajar tingkat dasar ibtida’ kemudian lanjut ke tsawiyah setelahah itu lanjut lagi ke tingkat ulya. nah, setelah itu kemudian anda-anda baru boleh bicara persoalan ilmiyyah.

    Maaf Ummu hasanah, saya cuma menyambungkan pesan2 nya Mbak Aryati Kartika kepada kaum Wahabi, agar mereka belajar ilmu dari tingkat dasar dulu. Sekian terima kasih.

  21. mas ibnu Ibrahim, anda berkata:

    “SEHARUSNYA SEBAGAI SEORANG USTADZ KALIAN HARUS MEMBERIKAN PENCERAHAN, BUKAN MALAH BIKIN BINGUNG UMMAT…
    ATAU BARANGKALI INILAH CIRI-CIRI AHLUL BID’AH, YANG KALAU DITANYA, KEMUDIAN MENTOK, TIDAK BISA MENJAWAB PERTANYAAN, LALU MENGATAKAN : “ANTUM SILAHKAN BELAJAR LAGI..”
    SANGAT BERBEDA APABILA ANA TA’LIM DAN BERDISKUSI DENGAN KAUM YANG KALIAN SELALU FITNAH DAN CACI MAKI (SALAFI WAHABI)… APA YANG ANA TANYAKAN SELALU DIJAWAB DENGAN SANGAT MEMUASKAN, LOGIS, DENGAN DALIL-DALIL YANG AKURAT…”

    Semoga ini bukan sebuah kesombongan,….. dan Alhamdulillah saya belum jadi ustadz, mari kita berdiskusi dengan baik,
    Oke… mestinya mas tahu asal muasal saya posting, yakni memperkuat jawaban teman-teman ummati terkhusus masalah berdzikir pakai kerikil atau tasybih dan hal itu sering ada waktu acara tahlilan, jadi ada benang merahnya. Dari dari kesimpulan makalah anda yang panjang lebar yang perlu kami tanggapi ada beberapa hal, yang pertama adalah tahlilan versi anda:
    1 Anda mengatakan ijma’ para sahabat dan seluruh ulama islam, padahal anda menggunakan pengertian ma’tam apakah ini, maaf nyambung?
    2 Anda mengulang-ulang pengertian ma’tam sampai 15 poin maksudnya apa? Ingin mengaburkan masalah?
    3 apakah ma’tam adalah tahlilan? Dan apakah anda pernah mengikuti proses tahlilan?
    4 apakah ta’rif makruh versi anda?
    5 apakah Imam madzhab melarang tahlilan yang isinya qur’an, istighfar, tahlil, dan do’a?
    6 apakah rosululloh pernah bersabda tahlilan haram, yang mana isinya hanyalah majlis dzikir?

    wallohu a’lam

  22. Bismillah,
    Saudaraku mas @Ibnu Ibrohim, kita sama-sama pendatang baru disini, sebaiknya diskusi nggak usah pakai “AROGANSI”. Tapi kalo itu sudah menjadi ciri khas anda dan kelompok anda.. kami pun tidak keberatan, tapi kami tidak akan menanggapinya…biar itu menjadi pembeda antara kita…
    Begitu panjang uraian anda, namun anda belum menyampaikan Definisi bid’ah dalam pandangan anda ? ada baiknya diskusi kita mulai dari sini. Jadi tolong sampaikan dulu makna Bid’ah menurut anda…ok…
    Selanjutnya tentang pernyataan anda :

    2. Antum mengatakan bahwa Khalifah Abu Bakar r.a termasuk yang pro bid’ah hasanah? :
    Mungkin antum berdalih dengan dikumpulkannya Al qur’an dimasa pemerintahan beliau..
    Yang pertama : ya ustadz sesungguhnya dikumpulkannya Al Qur’an bukan suatu bid’ah, tetapi dizaman rasulullah salallahu alaihi wassalam pun sudah diperintahkan untuk dikumpulkan, ingatlah, salah satu nama dalam al qur’an adalah Al Kitab.. Antum tentu tahu apa arti al kitab? Yakni “mengumpulkan”,..
    Kemudian yang kedua : Pengumpulan dan Penulisan Al Qur’an adalah ijma’ para sahabat, dan ini adalah hujjah, bukan bid’ah..

    Pertanyaan kami :
    1. Atas dasar apa anda menyatakan bahwa “dizaman rasulullah salallahu alaihi wassalam pun sudah diperintahkan untuk dikumpulkan” ? Sedang beliau (Abu Bakar –rodhiyallohu ‘anhu) sendiri mengatakan :
    كَيْفَ تَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    “Bagaimana engkau mau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rosululloh Saw ?,”
    2. Bagaiman anda yang merasa berilmu menggunakan salah satu nama Al Qur’an yakni Al Kitab sebagai landasan hukum diperbolehkannya mengumpulkan al qur’an ? apa anda telah membikin kaedah istinbath yang baru ?…
    3. Anda katakan : “Pengumpulan dan Penulisan Al Qur’an adalah ijma’ para sahabat, dan ini adalah hujjah, bukan bid’ah”. Pertanyaan kami : Mengapa anda menerima “Pengumpulan Al Qur’an” sebagai Ijma’ sahabat, dan mengabaikan fakta bahwa ijma’ tersebut meliputi “Ijma’ para sahabat atas apa yang dilakukan Abu bakar yang belum pernah dilakukan oleh Rosululloh”?.. Jika anda sedikit memahami konsep “Bid’ah” versi ulama anda, maka anda akan mengatakan bahwa “Penghimpunan Al Qur’an adalah masuk kategori Al Mashlahah Al mursalah”…. namun sayang ustadz anda nampaknya juga tidak terlalu memahami hal tsb….
    Berikiutnya tentang pernyataan anda :

    3. Antum mengatakan bahwa Umar bin Khatthab r.a. pro terhadap bid’ah hasanah? Ana yakin pasti antum berdalil dengan berkataan beliau : Ni’matul bid’ah hadzi…” saat memerintahkan manusia untuk shalat tharawih berjama’ah di Masjid..
    Pendapat bahwa Umar r.a. pro terhadap bid’ah hasanah bisa dijelaskan dari beberapa segi :
    a. Yang dimaksud Umar r.a. “bid’ah ni’mal bid’ah” adalah bid’ah secara lughawiyah (bahasa) bukan secara syar’iah. Karena apa yang perintahkan Umar bukanlah bid’ah, bukanlah hal baru, karena Rasulullah shalat tharawih kadang sendirian, kadang berjama’ah, kadang di mesjid, kadang di rumah. Hal itu untuk menunjukan kepada ummat bahwa semua itu dibolehkan.
    Umar r.a melihat maslahat apabila manusia dikumpulkan untuk shalat tharawih berjama’ah sesuai dengan sunnah Rasulullah salalahu alaihi wassalam..
    b. Kalaupun seandainya apa yang dilakukan Umar r.a itu dianggap bid’ah, maka tetap itu merupakan sunnah khulafa’ur rasyidun, bukan bid’ah.. Karena Rasulullah salalahu alaihi wassalam bersabda : “Ikutilah sunnahku, dan sunnah khulafaur rasyidun yang mendapat petunjuk”.. Ulama sepakat bahwa khulafaur rasyidun yang dimaksud adalah khalifah Abubakar, Umar, Utsman dan Ali r.a.. Karena para shahabat khusunya khulafaur rasyidun adalah manusia-manusia pilihan Allah yang diberi kemuliaan untuk mendampingi rasulullah, dan tentunya mereka lebih mengerti sunnah, sebab merekalah yang melihat langsung turunnya wahyu dan mendengar langsung sabda rasulullah salalahu alaihi wassalam..
    c. Andaikan ucapan Umar r.a. dimaknai dengan bid’ah secara syar’iah (yang berarti bertentangan dengan sabda Rasulullah salalahu alaihi wassalam: Setiap bid’ah adalah sesat” ) maka cukuplah atsar Ibnu Abbas ini jadi jawabannya “ Hampir-hampir batu-batu berjatuhan dari langit menimpa kalian, aku katakan bersabda Rasulullah, kalian justru mengatakan berkata Abu Bakar dan Umar”

    Sanggahan kami :
    a. Umar Ibn Khotthob –rodhiyallohu ‘anhu- menyebut jama’ah sholat tersebut sebagai Ni’matil Bid’ah, namun anda mengingkarinya dan menganggapnya bukan “Bid’ah”…
    seandainya apa yang dimaksud oleh Umar Ibn Khotthob –rodhiyallohu ‘anhu- dengan Ni’matil Bid’ah adalah “Bid’ah” menurut arti bahasa, maka kami katakan : “Bahwa para ulama yang memahami Bid’ah dengan pendekatan bahasa memiliki landasan hukum berupa pernyataan ” Umar Ibn Khotthob –rodhiyallohu ‘anhu-
    b. Anda mengatakan bahwa : “para shahabat khusunya khulafaur rasyidun adalah manusia-manusia pilihan Allah yang diberi kemuliaan untuk mendampingi rasulullah, dan tentunya mereka lebih mengerti sunnah, sebab merekalah yang melihat langsung turunnya wahyu dan mendengar langsung sabda rasulullah salalahu alaihi wassalam..”
    Lantas mengapa anda menolak pernyataan Umar Ibn Khotthob –rodhiyallohu ‘anhu- yang memberikan label jama’ah tarowih yang beliau himpun dengan label Ni’matil Bid’ah ?
    c. Semakin menunjukkan pemahaman anda yang Tanaaqudh/Kontradiktif. Perhatikan tulisan anda pada point (b) diatas.. bukankah anda katakan “bahwa para Khulafa’ Ar Rosyidun adalah manusia yang lebih mengerti sunnah” ? Lantas mengapa pada point (c) anda menyampaikan atsar Ibnu Abbas yang anda maksudkan untuk melarang membawa pernyataan Abu Bakar dan Umar –rodhiyallohu ‘anhuma- dalam memahami Sunnah Rosululloh ?

    Sesungguhnya tidaklah sulit melayani anda dan para ustadz anda untuk berdiskusi, karena sangat mungkin dan faktanya sering pernyataan kelompok anda bersifat “Kontradiktif”. Hal ini mungkin akibat pemahaman anda yang tidak pernah utuh… karena terkotak oleh sikap “Ta’assub” anda dan pembelaan yang membabi buta…

    Selanjutnya kami akan dengan sabar dan senang hati melayani anda berdiskusi disini jika jawaban anda nyambung…
    Wallohu A’lam….

  23. Bismillah,

    Saudariku @Ummu Hasanah, ada baiknya anda pelajari dulu apa yang ingin anda tulis… biar tidak jadi bahan lelucon disini… apa yang anda maksud dengan “Ilmu Kalam”?…

  24. Sedikit tambahan pertanyaan untuk mas ibnu tentang bid’ah:
    1. menurut anda ta’rif bid’ah dalam bahasa apa?
    2. ta’rif bid’ah hasanah apa? Kira-kira sama nggak dengan bid’ah dalam bahasa? Dan kalau beda, apa bedanya?
    3. ta’rif bid’ah secara syariat apa?
    4. ta’rif bid’ah dlolalah/madzmumah apa? Kira-kira sama nggak dengan bid’ah secara syari’at? Dan kalau beda, apa bedanya?
    5. ta’rif maslahah mursalah apa?
    6. DAN TERAKHIR YANG MENETUKAN SUATU PERBUATAN ADALAH SEBUAH MASLAHAH MURSALAH ATAU TIDAK SIAPA?
    Sekian sedikit titipan pertanyaan kami semoga berkenan
    Wallohu a’lam

  25. orang pintar itu kaidahnya ‘al ilmu qobla qoul wa amal’ sedangkan org bodoh itu beramal dulu..ntar kalo ada yg tanya dalilnya…baru nyari-nyari… kl enggak ketemu…maksa-maksain aja…nyambung kek enggak nyambung kek..yg penting ada…kl perlu, walau org atheis..dipake juga dalilnya…wadeeehhh …gimana pertanggung jawabannya ya di akhirat nanti…. cepoy deh…

  26. mbak ummu hasanah, biar nyambung jawab pertanyaan-pertanyaan saya dulu gih….. insya alloh nanti ada titik temunya, biar tidak mengulang-ulang. makasih.
    wallohu a’lam.

  27. Ummu Hasanah@

    Ya, saya sangat setuju usulan teman Ummati agar teman2 Salafi Wahabiyyin sebaiknya belajar ilmu dari dasar dulu, terus sampai ke tingkat aliyah atau ulya. Sebagai contoh apa yg diajarkan di pesantren, inilah yg dipelajari di Madrasah Salafiyyah al-Fattah (pesantren NU) di Tanjunganom Nganjuk Jawa Timur. Maaf, ini bukan pamer ilmu, tetapi agar teman2 Wahabi tahu bahwa anak2 Aswaja itu punya ilmu. Makanya jangan heran kalau mereka pinter2 ketika berkomentar di blog ini, baik cowoknya maupun cewek2nya. Jumlah pesantren Nu itu jumlahnya 30.00 lebih di Indonesia, dari mereka yg koemt di sini baru 00,1% bahkan saya yakin belum sampai sekian persen itu.

    I. Tingkat Ibtida’iyyah

    Al-Qur’an, Hadits ( Arba’in Nawawi, Arba’in al-Fattah), Ilmu Tauhid (Aqidatul Awam, al-Jawahirul Kalamiyah), Fiqh (Fathul Qorib, Mabadi’ Fiqhiyyah), Nahwu (Nahwu dasar al-Fattah, al-‘imrithi, al-Jurumiyyah), Shorof (Shorof dasar al-Fattah, Qowa’idus Shorfiyyah, al-Amtsilah At Tashrifiyyah), dll.

    II. Tingkat Tsanawiyyah

    Tafsir (Tafsirul Jalalain), Hadits (Bulughul Marom, Riyadus Sholihin), Tashowuf (Bidayatul Hidayah), Tauhid (Tanwirul Qulub), Balaghoh ( al-Jauharul Maknun), Nahwu & Shorof (al-Fiyyah ibn Malik), Ilmu Kaidah Fiqh (Faroidlul Bahiyyah), dan Ilmu Mewaris (Iddotul Farid), dll.

    III. Tingkat Aliyyah

    Tafsir (Tafsirul Ibnu Abbas), Hadits (al-Jami’us Shogir ), Tauhid (Mafahim Yajibu antushohhaha), Fiqh (Nihayatuzzein), Kaidah Fiqh (Asybah wa Nadhoir), Tashowuf (Mauidzotul Mukminin), Balaghoh (Uqudul Juman), dll.

    Madrasah Salafiyyah al-Fattah menggunakan materi pelajaran dari kitab-kitab mu’tabaroh ‘Ala Thoriqoti Ahlis Sunnah Wal jama’ah.

  28. Ummu Hasanah, anda bilang anda punya ilmu, coba cek itu info dari Mas Baihaqi, cekidot….!

    Ini saya tambahin, daftar krikulum secatra umum di pesantren2 NU.

    a. Aqidah/Tauhid.
    Pembelajaran Aqidah/Tauhid bertujuan menanamkan keyakinan tentang ketauhidan Allah dan rukun iman yang lain kepada santri.

    b. Tajwid (Baca al-Qur’an)
    Pengajaran baca al-Qur’an biasanya ditekankan pada beberapa hal, yaitu: Pertama, kemampuan mengenali dan membedakan huruf-huruf al-Qur’an (huruf hijaiyyah) secara benar; Kedua, kemampuan untuk mengucapkan atau melafalkan kata-kata dalam al-Qur’an dengan fasih sesuai dengan makhraj (tempat keluarnya huruf-huruf hijaiyyah dari rongga mulut): Ketiga, mengerti dan memahami hukum-hukum atau patokan-patokan pembacaan al-Qur’an.

    c. Akhlak/Tasawuf
    Tujuan pembelajaran akhlak/tasawuf adalah membentuk santri agar memiliki kepribadian muslim yang berakhlak karimah (mulia), baik yang terkait dengan hubungan antara manusia dengan Allah atau hablun min Allah (hubungan vertikal) maupun yang terkait dengan hubungan antara sesama manusia atau hablun min al-nas (hubungan horisontal) serta hubungan dengan alam sekitar atau makhluk Allah yang lain.

    d. Bahasa Arab
    Mata pelajaran ini biasanya mendapatkan porsi besar dan posisi cukup penting dalam pembelajaran di pesantren, sehingga hampir di setiap pesantren selalu ada mata pelajaran ilmu alat yang meliputi Nahwu, Sharaf, dan Balaghah. Ada kalanya juga dimasukkan ke dalamnya ilmu Manthiq (logika). Tujuan pembelajaran ini adalah agar para santri mampu memahami al-Qur’an dan al-Hadits serta kitab-kitab lain yang berbahasa Arab.

    e. Fiqh
    Materi pembelajaran Fiqh atau syari’at Islam biasanya dibagi menjadi: Fiqh ibadah (ibadah dalam arti sempit/ritual); Fiqh Muamalat (tentang hubungan atau kerja sama antar manusia); Fiqh Munakahat (tentang pernikahan); dan Fiqh Jinayat (tentang pelanggaran dan pembunuhan). Pembelajaran ini biasanya terbagi beberapa tingkatan, yakni tingkat permulaan, tingkat menengah,dan tingkat tinggi. Fiqh Ibadah biasanya diberikan pada tingkat permulaan, sedangkan Fiqh Muamalat diberikan pada tingkat menengah. Pada tingkatan yang tinggi dipelajari Fiqh Munakahat dan Fiqh Jinayat. Selain itu, pada tingkat tinggi biasanya dilakukan perluasan wawasan dengan menjangkau fiqh-fiqh yang lain dan fiqh-fiqh dari berbagai madzhab.

    f. Ushul Fiqh
    Selain Fiqh, pesantren juga memberikan pembelajaran Ushul Fiqh. Ilmu ini berkaitan dengan dasar-dasar dan metode untuk menarik sebuah hukum (istinbath). Pada tataran tertentu Fiqh merupakan sebuah produk, sedangkan prosesnya tercakup dalam Ushul Fiqh.

    g. Tafsir al-Qur’an
    Secara garis besar, Tafsir al-Qur’an dibedakan menjadi dua macam, yakni Tafsir bi al-ra’yi (tafsir dengan rasio) dan Tafsir bi al-ma’tsur (tafsir yang menitikberatkan pada penggunaan ayat-ayat lain, hadits Nabi, dan pendapat sahabat). Penekanan pembelajaran Tafsir al-Qur’an di pondok pesantren terutama diberikaan pada: Pertama, kemampuan mengetahui kedudukan suatu kata dalam struktur kalimat (i’rab) serta mengetahui dan membedakan makna mufradat (pengertian kata-kata) ayat-ayat al-Qur’an baik ditinjau dari segi morfem (sharaf) maupun persamaan katanya (muradif); Kedua, asbabun nuzul, makkiyyah-madaniyyah, serta nasikh dan mansukh suatu ayat; Ketiga, kandungan ayat secara tekstual maupun kontekstual sehingga santri menemukan relevansi ayat itu dalam realitas kehidupan; Keempat, perbandingan penjelasan makna-makna ayat-ayat al-Qur’an suatu kitab tafsir dengan kitab-kitab tafsir lainnya. Kelima, pada beberapa pesatren tertentu, kitab tafsir yang dibaca ditekankan pada kitab-kitab tafsir yang bercorak hukum (tafsir al-ahkam).

    h. Ilmu Tafsir
    Tidak banyak pesantren yang mengajarkan Ilmu tafsir, kecuali pesantren yang memiliki ciri khusus atau spesialisasi al-Qur’an. Ilmu ini bermanfaat untuk mengetahui tentang al-Qur’an dan sangat berguna sebagai alat bantu dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.

    i. Hadits
    Pengajian Hadits pada tingkat awal biasanya bertujuan untuk memperkenalkan hadits secara tidak langsung dengan menonjolkan kandungan materinya. Oleh karena itu yang diajarkan adalah hadits-hadits yang pendek. Konsentrasi pengkajiannya berpusat pada matan dan dengan pembahasan yang sederhana saja, disesuaikan dengan kemampuan santri pada tingkat ini. Pada tingkat menengah (wustha) perhatian kepada sanad hadis mulai ditekankan, begitu juga terhadap rijal al-hadits dengan tetap memberikan perhatian pada kandungan matan. Pada tingkat tinggi (‘aly), pengkajian hadits benar-benar telah memasuki tahap yang lengkap, yang meliputi pengetahuan tentang sanad dan variasi sanadnya, sosok dan karakter pe-rawi-nya, cara periwayatannya, sanad dan variasinya, serta asbab al-wurdnya, dan materi kandungannya.

    j. Ilmu Hadits
    Beberapa pesanren baru mengajarkan Ilmu Hadits pada tingkat menengah. Tujuan pengajian Ilmu Hadis pada tingkat menengah dan tinggkat tinggi adalah agar para santri mengetahui seluk beluk hadits, dari mulai posisinya sebagai sumber hukum, sejarah penulisannya, kualitas dan jenis-jenisnya baik dilihat dari segi matan, sanad atau keduanya, kitab-kitabnya, perawi-perawinya, dan seterusnya. Pada tinggkat tinggi biasanya juga ditambah dengan ketrampilan takhrij al-hadits yaitu ketrampilan untuk menerapkan metode-metode yang ada. Dengan kemampuan takhrij ini diharapkan santri dapat melakukan kajian mandiri mengenai status dan kualitas hadits.

    k. Tarikh (Sejarah Islam
    Tujuan pembelajaran Tarikh ialah untuk mengenal secara kronologis pertumbuhan dan perkembangan umat Islam semenjak masa Rasulullah SAW hingga masa kehidupan Turki ‘Utsmani. Pada tingkat awal (ibtida’iyah), materi yang diberikan biasanya dibatasi hanya pada masa Rasulullah SAW. Pada tingkat tinggi (ulya) biasanya materi yang diberikan mulai masa awal hingga masa temporer, namun tekanannya tidak hanya terbatas pada fakta sejarah, namun menjangkau makna dibalik fakta itu.

    Nah…. top kan, masih berani bilang kami tanpa ilmu? Silahkan berkaca diri dulu…. please deh Ummu Hasanah.

  29. Ane punya burung beo, ane ajarkan kalimat Assalamualaikum sampai bisa si beo bilang assalamualaikum, akhirnya selalu saja sibeo mengucapkan assalamualaikum, baik ada tamu maupun gak ada orang.
    Ane tanya sama sibeo, kenapa assalamualaikum ? tapi tetap aja dijawab assalamualaikum… dasar burung.
    Selama setahun sibeo terus berkicau kata2 itu terus, akhirnya suatu saat sibeo lepas dan terbang kearah pintu dan tiba2 aja ada orang yang menutup pintu, sehingga sibeo terjepit dan diakhir hidupnya dia cuma bisa bilang ngek..ngek, akhirnya mati.

    Jadi gak usah dilayani mas @ibnu ibrahim dan @ummu hasanah.

  30. @ummu hasanah,

    Klo bida’h hasanah ga ada menurut versi Anda, mestinya juga ga ada ummu hasanah, yg ada ummu dholalah…

  31. wkwkwk…bener banget tuh… :lol:

  32. Bismillah,
    Untuk Alex Leonardo :
    Sepertinya ana tidak terlalu ingin menanggapi kata-kata antum yang kasar dan tidak mencerminkan akhlak seorang muslim.. Untuk antum dan sahabat antum itu (sebelum beliau menyuruh ana untuk belajar lagi di ibtida’iyah) ana hanya ingin mengulang pernyataan ana yang lalu :
    “Barangkali inilah ciri-ciri ahlul bid’ah, yang kalau ditanya, kemudian mentok, tidak bisa menjawab pertanyaan, lalu mengatakan : “antum silahkan belajar lagi …”

    Untuk mas mamak :
    Pengumpulan Al Qur’an dalam satu mushaf ada dalilnya dalam syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadits berikut :
    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwasanya ia berkata: “Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Rasul Shalallahu alaihi wassalam oleh 4 (empat) orang yang kesemuanya dari kaum Anshar; Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid. Anas ditanya: “Siapa Abu Zaid?” Ia menjawab: “Salah seorang pamanku”.

    Ketika Abu Bakr mengatakan: “Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!’.. Hal itu justru menunjukan bahwa Abu Bakr adalah seorang memegang teguh sunnah dan sangat membenci bid’ah.. Andaikan Abu Bakr dikatakan pro bid’ah hasanah, maka tentu Abu Bakr akan langsung menerima usulan tersebut tanpa banyak pertimbangan.

    Ijma’ sahabat disini bukan dalam hal menyetujui bid’ah, tetapi menganggap perbuatan tersebut adalah sunnah sebagaimana hadits yang sudah ana bawakan diatas..
    Hal ini tentu karena para sahabatpun dalam banyak riwayat juga adalah pribadi-pribadi yang sangat bersungguh-sungguh dalam menjalankan sunnah dan sangat bersungguh-sungguh pula dalam menolak bid’ah…

    Apapun namanya, baik itu sunnah ataupun al maslaha al mursalah, yang jelas perbuatan tersebut bukanlah bid’ah sebagaimana yang antum dan kelompok antum sangkakan..

    Andaipun ijma tersebut dikatakan bid’ah, maka jangan disamakan ijma para sahabat dengan yang selain mereka, apalagi generasi belakangan seperti kita sekarang..
    Tentu tidak patut dan tidak pantas bagi kita untuk ikut-ikutan ber ijma’ seperti halnya para sahabat radhiyallahu anhum ajma’in..

    Mengenai perkataan Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu : Ni’matul bid’ah hadzi..
    Akhi, bid’ah itu berasal dari bahasa arab dan orang-orang arab sering mengucapkan kata-kata tersebut, jadi harus kita dudukkan apakah yang dimaksud Umar r.a adalah bid’ah secara syar’iyah atau lughawiyah..
    Tidak syak lagi bahwa apa yang dikatakan Umar r.a. adalah bid’ah secara lughawiyah, karena tidak ada yang dapat menyangkal bahwa perintah Umar r.a. untuk shalat tarawih berjama’ah di Masjid adalah berasal dari perbuatan / sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam juga..

    Tanggapan antum berikutnya :
    “Semakin menunjukkan pemahaman anda yang Tanaaqudh/Kontradiktif. Perhatikan tulisan anda pada point (b) diatas.. bukankah anda katakan “bahwa para Khulafa’ Ar Rosyidun adalah manusia yang lebih mengerti sunnah” ? Lantas mengapa pada point (c) anda menyampaikan atsar Ibnu Abbas yang anda maksudkan untuk melarang membawa pernyataan Abu Bakar dan Umar –rodhiyallohu ‘anhuma- dalam memahami Sunnah Rosululloh ?”

    Jawaban ana :
    Antum tentu mengerti apa itu opsi?
    Apa yang ana kemukakan itu adalah opsi, jadi antum nggak nyambung kalau antum katakan itu kontradiktif…
    Ana kemukakan beberapa opsi bukan berarti semuanya benar…
    Kalau ana sendiri berpendapat bahwa opsi (a) yang lebih mendekati kebenaran, karena apa yang dilakukan Umar r.a telah ada contoh sebelumnya dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.. Jadi sekali lagi bukanlah bid’ah sebagaimana yang antum dan kelompok antum sangkakan..
    Ya akhi, kewajiban kita sebagai ummat adalah ittiba’, bukan membuat-buat hal baru dalam ibadah..
    Sunnah itu jumlahnya sangat banyak. Ana, antum dan kalian semua tidak akan sanggup menjalankan seluruhnya, maka dari itu jangan lagi dibebani dan direpotkan dengan menambah hal-hal baru sekalipun itu nampaknya baik (yang biasa kalian sebut dengan bid’ah hasanah itu), sebab selain akan memakan waktu, tenaga, financial, dll juga akan sia-sia belaka…
    Cukuplah jalankan sunnah rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang ada sesuai kemampuan kita dengan sabar dan ikhlas, insya Allah itulah jalan yang paling mudah dan lurus..

    Untuk mas lasykar : rasanya ana sudah terlalu banyak mengemukakan dalil-dalil mengenai bid’ah nya tahlilan, dan itu sudah sangat jelas tanpa harus diperdebatkan lagi.. Kalau antum merasa belum puas atau tidak percaya silahkan antum cari dan pelajari kitab-kitab yang sudah ana bawakan..
    Ada baiknya yang kita diskusikan adalah tentang kebenaran riwayat-riwayat tersebut.
    Kalau ternyata salah satu saja dari riwayat tersebut shahih, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus kita akui tentang bid’ahnya prosesi acara ma’tam, tahlilan dan yang sepaket dengannya..
    Kalau tidak ada yang shahih, maka anggaplah apa yang ana kemukakan itu suatu kesalahan dan tidak perlu ditanggapi…

    Demikian, wallahu a’lam…

  33. Ittabi’uu wa laa tabtadi’uu

  34. @Ibnu Ibrahim

    apa sih mas pengertian ibadah? tolong sebutkan secara spesifik, dibagian mana kalian mengharamkan tahlilan?

    Dalam ushul fiqh dijelaskan bahwa jika sebuah ayat atau hadits dengan keumumannya mencakup suatu perkara, itu menunjukkan bahwa perkara tersebut boleh dilakukan. Jadi keumuman ayat atau hadits adalah dalil syar’i. Dalil-dalil umum tersebut adalah seperti: “Dan lakukan kebaikan supaya kalian beruntung” (Q.S. al Hajj: 77), Jadi dalil yang umum diberlakukan untuk semua cakupannya. Kaedah mengatakan: “Dalil yang umum diterapkan (digunakan) dalam semua bagian-bagian (cakupannya)”.

    kemudian, Nabi Muhammad saw. memperbolehkan merintis perkara perkara baru, dalilnya adalah : “Barang siapa yang mensunnahkan (membuat/menetapkan) di dalam Islam suatu sunnah hasanah (ketetapan/kebiasaan baik) maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun, dan barang siapa yang mensunnahkan (membuat/menetapkan) di dalam Islam suatu sunnah sayyi’ah (ketetapan/kebiasaan buruk) maka atas dia dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim)

    Bila kaum Salafi & Wahabi menafsirkan kata “sanna sunnatan hasanatan” di atas dengan makna “menghidupkan sunnah yang baik” dari sunnah atau ajaran Rasulullah Saw. yang telah ditinggalkan orang karena melihat asbab wurud (latar belakang dikeluarkannya hadis tersebut) yaitu berkenaan dengan sedekah, maka tafsiran itu sungguh keliru dan sangat menyimpang. Kejanggalan tafsiran mereka akan lebih terlihat bila dihubungkan dengan ungkapan “sanna sunnatan sayyi’atan” pada lanjutan hadis tersebut, yang bila diartikan menurut pemahaman mereka “menghidupkan sunnah yang buruk” dari sunnah atau ajaran Rasulullah Saw. Dengan begitu kita akan bertanya, apakah Rasulullah Saw. dan para shahabat beliau mengajarkan keburukan yang juga harus ditiru oleh umatnya??! oleh karena itulah, hadist tersebut dipahami berdasarkan keumumannya, bukan berdasarkan sebab khusus.

  35. @ ibnu ibrohim

    maaf saya mau nanya
    mengenai zikir dengan suara keras, apa tanggapan antum tentang artikel ini

    http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2011/01/12/12739/menjaharkan-dzikir-sesudah-shalat-fardhu-ternyata-sunnah/

  36. Mas ibnu… jawab saja pertanyaan-pertanyaan saya, biar nyambung gih…. nanti kita teruskan diskusinya kalau mas sudah menjawab.
    wallohu a’lam…

  37. @IBNU IBRAHIM

    Pertanyaan antum mengenai keberadaan Allah SWT, maka dapat antum jawab dengan qaul imam Malik : “ Istiwa’ (bersemayam) itu telah diketahui (maknanya), tata caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya bid’ah” (Al Qathani).

    jawab :

    Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:

    “Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.

    “Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).

    Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an.

    Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta). Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-,dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).

    @Ibnu Ibrahim
    Kemudian antum membawakan hadits qudsi : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim).

    Dapat ana jawab sebagai berikut :
    Allah berada diatas langit, bersemayam diatas Arsy, tetapi ilmuNya meliputi segala sesuatu…
    Adapun hadits yang antum bawakan (wallahu a’lam) semakna dengan firman Allah :
    “Dan dia (Allah) selalu bersamamu di manapun kamu berada” (Al Hadiid : 4)..
    Hakikat pengertian kebersamaan Allah dengan makhluk tidak bertentangan dengan keberadaan Allah diatas Arsy, sebab perpaduan antara kedua hal ini bisa terjadi pada makhluk. Misalnya : ada seseorang mengatakan “ kami masih meneruskan perjalanan dan bulan pun bersama kami.” Ini tidak dianggap kontradiksi dan tak seorangpun memahami dari perkataan tersebut bahwa bulan turun ke bumi. Apabila hal ini bisa terjadi pada makhluk, maka bagi Allah (yang meliputi segala sesuatu) walaupun berada diatas Arsy, tentu lebih patut lagi, karena hakikat pengertian kebersamaan tidak berarti berkumpul dalam satu tempat..

    Jawab :

    Pertama, anda tidak menjawab tentang hadist yg diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut, sekiranya anda mau menjawab hal tersebut, apa yg dimaksud dengan kata sakit tersebut, apakah Allah swt memiliki sifat sakit?

    kedua, jika anda tetap bersikukuh bahwa Allah swt. itu bertempat, maka keyakinan anda akan bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadist berikut :
    “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tidak ada lima orang melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka dimanapun mereka berada….” (QS. al-Mujadilah : 7).
    Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman: “Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk.” (QS. al-Shaffat : 99).

    Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim alaihissalam berkata akan pergi menuju Tuhannya, padahal Nabi Ibrahim alaihissalam pergi ke Palestina. Dengan demikian, secara literal ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala bukan ada di langit, tetapi ada di Palestina.”

    “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.” (HR. al-Bukhari).

    Hadits ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di depan orang yang sedang shalat, bukan ada di langit.

    “Engkau Ya Allah azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim).

    Jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun dibawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat”.

    ayat Al-Qur’an dan hadist yg saya bawakan, secara zahir menunjukkan bahwa Allah swt. tidak diatas ‘arasy atau langit.

    kalau anda masih juga bersikukuh dengan pendapat anda, saya ingin bertanya :
    Dimana Allah swt. sebelum menciptakan tempat, langit atau ‘arasy?
    langit, ‘arasy atau tempat itu, makhluk apa bukan, qadim azali atau tidak?

  38. Lanjut mas agung, nastafidu uluumakum….

  39. Sebagai gmbaran sederhana:
    Ma’tam waktu kematian
    Tahlil bisa sewaktu-waktu

    Ma’tam membuat susah
    Tahlil membuat gembira, sedekah dll

    Ma’tam sedih tanpa doa
    Tahlil senang penuh do’a

    Apanya yang sama mas?
    Kalau kasuistik sih, apa-apa jelas ada kemiripan, seperti oknum polisi yang melanggar, masak kita menyalahkan departemennya?

    Fataammal…
    Wallohu a’lam….

  40. JAMUAN MAKAN PADA PERKUMPULAN KEGIATAN TAHLIL

    Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Dari Aisyah ra bahwa sungguh telah datang seorang lelaki pada Nabi saw seraya berkata : Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal mendadak sebelum berwasiat, kukira bila ia sempat bicara mestilah ia akan bersedekah, bolehkah aku bersedekah atas namanya?, Rasul saw menjawab : “Boleh” (Shahih Muslim hadits No.1004).

    Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi rahimahullah : “Dan dalam hadits ini (hadits riwayat shahih muslim diatas) menjelaskan bahwa shadaqah untuk mayit bermanfaat bagi mayit, dan pahalanya disampaikan pada mayyit, demikian pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, dan demikian pula mereka bersepakat atas sampainya doa doa” (Syarh Imam Nawawi ala Shahih Muslim juz 7 hal 90)

    Dan juga telah tsabit didalam shahih al-Bakhari dari Abdullah bin ‘Umar bin al-‘Ash, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam : “Ya Rasulullah apakah amal yang baik dalam Islam ? Nabi menjawab : “memberikan makan, mengucapkan salam kepada orang yang dikenal dan tidak dikenal”. (Shahih al-Bukahri no. 12 ; Shahih Muslim no. 39 ; Sunan Abi Daud no. 5194 ; Sunan an-Nasaa’i no. 5000 ; Sunan Ibnu Majah no. 3253 ; al-Mu’jam al-Kabir lil-Thabraniy no. 149.)

    Dalam sebuah hadits dari Thawus radliyallahu ‘anh menyebutkan : “Sesungguhnya orang mati di fitnah (diuji dengan pertanyaan malaikat) didalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka menganjurkan untuk memberi jamuan makan yang pahalanya untuk mayyit selama masa 7 hari tersebut”. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad didalam az-Zuhd dan Abu Nu’aim didalam al-Hilyah.) Imam al-Hafidz As Suyuthi mengatakan bahwa lafadz “kanuu yustahibbuna”, memiliki makna kaum Muslimin (sahabat) yang hidup pada masa Nabi shallallahu ‘alayhi wa salllam , sedangkan Nabi mengetahuinya dan taqrir atas hal itu. Namun, dikatakan juga sebatas berhenti pada pada sahabat saja dan tidak sampai pada Rasulullah. (Lihat : al-Hawi lil-Fatawi lil-Imam as-Suyuthi [2/377],)

    Berkata Shohibul Mughniy : Bila keluarga mayyit membuat makanan untuk orang, maka makruh, karena hal itu menambah atas musibah mereka dan menyibukkan, dan meniru – niru perbuatan jahiliyah. (Almughniy Juz 2 hal 215)

    Lalu Shohibul Mughniy menjelaskan kemudian : Bila mereka melakukannya karena ada sebab atau hajat, maka hal itu diperbolehkan, karena barangkali diantara yang hadir mayyit mereka ada yang berdatangan dari pedesaan, dan tempat – tempat yang jauh, dan menginap dirumah mereka, maka tak bias tidak terkecuali mereka mesti dijamu (Almughniy Juz 2 hal 215).

    PENJELASAN TERKAIT HADITS KELUARGA JA’FAR

    Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “hidangkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, sebab sesungguhnya telah tiba kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka”.

    Imam asy-Syafi’i rahimahullah didalam al-Umm beristidlal dengan hadits diatas terkait anjuran memberi makan untuk keluarga almarhum : “Aku mengajurkan bagi tetangga almarhum atau kerabat-kerabatnya agar membuatkan makanan pada hari kematian dan malamnya, sebab itu merupakan sunnah, dzikr yang mulya dan termasuk perbuatan ahlul khair sebelum kita serta sesudah kita”.

    “Kami (sahabat Nabi) menganggap berkumpul ke (kediaman) keluarga almarhum serta (keluarga almarhum) menghidangkan makanan setelah pemakaman bagian dari niyahah”. (Musnad Ahmad bin Hanbal no. 6905.)

    Adapun pengertian niyahah sendiri, sebagaimana yang Imam Nawawi sebutkan adalah :
    “Ketahuilah, sesungguhnya niyahah adalah menyaringkan suara dengan an-nadb, adapun an-Nadb sendiri adalah mengulang-ngulang meratapi dengan suara (atau menyebut berulangulang) tentang kebaikan mayyit. qiil (ulama juga ada yang mengatakan) bahwa niyahah adalah menangisi mayyit disertai menyebut-menyebut kebaikan mayyit”. Ashhab kami (ulama syafi’iyah kami) mengatakan : “haram menyaringkan suara dengan berlebih-lebihan dalam menangis”. Adapun menangisi mayyit tanpa menyebut-menyebut dan tanpa meratapinya maka itu tidak haram”. (al-Adzkar lil-Imam an-Nawawi [147].)

    Lebih jauh, juga perlu di ingat bahwa dalam menghukumi sesuatu haruslah menyeluruh dan harus mempertimbangkan hadits-hadits lain yang saling terkait. Dalam hal ini, ada sebuah hadits lain yang shahih diriwayatkan oleh Abu Daud, dari ‘Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari sahabat Anshar, yang redaksinya sebagai berikut :

    “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada sebuah jenazah, maka aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berada diatas kubur berpesan kepada penggali kubur : “perluaskanlah olehmu dari bagian kakinya, dan juga luaskanlah pada bagian kepalanya”, Maka tatkala telah kembali dari kubur, seorang wanita (istri mayyit, red) mengundang (mengajak) Rasulullah, maka Rasulullah datang seraya didatangkan (disuguhkan) makanan yang diletakkan dihadapan Rasulullah, kemudian diletakkan juga pada sebuah perkumpulan (qaum/sahabat), kemudian dimakanlah oleh mereka. Maka ayah-ayah kami melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam makan dengan suapan, dan bersabda: “aku mendapati daging kambing yang diambil tanpa izin pemiliknya”. Kemudian wanita itu berkata : “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengutus ke Baqi’ untuk membeli kambing untukku, namun tidak menemukannya, maka aku mengutus kepada tetanggaku untuk membeli kambingnya kemudian agar di kirim kepadaku, namun ia tidak ada, maka aku mengutus kepada istinya (untuk membelinya) dan ia kirim kambing itu kepadaku, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “berikanlah makanan ini untuk tawanan”. (Sunan Abi Daud no. 3332 ; As-Sunanul Kubrra lil-Baihaqi no. 10825 ; hadits ini shahih ; Misykaatul Mafatih [5942] At-Tabrizi dan Mirqatul Mafatih syarh Misykah al-Mashabih [5942] karangan al-Mulla ‘Alial-Qari, hadits tersebut dikomentari shahih.)

    Hadits ini tentang Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam sendiri dan para sahabat beliau yang berkumpul dan makan di kediaman keluarga almarhum, yang berarti bahwa hadits ini menunjukkan atas kebolehan keluarga almarhum membuatkan makanan (jamuan) dan mengajak manusia memakannya.

    Secara dhahir hadits Jarir telah berlawanan dengan hadits dari ‘Ashim bin Kulaib ini, sedangkan dalam kaidah ushul fiqh mengatakan jika dua dalil bertentangan maka harus dikumpulkan jika dimungkinkan untuk dikumpulkan.( at-Tabshirah fi Ushul al-Fiqh lil-Imam asy-Syairazi [1/153]) Maka, kedua hadits diatas dapat dipadukan yakni hadits Jarir bin Abdullah dibawa atas pengertian jamuan karena menjalankan adat, bukan dengan niat “ith’am ‘anil mayyit (memberikan makan atas nama mayyit/shadaqah untuk mayyit) “ atau hal itu bisa membawa kepada niyahah yang diharamkan, kesedihan yang berlarut-larut dan lain sebagainya. Sedangkan hadits ‘Ashim bin Kulaib dibawa atas pengertian jamuan makan bukan karena menjalankan adat (kebiasaan), melainkan jamuan makan dan berkumpul dengan niat “ith’am ‘anil mayyit” atau pun ikramudl dlayf (memulyakan tamu). Oleh karena itu larangan tersebut tidaklah mutlak, tetapi memiliki qayyid yang menjadi ‘illat hukum tersebut.

    Bariqatul Mahmudiyyah li-Abi Sa’id al-Khadami al-Hanafi [3/205] : “Mushannif berkata didalam syarahnya dari pembesar al-Halabi “sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika kembali dari pemakaman orang Anshar, Rasulullah menerima ajakan wanitanya, maka datang dan dihidangkanlah makanan, kemudian Rasulullah menelatakkan tangannya dan di ikutilah orang rombongan (sahabat), kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam makan sesuapan yaitu secabik daging ke mulutnya”. Maka ini menunjukkan atas kebolehan bagi ahl mayyit menyajikan makanan dan mengundang orang lain kepadanya. Selesai”.

    Kemudian juga dijelaskan didalam Hasyiyah ath-Thahthawi ‘alaa Muraqi al-Falaah Syarh Nuur al-Iydlaah [1/617] Ahmad bin Muhammad bin Isma’il ath-Thahthawi al-Hanafi : “… Maka hadits ini (‘Ashim bin Kulaib) menunjukkan atas kebolehan bagi ahl mayyit menghidangkan makanan dan mengajak manusia padanya bahkan juga di sebutkan didalam al-Bazaziyyah dari kitab al-Ihtihsan “dan jika menghidangkan makanan untuk fuqaraa’ maka itu bagus”. Selesai.

    Imam Ibnu Hajar al-Haitami didalam Tuhfatul Muhtaj mengatakan : “dan apa yang diadatkan (dibiasakan) daripada keluarga almarhum membuat makanan demi mengajak manusia atasnya maka itu bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh), sebagaimana menerima mereka untuk hal yang demikian berdasarkan hadits shahih dari Jarir “Kami (sahabat) menganggap berkumpul ke (kediaman) keluarga almarhum serta (keluarga almarhum) menghidangkan makanan setelah pemakaman bagian dari niyahah”, dan sisi dianggapnya bagian dari niyahah yakni apa yang terdapat didalamnya daripada berlebihanlebihan dengan perkara kesedihan”.( Tuhfatul Muhtaj lil-Imam Ibnu Hajar al-Haitami [3/207 ])

    Hal ini juga disebutkan oleh al-‘Allamah as-Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi dalam I’anatuth Thalibin. Maka, illat tersebut tidak terdapat pada kegiatan tahlilan (kenduri arwah) yang dilakukan oleh kaum muslimin yang memang paham mengenai kenduri arwah (tahlilan). Jika tidak ada illat maka hukum makruh pun tidak ada, sebab dalam kaidah syafi’iyah hukum itu meliputi disertakannya illat. (Kifayatul Akhyar lil-Imam Taqiyuddin al-Hishni [1/526] ; Asnal Mathalib lil-Imam Zakariya al-Anshari [3/105]) Oleh karena itu, berkumpul (berhimpun) yang dimaksud pada hadits Jarir adalah jika bukan karena untuk membaca al-Qur’an, berdo’a dan dzikir-dzikir lain. Adapun jika berkumpul untuk tujuan tersebut, maka itu tidak makruh, sebagaimana telah jelas perkataan Syaikhul Madzhab Syafi’i yakni Imam an-Nawawi rahimahullah : “Sebuah cabang : tidak dihukumi makruh pada pembacaan Qur’an secara berkumpul (berhimpun) bahkan itu mustahabbah (sunnah)”( al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab lil-Imam an-Nawawi [2/166])

    Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab menukil perkataan ‘ulama lainnya didalam al-Majmu’ : “Shahibusy Syamil dan yang lainnya berkata ; adapun keluarga almarhum mengurusi (membuat) makanan serta berkumpulnya manusia padanya, maka itu pernah dinukil sesuatu pun tentangnya, dan itu adalah bid’ah ghairu mustahabbah, inilah perkataan shahibusy Syamil. dan istidlal untuk hal ini berdasarkan hadits Jarir bin Abdullah radliyallah ‘anh, ia berkata : “Kami (sahabat Nabi) menganggap berkumpul di kediaman mayyit serta membuat makanan setelah pemakaman mayyit sebagai bagian dari niyahah”, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Majah telah meriwayatkannya dengan sanad yang shahih, namun dalam riwayat Ibnu Majah tidak ada kata “setelah pemakaman mayyit”. (al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab lil-Imam an-Nawawi [5/320] ; Raudlatuth Thalibin (1/145).)

    Beliau mengatakannya tidak disukai (Ghairu Mustahibbah) bukan haram, tapi orang wahabi mencapnya haram padahal Imam Nawawi mengatakan ghairu mustahibbah, berarti bukan hal yang dicintai, ini berarti hukumnya mubah atau makruh, bukan haram,

    telah diceritakan oleh Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah (salah satu pengarang kitab tafsir Jalalain) sebagai kegiatan yang memang tidak pernah di tinggalkan kaum Muslimin, didalam al-Hawi lil-Fatawi disebutkan : “Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (yakni masa al-Hafidz sendiri) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasi awal Islam. Dan didalam kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’. (al-Hawi al-Fatawi [2/234] lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi.)

    Hal ini kembali di kisahkan oleh al-‘Allamah al-Jalil asy-Syaikh al-Fadlil Muhammad Nur al-Buqis didalam kitab beliau yang khusus membahas kegiatan tahlilan (kenduri arwah) yakni “Kasyful Astaar” dengan menaqal perkataan Imam As-Suyuthi :

    “Sungguh sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai informasi kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa hal ini (kenduri memberi makan 7 hari) berkelanjutan sampai sekarang di Makkah dan Madinah (tetap ada) dari tahun 1947 M sampai aku kembali Indonesia tahun 1958 M. Maka faktanya amalan itu memang tidak pernah di tinggalkan sejak zaman sahabat nabi hingga sekarang, dan mereka menerima (memperoleh) cara seperti itu dari salafush shaleh sampai masa awal Islam. Ini saya nukil dari perkataan Imam al-Hafidz as-Suyuthi dengan sedikit perubahan. al-Imam al-Hafidz As-Suyuthi berkata : “disyariatkan memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan seumpamanya, maka jadilah shadaqah itu sebagai bantuan baginya untuk meringankan dosanya agar diringankan baginya dahsyatnya pertanyaan kubur, sulitnya menghadapi menghadapi malaikat, kebegisannyaa dan gertakannya”. (Kasyful Astaar lil-‘Allamah al-Jalil Muhammad Nur al-Buqir, beliau merupakan murid dari ulama besar seperti Syaikh Hasan al-Yamani, Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Kutubi, Syaikh Sayyid Alwi Abbas al-Maliki, Syaikh ‘Ali al-Maghribi al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath dan Syaikh Alimuddin Muhammad Yasiin al-Fadani.)

    Tahlilan juga berbeda dengan ma’tam. Perbedaan ini sebenarnya nampak jelas baik dari prakteknya, sebab pokok yang melatar belakangi juga tujuan masing-masing. Namun, kadang masih saja ada yang melarang bahkan mengharamkan tahlilan dengan beralasan ma’tam. Walaupun ini tidak tepat apalagi dengan membawa-bawa qaul Imam Syafi’i. Istilah ma’tam sebenarnya muncul karena perempuan berkumpul padanya dan ma’tam sendiri didalam kamus arab didefinisikan antara lain : Lisanul ‘Arab Ibnu Mandhur al-Anshari al-Ifriqii [12/3-4]. Dan didalam kitab Fiqh Maliki yaitu Mawahibul Jalil karya al-Hathib ar-Ru’ayni [2/241 ] menyebutkan masalah ma’tam dengan cukup jelas :berkumpulnya manusia pada kematian dinamakan ma’tam. Didalam an-Nihayah : ma’tam pada asalnya merupakan berkumpulnya perempuan dan laki-laki didalam hal kegembiraan dan kesedihan, kemudian dengannya hanya di khususkan bagi perkumpulan perempuan pada kematian. Didalam Ash-Shihhah : ma’tam menurut orang arab adalah perempuan yang berkumpul didalam hal kebaikan dan keburukan, umumnya pada mushibah, mereka mengatakan : kami berada di ma’tam fulan, yang benar seharusnya di katakan ; kami berada di tempat ratapannya fulan.

    Ucapan Imam Syafi’i rahimahullah yang kadang dijadikan dalil untuk melarang tahlilan bahkan mengharamkan tahlilan yaitu sebagaimana tercantum dalam kitab al-Umm : “Aku benci (menghukumi makruh) ma’tam, dan adalah sebuah kelompok (jama’ah), walaupun tidak ada tangisan pada kelompok tersebut, karena yang demikian memperbaharui kesedihan, dan membebani biaya bersamaan perkara yang sebelumnya pernah terjadi (membekas) padanya”.

    Imam Syafi’i rahimahullah sama sekali tidak memaksudkan kegiatan seperti tahlilan. Oleh karena itu sama sekali tidak tepat jika membawanya pada pengertian tahlilan, yang kemudian dengan alasan tersebut digunakan untuk melarang tahlilan. Karena tahlilan memang berbeda dengan ma’tam. Penghukuman makruh oleh al-Imam Syafi’i diatas dengan mempertimbangkan ‘illat yang beliau sebutkan yaitu yujaddidul huzn (memperbaharui kesedihan), sehingga apabila ‘illat tersebut tidak ada maka hukum makruh pun tidak ada, sebab dalam kaidah ushul mengatakan : “ketahuilah bahwa ‘illat didalam syariat adalah bermakna yang menunjukkan hukum” (al-Luma’ fiy Ushul Fiqh [1/104] Imam Asy-Syairazii).

  41. Bagi orang yang menyesatkan tasawuf gimana mau memperhatikan kesaksianNya diatas kesaksian hambaNya?

    Kebenaran pasti tidak ditemukan pada manusia kecuali didalilkan sebaliknya. Lalu kenapa orang pintar (ala barat) menganggap manusia itu robot yang diinstal software dulu (ilmu) baru bisa di run dah aplikasinya.

    Menurut sy orang bodoh sy tidak bisa berilmu dulu baru beramal, juga berusaha untuk tidak beramal tanpa ilmu. Intinya setiap waktu adalah amal, dan sekaligus mencari ilmu. Kadang amal kita didului ilmu, kadang kita berusaha beramal melalui pemahaman sendiri dengan berserah diri pada pemilik kebenaran sambil menyaksikan kesaksian Ar Rasyid.

    Tentu sy malas belajar pada orang yang membodoh-bodohkan saya, sy percaya banyak orang pintar yang baik hati dan berkasih sayang. Kecuali ada yang menganggap orang diluar kaumnya semuanya bodoh..

  42. @ummu hasanah
    “orang pintar itu kaidahnya ‘al ilmu qobla qoul wa amal’ sedangkan org bodoh itu beramal dulu..ntar kalo ada yg tanya dalilnya…baru nyari-nyari… kl enggak ketemu…maksa-maksain aja…nyambung kek enggak nyambung kek..yg penting ada…kl perlu, walau org atheis..dipake juga dalilnya…”

    Ente shalat kan ?, apakah ente shalat, puasa, zakat, Haji menemukan dulu dalilnya, kemudian ente melakukannya, JADI ENTE beribadah setelah ente dewasa ya ??
    Jadi orang pinter harus kafir dulu ya sebelum ketemu dalilnya !!!!!, bagaimana dosa kafir sebelumnya dimata Allah ???

  43. narji’u qoulaqum ‘alaikum. wa naziidu: yassiruu wala tu’assiruu… wala tujaadilu fi diinillah, faiinahu mal’uunun. wakhruj dalilakum…. inkuntum shoodiqiin….

  44. Cara dan kemampuan anda berpikir tercermin dari kata-kata anda dan kesimpulan yang anda sampaikan…..cetek….

  45. Ummu Hasanah,
    jangan begitu Ummu Hasanah, justru kang Ucep sedang memberi umpan kepada antum agar antum berpikir. Lho… kok antum malah ngamuk dan men-cetekkan kang Ucep? Berpikirlah Ummu Hasanah, hanya itu yg sedang diinginkan Kang Ucep terhadap antum. Afwan…. syukron.

  46. @ummu hasanah
    Coba ente klop kan dengan koment ente “al ilmu qobla qoul wa amal”, yang cetek siapa ?
    Bener gak kira2 koment ane sebelumnya, atau ente punya maksud lain ?

  47. @Mang Ucep
    Wahabi yang ke seini BURUNG BEO semua, ga ngerti yang ditulis dan yang di-copypaste-nya sendiri. Terus SOK PINTAR, deh terus hilang kaya syetan …

  48. iya nih Ummu Hasanah, tega nian masa kita2 pada disamain sama spt ATHEIS, jangan jahat2 gitu donk non…

  49. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Anda sudah berapa lama belajar Islam? Dengan siapa? Di mana? Kok, anda mempermasalahkan kaidah ‘al ilmu qobla qoul wa amal’?

    Wallaahu a’lam.

  50. Bismillah,
    Mas @Ibnu Ibrahim,
    Nampaknya anda belum memahami sepenuhnya hadits yang anda sampaikan “Man Jama’al Qur’an”, coba anda lihat penjelasan Ibnu Hajar –rohimahulloh- dalam Fathul Bari vol.9 hlm, 12 : “Bahwa yang dimaksud dengan mengumpulkan al qur’an pada saat itu adalah mengumpulkan lembaran-lembaran bukan menghimpun menjadi satu mushhaf dan mengurutnya berdasar urutan surat.”
    Lebih jauh anda menggunakan hadits tsb sebagai landasan yang dipergunakan oleh para sahabat (Abu Bakar, Umar Ibn Khotthob, dan Zaid Ibn Tsabit –rodhiyallohu ‘anhum-) tanpa menunjukkan bukti bahwa mereka bersandar pada hadits tsb.
    Lihat penjelasan Ibnu Hajar berikut :
    وإذا تأمل المنصف ما فعله أبو بكر من ذلك جزم بأنه يعد في فضائله وينوه بعظيم منقبته لثبوت قوله صلى الله عليه و سلم من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها فما جمع القرآن أحد بعده إلا وكان له مثل أجره إلى يوم القيامة وقد كان لأبي بكر من الاعتناء بقراءة القرآن ما اختار معه أن يرد على بن الدغنة جواره ويرضى بجوار الله ورسوله وقد تقدمت القصة مبسوطة في فضائله
    Coba anda perhatikan, ternyata yang menjadi sandaran para sahabat menghimpun al qur’an adalah hadits “Man Sanna Sunnatan Hasanatan” (barang siapa memulai/membuat/menetapkan kebaikan…dst) Fathul Bari vol.9 hlm, 13. Hal ini bersandar pada hadits yang dikeluarkan Imam Abi Dawud dengan sanad Hasan dari Sayyidina Ali :
    عن عبد خير قال سمعت عليا يقول أعظم الناس في المصاحف أجرا أبو بكر رحمه الله على أبي بكر هو أول من جمع كتاب الله
    Dari Abd Khoir, ia berkata : “Aku pernah mendengar Ali berkata : “Manusia yang paling besar pahala (jasanya) dalam urusan Mushhaf adalah Abu Bakar –rohimahulloh ala Abi Bakr- dialah orang yang pertama yang menghimpun Kitab Alloh”.
    Dengan demikian argumentasi anda yeng mentebut “Penghimpunan Al Qur’an” oleh Abu Bakar bukan bid’ah berdasar hadits Anas Ibn Malik, kami anggap tidak tepat.
    Selanjutnya anda katakan :

    Ketika Abu Bakr mengatakan: “Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!’.. Hal itu justru menunjukan bahwa Abu Bakr adalah seorang memegang teguh sunnah dan sangat membenci bid’ah.. Andaikan Abu Bakr dikatakan pro bid’ah hasanah, maka tentu Abu Bakr akan langsung menerima usulan tersebut tanpa banyak pertimbangan.

    Coba anda perhatikan tulisan terakhir yang anda sampaikan : “Andaikan Abu Bakr dikatakan pro bid’ah hasanah, maka tentu Abu Bakr akan langsung menerima usulan tersebut tanpa banyak pertimbangan.” Disini anda menyampaikan logika tanpa berdasar hujjah.
    Marilah kita berfikir tertib :
    Pertama : Pernyataan Kholifah Abu Bakar : “Bagaimana anda mau melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan Rosululloh saw ?” dimana pernyataan senada juga disampaikan Zaid Ibn Tsabit. Jelas hal tersebut mengindikasikan bahwa “Penghimpunan Al Qur’an” adalah “Bid’ah”.
    Kedua : Fakta berikutnya; Abu Bakar, Umar, dan Zaid Ibn Tsabit –rodhiyallohu ‘anhum- merealisasikan “Penghimpunan Al Qur’an” yang digagas oleh Umar Ibn Khotthob tanpa menyebutkan dalil sandarannya.
    Ketiga : Jika anda katakan bahwa “Penghimpunan Al Qur’an” bukanlah Bid’ah, maka berfikir model demikian adalah berfikir yang menggunakan logika melompat, karena anda tidak dapat membuktikan adanya hujjah yang dijadikan sandaran oleh mereka bertiga yang merubah kesimpulan awal Abu Bakar dan Zaid yakni Bid’ah menjadi Sunnah
    Keempat : Fakta penjelasan hadits lain yang kami dapati adalah : Penghimpunan Al Qur’an bersandar pada hadits “Man Sanna Sunnatan Hasanatan” yang dalam kenyataannya “penghimpunan al qur’an” tiada menyalahi Dalil-dalil al qur’an dan as sunnah. Sehingga penghimpunan al qur’an tetaplah dalam kesimpulan awal Kholifah Abu Bakar dan Zaid, yakni “Bid’ah”, akan tetapi karena perkara tsb berada/bersandar pada dalil kebaikan yang umum serta tidak menyelisihi al qur’an dan as sunnah, maka kami menyebutnya “Bid’ah Hasanah”.
    Berikutnya anda menulis :

    Ijma’ sahabat disini bukan dalam hal menyetujui bid’ah, tetapi menganggap perbuatan tersebut adalah sunnah sebagaimana hadits yang sudah ana bawakan diatas..

    Maaf, faktanya para sahabat terutama Abu Bakar dan Zaid menerima gagasan Umar tidak bersandar pada hadits yang anda maksud…

    Hal ini tentu karena para sahabatpun dalam banyak riwayat juga adalah pribadi-pribadi yang sangat bersungguh-sungguh dalam menjalankan sunnah dan sangat bersungguh-sungguh pula dalam menolak bid’ah…

    Pernyataan tsb, hanyalah kesimpulan logika anda, dan faktanya adalah bahwa tidak semua Bid’ah mereka tolak, dan adalah Abu Bakar dan Zaid Ibn Tsabit menerima usulan “Penghimpunan Al qur’an” yang beliau anggap Bid’ah, juga dera cambuk 80 kali oleh Kholifah Umar, dimana sebelumnya dimasa Rosululloh saw dan Kholifah Abu Bakar dera cambuk bagi peminum khomer adalah 40 kali…dst

    Apapun namanya, baik itu sunnah ataupun al maslaha al mursalah, yang jelas perbuatan tersebut bukanlah bid’ah sebagaimana yang antum dan kelompok antum sangkakan..

    Nampak jelas disini anda tidak memahami permasalahan…

    Andaipun ijma tersebut dikatakan bid’ah, maka jangan disamakan ijma para sahabat dengan yang selain mereka, apalagi generasi belakangan seperti kita sekarang..
    Tentu tidak patut dan tidak pantas bagi kita untuk ikut-ikutan ber ijma’ seperti halnya para sahabat radhiyallahu anhum ajma’in..

    Tolong ditanyakan pada Ustadz anda, apa pengertian Ijma’ ? maaf saudaraku bukan maksud kami merendahkan anda, tapi nampaknya anda masih perlu banyak belajar dulu…

    Tentang pernyataan anda selanjutnya, anda tidak mengajukan hujjah apapun, jadi nggak ada yang perlu kami tanggapi…

    Mohon maaf kalo terlambat….baru on, dan mohon maaf jika ada pernyataan yang menyinggung perasaan anda, semua kami lakukan atas dasar sayang kepada saudara seiman, dan kami yakin anda hanyalah “Korban”……

  51. Bismillah,
    Mas @Mamak :
    Apa yang antum kemukakan itu adalah syubhat yang dibuat-buat oleh para ahlul bid’ah, antum adalah korban dari kejahatan tersebut, sehingga antum kelihatannya kini benar-benar telah menjadi ahlul bid’ah yang sesungguhnya, agak sulit barangkali untuk menyadarkan orang seperti antum, sebagaimana yang dikatakan oleh Sufyan At Tsaury : ” Bid’ah lebih dicintai iblis dari pada maksiat. karena orang yang berbuat maksiat masih terdorong untuk bertobat dari dosa maksiat, sedangkan pelaku bid’ah tak akan mungkin bisa bertobat dari dosa bid’ah, (lantaran pelaku bid’ah merasa dengan bid’ahnya bisa mendekatkan diri dari pada Allah”)

    Baiklah, Sebelum kita menyanggah syubhat ini, ada baiknya kita membaca cerita tentang pengumpulan al-Qur’an ini secara lengkap sebagaimana dituturkan oleh sahabat yang mulia Zaid bin Tsaabit radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :
    “Abu Bakar As-Shiddiq radhiallahu ‘anhu mengutus seseorang kepadaku (untuk memanggilku) tatkala peristiwa peperangan Yamamah. Tiba-tiba Umar radhiallahu ‘anhu duduk di sisinya. Lalu Abu Bakar berkata, “Umar telah datang kepadaku dan berkata, “Bahwasanya peperangan sangat sengit terhadap para qoori’ al-Qur’an dari kalangan para sahabat tatkala peperangan Yamamah (yaitu peperangan melawan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab si nabi palsu, yang mengakibatkan meninggalnya sekitar 700 para sahabat atau lebih-pen). Aku khawatir jika terjadi peperangan yang sengit di seluruh peperangan maka akan hilang banyak dari ayat-ayat al-Qur’an. Menurutku hendaknya engkau memerintahkan untuk mengumpulkan al-Qur’an.” Lalu aku (Abu Bakar) berkata, “Bagaimana aku melakukan suatu perbuatan yang tidak dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka Umar berkata, “Demi Allah ini adalah perbuatan yang baik”. Dan Umar terus menasehati aku untuk melakukannya hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku terhadap perkara yang Allah telah melapangkan dada Umar terhadapnya. Dan aku lalu berpendapat sebagaimana pendapat Umar”
    Lalu Abu Bakar berkata kepadaku (Zaid bin Tsaabit), “Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas yang kami tidak menuduh/mencurigaimu, dan engkau dulu telah menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hendaknya engkau menelusuri al-Qur’an dan kumpulkanlah”.
    Zaid berkata, “Demi Allah kalau seandainya Abu Bakar menugaskan aku untuk memindahkan sebuah gunung dari kumpulan gunung maka hal itu tidaklah lebih berat dari tugas Abu Bakar kepadaku untuk mengumpulkan al-Qur’an”.
    Aku berkata, “Bagaimana kelian melakukan sesuatu yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Abu Bakar berkata, “Demi Allah ini merupakan perkara yang baik”. Dan Abu Bakar terus mendatangiku dan menasehatiku hingga akhirnya Allah melapangkan dadaku terhadap perkara yang Allah lapangkan dada Abu Bakar dan Umar terhadapnya”. Maka akupun menelusuri al-Qur’an yang paling lengkap dari lembaran-lembaran (baik kertas atau kulit), dari batu-batu tulis, dari pelepah korma, dan dari dada-dada para lelaki (penghapal al-Qur’an), hingga aku mendapati akhir dari surat At-Taubah ada pada Khuzaimah bin Tsaabit Al-Anshooriy, aku tidak menemukan dari selain beliau. (yaitu ayat) :
    “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
    Maka lembaran-lembaran Al-Qur’an tersebut berada di Abu Bakar hingga akhirnya Allah mewafatkan beliau, lalu berada di Umar hingga Allah mewatkan beliau lalu berada di Hafshoh binti Umar” (HR Al-Bukhari no 4679, At-Thirmidzi no 3103, Ibnu Hibban no 4506)

    Adapun bantahan terhadap syubhat ini maka dari beberapa sisi :
    Pertama : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk berpegang teguh dengan sunnah para al-Khulafaa ar-Roosyidiin, diantaranya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para al-Khulafaa ar-Rosyidiin yang mendapat petunjuk setelahku” (HR At-Thirmidzi no 2676, Abu Dawud 4607, dan Ibnu Maajah no 42 dan dishahihkan oleh At-Thirmidzi dan Al-Haakim, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no 2549).
    Dan mengumpulkan al-Qur’an adalah sunnahnya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang kita diperintahkan untuk melakukannya..
    Lantas atas dasar apa antum berkesimpulan bahwa kita pun diluar mereka boleh membuat bid’ah, yang antum sebut bid’ah hasanah itu?
    Kedua : Al-Qur’an di zaman Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam telah terkumpulkan di dada-dada para sahabat, dan juga telah tertuliskan di lembaran-lembaran yang berada di sebagian sahabat.
    Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
    “Al-Qur’an telah tertulis di lembaran-lembaran, akan tetapi terpisah-pisah. Maka Abu Bakar pun mengumpulkannya pada satu tempat. Kemudian setelah itu tetap terjaga hingga akhirnya Utsman bin ‘Affaan memerintahkan untuk menyalin dari lembaran-lembaran tersebut. Lalu disalinlah ke beberapa mushaf lalu dikirim oleh Utsman ke kota-kota” (Fathul Baari 9/13)
    “(Yaitu) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran)” (QS Al-Bayyinah : 2).
    Ayat ini menunjukan bahwa al-Qur’an terlah tercatat di lembaran-lembaran yang suci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
    “Janganlah kalian menulis dariku, barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an maka hapuslah” (HR Muslim no 3004).
    Hadits ini menunjukan bahwa al-Qur’an telah tercatat di masa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tentunya mengumpulkan lembaran-lembaran itu semua dalam satu tempat maka bukanlah perkara yang diingkari.

    Ketiga : Mereka (para sahabat) mengumpulkan al-Qur’an dalam rangka merealisasikan firman Allah
    “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS Al-Hijr : 9)
    Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya. Dan diantara bentuk penjagaan Allah terhadap al-Qur’an adalah Allah memudahkan para sahabat untuk mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur’an sebagaimana yang dipelopori oleh Abu Bakar As-Shiddiq dan kemudian dilanjutkan oleh Utsman bin ‘Affaan dengan penyalinan lembaran-lembaran tersebut dalam mushaf-mushaf.
    Oleh karenanya apa yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah fardu kifaayah dalam rangka menjalankan perintah Allah. Al-Haafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

    “Ibnu Al-Baaqillaani berkata : Apa yang dilakukan oleh Abu Bakr merupakan fardu kifaayah, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Janganlah kalian menulis dariku selain Al-Qur’an” digandengakan dengan firman Allah :
    “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya” (QS Al-Qiyaamah : 17)
    Dan juga firman Allah :
    “Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam Kitab-Kitab yang dahulu” (QS Al-A’la : 18)
    Dan firman Allah :
    “(Yaitu) seorang Rasul dari Allah (yaitu Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran)” (QS Al-Bayyinah : 2)
    Maka seluruh perbuatan yang kembali pada (merealisasikan) pengumpulan dan penjagaan al-Qur’an maka hukumnya wajib kifayah. Dan itu semua adalah bentuk nasehat kepada Allah, RasulNya, KitabNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya” (Fathul Baari 9/14)
    Karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sekretaris- sekretaris yang beliau tugaskan untuk menulis wahyu (al-Qur’an). Mereka menulis al-Qur’an yang didikte oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentunya ini merupakan isyarat dari Nabi untuk mengumpulkan al-Qur’an setelah selesai seluruh penyalinan di lembaran-lembaran mereka. Tentunya Allah tatkala menjamin penjagaan Al-Qur’an bukanlah penjagaan secara otomatis akan tetapi penjagaan dengan sebab yang Allah siapkan yaitu menggerakan hati-hati para sahabat untuk mengumpulkan Al-Qur’an agar tidak ada yang hilang atau yang diperselisihkan keotentikannya.

    Keempat : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bersafar membawa mushaf ke negeri musuh.

    Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhumaa bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bersafar membawa al-Qur’an ke negeri musuh (HR Al-Bukhari no 2990 dan Muslim no 1869)
    Ini merupakan isyarat bahwasanya al-Qur’an akan ada terkumpulkan di umat ini dan akan mudah di bawa dalam safar. (Lihat Ahkaamul Qur’aan karya Abu Bakr Ibnul ‘Arobi (wafat 542 H), tahqiq : Muhammad Abdil Qodiir ‘Atoo, Daarul Kutub al-‘Ilmiyah, cetakan ketiga, 2/611)

    Kelima : Pengumpulan al-Qur’an merupakan perkara yang disepakati oleh para sahabat, sehingga hal ini merupakan ijma’, dan ijma’ merupakan hujjah.

    Keenam : Anggaplah apa yang dilakukan Abu Bakar r.a. adalah bid’ah..
    Apakah jika demikan, generasi selain sahabat boleh melakukan bid’ah??
    Bayangkan jika setiap orang boleh melakukan bid’ah, maka agama ini akan menjadi seperti apa? .. Lama kelamaan sunnah ini akan hilang karena dipenuhi dengan bid’ah-bid’ah, sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan bin Athiyah : “Tidaklah suatu kaum melakukan kebid’ahan dalam agamanya melainkan Allah akan mencabut Sunnah mereka yang semisalnya, kemudian Allah tidak mengembalikannya kepada mereka sampai hari kiamat”..
    Naudzu billahi min dzalik..

    Pernyataan antum berikutnya :
    Pernyataan tsb, hanyalah kesimpulan logika anda, dan faktanya adalah bahwa tidak semua Bid’ah mereka tolak, dan adalah Abu Bakar dan Zaid Ibn Tsabit menerima usulan “Penghimpunan Al qur’an” yang beliau anggap Bid’ah, juga dera cambuk 80 kali oleh Kholifah Umar, dimana sebelumnya dimasa Rosululloh saw dan Kholifah Abu Bakar dera cambuk bagi peminum khomer adalah 40 kali…dst..
    Jawab :
    Sangat banyak riwayat yang menunjukkan kebencian mereka yakni para shahabat terhadap bid’ah.. Ana rasa pecinta bid’ah seperti antumpun tahu itu, sehingga tidak perlu saya sebutkan lagi disini..
    Adapun tentang hukum dera dsb yang antum anggap sebagai bid’ah hasanah…
    Ya akhi, mereka adalah khulafaur rasyidun, perbuatan mereka juga dianggap sunnah, mereka juga adalah mujtahid. Jika ijtihad mereka benar, maka mendapat satu pahala, dan jika salah mendapat dua pahala..
    Seperti juga yang pernah terjadi pada masa kekhalifaan Imam Ali r.a, dimana terjadi pertikaian dan peperangan antara Imam Ali r.a dengan Muawiyah, Thalhah dan Zubair serta Aisyah r.a..
    Dalam hal Imam Ali r.a. lah yang lebih mendekati kebenaran..
    Tetapi tidak seorangpun yang mengaku berfaham ahlu sunnah yang menyatakan bahwa para sahabat yang menentang Imam Ali r.a. adalah sesat dan telah melakukan bid’ah..
    Mereka hanya salah dalam berijtihad..
    Demikian, wallahu a’lam..

  52. Ibnu Ibrohim,

    Jawawabannya panjang lebar tapi ngaco semua. Menurut pengamatan saya atas koment2 antum selama ini, Ibnu ibrahim kok sama juga dg Ibnu suradi, sama2 seperti burung beo. Kalau ditanya lebih lanjut tentang tulisannya yg panjang ini pasti nggak bakalan bisa jawab lha nggak paham sih? mana ada burung beo memahami apa yg dikatakannya?

  53. Bismillah,

    Mas @Ibnu Ibrahim, terimakasih sebelumnya atas sanggahan yang telah anda ajukan, namun sayang menurut kami sanggahan anda nggak nyambung :

    Pertama : Kami menuntut bukti, bahwa apa yang dilakukan oleh Kholifah Abu Bakar, Umar, Zaid dan kemudian di ijma’i oleh para sahabat -rodhiyallohu ‘anhum- adalah berdasar hadits dan ayat-ayat yang telah anda sampaikan, akan tetapi anda belum menyampaikan bukti tersebut…

    Kedua : Sekali lagi kami tanyakan; Apa pengertian Ijma’ menurut anda ? dan bagaimana aplikasinya ?

    Ketiga : Anda tidak menjelaskan tentang hukum dera cambuk yang ditetapkan pada masa pemerintahan Kholifah Umar -rodhiyallohu ‘anhum-, (apakah ia termasuk bid’ah atau bukan) tapi anda lari pada sikap sahabat dalam Bid’ah yang sesat….

    Keempat : Kami ingin klarifikasi pernyataan anda pada point keenam :

    Anggaplah apa yang dilakukan Abu Bakar r.a. adalah bid’ah..
    Apakah jika demikan, generasi selain sahabat boleh melakukan bid’ah??
    Bayangkan jika setiap orang boleh melakukan bid’ah, maka agama ini akan menjadi seperti apa?

    Dalam pernyataan tersebut, secara tidak langsung anda mengatakan : “Bahwa para sahabat (khususnya Khulafa’ Ar Rosyidiin) diperbolehkan melakukan “Bid’ah” sedang selain sahabat tidak boleh ?
    Jika memang demikian yang anda maksud, maka ketahuilah anda mesti banyak belajar …

    Kelima : Adakah hadits ‘Alaikum Bi Sunnati Wa Sunnatil Khulafaa’ Ar Roosyidiin..dst adalah hadits yang melegitimasi Bid’ah khusus oleh para Khulafaa’ Ar Rosyidiin ?

    Keenam : Anda menganggap masalah ketetapan dera bagi peminum khomer yang dilakukan oleh Amir Al Mukminin Umar Ibn Khotthob -rodhiyallohu ‘anhu- adalah masalah/perkara Ijtihadiyah, mengapa anda tidak menggunakan standar yang sama ketika menilai perkara-perkara yang kami lakukan yang anda tuduh sebagai “Bid’ah Sesat”? Apakah Ijtihad hanya boleh dilakukan oleh seorang sahabat ? dan apa Makna Ijtihad menurut anda ?

    Ketujuh : Dalam masalah penghimpunan Al Qur’an, yang sempat kami kutip hanyalah apa yang telah disampaikan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari-nya, tapi anda menuduh kami telah mengikuti “Ahlul Bid’ah”. Siapa yang anda maksud Ahlul Bid’ah yang kami ikuti ?

    Kedelapan : Sepanjang jawaban anda nggak nyambung, maka kami akan terus menjejali anda dengan pertanyaan-pertanyaan… maaf agar anda mau belajar lagi…

  54. Bismillah,
    Mas @Mamak, terimakasih sebelumnya atas pertanyaan yang anda ajukan, namun sayang menurut kami pertanyaan anda banyak yang nggak nyambung :

    Pertanyaan antum yang pertama : Kami menuntut bukti, bahwa apa yang dilakukan oleh Kholifah Abu Bakar, Umar, Zaid dan kemudian di ijma’i oleh para sahabat -rodhiyallohu ‘anhum- adalah berdasar hadits dan ayat-ayat yang telah anda sampaikan, akan tetapi anda belum menyampaikan bukti tersebut…

    Jawab :
    Coba antum simak lagi tanggapan ana :
    Ana mengatakan : Pengumpulan Al Qur’an dalam satu mushaf ada dalilnya dalam syari’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hadits berikut :
    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwasanya ia berkata: “Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Rasul Shalallahu alaihi wassalam oleh 4 (empat) orang yang kesemuanya dari kaum Anshar; Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid. Anas ditanya: “Siapa Abu Zaid?” Ia menjawab: “Salah seorang pamanku”.
    Apakah ana pernah mengatakan bahwa Abu Bakar dan para shahabat berdalih dengan hadits ini untuk merealisasikan niat mengumpulkan al qur’an?.. (Kayaknya antumlah yang nggak nyambung..)
    Ana katakan : wallahu a’lam, tapi yang pasti, Abu Bakar dan para sahabat telah melakukan pengumpulan al qur’an adalah berdalih dengan dalil-dalil sebagaimana yang diceritakan dalam Fathul Bari yang ana bawakan dalam tanggapan ana berikutnya..

    Kedua : Sekali lagi kami tanyakan; Apa pengertian Ijma’ menurut anda ? dan bagaimana aplikasinya ?

    Jawab :
    Ana pikir ana tidak perlu menjawab pertanyaan ini, anak kecil yang masih duduk di ibtidaiyah saja tahu..

    Ketiga : Anda tidak menjelaskan tentang hukum dera cambuk yang ditetapkan pada masa pemerintahan Kholifah Umar -rodhiyallohu ‘anhum-, (apakah ia termasuk bid’ah atau bukan) tapi anda lari pada sikap sahabat dalam Bid’ah yang sesat….

    Jawab :
    Bukankah Ana sudah katakan bahwa itu bukan bid’ah, tetapi ijtihad khulafur rasyidun, bisa juga dikatakan sunnah berdasarkan hadits “alaikum bi sunnati..dst..?? (Sekali lagi antum nggak nyambung..)

    Keempat : Kami ingin klarifikasi pernyataan anda pada point keenam :
    Anggaplah apa yang dilakukan Abu Bakar r.a. adalah bid’ah..
    Apakah jika demikan, generasi selain sahabat boleh melakukan bid’ah??
    Bayangkan jika setiap orang boleh melakukan bid’ah, maka agama ini akan menjadi seperti apa?
    Dalam pernyataan tersebut, secara tidak langsung anda mengatakan : “Bahwa para sahabat (khususnya Khulafa’ Ar Rosyidiin) diperbolehkan melakukan “Bid’ah” sedang selain sahabat tidak boleh ?
    Jika memang demikian yang anda maksud, maka ketahuilah anda mesti banyak belajar …

    Jawab :
    Sudah ana katakan berulang-ulang kali, (mungkin antum tidak menyimak atau nggak nyambung lagi??)..
    Ya akhi, sekali lagi ana katakan : Para sahabat adalah manusia pilihan, mereka tentu lebih mengetahui sunnah dibanding kita.. Lantas apakah kita yang tidak ada seujung kukunya dibanding sahabat, punya hak sama dengan mereka?
    Banyak hal bahkan sangat banyak yang kita tidak tahu tentang sunnah (jika dibanding para sahabat), maka kewajiban kita adalah ittiba’, bukan membuat hal-hal baru dalam ibadah..
    Apa susahnya sih bagi antum dan kelompok antum untuk mencukupkan diri dengan sunnah, tanpa membuat-buat bid’ah?? Kalian bikin susah diri sendiri..
    Yang sunnah saja belum semuanya kalian amalkan, lalu kalian membuat ibadah model baru yang tidak ada contoh dari penyampai risalah.. Akal dan hati yang lurus tidak akan bisa menerima kaidah yang antum serukan..

    Kelima : Adakah hadits ‘Alaikum Bi Sunnati Wa Sunnatil Khulafaa’ Ar Roosyidiin..dst adalah hadits yang melegitimasi Bid’ah khusus oleh para Khulafaa’ Ar Rosyidiin ?

    Jawab :
    Rasullah bersabda : Ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur rasyidun yang mendapat petunjuk..”
    Itu adalah sabda rasulullah, jangan lagi kita tafsirkan dengan akal kita, bahwa kalau khulafaur rasyidun boleh membuat bid’ah lantas kitapun bisa..
    Perlu antum ketahui dan ini sudah beberapa kali ana katakan, apa yang dilakukan khulafaur rasyidun pada hakekatnya adalah sunnah, bukan bid’ah berdasarkan hadits tadi…

    Keenam : Anda menganggap masalah ketetapan dera bagi peminum khomer yang dilakukan oleh Amir Al Mukminin Umar Ibn Khotthob -rodhiyallohu ‘anhu- adalah masalah/perkara Ijtihadiyah, mengapa anda tidak menggunakan standar yang sama ketika menilai perkara-perkara yang kami lakukan yang anda tuduh sebagai “Bid’ah Sesat”? Apakah Ijtihad hanya boleh dilakukan oleh seorang sahabat ? dan apa Makna Ijtihad menurut anda ?

    Jawab :
    Yang jelas orang macam kita, bahkan mungkin para pencari ilmu di seluruh dunia yang hidup sekarang ini tidak punya hak untuk berijtihad, apalagi orang awam seperti kita ini…
    Kalau para sahabat tentu mereka punya hak… Karena mereka jauh lebih mengerti sunnah daripada manusia setelahnya…
    Sekali lagi kewajiban kita hanya ittiba’, tidak ada yang lain..
    Antum nggak usah pusing-pusing ya akhi.. Pelajari sunnah, laksanakan semampunya dengan ikhlas, jangan membuat bid’ah, selesai urusan…
    It’s simple..
    Nggak usahlah sok-sok menjadi mujtahid..
    Orang-orang di Makkah dan Madinah sana mereka bisa hidup damai dan tentram dengan menjalankan sunnah tanpa membuat bid’ah..
    Disana tidak ada tahlilan, tidak ada maulidan, tidak ada dzikir jama’ah tidak ada tawasul-tawasulan, toh mereka bisa hidup damai dibawah naungan sunnah, dengan bermanhaj salaf..
    Bandingkan dengan yang terjadi di negara kita yang penuh dengan bid’ah, tahyul dan khurafat, tentu jauh panggang daripada api…
    Berapa banyak dalil dalil-dalil yang menjamin kesucian dan kemulyaan Makkah – Madinah serta penduduknya, sebaliknya apakah antum bisa membawakan satu dalil saja yang mengisyaratkan bahwa suatu saat nanti Makkah dan Madinah beserta penduduknya akan sesat semua?..

    Ketujuh : Dalam masalah penghimpunan Al Qur’an, yang sempat kami kutip hanyalah apa yang telah disampaikan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari-nya, tapi anda menuduh kami telah mengikuti “Ahlul Bid’ah”. Siapa yang anda maksud Ahlul Bid’ah yang kami ikuti ?..

    Jawab :
    Yang antum ikuti salah satunya adalah orang-orang salah dalam menafsirkan perkataan Ibnu Hajar…
    Antum mengatakan bahwa menurut Ibnu Hajar pengumpulan al qur’an adalah merealisasikan hadits Rasululullah : Man sanna sunnatan.. dst..
    Perkataan ibnu hajar ini semakin menunjukan bahwa apa yang dilakukan Abu Bakar adalah sunnah, yakni Abu Bakar radhiyallahu anhu menghidupkan kembali sunnah yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, yakni pengumpulan al qur’an..

    Kedelapan : Sepanjang jawaban anda nggak nyambung, maka kami akan terus menjejali anda dengan pertanyaan-pertanyaan… maaf agar anda mau belajar lagi…

    Jawab :
    Oke, ana sudah jawab tujuh pertanyaan antum, sekarang gantian..
    Ana hanya ingin menanyakan satu pertanyaan saja, yang pertanyaan ini sudah pernah ana tanyakan di blog ini, tapi jawabannya sangat tidak memuaskan :
    Ya akhi, kalau antum katakan boleh melakukan bid’ah hasanah, maka bolehkah kita melakukan adzan dan iqamat dulu sebelum shalat tharawih dan sebelum shalat ied? (sebagaimana kalian membolehkan adzan dan iqamat ketika menguburkan mayat). Bukankah adzan dan iqamat adalah salah satu hasanah terbaik?
    Atau bolehkah kita shalat tahiyatul masjid atau shalat qabliyah dan ba’diyah berjama’ah? Bukankah shalat berjama’ah lebih baik daripada shalat sendirian?
    Afwan, pertanyaan ini juga berlaku untuk ustadz agung dan mas lasykar yang membolehkan tahlilan dengan memakai dalil-dalil umum untuk melakukan amalan-amalan khusus…
    Demikan.. Ana tunggu jawabannya..
    Wallahu a’lam…

  55. @ibnu ibrahim

    ini saya kutip koment antum:

    “Allah swt perintahkan kita supaya berdzikir dengan suara yang TIDAK KERAS…

    [Surah Al-A’raf:55 dan 205]..
    Nabi saw melarang berdzikir dengan suara keras..
    [HR Al Bukhari Muslim.Abu Daud At-Tirmidzi dan Ahmad]

    Nabi melarang orang yang sedang shalat mengeraskan bacaan masing-masing..
    [H.R. Abu Daud dan Ahmad]

    Imam As-Syafie tegas memerintahkan makmum dan imam masing-masing
    meyembunyikan bacaan…
    (Al Um-Kitab Shalat bab Zikir setelah Shalat)”

    ko kontradiksi ama yang di link ini

    http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2011/01/12/12739/menjaharkan-dzikir-sesudah-shalat-fardhu-ternyata-sunnah/

    padahal sama2 wahabi, tolong jawab ya pliiiissss….!

  56. Mas ibnu, jawab dulu pertanyaan kami, anda mengatakan dalil umum, yg sebenarnya tdk kami akui, karena tahlilan adalah majlis dzikir,
    Dalam kaidah ushul fiqh ada amrun dakhil dan khorij, saya kira mas ibnupun tahu bahwa amrun khorij tdk berpengaruh pada keabsahan suatu ibadah, apalagi tahlil bukanlah ibadah tauqifi,
    namun andapun juga memakai dalil yang multi tafsir, alias sangat umum juga.
    Sekarang sebutkan satu saja, sabda rosululloh yang langsung menohok tahlilan, seperti AT TAHLILANU HAROOMUN…
    Wallohu a’lam…

  57. Mas ibnu saya titip pertanyaan tentang bid’ah, semoga berkenan, TOLONG DICARIKAN LETTERLUX HADIST SHOHIH SYUKUR SYUKUR AL QUR’ANNNYA:
    1. Tauhid 3
    2. Bidah dun-yawi dan ukhrowi
    3. Penulisan harkat dan titik dalam alqur’an
    4. Sistem kerajaan monarki
    5. Hukum larangan merokok.
    6. Kuliah tujuh menit
    7. Majlis pengajian mingguan
    8. Tahajjud berjamaah.
    Dan tolong dengan hormat lagi sangat, jangan kasih kami dalil umum, karena insya alloh kami sudah tahu.
    Sekian dulu, semoga berkenan.
    Wallohu a’lam

  58. Bismillah,

    Mas @Ibnu Ibrahim, baiklah akan kami coba buktikan bahwa pernyataan sanggahan anda nggak nyambung :

    Pertama : Yang kami tuntut adalah bukti bahwa Kholifah Abu Bakar, Umar, dan Zaid –rodhiyallohu ‘anhum- dalam menghimpun al qur’an adalah berdasar ayat-ayat dan hadits yang anda sampaikan, dan sampai sekarang anda belum menyampaikan bukti tersebut….

    Kedua : Jika Kholifah Abu Bakar, Umar, dan Zaid –rodhiyallohu ‘anhum- menghimpun al qur’an berdasar hadits yang anda sampaikan, maka apa makna penolakan Abu Bakar dan Zaid dengan berkata : “Apakah engkau hendak melakukan apa yang tidak pernah dilakukan Rosululloh ?”… adakah beliau berdua tiada mengetahui hadits Anas Ibn Malik, sehingga beliau berkata demikian ?

    Ketiga : Sebagaimana penjelasan yang disampaikan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari-nya, ternyata diantara yang menjadi penguat alasan penghimpunan al qur’an adalah hadits “Man Sanna Sunnatan Hasanah” sebagaimana yang pernah kami kutip, dan bukan hadits yang anda asumsikan sebagai dasar penghimpunan al qur’an…

    Keempat : Jika apapun yang dilakukan oleh Khulafa’ Ar Rosyidin tidak bisa disebut bid’ah dan harus disebut sunnah, lantas apa fungsi Sunnah Khulafaa’ Ar Rosyidin ?
    Kita ketahui bahwa diantara fungsi Sunnah Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- di hadapan al qur’an diantaranya adalah sebagai ketetapan yang bersifat independent, lantas apakah “Sunnah Khulafaa’ Ar Rosyidiin” memiliki fungsi yang sama dengan sunnah Nabi ?

    Kelima : Kami tidak mendapati keterangan selain dari yang anda sampaikan, Bahwa dimasa Rosululloh – shollallohu ‘alaihi wa sallam- telah menghimpun al qur’an dalam bentuk Mushaf. Tolong anda sebutkan, Fathul Bari vol dan hlm berapa yang menjelaskan hadits Anas Ibn Malik tersebut sebagai penghimpunan al qur’an dalam bentuk Mushaf ?

    Keenam : Anda menjawab pertanyaan kami tentang Ijma’ dengan jawaban berikut :

    Ana pikir ana tidak perlu menjawab pertanyaan ini, anak kecil yang masih duduk di ibtidaiyah saja tahu..

    Maaf pertanyaan kami tentang Ijma’ adalah dilatar belakangi pernyataan anda sebelumnya sebagai berikut :

    Andaipun ijma tersebut dikatakan bid’ah, maka jangan disamakan ijma para sahabat dengan yang selain mereka, apalagi generasi belakangan seperti kita sekarang..
    Tentu tidak patut dan tidak pantas bagi kita untuk ikut-ikutan ber ijma’ seperti halnya para sahabat radhiyallahu anhum ajma’in….

    Coba perhatikan dengan jujur dan cermat pernyataan anda tersebut, adakah Ijma’ hanya dapat dilakukan oleh para sahabat ? Jika demikian pemahaman anda, maka siapa yang belum lulus Ibtida’?

    Ketujuh : Anda katakan :

    Yang antum ikuti salah satunya adalah orang-orang salah dalam menafsirkan perkataan Ibnu Hajar…
    Antum mengatakan bahwa menurut Ibnu Hajar pengumpulan al qur’an adalah merealisasikan hadits Rasululullah :
    Man sanna sunnatan.. dst..
    Perkataan ibnu hajar ini semakin menunjukan bahwa apa yang dilakukan Abu Bakar adalah sunnah, yakni Abu Bakar radhiyallahu anhu menghidupkan kembali sunnah yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, yakni pengumpulan al qur’an..

    Disini nampak sekali anda tidak memahami perkataan Ibnu Hajar yang kami kutip dalam bahasa arab tanpa terjemah, maaf kami tidak menafsirkan perkataan beliau, tapi kami sampaikan apa adanya… silahkan anda buka sendiri..toh vol dan hlm telah kami cantumkan disana (kalo anda ngerti bhs arab….), sayang tampaknya anda tidak memahami bahasa arab dengan baik…

    Kedelapan : Anda katakan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dalam penghimpunan al qur’an sebagai menghidupkan sunnah Nabi berdasar hadits Man Sanna… dst.. Pertanyaan kami : Sunnah yang mana mas ? dimana ada pada zaman Nabi penghimpunan Al qur’an sebagaimana yang dilakukan Kholifah Abu Bakar ? Jika yang anda maksud adalah penghimpunan sebagaimana dimaksud dalam hadits Anas Ibn Malik, anda salah alamat… coba anda pelajari penjelasan Ibnu Hajar ttg hadits tsb dalam Fathul Bari vol. 9, hlm. 51.

    Selanjutnya tentang pertanyaan anda :

    Ya akhi, kalau antum katakan boleh melakukan bid’ah hasanah, maka bolehkah kita melakukan adzan dan iqamat dulu sebelum shalat tharawih dan sebelum shalat ied? (sebagaimana kalian membolehkan adzan dan iqamat ketika menguburkan mayat). Bukankah adzan dan iqamat adalah salah satu hasanah terbaik?
    Atau bolehkah kita shalat tahiyatul masjid atau shalat qabliyah dan ba’diyah berjama’ah? Bukankah shalat berjama’ah lebih baik daripada shalat sendirian?

    Pertanyaan anda diatas, semakin menjelaskan anda tidak memahami Ushul, anda tidak memahami perbedaan Ibadah Mahdho/Muqoyyad dan Ibadah Ghoiru Mahdho/Muthlaq, penjelasan singkat akan hal tersebut dapat anda cari dan anda pelajari di UmmatiPress ini… silahkan dicari agar anda tidak menanyakan apa yang telah dijelaskan oleh para asatidz disini… dan tidak menjadi lelucon disini..ok…

    Maaf, jika anda benar-benar menolak “Bid’ah Hasanah”, maka tunjukkan pada kami landasan hukum tentang Perluasan Mina, Pelebaran Mas’a, Itsbat Nikah

    Berikutnya, tentang kehidupan di KSA (Haromain), kami nyatakan kesimpulan anda salah… alhamdulillah kami disana empat tahun lebih sebagai pekerja yang nyambi ngaji/belajar… dan faktanya selain dikalangan pelajar dan orang pemerintahan mayoritas tidak tahu tentang “Tauhid Uluhiyah, Rububiyah, Asma’ was Shifat” bahkan mereka merasa jengah dengan sikap “Polisi Syari’at” yang tidak segan-segan masuk dari atap rumah tanpa permisi dengan dalih “Pemurnian Tauhid” (Politik kekuasaan berkedok “Pemurnian Tauhid dan Pembaharuan”)

    Silahkan belajar dulu saudaraku, baru nyampaikan sesuatau……

  59. mas mamak matur nuwun sanget penjelasanipun, nastafidzu katsiron ulumumakum… jazaakumulloh khoiron katsiro…

    oia mas ibnu yang saya tanyakan dalil shorih tentang tauhid 3, bid’ah dun-yawi ukhrowi, dan lainnya. Dan saya bukan bertanya dalil umum.
    Contoh ilustrasi dalil shorih seperti:

    وتنقسم البدعة على نوعين دينية ودنيوية

    atau

    التوحيد ثلاثة أنواع أولوهية, ربوبية والأسماء والصفات

    tapi versi qur’an hadist leterlux, bukan dalil umum yg di takhsis, atau ambil dalil dari sana-sini terus di simpulkan, kalau anda menjawab seperti perkiraan saya, insya alloh sayapun akan bertanya, APA BEDANYA ANDA DENGAN KAMI DALAM ISTIMBATH HUKUM? Padahal dengan jelas anda mengatakan kami ahli bid’ah dan tersesat oleh bid’ah ples menjadikan hawa nafsu sebagai tolok ukur pengambilan hukum kami. Tolong di jawab, dan jangan anda berdiplomasi,retorika , insya alloh kami pun pernah mempelajari manthiq, jadi bisa membedakan muqoddimah shugro, kubro, mafhum mukholafah ataupun muwafaqoh anda. Semoga berkenan.

    Dan juga saya akan tetep mengingatkan pertanyaan saya yg belum anda sentuh
    1 Anda mengatakan ijma’ para sahabat dan seluruh ulama islam, padahal anda menggunakan pengertian ma’tam apakah ini, maaf nyambung?
    2 Anda mengulang-ulang pengertian ma’tam sampai 15 poin maksudnya apa? Ingin mengaburkan masalah?
    3 apakah ma’tam adalah tahlilan? Dan apakah anda pernah mengikuti proses tahlilan?
    4 apakah ta’rif makruh versi anda?
    5 apakah Imam madzhab melarang tahlilan yang isinya qur’an, istighfar, tahlil, dan do’a?
    6 apakah rosululloh pernah bersabda tahlilan haram, yang mana isinya hanyalah majlis dzikir?

    Sedikit tambahan pertanyaan untuk mas ibnu tentang bid’ah:
    1. menurut anda ta’rif bid’ah dalam bahasa apa?
    2. ta’rif bid’ah hasanah apa? Kira-kira sama nggak dengan bid’ah dalam bahasa? Dan kalau beda, apa bedanya?
    3. ta’rif bid’ah secara syariat apa?
    4. ta’rif bid’ah dlolalah/madzmumah apa? Kira-kira sama nggak dengan bid’ah secara syari’at? Dan kalau beda, apa bedanya?
    5. ta’rif maslahah mursalah apa?
    6. DAN TERAKHIR YANG MENETUKAN SUATU PERBUATAN ADALAH SEBUAH MASLAHAH MURSALAH ATAU TIDAK SIAPA?

    Semoga ini pun juga berkenan
    Wallohu a’lam.

  60. Bismillah,

    Mas @Lasykar, sami-sami mas… Du’aaukum…

  61. Bismillahirrahmanirrahim

    “SIAPAKAH GURUKU ?”

    Tulisan ini bermula dari adanya sebagian orang yang menuduh sebagian Ulama sebagai ahlul bid’ah dengan segala dalilnya. Dihati kecilku terbersit pertanyaan menyedihkan …Benarkah guruku termasuk ahlul bid’ah ? Siapakah yang sebenarnya ahlul bid’ah ?
    Sebagaimana atsar berikut:
    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Ajurriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al ‘Athsyiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Junaid yang berkata telah menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahya yang berkata aku mendengar Muhammad bin Idris Asy Syafi’i berkata “bid’ah itu ada dua, bid’ah mahmudah [terpuji] dan bid’ah madzmu’ah [tercela]. Apa saja yang bersesuaian dengan sunnah maka ia terpuji dan apa saja yang bertentangan dengan sunnah maka ia tercela. Dan ia [syafi’i] berhujjah dengan perkataan Umar bin Khattab tentang shalat malam di bulan ramadhan “ini adalah sebaik-baik bid’ah” [Hilyatul Auliya Abu Nu’aim 9/113

    Telah mengabarkan kepada kami Abu Sa’id bin Abi Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami Rabi’ bin Sulaiman yang berkata Syafii berkata “perkara-perkara baru yang diada-adakan itu ada dua, pertama yaitu apa-apa saja yang bertentangan dengan kitab Allah atau sunnah atau atsar atau ijma’ maka ini bid’ah dhalalah. Dan yang kedua yaitu apa-apa saja yang di dalamnya kebaikan tidak bertentangan dengan apa saja yang telah disebutkan [kitab Allah, sunah, atsar dan ijma’] maka inilah bid’ah yang tidak tercela [Madkhal Ila Sunan Kubra 1/206]

    Dan berangkat dari pengertian bid’ah madzmu’ah/dholalah itu saya akan mengambil contoh Sholat sebagai bahasannya. Alasannya adalah kerena banyaknya orang yang menanyakan ..apa dalilnya ? Sudah jamak yang pertama-tama diajarkan oleh orang tua atau guru kita pada usia dini selain membaca AQ adalah tentang sholat. Kembali pada pertanyaan…Apa dalilnya ? Mungkinkah dalam usia dini itu bertanya dalil kepada gurunya ? Mengertikah dalam usia dini itu akan dalil apabila sang guru memberikan dalilnya ? Sebagaimana dalam hal etika murid terhadap guru, etika adalah sangat berpengaruh dalam hal menerima ilmu dari sang guru sebagaimana termaktub didalam Kitab Talim Muta’lim.

    Marilah kita bermula dari mencari guru yang sesuai dengan perintah AQ dan Hadits :
    Mari kita lihat : AQ.16:43
    Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui, [828]. Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab
    Dengan membaca ayat ini kita diperintahkan bertanya kepada orang yang berpengetahuan yaitu Ulama(guru).
    Poin dari perintah ayat ini adalah : BERTANYA

    Dan mari kita lihat ayat lanjutannya : AQ. 16 : 44
    Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan,
    [829]. Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran.
    Poin dari perintah ini adalah : MENERANGKAN

    Perintah didalam Hadits :
    “Sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat”(HR.Bukhari)
    Berdasarkan hadits diatas poin perintahnya adalah: MELIHAT

    KESIMPULAN DARI AQ + HADITS==>Bertanya, menerangkan dan melihat = Bertalaqi (bertemu)
    Penjelasan dari kesimpulan :
    Bertanya : Adanya seorang guru tempat bertanya apabila ada pertanyaan
    Menerangkan : Adanya seorang guru yang bisa menerangkan apabila terjadi keraguan.
    Melihat : Adanya seorang guru yang memperlihatkan tata tertib gerakan yang benar, contoh : wudhu dan sholat.

    Bagaimanakah dan siapakah guru yang dimaksud, yang tentu saja sesuai dengan ayat AQ dan Hadits tersebut diatas ?

    Jawabannaya adalah guru yang BERSANAD kepada guru yang MELIHAT bagaimana cara Rasulullah SAW sholat.

    Pertanyaan dizaman sekarang adalah bagaimana kalau berguru kepada guru yang tidak bersanad, apakah sudah sesuai dengan perintah AQ dan Hadits ?

    Berguru kepada orang yang sanadnya tidak tersambung hingga Rasulullah SAW sama dengan berguru dengan orang yang hanya mengira-ngira dan membayang-bayangkan.

    Maka apabila belajar agama dengan hanya membaca kemudian mengira-ngira dan membayang-bayangkan atau berguru pada guru yang sanadnya tidak bersambung hingga Rasulullah SAW itu tidak ada dalilnya yang berdasarkan “Al-Qur’an dan Hadits “ maka itulah SUMBER dari ahlul bid’ah.

    Maaf kalau ada salah kata.

    Wallahu a’lam bisshowab.

  62. terima kasih banyak mas M.Husaini memberikan pemahaman baru .:)

  63. @ibnu suradi
    Ane belajar dari kecil dah belajar Islam
    Guru-guru ane yang ahlus sunnah wal jamaah beneran.
    Kecil di riyadh Arab saudi, umur 11 tahun ane belajar di Kramat sentiong Jakarta (dekat KH Syafi’i Hazami-(alm) pembela Ahlus sunnah wal jamaah bermadzhab Syafi’iyah).
    Ente tahu arti “al ilmu qobla qoul wa amal” yang disampaikan oleh teman ente @ummu hasanah ?.

  64. Sangat tepaaaaaat penjelasannya mas @m.husaini, mantab.
    Pertanyaannya : Apakah albani perlu diikuti ?? karena sampai sekarang ane belum dapat sanad keilmuan albani. Kalau ada yang punya informasi tentang sanad keilmuannya, bisa dishare disini.

  65. muter-muter jelasinnya…akhirnya ke itu-itu juga. Masih belon sembuh….balik lagi…

  66. @ummu hasanah
    Supaya gak muter-muter penjelasannya, tolong dong dishare penjelasan dari ente ???????

  67. Bismillah,
    Allahu Akbar, jelas sudah kebenaran..
    Antum telah menjejali ana dengan tujuh pertanyaan-pertanyaan, dan ana telah menjawabnya semua (meskipun menurut antum nggak nyambung)..
    Nah, sekarang satu saja pertanyaan ana, antum nggak sanggup menjawabnya, dan mengatakan ana harus belajar lagi..
    Begitulah ahlul bid’ah, kalau dia tidak bisa menjawab pertanyaan, lalu dengan sok pintarnya mengelak dan berkilah dengan mengatakan “antum harus belajar lagi ini, belajar lagi itu..”, dsb..
    Ya akhi, ana hanya orang awam, sedangkan antum bahkan telah mengaji empat tahun di negeri Arab..
    Antum jejali ana dengan pertanyaan-pertanyaan seolah-olah ana ini ustadz..
    Tapi setelah ana tanyakan satu saja pertanyaan, antum sudah kelimpungan..
    Kebalik ya akhi, seharusnya ana yang lebih banyak bertanya…
    Tapi karena satu pertanyaan saja antum nggak bisa jawab, ya udah, sekarang sudah jelas kebenaran bagi ana.. mudah-mudahan bisa jadi pelajaran bagi semua..
    Allahu Akbar…!

  68. Bismillaah,

    Kang Husaini,

    Pertama, saya setuju bahwa kita belajar kepada guru yang memiliki ilmu berdasarkan ayat Qur’an yang anda sampaikan.

    Kedua, guru-guru yang bersanad hingga ke Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pastilah mengajarkan ilmu yang datangnya dari Rasulullaah. Lalu, bagaimana ada guru yang mengaku bersanad tapi mengajarkan ilmu yang tidak datang dari Rasulullaah seperti melafadzkan nita shalat: “Usholli …… ” dan merayakan Maulid Nabi, dll?

    Ketiga, ulama-ulama dari imam madzhab: Imam Malik, Imam Hanafy, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hingga Syaikh Albani menulis banyak kitab. Sebenarnya, bagi umat Islam kitab-kitab ini untuk apa mereka tulis?

    Wallaahu a’lam.

  69. Bismillah,
    Afwan mas lasykar, pertanyaan antum banyak sekali…
    Sekali lagi ana tegaskan, ana bukan ustadz ya akhi.. Kalau ana harus menjawab semua pertanyaan itu akan makan waktu berapa lama untuk mencari literaturnya, kitab-kitabnya, dalil-dalilnya, dll..
    Ana bukan pembantu antum, bukan juga murid antum (karena ana juga tidak ingin berguru dengan ahlul bid’ah seperti antum dan kelompok antum)..
    Ada baiknya antum jawab dulu satu pertanyaan dari ana tadi…
    Tapi ada satu kaidah ma’ruf dikalangan para ulama’ yang ingin ana sampaikan menyangkut dengan pembahasan kita, yakni :
    ” “Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil) dan hukum mu’amalat adalah halal (sampai adanya dalil yang mengharamkannya)”..

    Demikianl, wallahu a’lam..

  70. Mas ibnu ibrahim hanya satu yang saya garis bawahi dari perkataan panjenengan, dan menurut saya inilah sumber perpecahan, dan dianggap arogansi dalam islam yang Rahmatan lil ‘alamin dan makarimal ahlaq yang di agungkan junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
    “ANA BUKAN PEMBANTU ANTUM, BUKAN JUGA MURID ANTUM (KARENA ANA JUGA TIDAK INGIN BERGURU DENGAN AHLUL BID’AH SEPERTI ANTUM DAN KELOMPOK ANTUM)..”
    Serta Saya berharap ini bukan sebuah kesombongan,
    Dan perlu mas ketahui kaidah yang anda ucapkan ternyata berbeda dengan kebanyakan ulama, dan ini pernah kami ulas dalam pondok kami, kami cuplikkan sbb:

    MENCERMATI KAIDAH “HUKUM ASAL SEGALA HAl”

    Bismillah.. Wal hamdulillah… waS Sholaatu Was Salaamu Ala Rosulillah… Amma Ba’dah…

    I. SECARA UMUM BELIAU NABI MUHAMMAD SAW. BERSABDA:

    فتح البارى الجزء الثالث عشر ص : 266 (دار الفكر)
    وأخرج الدارقطنى من حديث أبى ثعلبة رفعه (إن الله فرض فرائض فلا تضيعوها وحد حدودا فلا تعتدوها وسكت عن أشياء رحمة لكم غير نسيان فلا تبحثوا عنها) وله شاهد من حديث سلمان أخرجه الترمذى وآخر من حديث ابن عباس أخرجه أبو داود وقد أخرج مسلم وأصله فى البخارى وقد تقدم فى كتاب العلم
    Artinya: Imam Daaruquthni mengeluarkan dari Hadist Imam Abi Tsa’labah secara marfu’ (Sesungguhnya Alloh mewajibkan beberapa kewajiban, maka kalian jangan menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban tersebut, Dan Alloh telah menentukan beberapa batas, maka janganlah kalian melampauinya, Serta Alloh telah diam dari beberapa perkara sebab rahmat bagi kalian semua, bukan karena lupa, maka janganlah kalian membahasnya)

    Al Allamah fii Zamanihi As Syaikh Yasin Al Fadani, menjelaskan pengertian hadist Nabi SAW. “Serta Alloh telah diam dari beberapa perkara sebab rahmat bagi kalian semua” Sebagai berikut:

    الفوائد الجنية الجزء الأول ص : 195 (دار الفكر)
    فقوله وسكت عن أشياء أى لم يأمر الله بها ولم ينه عنها ولم يحرمها ولم يحللها ويستفاد منه أن الأصل فى الأشياء الإباحة
    Artinya: “Adapun Sabda Nabi “Serta Alloh telah diam dari beberapa perkara” maksudnya adalah: Alloh tidak memerintahkan, tidak melarang, tidak mengharamkan dan tidak menghalalkan perkara-perkara tersebut. Dan bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa sesungguhnya hukum asal setiap sesuatu adalah boleh (ibahah)”.

    Shohibu Syarkhil Arbain Nawawi Imam Ibnu ‘Atthor mengarahkan kaidah diatas pada sesuatu hal yang hanya berkaitan dengan Mu’amalah (dunia dan adat):
    شرح الأربعين النووية – (ج 1 / ص 71)
    الأصل في العبادات التوقيف، والأصل في المعاملات الإباحة وعدم التوقيف
    Artinya: “Hukum Asal dalam Ibadah adalah tauqif (diam sampai datang dalil), Adapun Asal dari mu’amalah (kemasyarakatan/dagang dsb:pent) adalah boleh dan tidak Tauqif”.

    Namun Menurut Imam As Syinqitthi, setiap perbuatan dan sesuatu yang bisa diambil kemanfaatannya dan tidak ada nash syara’ terbagi menjadi tiga Madzhab:
    1. Boleh (Ibahah). Ini adalah madzhab Imam As Syinqitthi.
    2. Haram, sampai adanya dalil yang menunjukkan kebolehannya.
    3. Tauqif (berhenti/diam) sampai ada dalil yang menjelaskannya. (0)

    Sedangkan hal yang berkaitan dengan ibadah murni para ulama juga berbeda pendapat sebagai berikut:

    II. HUKUM ASAL IBADAH, DALAM PANDANGAN ULAMA
    1. Ulama Syafi’iyyah.
    a. Imam Ibnu Hajar:
    “Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil)” (1), di lain tempat beliau juga mengatakan: “Penetapan ibadah hanya diambil dari tawqif (adanya dalil)” (2).
    b. Imam Ibnu Daqiiq Al ‘Iid:
    “Karena umumnya ibadah adalah ta’abbud (beribadah pada Allah). Dan patokannya adalah dengan melihat dalil”(3)

    2. Ulama Hanabilah (Imam Ahmad Bin Hanbal).
    Imam Ibnu Muflih:
    “Amal-amal yang berkaitan dengan agama tidak boleh membuat sebab (berkreasi), kecuali disyariatkan. Karena pokok ibadah adalah tauqif (diam sampai datang dalil).”(4)

    3. Ulama Malikiyyah
    Imam Zarqoni:
    “Asal dalam Ibadah adalah tauqif” (5)

    4. Ulama Hanafiyyah (Imam Abu Hanifah)
    a. Imam Ibnu Taimiyyah:
    “Oleh karena ini, Imam Ahmad dan lainnya dari fuqohaa ahli hadist berkata: sesungguhnya asal dari ibadah adalah tauqif, maka tidak bisa disyariatkan kecuali yang Alloh Syariatkan.” (6)
    b. Imam Syarkhisyi:
    “Logika tidak masuk dalam mengetahui sesuatu yang merupakan taat kepada Alloh (ibadah), oleh karena itu tidak boleh menetapkan asal ibadah dengan logika”. (7)

    5. Ulama Syiah Zaidiyyah
    Imam Syaukani:
    “Ibadah di ambil dari tauqif.” (8)

    6. Ulama Salafy (Wahabiyyah).
    a. Syaikh Utsaimin:
    “Karena Asal dalam ibadah adalah Haram dan tercegah, kecuali ada dalil disyariatkannya.”(9)
    b. Syaikh bin Baaz:
    “karena asal dalam ibadah adalah tauqif dan tidak adanya Qiyas.”(10)

    Penting:
    – Kaidah diatas sifatnya masih sangat umum, belum bisa untuk menjustifikasi suatu hukum ataupun amalan, kecuali adanya sandaran Al Qur’an, Al Hadist, Ijma’ dan Qiyas. Jadi sangatlah tidak patut apabila kaidah di atas di gunakan untuk menghukumi, apalagi sebagai “alat kebencian”.
    – Dalam menyikapi perbedaan, alangkah arifnya kita terima, karena itu adalah sunnatulloh, maka kesampingkanlah ego dan ke-akuan, janganlah kita memvonis sesama muslim. Sungguh!!! Mereka para musuh islam akan berteriak kegirangan….

    Walhamdulillah… Was Sholaatu was Salaamu ‘ala Rosulillah.. Haadza maa yassarallohu ‘alayya wa bi’aunillah…
    Wallohu a’lam….

    M. ROBERT AZMI AL ADZIM
    Ndalem Pule 17 Februari 2013

    (0) مذكرة أصول الفقه للشيخ الشنقيطي – (ج 1 / ص 16)
    (فصل) قال المؤلف رحمه الله تعالى: واختلف فى الأفعال وفى الاعيان المنتفع بها قبل ورود الشرع بحكمها .. الخ ..
    اعلم أن خلاصة ما ذكره المؤلف رحمه الله تعالى فى هذا المبحث، أن حكم الأفعال والأعيان أي الذوات المنتفع بها قبل أن يرد فيهل حكم من الشرع فيها ثلاثة مذاهب :الاول : أنها على الاباحة وهو الذى يميل إليه المؤلف واستدل بقوله تعالى :” هو الذى خلق لكم ما فى الأرض جميعا” فانه تعالى امتن على خلقه بما فى الارض جميعا ولا يمتن الا بمباح ، اذ لا منة فى محرم واستدل لاباحتها أيضا بصيغ الحصر فى الآيات كقوله:
    (قل انما حرم ربى الفواحش ما ظهر منها ومابطن) وقوله تعالى : (قل لا أجد فيما أوحى إلى محرماً على طاعم يطعمه الا أن يكون ميتة أو دماً مسفوحاً أو لحم خنزير ..) الآية . (قل تعالوا أتل ما حرم ربكم عليكم ..) الآية .واستدل لذلك أيضا بحديث ( الحلال ما أحله الله فى كتابه والحرام ما حرمه الله فى كتابه وما سكت عنه فهو مما عفا عنه) .
    المذهب الثانى : أن ذلك على التحريم حتى يرد دليل الاباحة واستدل لهذا بأن الأصل منع التصرف فى ملك الغير بغير اذنه وجميع الاشياء ملك لله جل وعلا ، فلا يجوز التصرف فيها الا بعد اذنه، ونوقش هذا الاستدلال بأن منع التصرف فى ملك الغير، انما يقبح عادة فى حق من يتضرر بالتصرف في ملكه، وأنه يقبح عادة المنع ممالا ضرر فيه كان لاستظلال بظل حائط انسان والانتفاع بضوء ناره والله جل وعلا لا يلحقه ضرر من انتفاع مخلوقاته بالتصرف فى ملكه .
    المذهب الثالث : التوقف عنه حتى يرد دليل مبين للحكم فيه.
    (1) فتح الباري للشيخ ابن حجر الجزء الثالث ص: 54
    الأصل في العبادة التوقف.
    (2) وفيه أيضا (2/80):
    التقرير فى العبادة إنما يؤخذ عن توقيف.
    وفي شرح زُبَدِ ابن رسلان للشافعي الصغير (1/79):
    الأصل في العبادات التوقيف.
    (3) إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام ابن دقيق العيد – (ج 1 / ص 281)
    لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ.
    (4) الآداب الشرعية لابن مفلح (2/265)
    الأعمال الدينية لا يجوز أن يتخذ شيء منها سببا إلا أن تكون مشروعة فإن العبادات مبناها على التوقيف
    (5) شرح الزرقاني على الموطأ (1/434)
    الأصل في العبادة التوقيف .
    (6) قال ابن تيمية في مجموع الفتاوى (29/17)
    ولهذا كان أحمد وغيره من فقهاء أهل الحديث يقولون: إن الأصل فى العبادات التوقيف فلا يشرع منها إلا ما شرعه الله تعالى.
    (7) أصول السرخسي الحنفية – (ج 2 / ص 122)
    ولا مدخل للرأي في معرفة ما هو طاعة لله، ولهذا لا يجوز إثبات أصل العبادة بالرأي
    (8) نيل الأوطار – (ج 2 / ص 413)
    وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: {أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَيُوتِرَ الْإِقَامَةَ إلَّا الْإِقَامَةَ}.رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ. وَلَيْسَ فِيهِ لِلنَّسَائِيِّ وَالتِّرْمِذِيِّ وَابْنِ مَاجَهْ إلَّا الْإِقَامَةَ .
    قَوْلُهُ: (أُمِرَ بِلَالٌ) هُوَ فِي مُعْظَمِ الرِّوَايَاتِ عَلَى الْبِنَاءِ لِلْمَفْعُولِ. وَقَدْ اخْتَلَفَ أَهْلُ الْأُصُولِ وَالْحَدِيثِ فِي اقْتِضَاءِ هَذِهِ الصِّيغَةِ لِلرَّفْعِ، وَالْمُخْتَارُ عِنْدَ مُحَقِّقِي الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا تَقْتَضِيهِ؛ لِأَنَّ الظَّاهِرَ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْآمِرِ مَنْ لَهُ الْأَمْرُ الشَّرْعِيُّ الَّذِي يَلْزَمُ اتِّبَاعُهُ، وَهُوَ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا سِيَّمَا فِي أُمُورِ الْعِبَادَةِ ، فَإِنَّهَا إنَّمَا تُؤْخَذُ عَنْ تَوْقِيفٍ
    (9) القول المفيد على كتاب التوحيد محمد بن صالح العثيمين – (ج 1 / ص 152)
    لأن الأصل في العبادات الحظر والمنع، إلا إذا قام الدليل على مشروعيتها. (10) مجموع فتاوى و مقالات ابن باز – (ج 13 / ص 123)
    لأن الأصل في العبادات التوقيف وعدم القياس، وبالله التوفيق.

  71. dan ternyata yang sesuai dengan anda hanya syaikh utsaimin, syaikh bin baz pun tidak.
    jadi itu bukan kaidah yang masyhur mas ibnu……, apalagi bukan hadist shohih, terlebih al Qur’an… matur nuwun tanggapanipun…..
    wallohu a’lam

  72. pembaca ummatipress.com silhakan menilai sendiri mana pendapat yang bisa diterima dan mana pendapat yg perlu dipinggir kan.. Terima kasih mas Laskar (y)

  73. Mas Admin Saran: http://alfattahpule.com bisa dimasukkan ke blogroll ummati

    makasih

  74. Ya, sudah sangat jelas mbak Shofy…. oleh karena itulah kenapa mereka takut kalau diajak berdebat secara terbuka yg disaksikan banyak orang. Rupanya mereka sebenarnya tahu argument2 nya lemah, hanya modal ngotot aja.

  75. biasanya modalnya ngotot sama suara lantang, biar lawan debatnya takut kali, ya?

  76. Bismillah,

    Mas @Ibnu Ibrahim, nggak usah panik mas…

    Kami tidak menjawab langsung pertanyaan anda, bukan kami tidak menjelaskan… tapi kalo memang anda enggan mencari di blok ini… ok, akan kami jawab singkat….

    Adzan dan Iqomah yang anda pertanyakan adalah termasuk Ibadah jenis Mahdho/Muqoyyad, dimana tekhnis pelaksanaannya telah diatur dengan detail oleh syari’at. dalam Ibadah jenis ini kita tidak boleh berkreasi, berbeda halnya dengan Ibadah Ghoiru Mahdho/Muthlaq, seperti Menyantuni anak yatim, berbakti kepada orang tua, dzikir berjama’ah… adakah aturan tekhnis pelaksanaannya dari syari’at ? dan faktanya anda membolehkan berkreasi dalam menyantuni anak yatim, berbakti kepada kedua orang tua, tapi anda melarang berkreasi dalam “Dzikir Berjama’ah” yang kesemuanya sama-sama bernaung dibawah ketetapan/Nash Umum (tidak ada pembatasan tekhnis pelaksanaannya)… belajarlah ushul fiqih biar anda memahami masalah ini

    Sesungguhnya hal ini telah berulang kali dijelaskan oleh para asatidz di UmmatiPress ini, tapi sayang nampaknya anda belum memahami masalah ini… ok…

    selanjutnya, jika anda keberatan dengan pertanyaan kami yang cukup banyak, okelah, disini kami cuma ingin anda menjelaskan tentang dua hal :

    Pertama : Dalam Fathul Bari vol dan hlm berapa Ibnu Hajar menjelaskan bahwa dasar penghimpunan Al Qur’an adalah hadits Ibn Malik….

    Kedua : Sekali lagi anda harus menjelaskan pemahaman anda tentang Ijma’ sehubungan dengan pernyataan anda :

    Andaipun ijma tersebut dikatakan bid’ah, maka jangan disamakan ijma para sahabat dengan yang selain mereka, apalagi generasi belakangan seperti kita sekarang..
    Tentu tidak patut dan tidak pantas bagi kita untuk ikut-ikutan ber ijma’ seperti halnya para sahabat radhiyallahu anhum ajma’in….

    buktikan bahwa anda telah lulus Ibtida’iyah… ok…

    Santai aza mas….

  77. Bismillah,

    Mas @Lasykar yang kami hormati, menawi dipun parengake kulo paring saran, diskusi dengan mas @Ibnu Ibrahim nggak usah pakai hujjah atawis Ibaroh saking poro ulama, kulo yakin beliau mboten mudeng bahsa arab, prayugi ndereaken logikanipun mas Ibnu piyambak mawon kito giring ngantos menthok…

    pangapunten menawi lancang… “Kallimun Naasa Biqodri ‘Uquulihim”…. kersane manfaat…

  78. @ibnu ibrahim

    masya Allah sombong banget ente…!
    ente juga sama satu pertanyaan dari saya ga di jawab-jawab…!
    jangan sombong gitu kang ga baik….!

  79. Nggeh mas mamak kulo nderek njenengan kemawon…. suwun

  80. Du’aakum mbak shofy, syukron….

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *


    + 8 = 10

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>